The girl who stole my heart
“Kak Kirana, pacarnya pegawai coffee shop ya? Atau jangan-jangan yang punya nya?” Aku hanya tersenyum mendengar pertanyaan Shanty. “Enak banget, setiap hari dapat kiriman kopi sama cake. Kali ini cake nya apa, Kak? Wow, red velvet!”
“Makanya punya pacar, Shan, biar ada yang kirim makanan juga,” ucapku sambil menyeruput kopi late yang dikirimkan Caraka.
Caraka memang menepati janjinya, dia tidak pernah berbuat aneh lagi seperti di kantin. Tapi setiap hari dia mengirim kopi dan cake membuat semua rekan kerjaku menjadi penasaran siapa si pengirim kopi ini. Karena selama ini mereka tidak pernah aku bersama pria … mereka tidak tahu saja kalau pria yang kadang satu lift sama mereka, atau pria yang menjadi objek kehaluan mereka itu adalah kekasihku, hahaha.
Kirana : Thank you for coffee n cake … love it! (Terimakasih untuk kopi dan cake nya, aku sangat menyukainya.)
Pak Bos : Anytime, Honey. (Kapanpun, Sayang)
Pak Bos : Jangan lupa besok aku jemput jam 10.
Kirana : Siap.
Pak Bos : See you … love you. (Sampai nanti … aku mencintaimu).
Aku tersenyum malu setiap membaca pesan-pesannya yang selalu diakhiri kalimat … love you, Honey.
Inilah nasib memiliki kekasih seorang yang sudah pro dalam menjalin hubungan, dia selalu mengatahui bagaimana memerlakukan kita dengan sangat baik … dia benar-benar seperti seorang Pangeran yang memerlakukanku layaknya seorang Putri. Bohong kalau aku bilang tidak suka diperlakukan sebaik itu oleh seorang pria, tapi aku juga tidak menyukai perhatian yang terlalu berlebihan dan untungnya karena dia sudah cukup mengenalku jadi perhatiannya selalu berhasil membuatku tersipu malu bahkan tertawa terbahak-bahak.
Caraka tahu kalau aku lebih menyukai perhatian-perhatian kecil daripada dilimpahi materi yang hanya membuatku merasa sesak dan akhirnya menjadi beban. Dia tidak pernah mengajakku makan di tempat-tempat yang tampilan makanannya sangat cantik, tapi isinya sedikit dengan harga selangit karena hasil ramuan chef ternama… tidak! aku lebih suka makan di tempat-tempat biasa, yang harganya masih masuk akal, dengan porsi banyak dan yang pasti bikin kenyang. Dia juga tidak pernah membelikanku barang-barang branded karena tahu aku lebih suka sesatu yang ku pakai atas dasar kenyamanan bukan karena merk nya.
Tapi mengenai besok sepertinya aku harus memikirkan penampilanku, mengingat dia mengatakan akan mengajakku bertemu dengan teman-temannya. Ok! Aku tak perlu pakaian branded, tapi minimal jangan sampai aku membuat malu seorang Caraka Benua.
Alhasil aku harus rela mengeluarkan uang dengan nominal hampir mencapai gajiku sebulan untuk membeli pakaian, sepatu dan tas. Nominal terbesar yang ku keluarkan hanya untuk membeli pakaian.
“Tidak apa-apa, Na, anggap saja ini investasi buat masa depan lo sama Caraka,” ucap Siska memberiku semangat setelah melihat jumlah yang harus ku keluarkan. “Yang penting, nanti jangan sampai lo bikin malu Caraka, pokoknya lo harus siap tempur!”
Aku mengangguk setuju dengan ucapan Siska. Dari pagi aku sudah bersiap di depan kaca mencoba me-make over diri sendiri. Karena acaranya siang jadi aku hanya memakai make up tipis dan terkesan natural, rambut ku biarkan terurai begitu saja tanpa hiasan apapun.
Untuk gaun, aku memutuskan untuk mengenakan gaun floral selutut dengan lengan ¾ berwarna biru muda dengan potongan sederhana dengan bahan tipis yang terasa lembut dan nyaman. Dan alas kaki aku memutuskan mengenakan ankle strap putih sederhana setinggi 5 cm, dan clutch bag putih melengkapi penampilanku hari ini.
Oke! Aku siap bertempur! Dengan jantung yang dag dig dug der, aku menunggu Caraka dan tepat jam 10 dia akhirnya datang. Beberapa saat dia hanya terdiam menatapku membuatku serba salah, apa aku salah kostum? Tapi sepertinya tidak. Dan entah kebetulan atau apa, Caraka juga mengenakan kemeja biru langit yang sedikit tua dari warna gaunku.
