Udara dingin menusuk sampai tulang membuatku merekatkan jaket. Matahari belum juga keluar dari peraduan ketika aku keluar dari hotel, dan berjalan menuju bukit tak jauh dari sana untuk menangkap momen matahari terbit dengan pemandangan danau laut tawar. Sebuah danau yang sangat luas sehingga menyerupai lautan.
Aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan yang jarang bisa ku lihat ketika di Jakarta, jadi aku akan melakukan apa saja agar tidak ketinggalan moment berharga itu termasuk memilih kedinginan daripada tidur lagi kembali setelah sholat subuh di bawah selimut yang nyaman.
Tapi semua itu terbayar ketika perlahan sinar kemerahan sang surya menampakan kemegahannya, dengan takjub aku menatap keindahan alam di hadapanku. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu, ku ambil ponselku dan menghubungi seseorang. Cukup lama untuk panggilanku akhirnya diangkat.
“Kalau tidak penting gue benar-benar akan ngebunuh lo!”
Muka bantal Siska, sahabatku, langsung menghiasi layar ponselku.
“Hahaha, bangun woi! Lihat nih cantikkan?!” Ku edarkan ponselku supaya Siska bisa menikmati pemandangan alam seperti aku.
“Ckk! Video call subuh-subuh cuma mau pamer matahari terbit?”
“Tapi ini keren, Sis!”
“Keren itu kalau bisa lihat langsung. Lha, ini kalau lihat dari video call gini apa bedanya kaya lihat foto dari mbah G atau acara travel di TV?”
“Oh, iya ya, hahaha.”
“Besok lagi kalau mau lihat sunrise ajakin tuh Bos gantengnya jadi gak gangguin orang subuh-subuh gini.”
“Apaan sih.”
“Hahaha, lumayankan dingin-dingin gini bisa modus minta dipeluk sekalian.”
Siska mulai ngaco membuatku kembali mengingat pembicaraan ku dan Pak Bos kemarin tentang taruhan yang tentu saja tidak ku setujui, aku tak ingin bermain-main dengan hatiku terutama ketika menyadari kemungkinan ku untuk menang dalam taruhan ini sangat kecil.
Seperti saat ini entah sengaja atau tidak, tapi Pak Bos menunjukan perhatian-perhatian kecilnya seperti membukakan tutup botol minumku ketika kami sarapan di hotel, membukakan pintu mobil untukku yang membuatku menatapnya kemudian menggelengkan kepala ketika melihatnya yang hanya tersenyum jahil.
Seharian ini kami berada di proyek, bertemu dengan beberapa orang yang akan bertanggung jawab dengan kebun kopi dan jeruk yang akan di tanam di sana, serta pembangunan taman bunga. Mr. Takeda dan tim baru akan datang beberapa hari lagi jadi kami harus memastikan semua rencana telah tersusun rapi dan matang.
“Lapar?” tanya Pak Bos ketika jam sudah menunjukan pukul tiga siang. Ingin ku jawab,
“Menurut L?” Oh ayolah! Makanan yang terakhir masuk ke dalam perutku adalah saat sarapan tadi, secangkir kopi dan roti.
“Tidak, Pak, saya masih kenyang karena sarapan tadi pagi … sepotong roti dan secangkir kopi, persis seperti judul novel-novel romantis,” sindirku tajam membuatnya menatapku beberapa saat kemudian tersenyum.
“Sebentar lagi, oke?”
“Tenang saja, Pak, sebentar lagi magrib kok anggap saja sekalian buka puasa.”
“Kamu puasa?” tanyanya dengan sorot mata jahil. “Katanya tadi sarapan.”
“Ya, anggap saja itu sahur.”
“Hahaha, oke-oke sebentar lagi kita makan, sabar ya,” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku santai membuatku mematung. Apa yang dia lakukan? Oh, ya Tuhan, jangan bilang dia sedang melakukan aksinya berusaha membuatku menjadi Cinderella?
Tapi sepertinya hanya aku yang ke ge-er-an karena dia sepertinya menganggap itu bukan hal luar biasa, buktinya dia kembali menekuni dokumen-dokumen di hadapannya dengan serius.
“Bos.”
“Hmm?”
“Bos tidak sedang menjalankan misi membuatku menjadi Cinderella kan?” Aku dan rasa penasaranku yang tidak bisa kubendung, membuatnya menatapku kemudian tertawa.
