Good Morning, Kiki!
“Jadi yang kemarin itu siapa, Na? benar cuma teman kerja?” Mamah mengikutiku yang tengah bersiap pergi kerja.
“Iya.” Aku menjawab sambil memakai jaket.
“Tapi kok kayanya Mamah pernah lihat ya.” Mamah menatapku dengan mata berbinar dan senyum menggoda, membuatku menghela napas yang artinya Mamah sudah tahu siapa pria yang kemarin mengantarku pulang.
“Mamah tahu sendirikan Kirana tidak menyukai pria seperti itu, jadi Mamah tidak usah meneruskan khayalan Mamah punya menantu seorang pangeran.” Aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas.
“Lho, kenapa, Na? Mamah lihat anaknya baik, sopan juga, apa yang salah?”
“Yang salah adalah dia itu Caraka Benua, Mah, dan Mamah tahu sendirikan siapa Caraka Benua?”
Mamah terdiam beberapa saat kemudian tersenyum, dia menggenggam tanganku lembut sambil berkata, “Hidup ini hanya sekali, begitu juga dengan masa muda … nikmati, jangan sampai ada penyesalan dimasa tua nanti.”
“Karena Kirana tak ingin menyesali menghabiskan masa muda Kirana dengan pacaran yang akhirnya sudah jelas bakal seperti apa, makanya Kirana tidak boleh bermimpi terlalu tinggi, Mah.”
“Mungkin bukan mimpi yang terlalu tingginya yang akan kamu sesalkan nanti,” ucap Mamah membuatku mengerutkan alis. “Tapi kamu menyesal karena tidak berani menggapai mimpi itu menjadi kenyataan walau sudah di depan mata, dan akhirnya nanti di masa depan akan menimbulkan beribu kalimat … seandainya.”
Aku terdiam mendengar ucapan Mamah yang kini menatapku dengan mata berbinar, ku cium tangan Mamah dan memeluknya ringan.
“Kirana akan memikirkan itu nanti kalau SEANDAINYA dia benar-benar suka sama Kirana, karena sampai saat ini Kiran belum tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.”
“Tapi —”
“Tapi …” Aku memotong ucapan Mamah yang bisa ku tebak apa kelanjutan kalimat itu. “Kirana tahu dia akan memecat Kirana kalau SEANDAINYA Kirana telat hari ini, jadi Kirana harus pergi sekarang, assalamualaikum!” Ku cium pipi Mamah yang menyerah melihatku kabur secepat kilat setelah salim dan mengucap salam.
Perjalanan ke kantor seperti biasa dihiasi dengan kemacetan hampir di semua titik, apalagi hari ini adalah hari senin dan aku masuk pagi, jadi aku harus berebut jalan dengan anak-anak yang berangkat sekolah dan para pekerja yang tidak ingin terlambat sepertiku.
Hotel tempatku bekerja berada di daerah yang sangat stategis. Hanya 5 menit dari Istana Kepresidenan, beberapa menit dari pusat bisnis dan perbankaan, mall-mall besar, kantor-kontor pemerintahan, objek wisata seperti Monas, beberapa museum termasuk museum Fatahilan, Kota Tua, masjid Istiqlal, Katedral, bahkan stasiun gambir-pun berada cukup dekat, jadi bisa terbayangkan padatnya jalanan menuju tempatku bekerja ketika pagi hari atau sore ketika jam pulang kantor.
Jujur saja aku lebih memilih masuk siang, atau malam karena jalanan yang cukup lancar bahkan mungkin sepi di malam hari, sehingga aku tak harus merasakan stress di jalanan dengan suara klakson yang saling bersautan, asap kendaraan, belum lagi banyak pengendara yang tak patuh dengan rambu dan aturan berkendara.
Aku memarkir motorku di basement tempat parkir khusus karyawan kemudian naik melalui lift karyawan yang cukup penuh karena harus berebut dengan para staff ke atas yang memiliki jam kerja office hour.
“Pagi, Kiki!”
Aku tersentak terkejut mendengar seseorang berbicara dari samping, dan semakin terkejut ketika melihat seorang pria kelimis dengan kacamata dan senyum lebar tak jauh dari wajahku, kalau lift itu kosong mungkin aku sudah melompat ke pojokan sambil membaca ayat kursi.
