2. Sunrise

Udara dingin menusuk sampai tulang membuatku merekatkan jaket. Matahari belum juga keluar dari peraduan ketika aku keluar dari hotel, dan berjalan menuju bukit tak jauh dari sana untuk menangkap momen matahari terbit dengan pemandangan danau laut tawar. Sebuah danau yang sangat luas sehingga menyerupai lautan.

Aku tak mungkin menyia-nyiakan kesempatan untuk melihat pemandangan yang jarang bisa ku lihat ketika di Jakarta, jadi aku akan melakukan apa saja agar tidak ketinggalan moment berharga itu termasuk memilih kedinginan daripada tidur lagi kembali setelah sholat subuh di bawah selimut yang nyaman.

Tapi semua itu terbayar ketika perlahan sinar kemerahan sang surya menampakan kemegahannya, dengan takjub aku menatap keindahan alam di hadapanku. Tiba-tiba aku mengingat sesuatu, ku ambil ponselku dan menghubungi seseorang. Cukup lama untuk panggilanku akhirnya diangkat.

“Kalau tidak penting gue benar-benar akan ngebunuh lo!”

Muka bantal Siska, sahabatku, langsung menghiasi layar ponselku.

“Hahaha, bangun woi! Lihat nih cantikkan?!” Ku edarkan ponselku supaya Siska bisa menikmati pemandangan alam seperti aku.

“Ckk! Video call subuh-subuh cuma mau pamer matahari terbit?”

“Tapi ini keren, Sis!”

“Keren itu kalau bisa lihat langsung. Lha, ini kalau lihat dari video call gini apa bedanya kaya lihat foto dari mbah G atau acara travel di TV?”

“Oh, iya ya, hahaha.”

“Besok lagi kalau mau lihat sunrise ajakin tuh Bos gantengnya jadi gak gangguin orang subuh-subuh gini.”

“Apaan sih.”

“Hahaha, lumayankan dingin-dingin gini bisa modus minta dipeluk sekalian.”

Siska mulai ngaco membuatku kembali mengingat pembicaraan ku dan Pak Bos kemarin tentang taruhan yang tentu saja tidak ku setujui, aku tak ingin bermain-main dengan hatiku terutama ketika menyadari kemungkinan ku untuk menang dalam taruhan ini sangat kecil.

Seperti saat ini entah sengaja atau tidak, tapi Pak Bos menunjukan perhatian-perhatian kecilnya seperti membukakan tutup botol minumku ketika kami sarapan di hotel, membukakan pintu mobil untukku yang membuatku menatapnya kemudian menggelengkan kepala ketika melihatnya yang hanya tersenyum jahil.

Seharian ini kami berada di proyek, bertemu dengan beberapa orang yang akan bertanggung jawab dengan kebun kopi dan jeruk yang akan di tanam di sana, serta pembangunan taman bunga. Mr. Takeda dan tim baru akan datang beberapa hari lagi jadi kami harus memastikan semua rencana telah tersusun rapi dan matang.

“Lapar?” tanya Pak Bos ketika jam sudah menunjukan pukul tiga siang. Ingin ku jawab,

“Menurut L?” Oh ayolah! Makanan yang terakhir masuk ke dalam perutku adalah saat sarapan tadi, secangkir kopi dan roti.

“Tidak, Pak, saya masih kenyang karena sarapan tadi pagi … sepotong roti dan secangkir kopi, persis seperti judul novel-novel romantis,” sindirku tajam membuatnya menatapku beberapa saat kemudian tersenyum.

“Sebentar lagi, oke?”

“Tenang saja, Pak, sebentar lagi magrib kok anggap saja sekalian buka puasa.”

“Kamu puasa?” tanyanya dengan sorot mata jahil. “Katanya tadi sarapan.”

“Ya, anggap saja itu sahur.”

“Hahaha, oke-oke sebentar lagi kita makan, sabar ya,” ucapnya sambil mengacak-acak rambutku santai membuatku mematung. Apa yang dia lakukan? Oh, ya Tuhan, jangan bilang dia sedang melakukan aksinya berusaha membuatku menjadi Cinderella?

Tapi sepertinya hanya aku yang ke ge-er-an karena dia sepertinya menganggap itu bukan hal luar biasa, buktinya dia kembali menekuni dokumen-dokumen di hadapannya dengan serius.

“Bos.”

“Hmm?”

“Bos tidak sedang menjalankan misi membuatku menjadi Cinderella kan?” Aku dan rasa penasaranku yang tidak bisa kubendung, membuatnya menatapku kemudian tertawa.

“Hahaha, kalau misalnya iya bagaimana?”

