7. Good Morning, Kiki!

Good Morning, Kiki!

“Jadi yang kemarin itu siapa, Na? benar cuma teman kerja?” Mamah mengikutiku yang tengah bersiap pergi kerja.

“Iya.” Aku menjawab sambil memakai jaket.

“Tapi kok kayanya Mamah pernah lihat ya.” Mamah menatapku dengan mata berbinar dan senyum menggoda, membuatku menghela napas yang artinya Mamah sudah tahu siapa pria yang kemarin mengantarku pulang.

“Mamah tahu sendirikan Kirana tidak menyukai pria seperti itu, jadi Mamah tidak usah meneruskan khayalan Mamah punya menantu seorang pangeran.” Aku berjalan masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas.

“Lho, kenapa, Na? Mamah lihat anaknya baik, sopan juga, apa yang salah?”

“Yang salah adalah dia itu Caraka Benua, Mah, dan Mamah tahu sendirikan siapa Caraka Benua?”

Mamah terdiam beberapa saat kemudian tersenyum, dia menggenggam tanganku lembut sambil berkata, “Hidup ini hanya sekali, begitu juga dengan masa muda … nikmati, jangan sampai ada penyesalan dimasa tua nanti.”

“Karena Kirana tak ingin menyesali menghabiskan masa muda Kirana dengan pacaran yang akhirnya sudah jelas bakal seperti apa, makanya Kirana tidak boleh bermimpi terlalu tinggi, Mah.”

“Mungkin bukan mimpi yang terlalu tingginya yang akan kamu sesalkan nanti,” ucap Mamah membuatku mengerutkan alis. “Tapi kamu menyesal karena tidak berani menggapai mimpi itu menjadi kenyataan walau sudah di depan mata, dan akhirnya nanti di masa depan akan menimbulkan beribu kalimat … seandainya.”

Aku terdiam mendengar ucapan Mamah yang kini menatapku dengan mata berbinar, ku cium tangan Mamah dan memeluknya ringan.

“Kirana akan memikirkan itu nanti kalau SEANDAINYA dia benar-benar suka sama Kirana, karena sampai saat ini Kiran belum tahu tentang perasaannya yang sebenarnya.”

“Tapi —”

“Tapi …” Aku memotong ucapan Mamah yang bisa ku tebak apa kelanjutan kalimat itu. “Kirana tahu dia akan memecat Kirana kalau SEANDAINYA Kirana telat hari ini, jadi Kirana harus pergi sekarang, assalamualaikum!” Ku cium pipi Mamah yang menyerah melihatku kabur secepat kilat setelah salim dan mengucap salam.

Perjalanan ke kantor seperti biasa dihiasi dengan kemacetan hampir di semua titik, apalagi hari ini adalah hari senin dan aku masuk pagi, jadi aku harus berebut jalan dengan anak-anak yang berangkat sekolah dan para pekerja yang tidak ingin terlambat sepertiku.

Hotel tempatku bekerja berada di daerah yang sangat stategis. Hanya 5 menit dari Istana Kepresidenan, beberapa menit dari pusat bisnis dan perbankaan, mall-mall besar, kantor-kontor pemerintahan, objek wisata seperti Monas, beberapa museum termasuk museum Fatahilan, Kota Tua, masjid Istiqlal, Katedral, bahkan stasiun gambir-pun berada cukup dekat, jadi bisa terbayangkan padatnya jalanan menuju tempatku bekerja ketika pagi hari atau sore ketika jam pulang kantor.

Jujur saja aku lebih memilih masuk siang, atau malam karena jalanan yang cukup lancar bahkan mungkin sepi di malam hari, sehingga aku tak harus merasakan stress di jalanan dengan suara klakson yang saling bersautan, asap kendaraan, belum lagi banyak pengendara yang tak patuh dengan rambu dan aturan berkendara.

Aku memarkir motorku di basement tempat parkir khusus karyawan kemudian naik melalui lift karyawan yang cukup penuh karena harus berebut dengan para staff ke atas yang memiliki jam kerja office hour.

“Pagi, Kiki!”

Aku tersentak terkejut mendengar seseorang berbicara dari samping, dan semakin terkejut ketika melihat seorang pria kelimis dengan kacamata dan senyum lebar tak jauh dari wajahku, kalau lift itu kosong mungkin aku sudah melompat ke pojokan sambil membaca ayat kursi.

“Pa-gi,” jawabku sedikit tergagap yang malah membuatnya terkikik.

“Sampai gugup gitu, senang ya pagi-pagi ketemu saya.”

