Confession
Ancol pada malam hari menyuguhkan pemandangan yang sangat indah dengan hiasan lampu dari gedung-gedung pencakar langit serta udara dingin yang berhembus memberikan nuansa berbeda dan ketenangan bagi warga Ibu Kota yang ingin terlepas dari kepenatan aktifitas seharian.
Apalagi saat ini kami tengah duduk di salah satu restoran yang berada di bibir pantai. Angin malam yang dingin, lampu temaran, deburan ombak, dan lagu-lagu romantis dari live band menambah kesan romantis, tapi sayang saat ini pikiran dan hatiku sedang sangat ruwet hingga tak begitu menikmatinya.
“Saya bilang kita harus bicara.”
“Kita bisa bicara.”
“Di sini?”
“Iya, apa ada yang salah?”
Aku membuang napas mendengar pertanyaannya.
“Tidak, hanya saja saya pikir Bos akan membawa saya ke tempat yang lebih private jadi kita bisa bicara dengan tenang, bukan tempat umum dimana banyak orang dan mungkin salah satu dari mereka akan mengenali Bos.”
Aku menatap ke arah dalam bangunan restoran yang terlihat ramai oleh gelak tawa beberapa orang berusia kisaran lima puluhan. Sepertinya area indoor tengah disewa untuk suatu acara.
Bos terdiam beberapa saat.
“Apa kamu mau kita berbicara di apartemenku?”
“A-apartemen?” aku menganga tak percaya mendengarnya.
“Iya, kita bisa pergi sekarang.”
“Tidak! Kita bicara di sini saja.”
Bos terlihat menahan tawanya. Sial! Dia ternyata hanya menggodaku saja. Untungnya pelayan datang membawa pesanan minuman sedikit mengalih Bos hingga dia tak bisa melihat wajahku yang memerah karena malu.
“Yakin tidak mau makan?”
“Tidak, terimakasih.” Sejujurnya makan seafood yang merupakan makanan andalan di sini sangat menggoda, tapi untuk saat ini aku tak tahu apa akan sanggup untuk menelan makanan.
“Jadi apa yang mau dibicarakan?”
Aku menyeruput taro coffee jelly, minuman yang ku pesan saat ini berharap susu dari minuman berwarna ungu itu bisa sedikit memberiku ketenangan.
“Apa Bos sudah berbicara dengan orangtua, Bos, mengenai kelanjutan perjodohan?”
“Sudah.”
“Dan hasilnya?”
Dia terdiam, mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyulutnya. “Belum ada jawaban apapun,” jawabnya setelah menghembuskan asap rokok.
Aku terdiam beberapa saat, kemudian mengangguk setelah yakin dengan keputusan apa yang akan aku ambil walaupun tadi sempat sedikit ragu, tapi mendengar jawabannya cukup membuatku kembali bisa berpikir secara logis.
“Sebaiknya kita mempertegas hubungan kita. Hanya sebagai atasan dan bawahan saja, dan hanya sebatas teman,” ucapku terus terang, langsung pada pokok pembicaraan.
Bos terdiam menatapku beberapa saat, sebelum akhirnya menyeruput blue ocean miliknya. Dia masih terlihat santai seperti biasa. Sepertinya pengalamannya selama bertahun-tahun ketika berbicara menghadapi lawan bisnis membuatnya memiliki kemampuan untuk mengatur emosi, karena aku tak pernah sekalipun melihatnya kehilangan kontrol akan emosinya, dia selalu terlihat tenang dalam kondisi apapun.
“Apa karena statusku? Aku tak bisa melakukan apa-apa untuk mengubah itu. Aku terlahir dengan itu.”