Aku menganga mendengarnya.

“Kita tidak sepakat tentang taruhan itu, ingat? Jadi sebaiknya, Bos, lupakan semua jurus-jurus player yang biasa Bos gunakan untuk membuat perempuan klepek-klepek karena itu tidak akan berpengaruh untukku.”

Dia terdiam menatapku.

“Mau bertaruh lagi?” Dia tersenyum jahil.

“Tidak, terimakasih.”

“Hahaha, tenang saja kalau aku sampai mengeluarkan semua jurusku, kamu tak mau lepas dariku.”

Aku menggelengkan kepala sambil berdecak.

“Dasar playboy.”

“Kamu mengataiku playboy?”

“Maafkan ketidak sopanan saya, Pak. Saya memang jarang nonton acara gossip, tapi saya memiliki Ibu yang hobi banget nonton acara gosip dan wajah Bapak terlalu sering wara-wiri di acara itu dengan prestasi jadian-putus-jadian-putus dengan sederet model dan artis papan atas.”

Dia terdiam beberapa saat kemudian meringis sambil berkata, “Apa sesering itu?”

Dengan wajah sama meringisnya aku mengangguk, “Iya, sesering itu.” Membuatnya kembali meringis kemudian tersenyum. “Jadi, Bos, sebaiknya jangan bermain-main dengan hati seorang perempuan, terutama hati saya atau Bapak akan menerima karmanya.”

“Kalau karmanya secantik dan semenyenangkan kamu sih, aku akan dengan senang hati menerima itu.”

Aku kembali menganga kemudian tersenyum sambil menggelengkan kepala. “Dasar player.”

“Hahaha, maaf … iya, aku janji tidak akan mengeluarkan jurus-jurusku kepadamu, deal?”

Aku terdiam beberapa saat menatapnya berusaha melihat kesungguhan di dalam matanya. “Oke, deal! Tidak ada taruhan lagi?”

“Tidak ada taruhan lagi,” ulangnya sambil tersenyum, yang membuatku ikut tersenyum.

“Dan sebaiknya kita makan sekarang atau sebentar lagi Bu Yessi akan menghubungi kemudian memarahi saya karena membiarkan Bos kesayangannya telat makan.”

Dia melihat jam tangannya. “Baiklah, kita istirahat sekalian shalat ashar.”

“Alhamdulillah ya Allah!” seruku sambil berbalik kemudian berjalan meninggalkan Pak Bos yang berjalan di belakangku sambil tertawa.

*****

Hari ke lima, seperti hari sebelumnya setelah sholat subuh aku bersiap untuk berjalan ke bukit belakang hotel, tapi dua hari ini aku menikmati matahari terbit dengan Pak Bos yang maksa ikut setelah aku bercerita tentang tempat itu.

“Sebentar,” ucapnya ketika dia membuka pintu kamar hotelnya yang berada persis di sebelah kamarku.

Sepertinya dia baru selesai sholat, dia melipat sejadah dengan wajah segar dan rambut sedikit basah bekas wudhu. Masyaallah, gantengnya pol-polan deh, seperti ada neon di belakang tubuhnya yang membuatnya terlihat bercahaya.

“Ayo!”

Aku menggelengkan kepalaku menyadari kalau tadi aku sempat terpesona dengan sosoknya yang baru selesai sholat subuh. Oh ayolah, siapa yang tidak akan terpesona melihat cowok ganteng, baik terus rajin sholat? Aku tidak munafik, tentu saja aku juga tertarik tapi aku tahu posisiku karena sayangnya cowok itu terlalu jauh dari jangkauan.

Ok, aku jelaskan tentang jauh dari jangkauan yang ku maksud. Aku hanya seorang staff resepsionis sedangkan dia adalah seorang direktur. Jadi jarak dari staff ke direktur itu terhalang oleh senior staff, supervisor, senior supervisor, asisten manager, manager, general manager, baru deh direktur. Ada 8 tingkat yang harus dilalui! Kalau dari ukuran jarak itu sama saja aku ada di posisi mili meter, nah si bos ada di posisi kilo meter, jadi biar posisinya sama harus dikali atau dibagi 1.000.000! Jauhkan, Munaroh!

Itu hanya dari segi posisi jabatan di kantor saja, belum lagi dari segi yang lain. Makanya dari pada nanti aku harus berdarah-darah karena sakit hati, lebih baik dari awal aku membentengi hatiku agar tidak jatuh cinta pada sang Pangeran.

“Kamu sering lihat matahari terbit kaya gini?” tanyanya ketika kami menikmati cahaya matahari yang perlahan mulai menghangatkan bumi mengusir kabut yang menyelimuti.

