“Jadi masalahnya apa sih, Na, lo suka kan sama dia?” tanya Siska dengan sedikit tidak jelas karena mulutnya sibuk mengunyah soto ayam, yang warnanya tak lagi kuning tapi sudah merah oleh sambal.
“Masalahnya dia itu Caraka Benua, putra dari Rudi Mahesa, sang raja perhotelan dan retail Indonesia.” Ku jawab dengan mulut yang sama penuh. Saat ini kami tengah menikmati cars free day bukan untuk berolah raga, tapi mencari makanan.
“Lha terus kenapa? Lo juga kan putri dari Ibu Mega, sang ratu dunia perdrakoran di komplek kita, tidak ada yang bisa ngalahin ibu kita soal perdrakoran.”
“Beda dunia, Munaroh!” Tuh anak kadang otaknya suka gesrek deh.
“Memangnya mereka tinggal di dunia gaib?”
“Dunia Konoha!”
“Hahaha, tetanggaan sama Naruto dong?”
“Tahu ah!”
“Hahaha ... maksudnya tuh, minimal Bu Mega nggak bakal kaget dan tahu banget apa yang harus dilakuin kalau misalnya tuh emaknya Bos tiba-tiba datang ke rumah sambil ngelemparin segepok Sukarno-Hatta. Bu Mega kan sudah banyak nonton drakor, sudah banyak referensinya lah.”
Dia belum tahu saja kalau hidup Bu Mega juga sudah seperti drakor, penuh dengan drama.
“Iya, Bu Mega sih nggak apa-apa, paling tuh duit dia ambil buat jalan-jalan ke Korea sama Bu Yati.”
“Hahaha, benar.”
“Nah yang jadi masalah adalah hati Cinderella yang lembut dan rapuh ini apa kabar?”
Siska melap hidungnya dengan tisu, meneguk segelas air minum hingga habis, tapi mulutnya masih saja kaya ikan yang kekurangan oksigen, megap-megap nggak jelas.
“Bang, teh botol 1 yang dingin!” serunya dengan bibir monyong. “Gila nih sambelnya.”
“Yeee … yang gila yang makan bukan sambelnya, lagian itu sih sambel dikasih kuah soto.”
“Membakar lemak, jadikan tak perlu cape-cape olah raga,” ucapnya sebelum menghabiskan setengah teh botol dingin yang baru diantarkan. Kadang idenya brilian juga, kalau soal mager dia memang juaranya.
“Bukan cuma lemak yang terbakar, perut juga bakal terkuras habis,” ucapku sambil menghabiskan sotoku.
“Hahaha … kita tadi ngomongin soal apa? Ah ya, hati! Dengar ya, Putri Syalala, hidup ini tidak ada yang pasti, sekarang panas, eh tiba-tiba bisa hujankan?”
“Apa hubungannya panas-hujan sama hati Bae Suzy yang rapuh ini?” tanyaku sambil menaruh mangkuk yang kosong kemudian minum air putih hangat yang disediakan abang tukang soto.
“Dengar ya, Susi Similikiti! Maksud Park Shin Hye tuh, kita tidak tahu apa yang akan terjadi di masa depan ... ya, siapa tahu ternyata orangtuanya si Bos ngerestuin kalian, kita kan tidak tahu. Makanya jangan pesimis dong, hidup ini penuh tantangan dan beresiko, Sistah. Nah! Tantangan kali ini hadiahnya jackpot, jadi ya wajar saja kalau beresiko tinggi, kalau tantangannya sedikit dan gampang mah paling banter juga hadiahnya piring cantik seperti hadiah deterjen.”
Aku terdiam memikirkan ucapan Siska. Entah karena pengaruh dari teh botol dingin yang sedang ku seruput dengan nikmat atau otak Siska lagi dalam posisi yang benar, tapi ucapannya kali ini masuk di akal.
Apa ku coba saja mendobrak prinsipku tentang tidak berhubungan dengan orang kaya dan bersiap patah hati? Aaah … entahlah!
Masih dalam keadaan bingung aku mengambil ponselku ketika dirasa bergetar di saku jaket yang ku kenakan.