“Astagfirullahadzim!” Aku tak bisa lagi menyembunyikan kekagetanku dan menatapnya dengan mata membulat. “Saya kaget, Mas, pagi-pagi sudah lihat penampakan.”

Aku bisa mendengar orang-orang di belakangku berusaha menahan tawa mendengar ucapanku, dan untung saja pintu lift terbuka di lantai 2 dimana kantor dan ruang lokerku berada. Dengan cepat aku langsung ke luar dari lift, Anto dan para staff keuangan lanjut ke atas ke lantai 4, sedangkan kantor Bos dan para direksi berada di lantai 14.

Dengan cepat aku mengganti pakaian dengan seragam, mencepol rambutku dengan rapi hingga tak ada selembar pun rambut yang keluar. Setelah membersihkan wajah, aku mulai merias diri dengan bedak, dan lipstik tipis. Untuk terakhir kalinya aku mematut diri di depan kaca yang terpasang di pintu loker. Aku akan menutup pintu loker ketika ku dengar ponselku berbunyi. Aku mengambil kembali ponsel yang ku letakkan di dalam loker untuk membaca pesan yang masuk. Dari Bos.

Pak Bos : Good morning … Kiki 🤣🤣🤣🤣.

“Apaan sih!” dengan kesal aku menyimpan kembali ponselku di dalam loker, menutupnya, kemudian menguncinya, dan dengan cemberut aku pun ikut bergabung dalam briefing pagi.

Hari itu diawali dengan kemacetan parah, dan bertemu dengan Anto, belum lagi beberapa tamu yang rese, cukup membuat moodku benar-benar terjun bebas, ditambah lagi tamu bulanan yang membuat hormonku jungkir balik. Saat ini aku memerlukan makanan pedas dan minuman manis dan dingin.

Duduk santai di rooftop hotel berlantai 18 sambil menikmati bakso yang tadi ku titip salah satu OB untuk membelikannya, lengkap dengan teh botol merupakan sebuah relaksasi yang tepat untukku, walaupun tempat spa yang menjadi salah satu fasilitas hotel ini sangat menggoda, tapi apalah daya itu hanya diperuntukan bagi mereka yang memiliki budget lebih untuk dipijat para professional, berbeda denganku yang mendapat pijatan hanya ketika masuk angin, itu juga hanya bermodal koin seribu dan body lotion.

“Aaaah!” Bahagia itu sederhana, ketika merasakan asam, manis dan pedas dari bakso dikala mood lagi anjlok seperti sekarang, merupakan kebahagian tersendiri untukku, membuatku kembali tersenyum sambil menikmati bakso di rooftop pada siang hari yang lumayan terik.

Aku duduk di bawah bayangan dari tembok penampung air raksasa yang berada di sana, beralaskan spanduk bekas yang ku sembunyikan di antara pot-pot tanaman yang tersebar di beberapa titik.

“Kenapa kamu tidak makan di kantin atau taman yang lebih nyaman, dan tidak panas seperti di sini?”

Aku hendak menyuap bakso ketika bayangan seseorang berdiri di depanku. Dengan sendok di depan mulut aku menengadah, mataku menyipitkan untuk melihat sosok tinggi menjulang yang sebetulnya bisa kutebak dari suaranya. Bos berdiri sambil menunduk menatapku, kedua tangannya dimasukan ke dalam saku celana, terlihat keren seperti biasa membuatku terdiam beberapa saat sebelum akhirnya menjawab dan kembali mengunyah bakso.

“Mau sih, Bos, duduk di taman hotel, bawa tiker sama nasi timbel, tapi takut diusir satpam.”

Bos hanya berdecak kemudian ikut duduk di sampingku.

“Kamu kira taman hotel kita itu ragunan, pake bawa tiker sama nasi timbel segala.”

Hotel tempat ku bekerja memiliki berbagai fasilitas lux, termasuk taman dan kolam renangnya yang sangat luar biasa cantik, tapi lagi-lagi itu diperuntukan untuk para tamu.

“Kan ada taman di lantai 3, taman untuk karyawan.”

“Tapi tetap tidak boleh bawa tiker sama nasi timbel.”

“Hahaha, memang kamu mau banget ya makan nasi timbel sambil duduk di tiker?”

Aku kembali mengunyah kemudian menelan makananku sebelum menjawabnya.

“Tidak sih, cuma hari ini ingin mencari tempat yang sepi.”

Bos terdiam menatapku.

“Lagi bad mood ya?"

Aku mengengguk sambil kembali menyuap suapan bakso terakhirku.