“Tidak, bukan itu.” Dia sedikit mengerutkan keningnya. “Kalau hanya karena status Bos yang merupakan seorang putra konglomerat mungkin saat ini saya akan dengan sangat nekad untuk menjalin hubungan, walau dengan resiko harus menghadapi keluarga Bos yang tidak akan merestui kita. Tapi saya tidak ingin menyesal, setidaknya saya akan berusaha untuk hubungan ini walau akhirnya mungkin kita tidak bisa bersama.” Bos terdiam menatapku terlihat terkejut dengan kejujuranku tentang keinginan untuk menjalin hubungan dengannya. “Tapi semua berbeda ketika sudah menyangkut perempuan lain.”
Bos mengerutkan alis ketika aku mengungkapkan alasan utama kenapa aku tak bisa menjalin hubungan dengannya.
“Anggi? Aku dan Anggi tidak ada hubungan apa-apa, Na, dia hanya perempuan yang dipilih kedua orangtuaku untuk dijodohkan denganku dan keputusan akhirnya ada padaku, apa akan menerimanya atau tidak.”
“Dan setelah malam ulang tahun kemarin sepertinya kita tahu akan kemana hubungan kalian.”
“Na …” aku mengangkat tanganku memintanya untuk mengijinku melanjutkan ucapanku.
“Saya tahu betapa baiknya Bos, dan bagaimana Bos menghormati kedua orangtua, dan karena itulah saya menyukai Bos.” Bos terdiam menatapku. “Ya, selain faktor lainnya tentu saja, tapi itu biarkan cukup saya saja yang tahu.”
Bisa ku lihat Bos sedikit tersenyum mendengarku, membuatku kembali meneguk minumanku.
“Dan itulah alasan utama saya kenapa kita tidak boleh bersama, karena sudah ada perempuan lain, dan saya tidak ingin menjadi orang ketiga.”
“Kamu tidak pernah menjadi orang ketiga, Na.”
“Iya, saya hanya akan menjadi orang ketiga, diakui atau tidak itulah posisi saya saat ini.” Bos terdiam menatapku. “Saya hadir setelah Bos dikenalkan dengannya, dan saya yakin walaupun pesta kemarin adalah kali kedua kalian bertemu, tapi kalian pasti sering berhubungan lewat pesan ataupun telpon.”
“Tapi aku tak pernah menjadi yang pertama menghubunginya.”
“Terlepas dari itu semua, kalian tetaplah telah berhubungan, apalagi sebelumnya tidak ada penolakan dari kalian tentang perjodohan ini.” Bos kembali terdiam, sepertinya dia mulai menyadari kebanaran dari kata-kataku. “Dan kalau pun sekarang Bos menentang perjodohan itu, orangtua Bos belum tentu mengabulkannya, dan sepertinya memang tidak akan dikabulkan, jadi … kita sepertinya kita sudah tahu akhir dari semunya.”
Bos masih terdiam menatapku, dia kembali menghisap rokok dan menghembuskan asap putih dengan perlahan sebelum akhirnya berkata,
“Apa kamu tahu kalau di pesta kemarin tidak ada satupun pemberitaan tentang hubunganku dengannya?”
Aku teringat pembicaranku dengan Siska yang merasa aneh karena tak ada satupun berita tentang Caraka Benua yang menemani calon tunangannya ke pesta yang digelar mewah di hotel milik keluarga Wibisana.
“Itu syarat lain yang aku ajukan kepada orangtuaku. Walaupun awalnya mereka menolak karena tahu efek positif yang akan ditimbulkan dari publikasi hubungan kami bagi perusahaan, tapi mereka harus memilih aku pergi menemaninya tanpa pemberitaan, atau aku tidak pergi sama sekali.”
Bos mematikan puntung rokok di atas asbak, menyeruput minumanya kemudian melanjutkan kembali perkataannya.
“Seperti kamu bilang kalau hal itu tersebar di media masa dan semua orang mengetahuinya, maka akan semakin susah untukku mundur karena itu sama saja artinya aku telah menyetujui pertunangan ini, maka dari itu sebisa mungkin aku menghindari publikasi. Dan orangtuaku menyadari ada yang salah dengan tindakanku.”