“Cantik,” ucapnya membuatku menatapnya yang masih memerhatikanku. “Cantik banget.”
“Hahaha, berhentilah memujiku.” Aku menggelengkan kepala sebelum akhirnya pamit sama Mamah dan kami pun pergi menuju daerah Sentul.
“Menyetir itu menghadap depan bukan menghadap samping.”
“Kamu cantik banget.” Lagi-lagi dia memujiku membuatku tertawa sambil menggelengkan kepala.
Sepanjang jalan setiap ada kesempatan dia akan melirikku dengan senyum lebar, benar-benar membuatku malu.
“Pokoknya kamu tidak boleh dandan seperti ini kalau tidak bersamaku … bahaya kalau gini caranya.”
Aku terkejut mendengar keposesifannya membuatku tertawa.
“Aku serius, Sayang, jangan pernah dandan kalau tidak lagi bersamaku, oke?!”
“Iya.”
“Hahaha … good girl.”
Saat ini kami telah ke luar tol Sentul, melewati IKEA, Mall AEON, Masjid besar Jabal Nur yang terlihat megah, sebelum akhirnya putar arah masuk ke Jl. Bukit Sentul, Cijayanti. Terlihat sebuah papan nama, ‘Situ Kameumeut’, dengan logo ikan di samping tulisan.
Karangan bunga berjejer sepanjang jalan masuk sebagai ucapan selamat atas dibukanya rumah makan sunda itu. Aku membaca beberapa nama orang terkenal di antara para pengirim bunga.
“Katanya pesta, kok malah pembukaan rumah makan?”
“Ini juga sama pesta.”
“Tahu begini kan aku tidak perlu pakai gaun segala.”
“Hahahaha.” Caraka mematikan mesin mobil setelah berhasil parkir. “Bukan cuma kamu yang memakai gaun … tapi yang pasti kamu yang paling cantik.”
“Ckkk, apaan sih!” Dengan cepat aku ke luar dari mobil karena malu mendengar gombalannya yang kini tertawa terbahak melihatku yang melarikan diri.
Dengan senyum lebar Caraka menjulurkan tangannya yang langsung ku sambut. Sambil bergandengan tangan kami mulai memasuki bangunan dua lantai yang sekelilingnya berdindingkan kaca, terlihat dari luar ruangan itu sudah mulai penuh oleh pengunjung. Caraka benar, aku bukan satu-satunya yang memakai gaun, bahkan mungkin gaunku paling sederhana dibandingkan gaun mereka yang terlihat sangat elegan.
“Eeeh, si kasep baru datang!” seru seorang wanita paruh baya yang masih terlihat cantik dengan sangat ramah ketika melihat kami masuk.
“Iya maaf, Tante, tadi jemput dulu calon Nyonya, jadi sedikit terlambat,” ucap caraka membuatku menatapnya dengan mata membulat.
“Ini calonnya?” Wanita itu kini menatapku dengan mata berbinar membuatku tersenyum malu. “Euleuh meni geulis gini! (Cantik banget) Pinter Kakang mah nyari calon teh meni geulis gini.”
Aku tersenyum malu sambil menjulurkan tangan memperkenalkan diri, dan ternyata wanita ramah di hadapanku ini adalah sang tuan rumah.
“Mamah minta maaf karena tidak bisa hadir.”
“Iya, teu nanaon (tidak apa-apa) semalam mamahmu sudah menghubungi Tante, katanya mau ke Bandung nengokin Leta.”
Caraka mengangguk sebagai jawaban. “Abi sama yang lainnya mana, Tante?” Mata Caraka terlihat menyisir ruangan.
“Ada tuh di handap (bawah) sama yang lainnya.”
Setelah pamiti sama tuan rumah yang sangat ramah itu, Caraka mengajakku ke luar dari ruangan kemudian turun ke bawah menggunakan tangga. Suasana berbeda mulai terasa, dibanding indoor yang terkesan mewah, outdoor terasa lebih menyegarkan untukku. Angin yang berhembus, danau yang membentang, pondok-pondok terapung terbuat dari bambu di bangun sepanjang pinggir danau yang kini telah terisi oleh para tamu. Sebuah teras kayu terapung menjorok ke arah danah dimana terdapat meja-meja lengkap dengan payung-payung besar berwarna merah marun untuk melindungi dari terik matahari. Di ujung teras terdapat sebuah panggung terapung dimana live music tengah menghibur para tamu dengan lagu-lagu yang sedang hits.
