Hari ke enam, Tuan Takeda sang calon investor dan tim datang ke Takengon untuk melihat lokasi resort, membuat kami seharian berada di proyek. Mempresentasikan langsung di lapangan tentang apa yang akan kami bangun di sana, dan diakhiri dengan penandatangan surat kerjasama dan investasi antara Caraka Benua Mahesa dan Tuan Takeda.
Hari ke enam selain terjadi hal yang penting, tapi juga merupakan hari terakhir kami di Aceh, yang artinya besok kami akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas seperti sebelumnya, kembali ke Kirana Az Zahra sang resepsionis dan Caraka Benua sang Direktur.
“Ah, rasanya antara bahagia dan sedih juga besok kita kembali ke Jakarta.”
“Sedih kenapa?”
“Karena tidak lagi bisa menikmati matahari terbit di bukit belakang hotel, tidak bisa lagi menikmati udara yang dingin dan segar, tidak bisa lagi menikmati matahari terbenam sambil menikmati secangkir kopi gayo, tidak—”
“Tidak bisa ditemani pria yang tampan yang menambah semua suasana itu menjadi memorable.”
Aku menatapnya sambil tertawa tak percaya dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.
“Hahaha … sepertinya sangat beruntung sekali ya saya ini,” sindirku membuatnya tersenyum.
“Sangat beruntung,” ucapnya sambil menyeruput kopi hitam yang kental.
Saat ini kami baru selesai makan malam dan seperti biasa, setelah makan malam kami akan duduk di balkon kamar hotel menikmati hembusan angin, bertemankan secangkir kopi dan pemandangan langit malam Takengon yang bertabur bintang.
Jangan berpikiran macam-macam! Dia duduk di balkon kamarnya dan aku duduk di balkon kamarku. Bukankah sudah ku katakan kalau kamar kami bersebelahan? Jadi setiap malam selama seminggu ini kami akan duduk seperti ini sambil bercerita apa saja.
“Kamu masih mau berteman denganku kan sekembalinya kita ke Jakarta?” Saat ini dia bersandar di pagar balkon menghadapku yang duduk di kursi rotan yang ada di balkon.
Kami terdiam beberapa saat dengan mata saling mengunci sebelum aku mengangguk sambil tersenyum membuatnya ikut tersenyum.
“Dan satu lagi, di luar jam kerja tolong jangan panggil aku, Bapak, aku terlalu muda untuk menjadi ayahmu, dan jangan panggil Bos. Ingat di luar jam kerja kita berteman!”
“Hahaha, kebiasan, Bos.”
“Kitakan sudah berteman, jadi panggil Caraka saja, atau Benua seperti yang lain.”
Aku terdiam memikirkan sarannya kemudian meringis sambil menggeleng.
“Kenapa?”
“Bos, jarak umur kita itu bukan setahun dua tahun, tapi Bos sudah SD ketika saya dengan cantiknya lahir ke dunia, jadi tidak sopan rasanya kalau manggil nama.”
Dia terdiam kemudian mengangguk sambil tersenyum jahil. “Kalau begitu panggil Abang? Jangan deh kaya tukang siomay. Kakak? Jangan deh kaya SPG di mall-mall. Aa? Hmmm, nanti dikiranya anak buah Aa Gym. Mas? Ah, terlalu umum.”
“Hahaha, jadi mau dipanggil apa dong?”
“Apa ya?” Dia terlihat berpikir dengan serius membuatku tersenyum menatapnya.
“Sayang? Babe? Atau Honey juga boleh.”
“Hahahaha …” aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Atau seperti anak SD sekarang yang manggilnya Ayah-Bunda?”
“Boleh tuh, biar tidak kalah sama anak SD.”
“Hahahaha … iiih, geli.” Aku bergidik membayangkan panggilan sayang anak-anak zaman sekarang. Dulu ketika SD boro-boro tahu ayah-bunda, ayah-bundaan, yang ada umur segitu masih suka main masak-masakan sambil berantakin perabotan Mamah.