“Dulu, ketika masih kuliah beberapa kali saya ikut naik gunung sama teman-teman pencinta alam, tapi sekarang tidak ada waktu lagi.”

“Sibuk nyari buat cicilan si merah?”

“Hahaha, iya.”

Kami terdiam beberapa saat menikmati pemandangan subuh yang disuguhkan kota Takengon di atas ketinggian. “Indah bukan?”

“Iya, di Jakarta tidak ada tempat seperti ini.”

Aku mengangguk setuju. “Kadang kalau tugas malam pas lagi istirahat saya suka naik ke rooftop untuk menikmati pemandangan lampu-lampu kota. Itu lumayan bagus lho, Bos, apalagi pas lagi punya masalah tenang banget di atas sana. Udara dingin, pemandangan yang indah cukup bikin perasaan kembali tenang.”

“Asal jangan lompat saja.”

“Saya tidak seputus asa itu, Bos.”

“Hahaha.”

“Sepertinya hidupmu sangat menyenangkan, tak pernah ada masalah berarti dalam hidupmu.”

“Kata siapa, Bos? Semua orang pasti punya masalah masing-masing, punya tingkat kesulitan masing-masing. Allah akan memberikan cobaan sesuai kemampuannya … masa iya anak SD dikasih soal ujian anak SMA kan nggak mungkin, Bos.”

“Tapi kadang walau kita sudah SMA sekalipun kita belum tentu bisa menjawab soal-soal ujian itu.”

Dia berkata dengan mata menerawang ke arah danau yang kini sudah diterangi cahaya matahari, membuatku terdiam beberapa saat. Matanya yang biasa memancarkan sinar jahil ketika sedang menggodaku, atau serius ketika dihadapkan dengan pekerjaan, kini terlihat hampa, dan itu terlihatnya begitu sedih.

“Bukan tidak bisa, Bos, hanya saja kita belum menemukan rumus yang tepat untuk menjawabnya.” Dia mengubah posisinya menghadapku. “Nah, yang harus kita lakukan untuk bisa lulus tes adalah belajar, cari rumus yang tepat untuk menjawab soal-soal. Di sinilah pentingnya kita ikhtiar, kalau kita sudah berusaha ini-itu, tapi belum bisa menjawabnya kita tanyalah sama yang ngasih soal, minta clue jawaban yang benarnya. Kalau yang ngasih soal sudah lihat kita ikhtiar, usaha ini-itu, dan akhirnya minta jawaban dengan sunggung-sungguh pasti dikasih. Di sinilah kita perlu tawakal alias berserah diri, berdoa yang sungguh-sungguh minta jawaban dan jalan keluar dari segala masalah kita, pasti Allah kasih.”

Dia terdiam beberapa saat kemudian mengangguk kemudian tersenyum. “Aku jadi ragu, sebenarnya siapa yang lahir duluan di antara kita.”

“Makanya sekali-kali nonton Mamah Dedeh, jangan nonton Doraemon mulu.”

“Hahaha.”

Matahari sudah menampakan diri seutuhnya ketika kami memutuskan untuk kembali ke hotel. Oh iya, aku belum membaritahu bagaimana sweetnya Pak Bosku itu. Dia masih membukakan tutup botol minumku, membukankan pintu mobilnya untukku, bahkan dia akan menjulurkan tangannya untuk membantuku melewati jalan yang terjal ketika kami di lokasi proyek atau seperti saat kami ke puncak bukit belakang hotel.

“Percayalah ini bukan jurus yang biasa ku gunakan untuk membuat para perempuan klepek-klepek,” ucapnya ketika aku memicingkan mata menatapnya yang berlaku manis.

“Jadi jurus apa yang biasanya digunakan untuk membuat perempuan klepek-klepek?” tanyaku sambil menyerahkan botol minumku untuk dia buka. Itu menjadi kebiasaanku ketika akan membuka minuman aku akan menyerahkan padanya yang tanpa bicara apapun langsung membukakannya untukku, kalau tidak dia akan mengambilnya langsung dari tanganku kemudian membukanya.

“Aku tak perlu melakukan apapun,” jawabnya sambil menyerahkan botol minumku. “Dengan tampang seperti ini dan nama Mahesa cukup untuk membuat perempuan manapun klepek-klepek … ah! Jangan lupa kartu ajaib tanpa limit.”

“Hahaha.” Aku tertawa terbahak-bahak mendengar kenarsisannya, yang sebenarnya itu memang benar. Tampang, penampilan dan kekayaannya cukup membuat perempuan dari kalangan manapun mengantre untuk bisa menjadi kekasihnya.