“Hahaha, kalau misalnya iya bagaimana?”
Aku menganga mendengarnya.
“Kita tidak sepakat tentang taruhan itu, ingat? Jadi sebaiknya, Bos, lupakan semua jurus-jurus player yang biasa Bos gunakan untuk membuat perempuan klepek-klepek karena itu tidak akan berpengaruh untukku.”
Dia terdiam menatapku.
“Mau bertaruh lagi?” Dia tersenyum jahil.
“Tidak, terimakasih.”
“Hahaha, tenang saja kalau aku sampai mengeluarkan semua jurusku, kamu tak mau lepas dariku.”
Aku menggelengkan kepala sambil berdecak.
“Dasar playboy.”
“Kamu mengataiku playboy?”
“Maafkan ketidak sopanan saya, Pak. Saya memang jarang nonton acara gossip, tapi saya memiliki Ibu yang hobi banget nonton acara gosip dan wajah Bapak terlalu sering wara-wiri di acara itu dengan prestasi jadian-putus-jadian-putus dengan sederet model dan artis papan atas.”
Dia terdiam beberapa saat kemudian meringis sambil berkata, “Apa sesering itu?”
Dengan wajah sama meringisnya aku mengangguk, “Iya, sesering itu.” Membuatnya kembali meringis kemudian tersenyum. “Jadi, Bos, sebaiknya jangan bermain-main dengan hati seorang perempuan, terutama hati saya atau Bapak akan menerima karmanya.”
“Kalau karmanya secantik dan semenyenangkan kamu sih, aku akan dengan senang hati menerima itu.”
Aku kembali menganga kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Dasar player.”
“Hahaha, maaf … iya, aku janji tidak akan mengeluarkan jurus-jurusku kepadamu, deal?”
Aku terdiam beberapa saat menatapnya berusaha melihat kesungguhan di dalam matanya. “Oke, deal! Tidak ada taruhan lagi?”
“Tidak ada taruhan lagi,” ulangnya sambil tersenyum, yang membuatku ikut tersenyum.
“Dan sebaiknya kita makan sekarang atau sebentar lagi Bu Yessi akan menghubungi kemudian memarahi saya karena membiarkan Bos kesayangannya telat makan.”
Dia melihat jam tangannya. “Baiklah, kita istirahat sekalian shalat ashar.”
“Alhamdulillah ya Allah!” seruku sambil berbalik kemudian berjalan meninggalkan Pak Bos yang berjalan di belakangku sambil tertawa.
*****
Hari ke lima, seperti hari sebelumnya setelah sholat subuh aku bersiap untuk berjalan ke bukit belakang hotel, tapi dua hari ini aku menikmati matahari terbit dengan Pak Bos yang maksa ikut setelah aku bercerita tentang tempat itu.
“Sebentar,” ucapnya ketika dia membuka pintu kamar hotelnya yang berada persis di sebelah kamarku.
Sepertinya dia baru selesai sholat, dia melipat sejadah dengan wajah segar dan rambut sedikit basah bekas wudhu. Masyaallah, gantengnya pol-polan deh, seperti ada neon di belakang tubuhnya yang membuatnya terlihat bercahaya.
“Ayo!”
Aku menggelengkan kepalaku menyadari kalau tadi aku sempat terpesona dengan sosoknya yang baru selesai sholat subuh. Oh ayolah, siapa yang tidak akan terpesona melihat cowok ganteng, baik terus rajin sholat? Aku tidak munafik, tentu saja aku juga tertarik tapi aku tahu posisiku karena sayangnya cowok itu terlalu jauh dari jangkauan.
Ok, aku jelaskan tentang jauh dari jangkauan yang ku maksud. Aku hanya seorang staff resepsionis sedangkan dia adalah seorang direktur. Jadi jarak dari staff ke direktur itu terhalang oleh senior staff, supervisor, senior supervisor, asisten manager, manager, general manager, baru deh direktur. Ada 8 tingkat yang harus dilalui! Kalau dari ukuran jarak itu sama saja aku ada di posisi mili meter, nah si bos ada di posisi kilo meter, jadi biar posisinya sama harus dikali atau dibagi 1.000.000! Jauhkan, Munaroh!
