Jealosy
“Cakep banget ya!”
“Cakepan, Oka, Bu,” ujar Oka sambil makan tahu isi.
“Jauh, woi jauh!” seruku dengan mulut penuh bakwan plus cabe rawit.
“Iya, jauh cakepan gue kan, Kak?!” ucap Oka santai membuatku berdecak.
Saat ini kami tengah nonton drama korea The Heirs yang dimainkan oleh Lee Min Ho, aktor kesayangan emak-emak Indonesia.
“Nggak bosan apa, Mah, nonton ini mulu?”
“Kalau lihatin cowok ganteng itu tidak ada yang namanya bosan,” ucap Mamah sambil tersenyum. “Nih, hasilnya nonton drakor waktu hamil,” lanjut Mamah sambil menepuk pundak Oka bangga.
Oka memang lebih mirip aktor-aktor Korea dengan tinggi badan 182, kulit putih dan hidung mancung, rambutnya sedikit coklat. Entah darimana dia mendapatkan gen seperti itu, dan karena itulah waktu kecil aku sering menjahilinya dengan mengatakan kalau dia anak yang dipungut dari stasiun kereta api Osaka.
“Cuma nasibnya tidak seindah drama-drama Korea,” ucapku yang mendapat anggukan semangat dari Oka.
“Mah, apa tidak ada gitu kemungkinan Ayah adalah pengusaha kaya raya yang suatu hari ngasih kita warisan milyaran rupiah?” tanya Oka dengan wajah serius, tapi kemudian meringis ketika tanganku mendarat di belakang kepalanya.
“Mengkhayalnya jangan ketinggian, ntar gila.”
“Justru mengkhayal itu harus tinggi, Kak, mumpung gratis.”
Aku terdiam kemudian mengangguk sambil menatap Oka serius. “Nah, gimana kalau ternyata orangtua kandung lo ternyata orang kaya dan berpengaruh di Jepang? Itu lebih masuk akal!”
“Nggak lucu!” seru Oka sambil memukuliku dengan bantal sofa membuatku terbahak-bahak dan balas memukulnya.
“Jangan berantem di sini!” seru Mamah dengan mata tetap fokus menatap Kristal dan Minhyuk yang tengah bermain paint ball. “Ada tamu tuh, bukain pintu sana!”
Terdengar ketukan di pintu membuatku dan Oka berhenti saling pukul.
“Bukain sana!” Aku mendorong Oka hingga dia terjungkal dari kursi.
“Dasar cewek barbar!” seru Oka sambil berjalan dengan tangan mengelus-elus pantatnya yang dibalas senyuman cantik dari ku.
“Cari siapa?” terdengar suara Oka dari depan.
“Kirananya ada?”
Aku mengerutkan kening sambil menggigit tahu isi mendengar seseorang mencariku.
“Ada … siapa ya?” Oka kembali bertanya dengan suara dingin khasnya.
“Caraka.”
Uhuk-uhuk!
Seketika aku tersedak tahu isi mendengar nama orang yang mencariku. Mamah langsung menatapku dengan mata membulat dan senyum lebar membuatku langsung minum kemudian berdiri dan berjalan cepat ke depan.
“Hei!” seruku ketika ku lihat Bos berdiri di ambang pintu setelah sebelumnya mendorong Oka ke samping hingga nabrak tembok, “Masuk, yuk! Aww!” Aku meringis ketika rambutku ditarik Oka yang kini telah kabur masuk ke dalam. “Masuk, Bos!” aku kembali tersenyum mengajak Bos masuk ke dalam.
Bos duduk di ruang tamu rumahku yang sederhana. Rumahku hanya rumah type 36, terdiri dari ruang tamu, ruang keluarga, 2 kamar tidur, dapur dan kamar mandi, dengan sedikit renovasi dengan menambahkan 1 kamar tidur di atas untuk Oka, tempat mencuci dan menjemur pakaian.
Bos menatap sekeliling ruang tamu yang sempit, hanya ada satu set sofa, pernak-pernik lucu yang terpajang rapi di atas meja sudut, dan lukisan abstrak hasil karya Oka yang menghiasi satu sisi tembok.
“Mau minum apa?”