“Pa-gi,” jawabku sedikit tergagap yang malah membuatnya terkikik.
“Sampai gugup gitu, senang ya pagi-pagi ketemu saya.”
“Astagfirullahadzim!” Aku tak bisa lagi menyembunyikan kekagetanku dan menatapnya dengan mata membulat. “Saya kaget, Mas, pagi-pagi sudah lihat penampakan.”
Aku bisa mendengar orang-orang di belakangku berusaha menahan tawa mendengar ucapanku, dan untung saja pintu lift terbuka di lantai 2 dimana kantor dan ruang lokerku berada. Dengan cepat aku langsung ke luar dari lift, Anto dan para staff keuangan lanjut ke atas ke lantai 4, sedangkan kantor Bos dan para direksi berada di lantai 14.
Dengan cepat aku mengganti pakaian dengan seragam, mencepol rambutku dengan rapi hingga tak ada selembar pun rambut yang keluar. Setelah membersihkan wajah, aku mulai merias diri dengan bedak, dan lipstik tipis. Untuk terakhir kalinya aku mematut diri di depan kaca yang terpasang di pintu loker. Aku akan menutup pintu loker ketika ku dengar ponselku berbunyi. Aku mengambil kembali ponsel yang ku letakkan di dalam loker untuk membaca pesan yang masuk. Dari Bos.
Pak Bos : Good morning … Kiki 🤣🤣🤣🤣.
“Apaan sih!” dengan kesal aku menyimpan kembali ponselku di dalam loker, menutupnya, kemudian menguncinya, dan dengan cemberut aku pun ikut bergabung dalam briefing pagi.
Hari itu diawali dengan kemacetan parah, dan bertemu dengan Anto, belum lagi beberapa tamu yang rese, cukup membuat moodku benar-benar terjun bebas, ditambah lagi tamu bulanan yang membuat hormonku jungkir balik. Saat ini aku memerlukan makanan pedas dan minuman manis dan dingin.
Duduk santai di rooftop hotel berlantai 18 sambil menikmati bakso yang tadi ku titip salah satu OB untuk membelikannya, lengkap dengan teh botol merupakan sebuah relaksasi yang tepat untukku, walaupun tempat spa yang menjadi salah satu fasilitas hotel ini sangat menggoda, tapi apalah daya itu hanya diperuntukan bagi mereka yang memiliki budget lebih untuk dipijat para professional, berbeda denganku yang mendapat pijatan hanya ketika masuk angin, itu juga hanya bermodal koin seribu dan body lotion.
“Aaaah!” Bahagia itu sederhana, ketika merasakan asam, manis dan pedas dari bakso dikala mood lagi anjlok seperti sekarang, merupakan kebahagian tersendiri untukku, membuatku kembali tersenyum sambil menikmati bakso di rooftop pada siang hari yang lumayan terik.
Aku duduk di bawah bayangan dari tembok penampung air raksasa yang berada di sana, beralaskan spanduk bekas yang ku sembunyikan di antara pot-pot tanaman yang tersebar di beberapa titik.
“Kenapa kamu tidak makan di kantin atau taman yang lebih nyaman, dan tidak panas seperti di sini?”
Aku hendak menyuap bakso ketika bayangan seseorang berdiri di depanku. Dengan sendok di depan mulut aku menengadah, mataku menyipitkan untuk melihat sosok tinggi menjulang yang sebetulnya bisa kutebak dari suaranya. Bos berdiri sambil menunduk menatapku, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana, terlihat keren seperti biasa membuatku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dan kembali mengunyah bakso.
“Mau sih, Bos, duduk di taman hotel, bawa tiker sama nasi timbel, tapi takut diusir satpam.”
Bos hanya berdecak kemudian ikut duduk di sampingku.
“Kamu kira taman hotel kita itu ragunan, pake bawa tiker sama nasi timbel segala.”
Hotel tempat ku bekerja memiliki berbagai fasilitas lux, termasuk taman dan kolam renangnya yang sangat luar biasa cantik, tapi lagi-lagi itu diperuntukan untuk para tamu.
“Kan ada taman di lantai 3, taman untuk karyawan.”