“Aku serius, karena itulah aku tak tahu apa ada perempuan yang benar-benar mencintaiku karena diriku sendiri bukan karena nama dan kekayaan orangtua.” Dia terdiam menghembuskan asap rokok kemudian menatap asap putih itu dengan mata kosong sebelum akhirnya sorot mata jahil itu kembali menatapku. “Kalau masalah tampang ini mah bonus dari Allah yang nggak bisa diganggu gugat lagi, dari orok udah cakep.”

Aku tersenyum mendengar candaannya walaupun ku tahu dia hanya berusaha menutupi kegalauan hatinya.

“Pasti ada yang akan mencintai kita apa adanya. Ya, walaupun tidak bisa kita pungkiri kalau bebet dan bobot seseorang itu seolah menjadi syarat utama dalam mencari pasangan, terutama buat para orangtua. Dan Bos memiliki itu semua.”

“Menantu idamanan banget ya?”

“Saya tidak akan menyangkal hal itu,” ucapku jujur membuatnya tertawa.

“Hahaha.”

“Tapi kalau menurut saya pribadi walaupun Bos bukan putra dari Rudi Mahesa, Bos masih bisa sukses kok. Dengan kepintaran dan sifat pekerja keras seperti ini saya yakin usaha apapun juga pasti akan berhasil.” Dia terdiam menatapku kemudian tersenyum. “Jadi, Bos, tenang saja di dunia ini pasti akan ada wanita beruntung yang bisa mencintai Bos apa adanya.”

Dia terdiam beberapa saat kemudian tersenyum. “Bagaimana dengan kamu, siapa laki-laki beruntung yang mendapatkan hatimu.”

“Hmmm … sayangnya laki-laki beruntung itu entah masih berada dimana sekarang, mungkin berada di belahan dunia lain sedang memersiapkan diri supaya menjadi imam yang baik untuk saya.”

“Atau mungkin sudah berada di sampingmu saat ini dan kamu sendiri yang sedang merubah dia menjadi lebih baik lagi.”

Aku terkejut mendengar ucapannya, beberapa saat kami hanya saling pandang sebelum akhirnya aku tertawa sambil menggelengkan kepala.

“Kenapa tidak, jodoh tidak ada yang tahu siapa tahu aku benar-benar jodohmu.”

Aku kembali tersenyum sambil meneguk air minumku hingga setengah. Kenapa tenggorokanku tiba-tiba terasa kering ya?

“Ya, memang jodoh tidak ada yang tahu, tapi saya terlalu mencintai hati saya, Bos. Saya tidak ingin hati saya terluka apalagi diumur sekarang, kayanya sudah bukan waktunya lagi kalau saya patah hati karena putus cinta.”

“Darimana kamu tahu kalau kita akan putus kalau misalnya jadiaan.”

Aku baru akan membuka mulutku ketika ponselnya berbunyi dengan nama Anggi terpampang di layar ponselnya membuatku tetawa.

“Hahaha, feeling tuh dia, Bos, takut pangerannya selingkuh sama Cinderella,” ucapku sambi tertawa dan berjalan lebih dulu menuju hotel.

Tentu saja aku tahu, tak perlu seorang peramal untuk melihat dimana hubungan kami akan berakhir kalau seandainya aku nekad menerima tantangannya.

****

Terpopuler

Comments

martina melati

martina melati

jd ingat peribahasa nih thor... gajah dpelupuk mata tak nampak, kuman dseberang terlihat jelas (maaf, diubah kata2ny)/Smirk/

2025-04-06

0

Sandisalbiah

Sandisalbiah

jangan bermimpi utk bisa membahagiakan org lain kalau dirimu sendiri tdk merasakan bahagia...

2024-12-27

0

SandiKala

SandiKala

Masuk akal sih..Kaya gini perlu di contoh logika masih jalan .