Panjang umur! Orang yang kami bicarakan dan membuatku bingung kini mengirimiku pesan.
Pak Bos : Woi, tukang tidur! Bangun sudah siang!!!
Aku berdecak sambil tersenyum membaca pesannya, ku ambil foto mangkuk kosong dan teh botol yang tinggal setengah lalu mengirimkannya sebagai jawaban.
Pak Bos : Hahaha, dasar tukang makan, pagi-pagi sudah ngabisin soto 2 mangkuk.
Kirana : Cuma semangkuk! Itu punya Siska … saya tak serakus itu kali, Bos!
Pak Bos : Hahaha, iya tak rakus, cuma ngabisin kepiting, kerang, udang ditambah ikan bakar sama nasi uduk … oh! Jangan lupa es jeruk!
Kirana : Hahahaha, tapi itu kita habisin berdua.
Pak Bos : Hehehe, iya deh … dimana nih?
Kirana : Di CFD sama Siska.
Pak Bos : Berdua?
Kirana : Berempat … saya, Siska, Oka, Kayas, tapi Oka sama Kayas nggak tahu kemana tuh bocah.
Pak Bos : Masih lamakan?
Kirana : Ya, lumayan.
Pak Bos : Tunggu, aku ke sana sekarang!
Kirana : Ok!
Dan 30 menit kemudian Bos sudah berdiri dengan tampannya berbalut pakaian olah raga dengan merk ternama, sepatu olah raga yang harganya bikin sepatuku dan Siska minder, dan tak ketinggalan kacamata hitam yang harganya bikin dompet ku dan Siska nangis di pojokan sambil pelukan.
“Lo, yakin nggak mau sama Bos lo? Beuh! Ganteng gitu, jangan disia-siain, Na, tar nyesel lu,” bisik Siska dengan mata menatap Bos yang berjalan di depan kami.
“Masalahnya itu … dia itu terlalu—”
“Sempurna?”
“Iya … ganteng, pinter, kaya lagi, benar-benar seorang Pangeran.”
Siska terdiam memerhatikan Bos yang kini sedang membeli minuman.
“Iya sih, dia itu paket komplit.”
“Iya, dia itu paket komplit, nah apa kabar gue yang paket hemat gini.”
“Hahaha … paket hemat, yang nasinya cuma setangah, telor separo, terus minumannya es teh manis yang kebanyakan es, hahahaha!”
Aku berdecak melihat Siska yang tertawa bahagia menertawakanku.
“Jadi lo ngertikan gimana rasanya jadi gue kalau maksain jalan sama orang yang paket komplit kaya gitu?”
Siska mengangguk, aku pikir dia akhirnya mengerti maksudku tapi ternya tidak!
“Ya, lo jangan jadi paket hemat dong … lo cukup jadi kerupuk saja untuk melengkapi kekomplitannya dia.”
“Sialan!”
“Hahaha.”
“Lagi ngetawain apa?” tanya Bos sambil membuka tutup minuman lalu mneyerahkannya kepadaku, dan plastik yang berisi minuman kaleng kepada Siska.
Siska menatap ku dan Bos bergantian dengan senyum menggoda, membuatku memelototinya
“Makasih, Pak Bos.”
“Caraka, panggil saya Caraka atau Benua terserah, asal jangan Pak Bos.” Siska tersenyum kemudian mengangguk. “Dan ini berlaku juga buat kamu, kita sedang tidak kantor,” lanjutnya sambil menatapku yang tengah meneguk minuman isotonic yang baru dia kasih.
“Dengan senang hati,” ujar Siska dengan senyum lebar. “Ya udah, gue nyari Oka sama Kayas ya, Na, siapa tahu mereka haus.”
Aku mengangguk membuat Siska tersenyum penuh misteri sambil berjalan meninggalkanku berdua dengan Pak Bos.
“Oka itu adik kamu ya?”
“Iya, namanya Asoka, kita manggilnya Oka.”
Kami berjalan di antara orang-orang yang meramaikan CFD pagi itu.
“Ceritaka padaku, tentang keluargamu!”
“Tidak ada yang spesial tentang keluarga saya, Bos.”