“Kenapa? Bukannya tadi dapat ucapan selamat pagi dari pegawai mini market.” Bos tersenyum menggoda membuatku mendelik padanya.

“Sebenarnya itu alasan saya malas makan di kantin hari ini, takut ada penampakan.”

“Hahaha ... dia anak bagian apa?” Bos membukakan teh botol kemudian menyerahkannya padaku.

“Akunting.” Aku mengambil teh botol dingin dari tangan bos lalu meneguknya.

“Sudah kenal lama sama kamu?”

Aku menggelengkan kepala sambil kembali menyuap bakso.

“Baru beberapa bulan, kalau tidak salah dia dulu dari cabang Surabaya.”

Bos mengangguk mengerti sambil kembali menutup botol minumku. “Apa perlu aku kirim dia kembali lagi ke Surabaya?”

Aku mengangguk semangat. “Ide bagus!” seruku sambil tertawa membuatku tersedak, tanpa di duga Bos menepuk-nepuk punggungku, dan jujur saja ini untuk kesekian kalinya dia menepuk punggungku ketika aku tersedak saat makan atau minum.

Aku memicing menatapnya dengan masih terbatuk membuat Bos tersenyum.

“Aku hanya menepuk punggung kamu saja,” ucapnya setelah mengerti arti tatapan mataku, membuatku tersenyum.

“Apa kalau mantan Bos tersedak, Bos, tepuk pakai kartu ajaib juga.”

“Hahaha, mereka tak pernah tersedak di depanku.”

Aku menatapnya dengan mata tak percaya.

“Mereka kalau makan selalu sedikit dan pelan-pelan.”

“Maksud, Bos, saya makannya banyak dan cepat?”

“Hahaha … saya tak pernah melihat mereka makan bakso atau sea food di kaki lima.”

Aku mengangguk mengerti, bisa ku bayangkan mereka hanya akan makan di tempat-tempat dengan table manner yang malah membuatku tak nyaman.

“Mereka kurang bisa menikmati hidup,” ucapku sambil menaruh mangkuk plastik yang sudah habis.

“Justru mereka sangat menikmati hidup.”

“Mungkin benar, tapi tetap saja mereka rugi karena belum pernah ditepukin punggungnya sama Pangeran perhotelan Indonesia karena tersedak.”

“Hahahaha, kamu benar, mereka sangat rugi!”

Aku ikut tertawa mendengarnya.

“Tapi, tahu tidak apa yang membuat mereka benar-benar rugi?”

“Apa?”

“Mereka rugi karena mereka tidak pernah membuatku memerhatikan mereka seperti aku memerhatikanmu”

Angin yang berhembus siang itu seharusnya memberi sedikit kesejukan di antara sengatan matahari dan udara panas Ibu Kota, tapi entahlah itu malah membuat wajahku tiba-tiba terasa panas dan dadaku berdegup kencang.

“Eh-hmm!” aku berdehem membuatnya tertawa.

“Kenapa, Na, keselek lagi?” tanyanya jahil.

“Iya nih, kayanya masih ada biji cabe yang nyangkut,” jawabku sambil menghabiskan sisa teh botol dalam sekali teguk membuatnya kembali tertawa.

Dan seminggu kemudian aku dikejutkan dengan berita kalau Anto dimutasi kembali ke Surabaya.

Virus Pangeran semakin mengganas, imunku sudah benar-benar tak bisa bertahan ... sial!!!

*****

Terpopuler

Comments

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

😁😁😁😁 gitu ya..