2025-03-08

0

lihat semua
Episodes
1 1. Become Cinderella in Seven Days
2 2. Sunrise
3 3. Prince, Coffee, and Star
4 4. Diner
5 5. Cars Free Day
6 6. Gossip
7 7. Good Morning, Kiki!
8 8. Jealousy
9 9. Birthday Party
10 10. Cinderella Syndrom
11 11. Miss You So Bad
12 12. Confession
13 13. Big Boss
14 14. I wish, I could stop the time for a while
15 15. Reallity VS Drakor
16 16. What are you doing, Boss?
17 17. Just the two of us
18 18. The girl who stole my heart
19 19. Cinderella VS Mumu Peri
20 20. The Past
21 21. Surprised!!
22 22. Takeshi Castle
23 23. Lunch time
24 24. The Most Awesome Man I Ever Know
25 25. Paradeisos
26 26. Kang Kopi
27 27. It's okay, I'm here with you
28 28. I love you, just the way you are.
29 29. Go Public
30 30. Bersua Baji dengan Matan
31 31. Paradoks
32 32. An eye for an eye
33 33. Ibu Suri
34 34. Spell
35 35. Zip Your Mouth!
36 36. Shoulder to cry on
37 37. Opportunity
38 38. I will let you go
39 39. Farewell
40 40. Randi Prasetyo
41 41. Be safe, be happy
42 42. E-World
43 43. Rapunzel
44 44. Jealous guy
45 45. Mood Booster
46 46. My Past
47 47. Homesick
48 48. I’m here for you
49 If
50 50. Puzzle Piece
51 51. SAH!
52 52. Another puzzle pieces
53 53. She’s not your kind
54 54. Just a story from the past
55 55. Ibu Peri, Ibu Suri
56 56. Debut
57 57. Deja vu
58 58. Gift
59 59. Calon menantu Mahesa
60 60. In the right place at the right time
61 61. A picture of a puzzle
62 62. Just My Imagination?
63 63. A proving
64 64. Benak hitam
65 65. Identitas Bi
66 66. The return of the nightmare
67 67. Memories
68 68. Roller coaster
69 69. Bi
70 70. After 20 years
71 71. I love you, I’m sorry
72 72. The Truth
73 73. The real truth
74 74. Stay with me
75 75. Ordinary people
76 76. Anaking jimat awaking
77 77. Family reunion
78 78. Forgiveness
79 79. Someday
80 80. Marry me!
81 81. Lelaki paripurna
82 82. One step closer
83 83. Daughter first love
84 84. Heaven
85 Extra part 1
86 Extra part 2
87 Extra part 3 (Tamat)
88 Extra part 3 (Tamat)
89 COMING SOON!!!
90 Pengumuman si Abang
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. Become Cinderella in Seven Days
2
2. Sunrise
3
3. Prince, Coffee, and Star
4
4. Diner
5
5. Cars Free Day
6
6. Gossip
7
7. Good Morning, Kiki!
8
8. Jealousy
9
9. Birthday Party
10
10. Cinderella Syndrom
11
11. Miss You So Bad
12
12. Confession
13
13. Big Boss
14
14. I wish, I could stop the time for a while
15
15. Reallity VS Drakor
16
16. What are you doing, Boss?
17
17. Just the two of us
18
18. The girl who stole my heart
19
19. Cinderella VS Mumu Peri
20
20. The Past
21
21. Surprised!!
22
22. Takeshi Castle
23
23. Lunch time
24
24. The Most Awesome Man I Ever Know
25
25. Paradeisos
26
26. Kang Kopi
27
27. It's okay, I'm here with you
28
28. I love you, just the way you are.
29
29. Go Public
30
30. Bersua Baji dengan Matan
31
31. Paradoks
32
32. An eye for an eye
33
33. Ibu Suri
34
34. Spell
35
35. Zip Your Mouth!
36
36. Shoulder to cry on
37
37. Opportunity
38
38. I will let you go
39
39. Farewell
40
40. Randi Prasetyo
41
41. Be safe, be happy
42
42. E-World
43
43. Rapunzel
44
44. Jealous guy
45
45. Mood Booster
46
46. My Past
47
47. Homesick
48
48. I’m here for you
49
If
50
50. Puzzle Piece
51
51. SAH!
52
52. Another puzzle pieces
53
53. She’s not your kind
54
54. Just a story from the past
55
55. Ibu Peri, Ibu Suri
56
56. Debut
57
57. Deja vu
58
58. Gift
59
59. Calon menantu Mahesa
60
60. In the right place at the right time
61
61. A picture of a puzzle
62
62. Just My Imagination?
63
63. A proving
64
64. Benak hitam
65
65. Identitas Bi
66
66. The return of the nightmare
67
67. Memories
68
68. Roller coaster
69
69. Bi
70
70. After 20 years
71
71. I love you, I’m sorry
72
72. The Truth
73
73. The real truth
74
74. Stay with me
75
75. Ordinary people
76
76. Anaking jimat awaking
77
77. Family reunion
78
78. Forgiveness
79
79. Someday
80
80. Marry me!
81
81. Lelaki paripurna
82
82. One step closer
83
83. Daughter first love
84
84. Heaven
85
Extra part 1
86
Extra part 2
87
Extra part 3 (Tamat)
88
Extra part 3 (Tamat)
89
COMING SOON!!!
90
Pengumuman si Abang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!