Just the two of us
Untung saja sikap Bos tadi tidak berlanjut, setelah aku berhenti batuk karena tersedak, aku mengucapkan terima kasih sambil mencoba memberinya isyarat dengan tatapan mata agar dia berhenti melakukan tindakan bodoh. Dan sepertinya itu berhasil! Bos kembali bersikap normal dengan berbincang dengan temannya, mengacuhkan kami.
Namun seperti yang sudah ku duga Shanty, Dika, dan Pak Edi tidak akan melepaskanku begitu saja. Mereka kini berdiri di hadapanku dengan mata menyelidik.
“Sejak kapan?” Shanty yang pertama bertanya yang mendapat anggukan dari Dika dan Pak Edi.
“Apanya yang sejak kapan?” Aku masih berusaha terlihat tenang.
“Kak Kirana sama Mas Bos,” jawab Shanty dengan penasaran.
“Sejak kapan apanya sih?”
“Sudah deh, Na, mending kamu terus terang saja sama kita, kamu punya hubungan kan sama Bos? Kita bakal jaga rahasia kok,” ucap Dika yang mendapat anggukan semangat dari Siska dan Pak Edi.
“Yaaa … hubungan atasan bawahan,” jawabku yang tentu saja tidak percaya dengan apa yang aku ucapkan.
“Na, ini Pak Benua lho, Na, Pak Benua!” seru Pak Edi tak sabar. “Dari mulai dia tugas di sini, dia belum pernah sekalipun makan di kantin!”
“Kan tadi dia mau lihatin kantin kita sama temannya.”
“Teruuus … dia bukain botol minum, nepuk-nepuk pungggung Kakak. Aaaah, Kak Kirana, mauuu!!!” seru Santi heboh sendiri sambil tersenyum lebar, dan mengoyang-goyangkan tubuhnya seperti cacing kepanasan.
“Ya, mungkin karena kebetulan dia duduk di sampingku jadi Bos hanya menolongku saja.” Mereka terdiam beberapa saat sambil menatapku. “Mungkin kalau Bos duduk di samping kamu, San, terus kamu tersedak, dia juga bakal melakukan hal yang sama.”
Mata Santi menerawang membayangkan hal itu membuatnya tersenyum lebar.
“Iya ya, Kak?”
“Iya, San,” jawabku dengan semangat. “Pak Bos kan baik.” Santi mengangguk setuju. Sedangkan Pak Eddy dan Dika masih menatapku dengan sedikit curiga.
“Tapi kenapa dia bisa tahu kalau kamu makannya cepat?”
Ya ampun, Dika berhentilah bermain detektif-detektifaan untuk saat ini!
“Karena …” Aku berpikir beberapa saat sebelum akhirnya memngingat sesuatu. “Kami kan pernah ke Aceh bareng waktu itu seminggu, ingatkan yang waktu aku didapuk jadi penerjemah?” Mereka terdiam sebelum akhirnya menangguk membuatku sedikit bernapas lega. “Jadi mungkin selama di Aceh dia melihat kalau aku makan pasti cepat, soalnya tidak nyaman banget kalau harus makan sama Bos.”
Mereka semua mengangguk. Akhirnya!!!
“Iya, benar tadi itu kaya uji nyali bukan istirahat,” ucap Dika yang mendapat anggukan dari Pak Edi.
“Sama, makanya saya tidak pernah mau ikut acara makan-makan sama Direksi, berasa rapat bukannya makan.” Pak Edi bergedik ngeri, membuatku mengangguk-angguk semangat mendukung opininya.
“Nah, semua merasakan kan bagaimana tidak nyamannya kalau makan sama Bos, dan bayangkan ini seminggu! Seminggu!!!”
Pak Edi dan Dika bergidik membayangkannya, berbeda dengan Santi.
“Kalau aku senang kok makan sama Mas Bos … cakep bangeeet!!” seru Santi sambil mukul-mukul lenganku manja membuatku meringis.
“Iiiiih!!!” Pak Eddy dan Dika kembali bergidik sambil berjalan pergi, dengan cepat aku menyusul mereka meninggalkan Santi dengan khayalannya.