Dia ikut tertawa sebelum akhirnya kami kembali terdiam menikmati kopi yang kini mulai dingin.
“Ceritakan tentang keluargamu?”
“Saya sudah pernah cerita, giliran Bos dong yang cerita.”
“Tidak ada yang menarik tentang keluargaku.”
“Bos benar, saya sudah sering membacanya di majalah atau nonton di TV, dan sepertinya sudah khatam juga waktu baca profil perusahaan.” Dia mengaguk sambil menghembuskan asap rokok. “Kalau begitu cerita tentang masa remaja Bos saja.”
“Masa remaja? Tidak ada yang menarik tentang masa remajaku.” Dia menatapku sambil tersenyum dengan mata terlihat menerawang. “Waktu remaja boleh dibilang aku tuh bandel.”
“Bos, bandel? Seriusan?” Aku tak percaya menatapnya yang tertawa.
“Iya, dari mulai balapan liar, tawuran, pernah kulakukan.”
“Serius?” Aku menganga masih tidak percaya.
“Hahaha, serius, terus kamu pikir aku waktu remaja kaya gimana?”
“Ya … tipe-tipe ketua osis yang pintar, kesayangan para guru gitu.”
“Hahaha, para guru malah sudah kesal banget. Kalau bukan karena aku penyumbang medali olimpiade terbanyak dan ayahku bukan salah satu donatur terbesar, sekolah sudah mengeluarkanku dari dulu.”
“Hahaha, tidak terbayangkan.”
“Dulu aku benar-benar anak yang berengsek, beberapa kali ditangkap polisi karena balapan liar, tapi aku tak peduli karena tahu orangtuaku pasti akan membebaskanku kembali walau apapun kesalahan yang kulakukan, jadi ya … begitu deh. Namanya juga anak yang kurang perhatian dari orangtuanya, jadi ya, bagaimana caranya aku mencari perhatian itu walaupun dengan cara yang salah.”
Aku terdiam mendengarkannya yang tersenyum kecut sambil menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya pelan.
“Dari kecil hidupku sudah diatur. Berteman dengan siapa, nanti sekolah di mana, kuliah ambil jurusan apa, benar-benar dipersiapkan untuk meneruskan usaha keluarga, sampai … menikah dengan siapa.”
Dia kembali terdiam, matanya kini menatap langit malam yang bertaburkan bintang lebih banyak dari yang biasa ku lihat di langit Ibu Kota.
“Karena tahu hidupku telah diatur itulah aku bisa hidup semena-mena karena tahu orangtua tak akan mungkin membiarkan rencananya berantakan … miris bukan?”
Aku terdiam dan hanya tersenyum, karena tahu itu bukanlah suatu pertanyaan, tapi pernyataan yang dia buat sendiri.
“Aku bahkan baru belajar agama ketika kuliah di luar. Saat itu ada seorang teman dari Jerman, dia sangat gembira ketika mengetahui aku dari Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Dia bertanya apa aku muslim? Aku jawab iya, karena berdasarkan KTP aku memang muslim, walaupun jarang sekali aku sholat apalagi ngaji. Matanya berbinar ketika mengetahui kalau aku seorang muslim, tanpa ragu dia memelukku dan mengatakan kalau aku saudara seimannya, setelah hari itu dia mengikutiku ke mana pun aku pergi berharap bisa belajar agama islam lebih dariku, padahal dari segi keimanan aku rasa dia lebih bagus dariku. Dia lebih rajin sholat daripada aku, lebih mengenal huruf hijaiyah dari pada aku.”
Dia terdiam sebentar untuk menghisap rokoknya kembali.
“Aku berkata jujur kalau ilmu agamaku masihlah sangat rendah tak ada yang bisa aku ajarkan padanya. Dia diam, tapi kemudian tersenyum sambil berkata kalau begitu kita belajar agama bersama-sama, jadi dari sanalah aku mulai belajar tentang islam.”
Aku tersenyum mendengar ceritanya.
