3. Prince, Coffee, and Star

Hari ke enam, Tuan Takeda sang calon investor dan tim datang ke Takengon untuk melihat lokasi resort, membuat kami seharian berada di proyek. Mempresentasikan langsung di lapangan tentang apa yang akan kami bangun di sana, dan diakhiri dengan penandatangan surat kerjasama dan investasi antara Caraka Benua Mahesa dan Tuan Takeda.

Hari ke enam selain terjadi hal yang penting, tapi juga merupakan hari terakhir kami di Aceh, yang artinya besok kami akan kembali ke Jakarta, kembali ke rutinitas seperti sebelumnya, kembali ke Kirana Az Zahra sang resepsionis dan Caraka Benua sang Direktur.

“Ah, rasanya antara bahagia dan sedih juga besok kita kembali ke Jakarta.”

“Sedih kenapa?”

“Karena tidak lagi bisa menikmati matahari terbit di bukit belakang hotel, tidak bisa lagi menikmati udara yang dingin dan segar, tidak bisa lagi menikmati matahari terbenam sambil menikmati secangkir kopi gayo, tidak—”

“Tidak bisa ditemani pria yang tampan yang menambah semua suasana itu menjadi memorable.”

Aku menatapnya sambil tertawa tak percaya dengan kepercayaan dirinya yang tinggi.

“Hahaha … sepertinya sangat beruntung sekali ya saya ini,” sindirku membuatnya tersenyum.

“Sangat beruntung,” ucapnya sambil menyeruput kopi hitam yang kental.

Saat ini kami baru selesai makan malam dan seperti biasa, setelah makan malam kami akan duduk di balkon kamar hotel menikmati hembusan angin, bertemankan secangkir kopi dan pemandangan langit malam Takengon yang bertabur bintang.

Jangan berpikiran macam-macam! Dia duduk di balkon kamarnya dan aku duduk di balkon kamarku. Bukankah sudah ku katakan kalau kamar kami bersebelahan? Jadi setiap malam selama seminggu ini kami akan duduk seperti ini sambil bercerita apa saja.

“Kamu masih mau berteman denganku kan sekembalinya kita ke Jakarta?” Saat ini dia bersandar di pagar balkon menghadapku yang duduk di kursi rotan yang ada di balkon.

Kami terdiam beberapa saat dengan mata saling mengunci sebelum aku mengangguk sambil tersenyum membuatnya ikut tersenyum.

“Dan satu lagi, di luar jam kerja tolong jangan panggil aku, Bapak, aku terlalu muda untuk menjadi ayahmu, dan jangan panggil Bos. Ingat di luar jam kerja kita berteman!”

“Hahaha, kebiasan, Bos.”

“Kitakan sudah berteman, jadi panggil Caraka saja, atau Benua seperti yang lain.”

Aku terdiam memikirkan sarannya kemudian meringis sambil menggeleng.

“Kenapa?”

“Bos, jarak umur kita itu bukan setahun dua tahun, tapi Bos sudah SD ketika saya dengan cantiknya lahir ke dunia, jadi tidak sopan rasanya kalau manggil nama.”

Dia terdiam kemudian mengangguk sambil tersenyum jahil. “Kalau begitu panggil Abang? Jangan deh kaya tukang siomay. Kakak? Jangan deh kaya SPG di mall-mall. Aa? Hmmm, nanti dikiranya anak buah Aa Gym. Mas? Ah, terlalu umum.”

“Hahaha, jadi mau dipanggil apa dong?”

“Apa ya?” Dia terlihat berpikir dengan serius membuatku tersenyum menatapnya.

“Sayang? Babe? Atau Honey juga boleh.”

“Hahahaha …” aku tertawa terbahak-bahak mendengarnya. “Atau seperti anak SD sekarang yang manggilnya Ayah-Bunda?”

“Boleh tuh, biar tidak kalah sama anak SD.”

“Hahahaha … iiih, geli.” Aku bergidik membayangkan panggilan sayang anak-anak zaman sekarang. Dulu ketika SD boro-boro tahu ayah-bunda, ayah-bundaan, yang ada umur segitu masih suka main masak-masakan sambil berantakin perabotan Mamah.

Dia ikut tertawa sebelum akhirnya kami kembali terdiam menikmati kopi yang kini mulai dingin.

“Ceritakan tentang keluargamu?”

