What are you doing, Boss?
Pagi ini di rumah terdengar kehebohan seperti biasa kalau aku masuk pagi, karena harus berebut kamar mandi sama Oka yang juga harus pergi sekolah.
Aku baru masuk kamar mandi ketika terdengar gedoran dari luar.
“Kak, cepatan!”
“Bentar, baru juga masuk.”
“Nggak usah mandi! Cuci muka, sikat gigi saja, nggak bakalan kelihatan ko' bedanya, tetap jelek!”
“Nggak ada uang saku seminggu!”
“Maksudnya tetap cantik!” teriak Oka di depan pintu.
“Telat!” Aku berteriak sambil mulai mandi tak memedulikan rengekan Oka di luar.
Memang kurang ajar tuh punya adik satu, tak tahu dia kalau kakaknya yang ini telah berhasil menaklukan sang Pangeran, hihihi. Aku tersenyum mengingat kejadian semalam.
Setelah makan malam, Caraka tidak mengantarku kembali ke taman, tapi langsung mengantarku pulang, katanya dia masih mau ngobrol lama denganku. Alhasil si merah ku tinggal di taman, tapi Caraka janji kalau dia akan menyuruh seseorang untuk mengambil si merah dan memarkirkannya di parkiran karyawan hotel seperti biasa.
Sepanjang jalan pulang kami membicarakan banyak hal. Dia bercerita tentang adik-adiknya. Candra Buana yang kini memegangan usaha di bidang retail, dan Arletha Mahesa, adik bungsu juga perempuan satu-satunya di keluarga Mahesa yang masih kuliah di salah satu universitas ternama di Bandung.
Caraka mengatakan kalau dia jarang bertemu dengan adik-adiknya. Rumah yang sangat luas membuat mereka sulit berinteraksi. Biasanya kalau mereka ada di rumah, mereka hanya akan diam di kamar masing-masing, apalagi sekarang Caraka dan Candra memutuskan untuk tinggal di apartemen, dan sibungsu di Bandung, hanya tersisa orangtuanya di rumah besar itu.
Namun begitu, Caraka dan Candra cukup dekat dengan Arletha, mungkin karena dia adik paling kecil dan perempuan satu-satunya. Jarak mereka yang cukup jauh membuat Caraka dan Candra sedikit posesif terhadap Arletha, mereka akan mengabulkan apapun keinginan adiknya itu, serta berharap Arletha bisa menentukan pilihan hidupnya sendiri tidak seperti kedua kakaknya yang harus menyerah tentang mimpi-mimpi mereka di tangan kedua orangtuanya.
Ternyata hidup dengan bergelimang harta tidak menjadi tolak ukur kebebasan dan kebahagia. Memiliki rumah sederhana dengan kamar mandi satu ternyata menjadi hidup lebih berwarna dan terasa hangat juga ramai. Seramai teriakan Oka di luar.
“Kak, tidak kuat, sudah mau ke luar nih!”
“Iiiih, nggak sabar banget sih!” Aku membuka pintu kamar mandi dengan cepat, secepat Oka yang masuk ke dalam kamar mandi kemudian mendorongku ke luar, menutup pintu dan menguncinya dengan tergesa, tak lama kemudian terdengar suara alam yang menggelegar dari dalam.
“Woi, di silent dong!”
“Aaaaah!!!” Hanya helaan napas lega yang kudengar dari dalam kamar mandi.
Untuk kali ini aku berharap memiliki rumah luas dengan kamar mandi dan toilet yang banyak.
Jam baru menunjuk angka 5.25 ketika aku masuk kamar dan bersiap pergi kantor. Jam 6 aku harus sudah berangkat, begitu juga dengan Oka, jadilah kami akan berebut kamar mandi hampir setiap pagi. Dan ini pula yang menjadi salah satu alasanku malas masuk pagi.
“Kirana, pergi, Mah.” Ku cium pipi Mamah, kemudian salim setelah menghabiskan segelas susu.
“Na, ini rotinya!”
“Nggak usah, Mah, abang ojeknya udah nungguin, soalnya si merah di tinggal di kantor kemarin,” ucapku sambill menyambar tas.
“Lagian kenapa di tinggal di kantor?”
“Mogok.”
“Bohong, Mah!” Oka berjalan sambil mengunyah roti. “Semalam kakak dianter om-om pakai mobil bagus.”