“Hidayah itu datang tidak mengenal kapan dan dimana. Hidayah itu Allah turunkan untuk orang yang benar-benar ingin berubah dan Bos salah satunya. Mungkin kalau teman Bos yang orang Jerman itu ngajaknya ketika Bos masih SMA, yang ada tuh orang Jerman malah diajakin tawuran atau balapan liar.”
“Hahaha.” Dia tertawa sambil mengangguk-anggukan kepala.
“Allah tahu waktu yang tepat ketika Bos dikira siap untuk berubah, maka saat itulah Allah menurunkan hidayah-Nya. Semua ada waktunya, Bos, waktu yang benar-benar tepat.”
Dia mengangguk-anggukan kepala sambil menyeruput kopinya.
“Bos, maaf nih ya, Bos, kalau saya tidak sopan, tapi saya penasaran banget, Bos tahu sendiri kalau saya penasaran saya tidak bisa menahannya.”
“Bukannya selama ini kamu memang sudah tidak sopan.”
“Ih, kapan saya tidak sopan?”
“Hahaha, kamu itu karyawan paling kurang ajar yang saya kenal.”
“Ckkk, bukan kurang ajar, Bos, tapi jujur … kalau yang lain kan iya-iya saja, manut gitu saja mungkin karena takut sama Bos, atau mau menjilat Bos.”
“Memang kamu tidak takut?”
“Kalau saya tidak salah kenapa takut, Bos kan orangnya baik banget.”
“Nah, itu kamu baru menjilat saya.”
“Hahaha, bukan menjilat, Bos, tapi jujur.”
Dia tertawa sambil menggelengkan kepala. “Mau nanya apa?”
Beberapa saat aku ragu, tapi aku tak tahan lagi aku benar-benar penasaran!
“Bos, tahu kalau Bos sudah dijodohkan dari dulu?”
Dia mengagguk. “Tahu,” jawabnya sambil menatapku.
“Terus kalau tahu kenapa Bos pacaran sama perempuan lain? Tunangan Bos tidak marah gitu lihat Bos sama perempuan lain?”
“Aku tidak tahu siapa yang dijodohkan denganku. Dulu Big Boss pernah bilang, aku boleh pacaran dengan perempuan lain asal jangan serius karena dia yang akan mencarikan perempuan yang akan menjadi istriku nanti, karena itulah aku sengaja berhubungan dengan banyak perempuan berharap siapapun yang dijodohkan denganku akan mengetahui kalau aku laki-laki berengsek jadi dia memutuskan perjodohan ini.”
“Dan … apa rencana itu berhasil?”
Dia meringis sambil menggeleng. “Tidak, salahku sendiri sih punya pesona yang begitu luar biasa jadi perempuan tak mungkin menolakku bahkan kalau aku berengsek sekalipun.”
“Hahaha.”
“Kecuali kamu, Kirana Az-Zahra, kamu perempuan pertama yang tak terpengaruh dengan pesonaku.”
“Hahaha.” Aku kembali tertawa sambil mengangguk. “Itu menunjukan kalau pesona Bos itu tidak secetar yang Bos kira.”
“Ckk ... kamu membuat kepercaya diri ku turun.”
“Hahaha, baguslah biar Bos tidak terlalu narsis.”
Dia berdecak sambil menyulut batang rokok keduanya. “Jadi katakan padaku apa yang membuatmu kebal terhadap pesonaku?”
Aku kembali tertawa sambil menggelengkan kepala. Ya Allah kenapa makhluk di hadapanku ini begitu narsis?
“Karena saya tidak menyukai lelaki kaya.”
“What? Seriously?” Aku kembali tertawa melihatnya menatapku tak percaya.
“Kenapa? Apa aneh ada perempuan yang tidak menyukai lelaki kaya? Ah! Yang perlu digaris bawahi adalah kekayaan yang diwariskan dari orangtuanya, ya... tipe-tipe Pangeran seperti, Bos.”
“Tapi kenapa? Aku pikir semua perempuan menyukai pria kaya.”
“Tidak denganku. Aku lebih suka lelaki pekerja keras yang sukses dengan kemampuannya sendiri.”
“Apa menurutmu aku tidak seperti itu?”