“Saya sudah pernah cerita, giliran Bos dong yang cerita.”

“Tidak ada yang menarik tentang keluargaku.”

“Bos benar, saya sudah sering membacanya di majalah atau nonton di TV, dan sepertinya sudah khatam juga waktu baca profil perusahaan.” Dia mengaguk sambil menghembuskan asap rokok. “Kalau begitu cerita tentang masa remaja Bos saja.”

“Masa remaja? Tidak ada yang menarik tentang masa remajaku.” Dia menatapku sambil tersenyum dengan mata terlihat menerawang. “Waktu remaja boleh dibilang aku tuh bandel.”

“Bos, bandel? Seriusan?” Aku tak percaya menatapnya yang tertawa.

“Iya, dari mulai balapan liar, tawuran, pernah kulakukan.”

“Serius?” Aku menganga masih tidak percaya.

“Hahaha, serius, terus kamu pikir aku waktu remaja kaya gimana?”

“Ya … tipe-tipe ketua osis yang pintar, kesayangan para guru gitu.”

“Hahaha, para guru malah sudah kesal banget. Kalau bukan karena aku penyumbang medali olimpiade terbanyak dan ayahku bukan salah satu donatur terbesar, sekolah sudah mengeluarkanku dari dulu.”

“Hahaha, tidak terbayangkan.”

“Dulu aku benar-benar anak yang berengsek, beberapa kali ditangkap polisi karena balapan liar, tapi aku tak peduli karena tahu orangtuaku pasti akan membebaskanku kembali walau apapun kesalahan yang kulakukan, jadi ya … begitu deh. Namanya juga anak yang kurang perhatian dari orangtuanya, jadi ya, bagaimana caranya aku mencari perhatian itu walaupun dengan cara yang salah.”

Aku terdiam mendengarkannya yang tersenyum kecut sambil menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya pelan.

“Dari kecil hidupku sudah diatur. Berteman dengan siapa, nanti sekolah di mana, kuliah ambil jurusan apa, benar-benar dipersiapkan untuk meneruskan usaha keluarga, sampai … menikah dengan siapa.”

Dia kembali terdiam, matanya kini menatap langit malam yang bertaburkan bintang lebih banyak dari yang biasa ku lihat di langit Ibu Kota.

“Karena tahu hidupku telah diatur itulah aku bisa hidup semena-mena karena tahu orangtua tak akan mungkin membiarkan rencananya berantakan … miris bukan?”

Aku terdiam dan hanya tersenyum, karena tahu itu bukanlah suatu pertanyaan, tapi pernyataan yang dia buat sendiri.

“Aku bahkan baru belajar agama ketika kuliah di luar. Saat itu ada seorang teman dari Jerman, dia sangat gembira ketika mengetahui aku dari Indonesia dengan mayoritas muslim terbesar di dunia. Dia bertanya apa aku muslim? Aku jawab iya, karena berdasarkan KTP aku memang muslim, walaupun jarang sekali aku sholat apalagi ngaji. Matanya berbinar ketika mengetahui kalau aku seorang muslim, tanpa ragu dia memelukku dan mengatakan kalau aku saudara seimannya, setelah hari itu dia mengikutiku ke mana pun aku pergi berharap bisa belajar agama islam lebih dariku, padahal dari segi keimanan aku rasa dia lebih bagus dariku. Dia lebih rajin sholat daripada aku, lebih mengenal huruf hijaiyah dari pada aku.”

Dia terdiam sebentar untuk menghisap rokoknya kembali.

“Aku berkata jujur kalau ilmu agamaku masihlah sangat rendah tak ada yang bisa aku ajarkan padanya. Dia diam, tapi kemudian tersenyum sambil berkata kalau begitu kita belajar agama bersama-sama, jadi dari sanalah aku mulai belajar tentang islam.”

Aku tersenyum mendengar ceritanya.

“Hidayah itu datang tidak mengenal kapan dan dimana. Hidayah itu Allah turunkan untuk orang yang benar-benar ingin berubah dan Bos salah satunya. Mungkin kalau teman Bos yang orang Jerman itu ngajaknya ketika Bos masih SMA, yang ada tuh orang Jerman malah diajakin tawuran atau balapan liar.”

“Hahaha.” Dia tertawa sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Allah tahu waktu yang tepat ketika Bos dikira siap untuk berubah, maka saat itulah Allah menurunkan hidayah-Nya. Semua ada waktunya, Bos, waktu yang benar-benar tepat.”