2024-10-20

0

Lia Kiftia Usman

Lia Kiftia Usman

cie...cie... cierer

2024-10-20

0

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

ₕₒₜ cₕₒcₒₗₐₜₑ

yaaaaa klo kekuasaan yg bicara,apa pun bisa terjadi😉

2024-01-18

0

lihat semua
Episodes
1 1. Become Cinderella in Seven Days
2 2. Sunrise
3 3. Prince, Coffee, and Star
4 4. Diner
5 5. Cars Free Day
6 6. Gossip
7 7. Good Morning, Kiki!
8 8. Jealousy
9 9. Birthday Party
10 10. Cinderella Syndrom
11 11. Miss You So Bad
12 12. Confession
13 13. Big Boss
14 14. I wish, I could stop the time for a while
15 15. Reallity VS Drakor
16 16. What are you doing, Boss?
17 17. Just the two of us
18 18. The girl who stole my heart
19 19. Cinderella VS Mumu Peri
20 20. The Past
21 21. Surprised!!
22 22. Takeshi Castle
23 23. Lunch time
24 24. The Most Awesome Man I Ever Know
25 25. Paradeisos
26 26. Kang Kopi
27 27. It's okay, I'm here with you
28 28. I love you, just the way you are.
29 29. Go Public
30 30. Bersua Baji dengan Matan
31 31. Paradoks
32 32. An eye for an eye
33 33. Ibu Suri
34 34. Spell
35 35. Zip Your Mouth!
36 36. Shoulder to cry on
37 37. Opportunity
38 38. I will let you go
39 39. Farewell
40 40. Randi Prasetyo
41 41. Be safe, be happy
42 42. E-World
43 43. Rapunzel
44 44. Jealous guy
45 45. Mood Booster
46 46. My Past
47 47. Homesick
48 48. I’m here for you
49 If
50 50. Puzzle Piece
51 51. SAH!
52 52. Another puzzle pieces
53 53. She’s not your kind
54 54. Just a story from the past
55 55. Ibu Peri, Ibu Suri
56 56. Debut
57 57. Deja vu
58 58. Gift
59 59. Calon menantu Mahesa
60 60. In the right place at the right time
61 61. A picture of a puzzle
62 62. Just My Imagination?
63 63. A proving
64 64. Benak hitam
65 65. Identitas Bi
66 66. The return of the nightmare
67 67. Memories
68 68. Roller coaster
69 69. Bi
70 70. After 20 years
71 71. I love you, I’m sorry
72 72. The Truth
73 73. The real truth
74 74. Stay with me
75 75. Ordinary people
76 76. Anaking jimat awaking
77 77. Family reunion
78 78. Forgiveness
79 79. Someday
80 80. Marry me!
81 81. Lelaki paripurna
82 82. One step closer
83 83. Daughter first love
84 84. Heaven
85 Extra part 1
86 Extra part 2
87 Extra part 3 (Tamat)
88 Extra part 3 (Tamat)
89 COMING SOON!!!
90 Pengumuman si Abang
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. Become Cinderella in Seven Days
2
2. Sunrise
3
3. Prince, Coffee, and Star
4
4. Diner
5
5. Cars Free Day
6
6. Gossip
7
7. Good Morning, Kiki!
8
8. Jealousy
9
9. Birthday Party
10
10. Cinderella Syndrom
11
11. Miss You So Bad
12
12. Confession
13
13. Big Boss
14
14. I wish, I could stop the time for a while
15
15. Reallity VS Drakor
16
16. What are you doing, Boss?
17
17. Just the two of us
18
18. The girl who stole my heart
19
19. Cinderella VS Mumu Peri
20
20. The Past
21
21. Surprised!!
22
22. Takeshi Castle
23
23. Lunch time
24
24. The Most Awesome Man I Ever Know
25
25. Paradeisos
26
26. Kang Kopi
27
27. It's okay, I'm here with you
28
28. I love you, just the way you are.
29
29. Go Public
30
30. Bersua Baji dengan Matan
31
31. Paradoks
32
32. An eye for an eye
33
33. Ibu Suri
34
34. Spell
35
35. Zip Your Mouth!
36
36. Shoulder to cry on
37
37. Opportunity
38
38. I will let you go
39
39. Farewell
40
40. Randi Prasetyo
41
41. Be safe, be happy
42
42. E-World
43
43. Rapunzel
44
44. Jealous guy
45
45. Mood Booster
46
46. My Past
47
47. Homesick
48
48. I’m here for you
49
If
50
50. Puzzle Piece
51
51. SAH!
52
52. Another puzzle pieces
53
53. She’s not your kind
54
54. Just a story from the past
55
55. Ibu Peri, Ibu Suri
56
56. Debut
57
57. Deja vu
58
58. Gift
59
59. Calon menantu Mahesa
60
60. In the right place at the right time
61
61. A picture of a puzzle
62
62. Just My Imagination?
63
63. A proving
64
64. Benak hitam
65
65. Identitas Bi
66
66. The return of the nightmare
67
67. Memories
68
68. Roller coaster
69
69. Bi
70
70. After 20 years
71
71. I love you, I’m sorry
72
72. The Truth
73
73. The real truth
74
74. Stay with me
75
75. Ordinary people
76
76. Anaking jimat awaking
77
77. Family reunion
78
78. Forgiveness
79
79. Someday
80
80. Marry me!
81
81. Lelaki paripurna
82
82. One step closer
83
83. Daughter first love
84
84. Heaven
85
Extra part 1
86
Extra part 2
87
Extra part 3 (Tamat)
88
Extra part 3 (Tamat)
89
COMING SOON!!!
90
Pengumuman si Abang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!