Bos berdecak sambil berkata. “Kita lagi di luar, Ra, bukan di kantor … jangan manggil Bos!”
Aku tersenyum sambil kembali meneguk minumanku. “Takut kualat manggil orang yang lebih tua dengan namanya saja.”
“Hei! Aku tak setua itu juga, Ra, kita cuma beda … 5-6 tahun?!”
“Hahaha, tetap saja judulnya, Bos, lebih tua daripada saya.”
Bos kembali berdecak membuatku kembali tertawa.
“Jadi kamu hanya mempunyai satu orang adik?” Dia kembali bertanya setelah mengakui kekalahannya.
“Tidak … saya memiliki 2 orang adik.” Selalu terasa menyesakkan ketika aku mengingat adikku yang satu lagi. “Namanya Bentari, kami memanggilnya Bi, tapi sudah hampir 20 tahun saya tak pernah bertemu dengannya.”
Aku bisa melihat Bos mengangkat alisnya bingung membuatku sedikit tersenyum, dan mulai membuka lagi lembaran yang membuat hatiku sedikit sakit ketika mengingatnya.
“Orangtua kami bercerai ketika saya berumur enam tahun, dan Bi empat tahun. Bi ikut dengan Ayah, sedangkan saya ikut Mamah. Dan setelah perceraian itu, kami tak pernah bertemu lagi.”
Kami kini duduk bersila di pinggiran kolam air mancur bunderan HI dimana di tengahnya berdiri monument selamat datang yang berdiri megah menyambut orang-orang berfoto menjadikannya sebagai latar yang cukup iconic.
Aku kembali mengingat hari-hari yang dipenuhi oleh teriakan dan pertengkaran dua orang yang dulu saling mencinta.
Sama-samar aku mengingat … aku yang berumur enam tahun berusaha menutup telinga Bi dengan tangan kecilku yang gemetar, masih ku ingat matanya yang bening menatap mataku yang mulai menangis mendengar teriakan di luar kamar yang semakin menjadi. Tanpa bersuara tangan Bi mengusap pipiku yang basah oleh air mata. Mungkin dia belum paham apa yang terjadi di luar ketika orangtua kami saling berteriak, tapi dia adalah anak yang baik, seolah mengerti dia hanya terdiam tak bersuara di balik selimut bersamaku.
Brak!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka dengan kasar, tak lama kemudian selimut yang melindungi kami tersibak menampakan pemandangan Ayah yang menatap dengan garang. Beberapa saat dia menatap mataku dan bisa ku lihat dia terkejut melihat tubuhku yang gemetar dan berurai air mata tanpa suara, sebelum akhirnya dia mengalihkan tatapan kepada Bi yang juga tengah menatapnya bingung. Tanpa mengatakan apapun dia langsung menggendong Bi yang menjerit memanggilku dan Mamah yang hanya terdiam menangis melihat Ayah pergi membawa Bi.
Semenjak hari itu aku tak pernah lagi bertemu keduanya. Setiap hari aku akan duduk di luar atau menatap ke luar jendela berharap mereka akan kembali, tapi selama apapun aku menunggu, mereka tak pernah kembali lagi. Dan tak lama kemudian kami pindah ke Yokohama, di sanalah kami bertemu keluarga Siska, dan pada saat itulah Mamah mengetahui kalau dia tengah mengandung. Tanpa seorang suami, Mamah berusaha menghidupi kami di Jepang dengan menjadi guru private Bahasa Inggris.
Mamah pun melahirkan hanya ditamani aku, dan Bu Yati, Ibunya Siska. Bayi yang lahir prematur itu diberi nama Asoka. Sesuai arti namanya yang berarti tanpa rasa sedih, Mamah berharap kebahagian untuk putranya juga untuk kami bertiga.
“Jadi selama ini kamu belum lagi bertemu mereka?”
Aku mengangguk dengan sedikit tersenyum walaupun aku selalu merasa kesedihan setiap mengingat Bi ataupun Ayah. Umurku yang pada saat itu masih kecil membuat bayangan tentang mereka semakin memudar, aku bahkan tak lagi mengingat bagaimana rupa ayah dan Bi. Makanya aku suka heran kalau melihat film atau drama Korea dimana tokoh utama masih mengingat apa yang terjadi ketika masih sangat kecil dengan sangat jelas.