Dia mengangguk-anggukan kepala sambil menyeruput kopinya.

“Bos, maaf nih ya, Bos, kalau saya tidak sopan, tapi saya penasaran banget, Bos tahu sendiri kalau saya penasaran saya tidak bisa menahannya.”

“Bukannya selama ini kamu memang sudah tidak sopan.”

“Ih, kapan saya tidak sopan?”

“Hahaha, kamu itu karyawan paling kurang ajar yang saya kenal.”

“Ckkk, bukan kurang ajar, Bos, tapi jujur … kalau yang lain kan iya-iya saja, manut gitu saja mungkin karena takut sama Bos, atau mau menjilat Bos.”

“Memang kamu tidak takut?”

“Kalau saya tidak salah kenapa takut, Bos kan orangnya baik banget.”

“Nah, itu kamu baru menjilat saya.”

“Hahaha, bukan menjilat, Bos, tapi jujur.”

Dia tertawa sambil menggelengkan kepala. “Mau nanya apa?”

Beberapa saat aku ragu, tapi aku tak tahan lagi aku benar-benar penasaran!

“Bos, tahu kalau Bos sudah dijodohkan dari dulu?”

Dia mengagguk. “Tahu,” jawabnya sambil menatapku.

“Terus kalau tahu kenapa Bos pacaran sama perempuan lain? Tunangan Bos tidak marah gitu lihat Bos sama perempuan lain?”

“Aku tidak tahu siapa yang dijodohkan denganku. Dulu Big Boss pernah bilang, aku boleh pacaran dengan perempuan lain asal jangan serius karena dia yang akan mencarikan perempuan yang akan menjadi istriku nanti, karena itulah aku sengaja berhubungan dengan banyak perempuan berharap siapapun yang dijodohkan denganku akan mengetahui kalau aku laki-laki berengsek jadi dia memutuskan perjodohan ini.”

“Dan … apa rencana itu berhasil?”

Dia meringis sambil menggeleng. “Tidak, salahku sendiri sih punya pesona yang begitu luar biasa jadi perempuan tak mungkin menolakku bahkan kalau aku berengsek sekalipun.”

“Hahaha.”

“Kecuali kamu, Kirana Az-Zahra, kamu perempuan pertama yang tak terpengaruh dengan pesonaku.”

“Hahaha.” Aku kembali tertawa sambil mengangguk. “Itu menunjukan kalau pesona Bos itu tidak secetar yang Bos kira.”

“Ckk ... kamu membuat kepercaya diri ku turun.”

“Hahaha, baguslah biar Bos tidak terlalu narsis.”

Dia berdecak sambil menyulut batang rokok keduanya. “Jadi katakan padaku apa yang membuatmu kebal terhadap pesonaku?”

Aku kembali tertawa sambil menggelengkan kepala. Ya Allah kenapa makhluk di hadapanku ini begitu narsis?

“Karena saya tidak menyukai lelaki kaya.”

“What? Seriously?” Aku kembali tertawa melihatnya menatapku tak percaya.

“Kenapa? Apa aneh ada perempuan yang tidak menyukai lelaki kaya? Ah! Yang perlu digaris bawahi adalah kekayaan yang diwariskan dari orangtuanya, ya... tipe-tipe Pangeran seperti, Bos.”

“Tapi kenapa? Aku pikir semua perempuan menyukai pria kaya.”

“Tidak denganku. Aku lebih suka lelaki pekerja keras yang sukses dengan kemampuannya sendiri.”

“Apa menurutmu aku tidak seperti itu?”

Aku terdiam kemudian mengangguk. “Bos adalah seorang pekerja keras dan juga berbakat, seperti yang saya pernah bilang, saya yakin kalau Bos bisa sukses dengan kemampuan Bos sendiri bahkan kalau itu tanpa dukungan dari orangtua, Bos.”

“Jadi apa yang membuatmu tidak tertarik denganku.”

“Hmmm … jujur?”

Dia mengangguk serius.

“Karena nama dan kekayaan orangtua Bos.”

Dia mengerutkan keningnya bingung.