Selamaaat … hari ini aku selamat dari rasa curiga rekan-rekan sekantorku, tapi kalau besok Caraka seperti itu lagi, aku tak tahu harus mencari alasan apa lagi. Aku harus membicarakan ini dengannya.
****
“Hahaha, berhentilah cemberut seperti itu.” Caraka tertawa dengan bahagianya ketika sepulang kerja aku meminta waktu bertemu dengannya di rooftop untuk membicarakan apa yang terjadi setelah makan siang. “Tapikan akhirnya semua tidak ada yang curiga.”
“Iya, tapi aku harap tidak ada lagi lain kali … kalau sampai terjadi lagi, aku tak tahu alasan apa yang harus aku pakai.”
“Jujur saja … bilang kita pacaran.”
Aku mengangkat alis sebelum akhirnya tertawa sambil menggeleng.
“Kamu lupa kalau titah dari Raja belum turun? Dan selama masih belum jelas, aku tak ingin dengan percaya diri mengatakan kalau kita memiliki hubungan.”
“Kenapa tidak percaya diri?” Perlahan dia berjalan mendekat kemudian menggenggam kedua tanganku.
Jangan tanya bagaimana jantungku saat ini … yang pasti aku bahkan hampir lupa bernapas ketika melihatnya menatapku dengan lembut.
“Apa aku terlalu memalukan hingga kamu tak percaya diri tentang hubungan kita?”
Aku menganga mendengar ucapannya … apa dia salah minum obat? Bagaimana bisa dia berkata seperti itu? Ada juga aku yang seharusnya merasa insecure dengannya, kenapa dia malah yang seperti itu?
“Bukan seperti itu ...” Aku benar-benar merasa tak enak hati melihat wajah memelasnya. “Bagaimana mungkin aku malu mengakuimu sebagai kekasihku, yang ada juga aku yang merasa insecure.”
“Jadi kamu tidak merasa malu denganku?”
“Ya, tidaklah! Siapa coba yang malu punya kekasihmu seperti kamu, yang menjadi the most eligible bachelor in this year.” (Bujangan paling memenuhi syarat tahun ini)
Akhirnya aku bisa melihat senyumnya terbit menghiasi wajah tampannya … aaah, dia memang sangat luar biasa, bagaimana mungkin aku malu mengakuinya sebagai pacarku.
Hihihi … pacar. Aaaah, aku jadi malu, hihihi.
“Kalau begitu, kita beritahu semua orang kalau kita adalah sepasang kekasih.”
Aku hampir saja mengangguk setuju ketika melihatnya berbicara dengan wajah berbinar bahagia, tapi …
“Heiiii … hahaha!” Aku tertawa ketika menyadari kebodohanku. “Kamu pikir aku akan terjebak dengan aktingmu itu?”
“Oh, ayolah, Na!”
“Hahahaha.”
“Ckkk … aku pikir, aku bisa mengelabuimu.”
“Hahaha … hampir, Bos, tapi aku terlalu pintar.”
“Bukan pintar, tapi kamu terlalu realistis.”
“Hahaha, benar!”
Aku menggelengkan kepala mengingat aku hampir saja mengikuti kemauannya dengan mengikuti ucapannya yang seolah menghipnotis. Tapi aku cepat menyadari, orang senarsis dan sepercaya diri dia, tidak mungkin akan merasa insecure dengan orang lain.
“Bukankah kita ini seperti anak kecil yang backstreet karena dilarang pacaran oleh orangtua kita?”
“Yang jelas bukan orangtuaku yang melarang pacaran.”
“Ckkk …”
Aku hanya tersenyum melihat Caraka yang berdecak sambil menghela napas.
“Tidak ada salahnya hubungan ini hanya menjadi milik kita berdua, menjadi cerita kita berdua … bukankah itu akan lebih menyenangkan? Hanya kita berdua yang tahu tentang perjalanan cerita kita, tidak ada orang lain yang tahu … just the two of us.” (Hanya kita berdua)
Caraka menatapku beberapa saat sebelum akhirnya dia tersenyum.