Semalam Caraka memang tidak ke luar dari mobil karena sudah malam jadi aku menyuruhnya untuk langsung pulang.
“Nih, ya, kalau ngomong!” ku jambak rambut Oka yang langsung berteriak.
“Aaaaw …! Astagfirullahadzim, apa dosa hamba punya kakak perempuan satu, bar-bar nya ngalahin preman pasar baru!”
“Astagfirullahadzim, apa dosa hamba punya adik cowok satu, mulutnya ngalahin emak-emak sekelurahan!”
“Na … Na, sudah lepasin! Itu tukang ojeknya udah nungguin di luar, kasihan.”
Aku melepaskan jambakan dengan mata masih menatap tajam Oka yang tengah mengelus-elus kepalanya sambil menatapku tak kalah tajam.
“Kamu juga cepat pergi nanti keburu terlambat lagi, pusing Mamah di telepon mulu sama wali kelasmu karena sering terlambat.”
Mamah kini mendorong kami berdua yang masih beradu argumen ke luar rumah.
“Lihatin saja gue laporin lo, Kak, ke Charles Bonar Sirait.”
“Ngapain lo laporin gue sama presenter TV, mau masukin berita biar viral?”
“Waaaah, dasar nggak gaul!” Oka tertawa mengejek. “Dia itu ketua KPAI!” serunya dengan percaya diri membuatku langsung tertawa terbahak-bahak, bisa ku dengar mamah menghela napas sambil terus mendorong kami.
“Arist Merdeka Sirait, woy! Hahaha … aah, dasar bocah.” Aku berjalan menuju abang ojol setelah kembali mencium pipi mamah dan mengacak-acak rambut Oka yang terdiam terkejut menyadari kalau dia salah sebut nama.
“Biarin! Mereka satu marga, pasti kenal!”
“Hahaha.” Aku hanya tertawa mendengar ucapannya. “Maaf, nunggu lama ya, Pak?”
“Lumayan, Bu,” jawab si Abang Ojek dengan wajah jutek sambil menyerahkan helm.
“Tenang, Pak, nanti saya kasih bintang lima kalau bisa sepuluh, ditambah tips dan ucapan terima kasih plus doa mudah-mudahan lancar nariknya hari ini … aamiin.”
“Aamiin.” Ku dengar Mamah dan Oka ikut mengamini doaku, membuat wajah si abang ojol tiba-tiba tersenyum cerah.
“Benar, Mbak?”
Eiiiy, si Abang Ojol, giliran mau dapat tips aja tuh senyum lebar banget, Bang. Manggilnya juga sudah mudaan dikit nih bukan Ibu lagi.
“Benar dong, Pak, asal kita wus-wus-wus!” Tanganku dengan lincah menirukan gerakan meliuk-liuk.
“Siap, Neng, gampang itu mah,” ucap si abang ojol dengan senyum tiga jarinya.
Membahagiakan Abang Ojol itu gampang, cukup kasih bintang lima dan sedikit tips, langsung tuh manggilnya dari Ibu jadi Eneng.
Untung saja ternyata si abang ojol mantan pembalap liar di daerah Gasibu Bandung dan dengan bangga dia cerita kalau dulu beberapa kali tertangkap polisi karena balapan liar sampai kenal sama beberapa polisi, alhasil dulu si abang ojol tak pernah kena tilang. Ya, tapi itu dulu katanya ketika masih muda, sekarang sudah insyaf, sudah punya anak tiga yang harus dia nafkahi.
Ya, itulah sedikit intermezzo tentang abang ojol, yang bercerita di kala lampu merah. Dan karena si abang ojol yang mantan sembalap motor liar itu, aku sampai hotel dengan tepat waktu. Sesuai janji bintang lima dan tips-pun meluncur pada si abang ojol. Mudah-mudahan berkah ya, Bang … aamiin.
Hari ini semua berjalan dengan lancar dan normal —abaikan kejadian dengan Oka, karena itu percaya atau tidak, merupakan hal yang sangaaat normal bagi kami— tidak ada tamu yang menjengkelkan, pekerjaan berjalan dengan lancar, sampai akhirnya makan siang pun tiba.
Awalnya semua berjalan seperti biasanya. Aku makan bersama dengan Shanty, Dika, dan Pak Edi di kantin, dan tengah menyuap sop buntut ketika tiba-tiba ku rasa seseorang duduk di sampingku, yang membuat suasana kantin tiba-tiba … hening … aku menatap ke samping dan seketika terbelalak ketika ku melihat Caraka duduk tepat di sana dengan semangkuk sop buntut sepertiku.