“Dari cerita Bos saja saya sudah bisa mengambil kesimpulan kalau orangtua Bos adalah pengambil keputusan dan perencana dalam hidup Bos, dan saya tidak ada dalam rencana hidup Bos yang telah diatur oleh orangtua Bos. Dan pada akhirnya kalau kita benar-benar bersama. Bos, akan dihadapkan pada pilihan saya atau orangtua Bos? Dan saat itu tiba saya tahu siapa yang akan Bos pilih.”

Dia terdiam menatapku beberapa saat. “Bagaimana kamu tahu siapa yang akan aku pilih.”

“Karena Bos adalah anak yang berbakti pada orangtua, sebandel-bandelnya Bos, Bos tidak pernah menentang atau menolak kemauan orangtua walau itu menyakiti diri Bos sendiri.”

Dia masih terdiam menatapku dengan sebatang rokok di jarinya yang telah terbakar setengah.

“Kerena itulah dari awal saya sudah disuntik imun terhadap pesona Bos.”

Dia mendengus tertawa. “Apa hanya imun terhadapku saja?”

“Tidak, tapi imun terhadap semua Pangeran.”

Dia kembali terdiam menatapku penuh selidik. “Aku curiga, apa kamu pernah sakit hati oleh pria kaya?”

“Hahaha, tidak.”

Ya, memang bukan aku yang disakiti secara langsung, tapi itu pun menyakitiku secara tidak langsung dan sangat memengaruhi terhadap cara pandangku terhadap orang-orang kaya.

“Jadi, bagaimana tunangan Bos? Pasti cantik.”

“Kami belum bertunangan, dan … ya, dia cantik.”

“Baguslah, bukankah akan mudah untuk mencintai gadis cantik.”

Dia mendengus membuatku mengerutkan kening sambil menatapnya yang hanya diam sambil menghisap rokok dan menghembuskannya secara perlahan, terlihat menerawang dengan berbagai macam pikiran yang entah apa.

“Apa kamu benar-benar tidak merasakan apapun padaku? Oh, ayolah, masa sedikit saja tidak merasa ser-seran gitu kalau kita lagi berduan seperti sekarang ini.”

“Hahaha, sudah malam, Bos, saya tidur duluan.” Aku berdiri pamit.

“Hei! Jangan kabur, KIirana Az-Zahra, jawab dulu pertanyaanku.”

“Hahaha, selamat malam Bos.” Aku melambaikan tangan sambil masuk meninggalkannya yang ikut tertawa. Tak perlu ku jawab pertanyaan itu karena ku tahu dia hanya mencoba mengalihkan pembicaraan dengan bersikap jahil seperti biasanya.

Apa tidak pernah ada perasaan lebih ketika saat bersamanya?

Hmmm … entahlah, tapi ku rasa imunku sudah mulai menipis.

*****

Terpopuler

Comments

martina melati

martina melati

baru sadar nih... terbayang mengapa kebanyakan org nih... aplg kaum borjouis jd selingkuh (pria) apa krn menikah terpaksa y, nikah krn utk menjalin hubungan bisnis...

2025-04-06

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

cinta datang krn terbiasa bersama.. sedikit perhatian, sedikit perlakuan manis dan boommm.... perempuan normal di pastikan baper karenanya... dan itu manusiawi..

2024-12-27

0

⋆.˚mytha🦋

⋆.˚mytha🦋

pesona bos benua sampe ke aku kayanya.. kirana imunnya bagus kok ke aku enggak yaak... ini malah aku loh yg serseran bos, bukan kirana 🤭😆🥰