“But I wish, I can tell the world … you’re mine, and I’m yours.” (aku berharap, aku bisa mengatakan kepada dunia bahwa kamu adalah milikku, dan aku milikmu).
Aku terdiam menatapnya yang menatapku dengan mata teduh dengan senyuman yang aku yakin kalau setengah karyawan hotel ini melihatnya, mereka akan berteriak kegirangan seperti mendapatkan jackpot. Tidak itu tidak berlaku unutkku … ingat, aku sudah disuntik imun terhadap pesona para Pangeran, ya … walaupun sudah imunku menyerah kepada pesona Pangeran yang satu ini, terbukti dengan perasaan aneh, tapi menyenangkan yang ku rasa di dalam dada ketika mendengarnya mengatakan hal itu.
“Hahaha … tidak akan mempan padaku.” Aku tertawa berusaha menyembunyikan warna merah di pipi.
“Ckkk … kenapa imunmu sangat kuat?” Dia bertanya dengan putus asa.
“Hahaha.” Aku kembali tertawa melihatnya putus asa, tapi hanya sebentar sebelum dia kembali menatapku lembut.
“Baiklah,” ucapnya sambil merapihkan rambutku yang tertiup angin, dan itu semakin memacu debaran jantungku. “Aku akan merahasiakan tentang hubungan kita sampai masalah perjodohanku benar-benar selesai.”
Aku tersenyum dengan jantung masih berdegup menggila karena dia terus saja mengelus rambutku dengan jarak yang cukup dekat.
“Just the two of us? (Hanya kita berdua?)” tanyanya membuatku mengangguk sambil menelan ludahku yang terasa serat.
“Yes, just the two of us.” (Ya, hanya kita berdua)
“Tapi hanya di kantor,” ucapnya dengan mata menatapku serius. “Aku akan merahasiakan hubungan kita hanya di kantor, tapi kalau di luar … aku tak ingin kita menyangkalnya.”
Aku terdiam beberapa saat, berpikir … semenjak aku mengakui perasaanku padanya, ini sudah menjadi keputusanku untuk mengikuti kata hatiku, jadi kenapa tidak? Bukankah aku terlanjur nyebur dan basah? Jadi kenapa tidak sekalian saja berenang dan bermain air, daripada sudah terlanjur nyebur, tapi hanya bergeming karena takut tenggelam.
Bukankah akan sangat rugi ketika sudah nyebur, tapi hanya diam dan hanya menunggu tenggelam atau menunggu pelampung datang?
Aku akan mengikuti perkataan Mamah … aku tak ingin menyesal, jadi lebih baik aku bersenang-senang kalaupun nanti tenggelam setidaknya aku tak akan menyesal karena pernah merasakan bahagia.
Dengan yakin aku mengangguk menjawab pertanyaannya membuanya tersenyum lebar dan dengan sangat cepat dia memelukku erat.
Aku terdiam terkejut dengan pelukannya yang tiba-tiba, sebelum akhirnya aku tersenyum kemudian balas memeluknya.
Aku tak tahu sampai mana hubunganku dengannya, apa akan sampai garis akhir atau akan terhenti di tengah jalan … aku tak tahu.
Tapi aku tak ingin menyesal … aku akan menggunakan waktu yang kami miliki dengan sebaik-baiknya … sebelum tautan jari kami dipaksa merenggang, sebelum pelukan kami dipaksa menjauh, sebelum rasa yang kami miliki dipaksa untuk padam.
*****
Assalamualaikum, wr, wb ...
Selamat malam semuanya
Turut berduka cita atas musibah yang terjadi di Kupang, NTT ... semoga saudara" kita di sana diberi kesehatan, keselamatan, dan bencana yg terjadi cepat berakhir ... aamiin
#StayStrong
Love
A.K
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Nurhayati Hafidz
kerennn
2024-08-03
1
sakura🇵🇸
backstreet😄 lama sekali g dengan istilah ini...apa saking tuanya aku 🤭 bahasa2 anak sekolahan yg nekat pacaran padahal dah diancam2 ortu
2023-11-07
0
MONARITA @ RITA
cair eeeeuuuu......
2023-04-27
0