Ya mungkin saja si tokoh utama punya ingatan yang sangat bagus banget seperti orang-orang yang memliki kemampuan hyperthinesia (kemampuan untuk mengingat masa lalu dengan jelas) sampai ingat banget dia makan apa, pakai baju apa dengan sangat detail kejadian dia berumur tiga tahun. Karena pada kenyataannya nih ya, jangankan kejadian puluhan atau belasan tahun lalu, ditanya kejadian tahun lalu saja sudah banyak yang lupa.
Nah itu juga yang terjadi dengan ku. Aku bisa mengingat —dengan samar— kejadian itu, tapi aku tak bisa mengingat wajah ayah dan adikku.
Di kejauhan terdengar suara khas musik tanjidor yang mengiringi pengamen ondel-ondel yang berjalan keliling sambil berjingkrak, di sisi lain terlihat komunitas raftil tengah berkumpul dengan peliharan masing-masing, ada juga beberapa brand yang tengah melakukan promosi, tak ketinggalan para musisi jalanan yang tengah menghibur para pejalan kaki.
Keriuhan di sekelilingku tidak membuat kekosongan yang selama ini kucoba kubur terisi, malah kini mulai terbuka kembali. Aku masih merasakan kekosongan dan kerinduan yang ditinggal oleh dua sosok penting dalam hidupku.
“Apa Bi akan mengingat saya kalau kami bertemu?” Aku menatap Bos yang juga menatapku, “Atau mungkin saya yang tidak lagi mengenalinya?” Aku membuang napas memikirkan kemungkinan itu. “Bi masih terlalu kecil untuk mengingat saya, dan saya … ya, 20 tahun cukup membuat bayangan mereka mulai memudar.”
Bos masih terdiam menatapku, sebelum akhirnya dia berkata. “Mungkin, walau tak mengingat wajah masing-masing, kalian akan langsung saling mengenal … katanya hati dan alam bawah sadar kita bisa langsung mengenali orang-orang penting dalam hidup kita walaupun sudah lama terpisah.”
Aku terdiam sebelum akhirnya tersenyum sambil menganggukanggukan kepala.
“Apa kamu tidak tahu mereka berada dimana?”
Aku menggelengkan kepala. “Tidak, setelah hari itu saya tak pernah lagi menerima kabar apapun, selain mereka kembali ke Indonesia meninggalkan saya dan Mamah berdua di Osaka.”
“Apa kamu pernah mencoba mencari adikmu lewat media sosial? Maksudku semua orang saat ini pasti memiliki sosial mediakan? Apalagi anak muda.”
Aku meneguk minumumanku kemudian mengangguk. “Iya, saya dan Siska sering mencari nama Bi di berbagai media sosial, tapi tidak ada, mungkin dia menggunakan nama lain.”
“Bisa jadi.”
“Apa Oka tahu kalau dia memiliki seorang kakak selain kamu?”
“Tahu, tapi Mamah selalu sedih setiap mengingat Bi, karena itulah sebisa mungkin saya tak pernah membahas tentang Bi di depan Mamah.”
Dan ngomong-ngomong soal Siska dan Oka, dimana mereka? Kok sampai sekarang belum balik, padahal tadi kita janjian ketemuan lagi di sini.
Ponselku bergetar menandakan ada pesan yang masuk. Dengan santai aku membuka pesan yang ternyata dari Siska. Beberapa saat aku terdiam membaca pesan itu, sebelum akhirnya memaki.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
martina melati
jadi pelengkap koq kerupuk sih? biasa nih, paket spesial ato komplit itu kalo gk teh kotak y fruit tea... ato boleh deh jd pudding sbg dessert/Ok/
2025-04-06
0
martina melati
gw tmsk kaum rebahan... gk doyan jajan, gk doyan jogging, hr minggu hr santai dkasur (pulau kapuk) pdhl kasurny springbed/Tongue/
2025-04-06
0
martina melati
emang msh ada y beli deterjen hadiahny sepiring kaca cantik... dulu, hobby bingit koleksi ginian/Grin/
2025-04-06
0