2025-02-06

0

lihat semua
Episodes
1 1. Become Cinderella in Seven Days
2 2. Sunrise
3 3. Prince, Coffee, and Star
4 4. Diner
5 5. Cars Free Day
6 6. Gossip
7 7. Good Morning, Kiki!
8 8. Jealousy
9 9. Birthday Party
10 10. Cinderella Syndrom
11 11. Miss You So Bad
12 12. Confession
13 13. Big Boss
14 14. I wish, I could stop the time for a while
15 15. Reallity VS Drakor
16 16. What are you doing, Boss?
17 17. Just the two of us
18 18. The girl who stole my heart
19 19. Cinderella VS Mumu Peri
20 20. The Past
21 21. Surprised!!
22 22. Takeshi Castle
23 23. Lunch time
24 24. The Most Awesome Man I Ever Know
25 25. Paradeisos
26 26. Kang Kopi
27 27. It's okay, I'm here with you
28 28. I love you, just the way you are.
29 29. Go Public
30 30. Bersua Baji dengan Matan
31 31. Paradoks
32 32. An eye for an eye
33 33. Ibu Suri
34 34. Spell
35 35. Zip Your Mouth!
36 36. Shoulder to cry on
37 37. Opportunity
38 38. I will let you go
39 39. Farewell
40 40. Randi Prasetyo
41 41. Be safe, be happy
42 42. E-World
43 43. Rapunzel
44 44. Jealous guy
45 45. Mood Booster
46 46. My Past
47 47. Homesick
48 48. I’m here for you
49 If
50 50. Puzzle Piece
51 51. SAH!
52 52. Another puzzle pieces
53 53. She’s not your kind
54 54. Just a story from the past
55 55. Ibu Peri, Ibu Suri
56 56. Debut
57 57. Deja vu
58 58. Gift
59 59. Calon menantu Mahesa
60 60. In the right place at the right time
61 61. A picture of a puzzle
62 62. Just My Imagination?
63 63. A proving
64 64. Benak hitam
65 65. Identitas Bi
66 66. The return of the nightmare
67 67. Memories
68 68. Roller coaster
69 69. Bi
70 70. After 20 years
71 71. I love you, I’m sorry
72 72. The Truth
73 73. The real truth
74 74. Stay with me
75 75. Ordinary people
76 76. Anaking jimat awaking
77 77. Family reunion
78 78. Forgiveness
79 79. Someday
80 80. Marry me!
81 81. Lelaki paripurna
82 82. One step closer
83 83. Daughter first love
84 84. Heaven
85 Extra part 1
86 Extra part 2
87 Extra part 3 (Tamat)
88 Extra part 3 (Tamat)
89 COMING SOON!!!
90 Pengumuman si Abang
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. Become Cinderella in Seven Days
2
2. Sunrise
3
3. Prince, Coffee, and Star
4
4. Diner
5
5. Cars Free Day
6
6. Gossip
7
7. Good Morning, Kiki!
8
8. Jealousy
9
9. Birthday Party
10
10. Cinderella Syndrom
11
11. Miss You So Bad
12
12. Confession
13
13. Big Boss
14
14. I wish, I could stop the time for a while
15
15. Reallity VS Drakor
16
16. What are you doing, Boss?
17
17. Just the two of us
18
18. The girl who stole my heart
19
19. Cinderella VS Mumu Peri
20
20. The Past
21
21. Surprised!!
22
22. Takeshi Castle
23
23. Lunch time
24
24. The Most Awesome Man I Ever Know
25
25. Paradeisos
26
26. Kang Kopi
27
27. It's okay, I'm here with you
28
28. I love you, just the way you are.
29
29. Go Public
30
30. Bersua Baji dengan Matan
31
31. Paradoks
32
32. An eye for an eye
33
33. Ibu Suri
34
34. Spell
35
35. Zip Your Mouth!
36
36. Shoulder to cry on
37
37. Opportunity
38
38. I will let you go
39
39. Farewell
40
40. Randi Prasetyo
41
41. Be safe, be happy
42
42. E-World
43
43. Rapunzel
44
44. Jealous guy
45
45. Mood Booster
46
46. My Past
47
47. Homesick
48
48. I’m here for you
49
If
50
50. Puzzle Piece
51
51. SAH!
52
52. Another puzzle pieces
53
53. She’s not your kind
54
54. Just a story from the past
55
55. Ibu Peri, Ibu Suri
56
56. Debut
57
57. Deja vu
58
58. Gift
59
59. Calon menantu Mahesa
60
60. In the right place at the right time
61
61. A picture of a puzzle
62
62. Just My Imagination?
63
63. A proving
64
64. Benak hitam
65
65. Identitas Bi
66
66. The return of the nightmare
67
67. Memories
68
68. Roller coaster
69
69. Bi
70
70. After 20 years
71
71. I love you, I’m sorry
72
72. The Truth
73
73. The real truth
74
74. Stay with me
75
75. Ordinary people
76
76. Anaking jimat awaking
77
77. Family reunion
78
78. Forgiveness
79
79. Someday
80
80. Marry me!
81
81. Lelaki paripurna
82
82. One step closer
83
83. Daughter first love
84
84. Heaven
85
Extra part 1
86
Extra part 2
87
Extra part 3 (Tamat)
88
Extra part 3 (Tamat)
89
COMING SOON!!!
90
Pengumuman si Abang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!