“Ka!” Sebuah seruan membuat kami menoleh ke arah tiga orang laki-laki yang berdiri tak jauh dari pagar pembatas.
Caraka merangkul pinggangku membimbingku menuju arah mereka yang kini memerhatikan kami, atau lebih tepatnya memerhatikanku. Tunggu! Bukan hanya tiga orang laki-laki, tapi juga sekumpulan perempuan yang berdiri tak jauh dari para pria itu kini ikut memerhatikanku, dan sepertinya aku mengenal salah satu dari mereka … siapa ya? Aku seperti pernah melihatnya, tapi dimana? Aaah, aku benar-benar lupa!
“Akhirnya, go public juga lo!” seru pria dengan lesung pipi dan rambut sedikit gondrong.
“Hahaha … mau nya sih dari kemarin-kemarin go public, tapi buat meyakinkan dia ini lebih susah daripada mengakuisisi perusahaan,” ucap Caraka membuat para pria itu tertawa, sedangkan aku hanya tersenyum malu.
“Jadi apa masih mau buka cabang di setiap kota?” Pria berbadan tegap bertanya dengan suara bass-nya membuat Caraka tertawa sambil mengelus rambutku sebelum merangkulku.
“Sekarang cukup pusat saja satu, asal kokoh jangan sampai pailit dan gulung tikar.”
“Hahaha … rupanya sudah bertemu pawangnya dia.”
“Hahaha.”
“Kenalin, mereka ini temanku dari kecil … ini Abiseka, biasa kita panggil Abi, anaknya tuan rumah.” Caraka mengenalkanku pada pria berlesung pipi. “Yang ini, calon Jendral kita … Tama, dia sedang tugas di Surabaya … nah dulu kalau kita tertangkap gara-gara tawuran atau balapan liar, ayahnya Tama ini yang menolong kita, sebelum akhirnya menghukum kita secara pribadi.”
Mereka semua tertawa mengingat masa lalu.
“Gue, nggak pernah ikut tawuran ya … lo-lo pada nih yang bikin Bokap gue kesusahan.”
“Hahaha … ada untungnya juga lo dulu masuk Pemuda Nusantara, minimal kalau sekarang kita ditilang tinggal pakai nama lo biar bebas nggak perlu pakai nama bokap lo lagi.”
“Sialan.”
“Hahaha.”
“Nah, yang ini Askara, dia ini calon Jaksa Agung.”
Wow! Circle pertemanan yang luar biasa, pengusaha muda yang sukses, calon Jendral, calon Jaksa Agung, dan aku tak tahu Abi ini calon apa, tapi yang pasti sepertinya dia juga bukan orang sembarangan. Ini sih seperti Cinderella dikenalkan kepada Pangeran-Pangeran dari negara tetangga.
“Guys, kenalin … ini Kirana Az Zahra, the girl who stole my heart.” (Perempuan yang telah mencuri hatiku).
Masih banyak Pangeran di luar sana yang mungkin jauh lebih segalanya, tapi hanya satu Pangeran yang membuat imunku terjun bebas, dan akhirnya mengebarkan bendera putih menyerah atas pesona sang Pangeran, dan dia adalah … Caraka Benua, The Prince who stole my heart.
*****
Haii ...
Terimakasih buat Mbak Shepinasera yang sudah meminjamkan Tama nya untuk main di sini ... sesuai janji saya ya, Mbak Sera, insyaallah yg satunya lagi menyusul 😁 lagi mencoba mencari celahnya dulu 🤭
Ehm! Siap bertemu Mumu Peri besok? 🤣🤣🤣
Note :
Akuisisi : Pengambil alihan perusahaan.
Situ : Danau (B. Sunda)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
krn Caraka pangeran di antara para pangeran, Kirana.. tinggal tunggu gimana reaksi dan sambutan para putri yg ada di sana saat Caraka memperkenalkan Kirana.. hem.. penasaran.. 🤔🤔🤔
2024-12-28
1
Sutris Heppy
ya Allah....kangen mas Tama...pas ada mas Tama yang tugas disuranaya kok mak.deg...ternyata beneran mas taku😂😂😂
2024-11-03
0
⋆.˚mytha🦋
waaaah mas tama circle nya luas juga yaak sampe ke sini²... piye kabare mas tama n po cut?😁
2025-02-07
0