Itu hanya dari segi posisi jabatan di kantor saja, belum lagi dari segi yang lain. Makanya dari pada nanti aku harus berdarah-darah karena sakit hati, lebih baik dari awal aku membentengi hatiku agar tidak jatuh cinta pada sang Pangeran.
“Kamu sering lihat matahari terbit kaya gini?” tanyanya ketika kami menikmati cahaya matahari yang perlahan mulai menghangatkan bumi mengusir kabut yang menyelimuti.
“Dulu, ketika masih kuliah beberapa kali saya ikut naik gunung sama teman-teman pencinta alam, tapi sekarang tidak ada waktu lagi.”
“Sibuk nyari buat cicilan si merah?”
“Hahaha, iya.”
Kami terdiam beberapa saat menikmati pemandangan subuh yang disuguhkan kota Takengon di atas ketinggian. “Indah bukan?”
“Iya, di Jakarta tidak ada tempat seperti ini.”
Aku mengangguk setuju. “Kadang kalau tugas malam pas lagi istirahat saya suka naik ke rooftop untuk menikmati pemandangan lampu-lampu kota. Itu lumayan bagus lho, Bos, apalagi pas lagi punya masalah tenang banget di atas sana. Udara dingin, pemandangan yang indah cukup bikin perasaan kembali tenang.”
“Asal jangan lompat saja.”
“Saya tidak seputus asa itu, Bos.”
“Hahaha.”
“Sepertinya hidupmu sangat menyenangkan, tak pernah ada masalah berarti dalam hidupmu.”
“Kata siapa, Bos? Semua orang pasti punya masalah masing-masing, punya tingkat kesulitan masing-masing. Allah akan memberikan cobaan sesuai kemampuannya … masa iya anak SD dikasih soal ujian anak SMA kan nggak mungkin, Bos.”
“Tapi kadang walau kita sudah SMA sekalipun kita belum tentu bisa menjawab soal-soal ujian itu.”
Dia berkata dengan mata menerawang ke arah danau yang kini sudah diterangi cahaya matahari, membuatku terdiam beberapa saat. Matanya yang biasa memancarkan sinar jahil ketika sedang menggodaku, atau serius ketika dihadapkan dengan pekerjaan, kini terlihat hampa, dan itu terlihatnya begitu sedih.
“Bukan tidak bisa, Bos, hanya saja kita belum menemukan rumus yang tepat untuk menjawabnya.” Dia mengubah posisinya menghadapku. “Nah, yang harus kita lakukan untuk bisa lulus tes adalah belajar, cari rumus yang tepat untuk menjawab soal-soal. Di sinilah pentingnya kita ikhtiar, kalau kita sudah berusaha ini-itu, tapi belum bisa menjawabnya kita tanyalah sama yang ngasih soal, minta clue jawaban yang benarnya. Kalau yang ngasih soal sudah lihat kita ikhtiar, usaha ini-itu, dan akhirnya minta jawaban dengan sunggung-sungguh pasti dikasih. Di sinilah kita perlu tawakal alias berserah diri, berdoa yang sungguh-sungguh minta jawaban dan jalan keluar dari segala masalah kita, pasti Allah kasih.”
Dia terdiam beberapa saat kemudian mengangguk kemudian tersenyum. “Aku jadi ragu, sebenarnya siapa yang lahir duluan di antara kita.”
“Makanya sekali-kali nonton Mamah Dedeh, jangan nonton Doraemon mulu.”
“Hahaha.”
Matahari sudah menampakan diri seutuhnya ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Oh iya, aku belum membaritahu bagaimana sweetnya Pak Bosku itu. Dia masih membukakan tutup botol minumku, membukankan pintu mobilnya untukku, bahkan dia akan menjulurkan tangannya untuk membantuku melewati jalan yang terjal ketika kami di lokasi proyek atau seperti saat kami ke puncak bukit belakang hotel.
“Percayalah ini bukan jurus yang biasa ku gunakan untuk membuat para perempuan klepek-klepek,” ucapnya ketika aku memicingkan mata menatapnya yang berlaku manis.
“Jadi jurus apa yang biasanya digunakan untuk membuat perempuan klepek-klepek?” tanyaku sambil menyerahkan botol minumku untuk dia buka. Itu menjadi kebiasaanku ketika akan membuka minuman aku akan menyerahkan padanya yang tanpa bicara apapun langsung membukakannya untukku, kalau tidak dia akan mengambilnya langsung dari tanganku kemudian membukanya.