“Tapi tetap tidak boleh bawa tiker sama nasi timbel.”
“Hahaha, memang kamu mau banget ya makan nasi timbel sambil duduk di tiker?”
Aku kembali mengunyah kemudian menelan makananku sebelum menjawabnya.
“Tidak sih, cuma hari ini ingin mencari tempat yang sepi.”
Bos terdiam menatapku.
“Lagi bad mood ya?"
Aku mengengguk sambil kembali menyuap suapan bakso terakhirku.
“Kenapa? Bukannya tadi dapat ucapan selamat pagi dari pegawai mini market.” Bos tersenyum menggoda membuatku mendelik padanya.
“Sebenarnya itu alasan saya malas makan di kantin hari ini, takut ada penampakan.”
“Hahaha ... dia anak bagian apa?” Bos membukakan teh botol kemudian menyerahkannya padaku.
“Akunting.” Aku mengambil teh botol dingin dari tangan bos lalu meneguknya.
“Sudah kenal lama sama kamu?”
Aku menggelengkan kepala sambil kembali menyuap bakso.
“Baru beberapa bulan, kalau tidak salah dia dulu dari cabang Surabaya.”
Bos mengangguk mengerti sambil kembali menutup botol minumku. “Apa perlu aku kirim dia kembali lagi ke Surabaya?”
Aku mengangguk semangat. “Ide bagus!” seruku sambil tertawa membuatku tersedak, tanpa di duga Bos menepuk-nepuk punggungku, dan jujur saja ini untuk kesekian kalinya dia menepuk punggungku ketika aku tersedak saat makan atau minum.
Aku memicing menatapnya dengan masih terbatuk membuat Bos tersenyum.
“Aku hanya menepuk punggung kamu saja,” ucapnya setelah mengerti arti tatapan mataku, membuatku tersenyum.
“Apa kalau mantan Bos tersedak, Bos, tepuk pakai kartu ajaib juga.”
“Hahaha, mereka tak pernah tersedak di depanku.”
Aku menatapnya dengan mata tak percaya.
“Mereka kalau makan selalu sedikit dan pelan-pelan.”
“Maksud, Bos, saya makannya banyak dan cepat?”
“Hahaha … saya tak pernah melihat mereka makan bakso atau sea food di kaki lima.”
Aku mengangguk mengerti, bisa ku bayangkan mereka hanya akan makan di tempat-tempat dengan table manner yang malah membuatku tak nyaman.
“Mereka kurang bisa menikmati hidup,” ucapku sambil menaruh mangkuk plastik yang sudah habis.
“Justru mereka sangat menikmati hidup.”
“Mungkin benar, tapi tetap saja mereka rugi karena belum pernah ditepukin punggungnya sama Pangeran perhotelan Indonesia karena tersedak.”
“Hahahaha, kamu benar, mereka sangat rugi!”
Aku ikut tertawa mendengarnya.
“Tapi, tahu tidak apa yang membuat mereka benar-benar rugi?”
“Apa?”
“Mereka rugi karena mereka tidak pernah membuatku memerhatikan mereka seperti aku memerhatikanmu”
Angin yang berhembus siang itu seharusnya memberi sedikit kesejukan di antara sengatan matahari dan udara panas Ibu Kota, tapi entahlah itu malah membuat wajahku tiba-tiba terasa panas dan dadaku berdegup kencang.
“Eh-hmm!” aku berdehem membuatnya tertawa.
“Kenapa, Na, keselek lagi?” tanyanya jahil.
“Iya nih, kayanya masih ada biji cabe yang nyangkut,” jawabku sambil menghabiskan sisa teh botol dalam sekali teguk membuatnya kembali tertawa.
Dan seminggu kemudian aku dikejutkan dengan berita kalau Anto dimutasi kembali ke Surabaya.
Virus Pangeran semakin mengganas, imunku sudah benar-benar tak bisa bertahan ... sial!!!
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Lia Kiftia Usman
😁😁😁😁 gitu ya..
2024-10-20
0
Lia Kiftia Usman
cie...cie... cierer
2024-10-20
0
ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ
yaaaaa klo kekuasaan yg bicara,apa pun bisa terjadi😉
2024-01-18
0