Dia terdiam beberapa saat, matanya menatapku serius.
“Mereka menanyakan apa alasanku.” Entah kenapa tiba-tiba jantungku berdegub kencang menunggu kalimat selanjutnya yang akan dia ucapkan. “Dan aku memberitahu mereka.” Kembali ada jeda di sana membuatku semakin tak sabar karena penasaran. “Aku memberitahu mereka kalau aku menyukai seseorang, dan aku serius dengan menyukainya … seseorang itu adalah kamu, Kirana Az-Zahra.”
Deg!
Debaran jantungku yang tadi menggila kini seolah berhenti berdetak beberapa detik sebelum kembali dengan debaran yang lebih gila lagi. Ini pertama kalinya aku mendengar pengakuan perasaannya, berlatar suasana romantis dan lagu latar dari live band yang kini tengah menyanyikan lagu All of me dari John Legend, semuanya hampir sempurna kecuali keadaan kami yang tidak memungkinkanku untuk mengatakan ‘iya’ saat ini.
“Beri aku kesempatan untuk kembali meyakinkah kedua orangtuaku supaya membatalkan rencana perjodohan ini,” ujar Bos dengan mata masih menatapku lembut, tapi aku juga bisa melihat keseriusan di sana. “Setelah itu, aku akan membawamu untuk ku perkenalkan kepada mereka.”
Beribu keraguan juga ketakutan masih menderaku, tapi mungkin saja ini kesempatan terakhir yang aku miliki untuk memperjuangkannya. Dan … aku tak ingin menyesal, karena itulah setelah menguatkan tekad aku mengangguk membuatnya tersenyum.
“Aku tidak bisa memberimu waktu lama.”
“Secepatnya aku kan kembali berbicara dengan kedua orangtuaku.”
“Kalau tidak berhasil … beritahu aku, jadi setidaknya aku tahu kapan harus mundur dan melupakanmu.” Bos menatatap mataku beberapa saat sebelum akhirnya dia mengangguk.
Tanpa diduga dia menggenggam tangan kananku, kemudian menciumnya lembut, matanya menatap matuku ya masih terkejut dengan tindakannya, sambil tersenyum dia berkata,
"Thank you for give me a chance ... I promise that I'll love you in every step of mine."
(Terima kasih karena memberiku kesempatan ... aku janji akan mencintamu dalam setiap langkahku).
Aaaaah ... Caraka Benua, berhentilah membuat jantungku berdetak tidak karuan seperti ini, dan bagaimana mungkin aku tidak jatuh hati pada pesona Sang Pangeran kalau diperlakukan seperti ini. Imunku pun akhirnya K.O mendengar pernyataannya ... baiklah kali ini akan ku persiapkan imun patah hati yang super duper kuat.
Ternyata jika menyangkut perasaan, semua logika yang selama ini menjadi perisaiku pun akhirnya hancur … benar kata Agnes Monika, cinta ini tak ada logika! Atau aku hanya manusia bodoh, seperti kata Ada Band? Ah entahlah, yang pasti jangan sampai nanti Rosa ikutan bernyanyi saja, bisa gawat kalau Teh Oca ikutan nyanyi berawal dari tegar, tapi diakhiri dengan ku menangis … tidaaak! ku harap Payung Teduh yang mengakhiri kisah ini dengan akad. Hahaha … berhentilah berkhayal Kirana Az Zahra, karena sang Raja sepertinya masih belum move on dari Dewa 19 dengan ‘Siti Nurbaya’.
******
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
⋆.˚mytha🦋
kk othor kereeenn euy tatanan bahasanya... sama kaya othor teh shanti "si hasnanya maura sama rembulan"
sehat selalu yaa thor ❤️❤️❤️
2025-02-06
1
Lenni Namora
mantap
2024-02-11
1
Restoe Alive
👍keren
2023-11-17
1