Bos menatapku beberapa saat terlihat ragu sebelum akhirnya bertanya, “Bisa tidak kita minumnya di luar? Ada yang harus aku bicarakan.”
“Bisa! Tentu saja bisa!” seru Mamah yang tiba-tiba ikut bergabung bersama kami membuatku terkejut. “Ganti baju sana! Biar Mamah yang temanin Caraka di sini.” Mamah mendorongku ke luar dari ruang tamu membuatku menatapnya tak percaya. “Dandan yang cantik!” bisiknya sebelum kembali ke ruang tamu meninggalkanku yang masih bingung.
Ah, dasar Bu Mega, paling tidak kuat kalau melihat cowok ganteng!
Sejam kemudian aku telah duduk di salah satu meja café roti bakar yang cukup terkenal di Jl. Alternatif Cibubur, tak jauh dari Trans Studio Cibubur. Bos duduk dengan rokok di sela jarinya, hari ini dia terlihat berbeda sepertinya ada banyak yang dia pikirkan di kepalanya.
“Kenapa?” tanyaku sambil menatapnya setelah menyerahkan menu dan pesanan kepada pelayan.
“Tidak apa-apa.” Bos menjentikan jari telunjuknya di atas rokok hingga abunya jatuh di atas asbak putih.
“Ckk … Bos, tak mungkin tiba-tiba datang ke rumah, terus ngajak bicara di luar tanpa ada apa-apa.”
Bos hanya tersenyum dan terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Orangtuaku menghubungi.” Suaranya terdengar lemah membuatku menatapnya serius.
“Terus?”
Seorang pelayan datang membawa pesanan kami, lemon tea panas, roti bakar keju untukku, dan cappuccino panas, roti nutella untuk Bos.
“Sabtu besok akan ada acara di ballroom Kenanga, apa kamu mengetahuinya?”
“Iya, saya tahu.” Aku menyeruput lemon tea yang terasa manis dengan sedikit asam yang segar.
“Dan kamu tahu untuk acara apa itu?”
“Tidak, tapi saya mendengar seseorang menyewanya untuk sebuah acara.”
“Acara ulang tahun.”
“Acara ulang tahun? Di ballroom Kenanga?”
Bos mengangguk sambil menyeruput cappuccino, kemudian kembali menghisap rokoknya setelah menaruh cangkirnya di atas meja.
“Maksudnya ulang tahun perusahaankan?”
“Bukan, tapi ulang tahun seseorang.”
Aku terbelalak mengingat ballroom Kenanga adalah ballroom terbesar dan termewah di hotel kami yang biasa dipakai untuk acara-acara besar.
“Dan yang ulang tahun adalah …”
“Anggi Santoso.”
“Aaaah …” aku mengangguk paham kalau yang menyewa ballroom kenanga untuk ulang tahun adalah calon tunangan Bos.
Sampai saat ini tidak banyak yang tahu siapa Anggi Santoso selain merupakan salah satu selebgram dengan julukan the real crazy rich Surabaya. Pernah aku melihat instagramnya ketika rekan-rekanku penasaran dengan sosok yang digadang-gadangkan akan menjadi tunangan ‘Mas Bos’. Dan, ya … melihat foto-foto yang dia bagikan di sana, wajar saja kalau sampai dijuluki crazy rich … yang diupload di sana, benar-benar gila membuat kami saat itu ber waaaah dan woooow berjamah. Walaupun sampai saat ini kami belum pernah mendengar apa-apa tentang bisnis keluarganya, tapi mengingat Rudi Mahesa sampai berani untuk mengikat perjodohan antara putra sulungnya dengan Anggi Santoso, bisa dipastikan keluarganya pun bukan dari keluarga sembarang.
“Dan orangtuamu memanggilmu karena ada hubungannya dengan pesta itu?” Aku memotong roti bakar yang penuh dengan keju dengan menggunakan pisau, kemudian mulai menyuapnya.
Sepertiku Bos pun mulai memotong dan memakan roti bakar nutella nya.
“Katanya dia belum memiliki banyak teman di Jakarta, maka dari itu keluarganya memintaku menemaninya di pesta ulangtahunnya besok.”