Aku terdiam kemudian mengangguk. “Bos adalah seorang pekerja keras dan juga berbakat, seperti yang saya pernah bilang, saya yakin kalau Bos bisa sukses dengan kemampuan Bos sendiri bahkan kalau itu tanpa dukungan dari orangtua, Bos.”
“Jadi apa yang membuatmu tidak tertarik denganku.”
“Hmmm … jujur?”
Dia mengangguk serius.
“Karena nama dan kekayaan orangtua Bos.”
Dia mengerutkan keningnya bingung.
“Dari cerita Bos saja saya sudah bisa mengambil kesimpulan kalau orangtua Bos adalah pengambil keputusan dan perencana dalam hidup Bos, dan saya tidak ada dalam rencana hidup Bos yang telah diatur oleh orangtua Bos. Dan pada akhirnya kalau kita benar-benar bersama. Bos, akan dihadapkan pada pilihan saya atau orangtua Bos? Dan saat itu tiba saya tahu siapa yang akan Bos pilih.”
Dia terdiam menatapku beberapa saat. “Bagaimana kamu tahu siapa yang akan aku pilih.”
“Karena Bos adalah anak yang berbakti pada orangtua, sebandel-bandelnya Bos, Bos tidak pernah menentang atau menolak kemauan orangtua walau itu menyakiti diri Bos sendiri.”
Dia masih terdiam menatapku dengan sebatang rokok di jarinya yang telah terbakar setengah.
“Kerena itulah dari awal saya sudah disuntik imun terhadap pesona Bos.”
Dia mendengus tertawa. “Apa hanya imun terhadapku saja?”
“Tidak, tapi imun terhadap semua Pangeran.”
Dia kembali terdiam menatapku penuh selidik. “Aku curiga, apa kamu pernah sakit hati oleh pria kaya?”
“Hahaha, tidak.”
Ya, memang bukan aku yang disakiti secara langsung, tapi itu pun menyakitiku secara tidak langsung dan sangat memengaruhi terhadap cara pandangku terhadap orang-orang kaya.
“Jadi, bagaimana tunangan Bos? Pasti cantik.”
“Kami belum bertunangan, dan … ya, dia cantik.”
“Baguslah, bukankah akan mudah untuk mencintai gadis cantik.”
Dia mendengus membuatku mengerutkan kening sambil menatapnya yang hanya diam sambil menghisap rokok dan menghembuskannya secara perlahan, terlihat menerawang dengan berbagai macam pikiran yang entah apa.
“Apa kamu benar-benar tidak merasakan apapun padaku? Oh, ayolah, masa sedikit saja tidak merasa ser-seran gitu kalau kita lagi berduan seperti sekarang ini.”
“Hahaha, sudah malam, Bos, saya tidur duluan.” Aku berdiri pamit.
“Hei! Jangan kabur, KIirana Az-Zahra, jawab dulu pertanyaanku.”
“Hahaha, selamat malam Bos.” Aku melambaikan tangan sambil masuk meninggalkannya yang ikut tertawa. Tak perlu ku jawab pertanyaan itu karena ku tahu dia hanya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bersikap jahil seperti biasanya.
Apa tidak pernah ada perasaan lebih ketika saat bersamanya?
Hmmm … entahlah, tapi ku rasa imunku sudah mulai menipis.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
martina melati
baru sadar nih... terbayang mengapa kebanyakan org nih... aplg kaum borjouis jd selingkuh (pria) apa krn menikah terpaksa y, nikah krn utk menjalin hubungan bisnis...
2025-04-06
0
Sandisalbiah
cinta datang krn terbiasa bersama.. sedikit perhatian, sedikit perlakuan manis dan boommm.... perempuan normal di pastikan baper karenanya... dan itu manusiawi..
2024-12-27
0
⋆.˚mytha🦋
pesona bos benua sampe ke aku kayanya.. kirana imunnya bagus kok ke aku enggak yaak... ini malah aku loh yg serseran bos, bukan kirana 🤭😆🥰
2025-02-06
0