“Aku tak perlu melakukan apapun,” jawabnya sambil menyerahkan botol minumku. “Dengan tampang seperti ini dan nama Mahesa cukup untuk membuat perempuan manapun klepek-klepek … ah! Jangan lupa kartu ajaib tanpa limit.”
“Hahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak mendengar kenarsisannya, yang sebenarnya itu memang benar. Tampang, penampilan dan kekayaannya cukup membuat perempuan dari kalangan manapun mengantre untuk bisa menjadi kekasihnya.
“Aku serius, karena itulah aku tak tahu apa ada perempuan yang benar-benar mencintaiku karena diriku sendiri bukan karena nama dan kekayaan orangtua.” Dia terdiam menghembuskan asap rokok kemudian menatap asap putih itu dengan mata kosong sebelum akhirnya sorot mata jahil itu kembali menatapku. “Kalau masalah tampang ini mah bonus dari Allah yang nggak bisa diganggu gugat lagi, dari orok udah cakep.”
Aku tersenyum mendengar candaannya walaupun ku tahu dia hanya berusaha menutupi kegalauan hatinya.
“Pasti ada yang akan mencintai kita apa adanya. Ya, walaupun tidak bisa kita pungkiri kalau bebet dan bobot seseorang itu seolah menjadi syarat utama dalam mencari pasangan, terutama buat para orangtua. Dan Bos memiliki itu semua.”
“Menantu idamanan banget ya?”
“Saya tidak akan menyangkal hal itu,” ucapku jujur membuatnya tertawa.
“Hahaha.”
“Tapi kalau menurut saya pribadi walaupun Bos bukan putra dari Rudi Mahesa, Bos masih bisa sukses kok. Dengan kepintaran dan sifat pekerja keras seperti ini saya yakin usaha apapun juga pasti akan berhasil.” Dia terdiam menatapku kemudian tersenyum. “Jadi, Bos, tenang saja di dunia ini pasti akan ada wanita beruntung yang bisa mencintai Bos apa adanya.”
Dia terdiam beberapa saat kemudian tersenyum. “Bagaimana dengan kamu, siapa laki-laki beruntung yang mendapatkan hatimu.”
“Hmmm … sayangnya laki-laki beruntung itu entah masih berada dimana sekarang, mungkin berada di belahan dunia lain sedang memersiapkan diri supaya menjadi imam yang baik untuk saya.”
“Atau mungkin sudah berada di sampingmu saat ini dan kamu sendiri yang sedang merubah dia menjadi lebih baik lagi.”
Aku terkejut mendengar ucapannya, beberapa saat kami hanya saling pandang sebelum akhirnya aku tertawa sambil menggelengkan kepala.
“Kenapa tidak, jodoh tidak ada yang tahu siapa tahu aku benar-benar jodohmu.”
Aku kembali tersenyum sambil meneguk air minumku hingga setengah. Kenapa tenggorokanku tiba-tiba terasa kering ya?
“Ya, memang jodoh tidak ada yang tahu, tapi saya terlalu mencintai hati saya, Bos. Saya tidak ingin hati saya terluka apalagi diumur sekarang, kayanya sudah bukan waktunya lagi kalau saya patah hati karena putus cinta.”
“Darimana kamu tahu kalau kita akan putus kalau misalnya jadiaan.”
Aku baru akan membuka mulutku ketika ponselnya berbunyi dengan nama Anggi terpampang di layar ponselnya membuatku tetawa.
“Hahaha, feeling tuh dia, Bos, takut pangerannya selingkuh sama Cinderella,” ucapku sambi tertawa dan berjalan lebih dulu menuju hotel.
Tentu saja aku tahu, tak perlu seorang peramal untuk melihat dimana hubungan kami akan berakhir kalau seandainya aku nekad menerima tantangannya.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
martina melati
jd ingat peribahasa nih thor... gajah dpelupuk mata tak nampak, kuman dseberang terlihat jelas (maaf, diubah kata2ny)/Smirk/
2025-04-06
0
Sandisalbiah
jangan bermimpi utk bisa membahagiakan org lain kalau dirimu sendiri tdk merasakan bahagia...
2024-12-27
0
SandiKala
Masuk akal sih..Kaya gini perlu di contoh logika masih jalan .
2025-03-08
0