Aku menghentikan mengunyah roti untuk beberapa saat menatapnya, sebelum kembali melanjutkan makan roti bakarku.
“Rupanya, Bos, sudah sangat dekat dengan keluarganya.”
“Aku bahkan belum pernah bertemu dengan keluarganya secara langsung. Hanya pernah bertemu di acara-acara kantor.”
Aku mengerutkan alisku bingung.
“Tapi bukankah, Bos, tadi bilang kalau keluarganya meminta Bos menemaninya ke pesta ulangtahunnya.”
“Oh, itu lewat orangtuaku.” Bos telah menghabiskan rotinya kini kembali dia menyeruput cappuccino. “Anggi dan keluarganya tinggal di Surabaya, jadi tak mengenal banyak orang di Jakarta hanya beberapa orang saja. Jadi ayahnya Anggi meminta tolong Papah agar aku bisa menemaninya di pesta ulangtahun besok karena keluarganya tidak bisa hadir.”
Aku terdiam beberapa saat kemudian mendengus tertawa sambil menggelengkan kepala, membuat Bos mengerutkan alis.
“Kenapa?” tanyanya bingung.
“TIdak … hanya saja saya tidak mengerti dengan jalan pikiran orang-orang kaya.” Aku meneguk lemon teaku yang hangat suam-suam kuku. “Kalau saya jadi Anggi, saya akan merayakan ulangtahun di Surabaya, di antara teman dan keluarga bukannya di sini dengan menyewa ballroom hotel bintang lima, tapi tak ada keluarga yang datang. Mungkin nanti akan ada selebritis atau orang-orang terkenal lainnya, dan pasti akan jadi perbincangan di media sosial, tapi bukankah mereka hanya orang asing? Mungkin mereka saling kenal, tapi tidak begitu dekat … atau jangan-jangan dia sengaja merayakan ulang tahun di Jakarta, biar tambah dekat lagi sama … calon tunangannya.”
Dengan sengaja aku tekankan pada kata calon tunangan, membuatnya tersenyum.
“Tidak perlu cemburu seperti itu.”
“Siapa yang cemburu?”
“Hahaha.” Bos menyalakan rokok lagi sebelum kembali berkata, “Aku memberi syarat kepada orangtuaku seandainya besok aku bersedia menemani Anggi di pesta ulang tahunnya.”
“Dan syarat itu adalah?” tanyaku sebelum meneguk lemon tea setelah menghabiskan roti bakarku.
“Pembatalan perjodohan kami.” Suaranya terdengar yakin, begitu juga dengan sorot matanya yang memancarkan keseriusan dalam ucapannya
“Apa Big Boss setuju dengan syarat itu?” tanyaku sambil kembali menyesap minumanku.
“Dia bilang akan memikirkannya.”
“Jadi belum pasti?”
“Minimal aku memiliki kesempatan 50:50 untuk memutuskan perjodohan ini.”
Aku mengangguk setuju.
“Jadi apa aku boleh pergi menemaninya sabtu besok?”
Aku terdiam menatapnya yang juga tengah menatapku. Sebetulnya aku tak memiliki hak untuk memberinya izin atau melarangnya. Dia pun tak memiliki kewajiban untuk memberitahuku atau meminta izin dariku. Hubungan kami saat ini belum sedalam itu untuk saling memberitahu apalagi meminta izin ketika ingin melakukan sesuatu, tapi mendengar dari mulutnya dengan mata lembut menatapku seolah aku adalah hal yang penting dalam hidupnya, membuat perasaan yang selama ini ku coba abaikan perlahan menyeruak dan mulai mendobrak dinding pertahanan.
Ah, sial! Virus Pangeran terlalu berbahaya, imunku hampir mengibarkan bendera putih.
****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Yeni Wahyuni
karyamu ternyata keren bnget thor... setelah bertahun2 baca di NT,, baru menemukan novel2nu yg ternyata... wow bnget
2025-02-06
0
⋆.˚mytha🦋
cinta tumbuh karena terbiasa kirana... tapi gpp tetep siaga satu aja biar gak terlalu kecewa endingnya 😁
2025-02-06
0
kalea rizuky
baca noveltoon taun nan baru nemu novel bagus gini/Facepalm/
2025-03-02
0