“Apa saya mengganggu makan siang kalian?” Caraka bertanya santai sambil memeras potongan jeruk nipis ke dalam mangkuk sop di hadapannya, matanya kini menatap kami berempat bergantian.
“Tidak, Pak, kami senang Pak Benua bergabung makan siang bersama kami.” Pak Edi menjawab dengan senyum ramah khas customer service setelah sadar dari keterkejutannya.
Bagaimana kami tidak terkejut ketika ‘Mas Bos’ yang tak pernah sekalipun menginjakan kakinya di kantin karyawan tiba-tiba ikut bergabung makan siang di meja yang sama dengan kami.
“Jauh-jauh mengajak makan siang, dan ternyata hanya mentraktirku makan siang di kantin?” Seorang pria yang tak kalah tampan dari Caraka bertanya dengan santainya sambil menyuap nasi dan ayam bakar lengkap dengan sambal dan lalapannya, berbeda dengan kami berempat yang kini makan dengan sangat pelan dan tanpa suara.
“Biar lo tahu bagaimana kantin hotel bintang lima.”
“Sombong,” ucap pria yang duduk di hadapan Caraka membuat Caraka tertawa.
Dan itu membuat kehebohan dari karyawati yang ada di kantin karena baru pertama melihat ‘Mas Bos’ tertawa dengan riang. Aku memutar bola mata sambil menggelengkan kepala melihat reaksi rekan kerjaku, termasuk Shanty yang kini menatap Caraka dengan mata berbinar, seperti Mamah kalau melihat Lee Minho di TV.
“Jadi apa yang mau lo omongin sampai jauh-jauh nyuruh gue datang. Bukan cuma buat lo traktir di kantin hotel kan?” Pria yang duduk di depan Caraka bertanya dengan suara yang sangat-sangat maskulin, seperti wajahnya yang juga sangat-sangat maskulin dengan kulit hitam manis, rambut sedikit gondrong dan senyum miring membuatnya telihat lebih sangat-sangat maskulin lagi. “Atau jangan-jangan lo sengaja ngajak makan di sini, karena ada salah satu karyawan lo, yang lo suka ya?”
“Uhuk-uhuk!” Seketika aku tersedak mendengar tebakan cowok maskulin bin keren itu.
Caraka dengan cepat membukakan botol minumku yang langsung ku terima, tapi kemudian aku hampir saja menyemburkan air minumku kembali ketika Caraka menepuk punggungku sambil berkata,
“Kebiasaan, kan sudah sering aku bilang kalau makan atau minum itu pelan-pelan, jadi tersedakkan?” Dengan masih terbatuk-batuk aku melototinya yang hanya menatapku santai sambil kembali berkata. “Minum lagi yang banyak biar tidak batuk lagi.”
Astagfirullahaladzim, apa yang kamu lakukan, Bos? Apa kamu ingin aku menjambak rambutmu, di sini? Sekarang?
****
Haiii ...
Ada beberapa orang yang bertanya ... Caraka-Kirana, nantinya bakal seperti apa? Apa semanis Senja-Arjuna, atau seberliku Letnan-Kekey, Arga-Arin ?
Naaaah, karena nulisnya belum selesai, jd saya masih bingung nih kaya lagu Armada, mau dibawa kemana hubungan mereka? 😅😅
Tapiiii ... sejauh yg sudah saya tulis sih, kayanya nih ya masih amanlah, gak perlu siapin hati, dan stok tisu 😂😂😂 siapin aja bunga, kopi atau tiket vote buat mereka 🤣🤣🤣
Doain aja biar Mas Ilham nya gak kabur"an lagi, jd nulisnya cepat selesai ...
Terimakasih banyak atas dukungan selama ini
Love
A.K
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Caraka mulai terbuka nih depan umum.. haishh.. semoga Kirana gak jadi bulan² kemarahan big boss..
2024-12-28
0
Reni Ajja Dech
🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2024-11-15
0
sakura🇵🇸
seru banget ya punya adek cowok😄 jd ada pengalihan emosi dengan ngomelin adek😅😅😅
gemes sama caraka,sengaja banget mau publikasi🤭 temen cowok adeknya apa bukan ya
2023-11-07
1