6. Gossip
Dasar pengkhianat! Lihat saja kalau nanti bertemu, dia habis di tanganku!
Siska : Kita pulang duluan ya, perut udah mulai kontraksi gara-gara soto, emang tuh sambel soto gila baget, tokcer! … btw, selamat bersenang-senang dengan Bos ganteng 😍😍😍 gue kan sahabat yang paling pengertian, jadi gue kasih kesempatan lo buat ngenalin tuh Bos ganteng sama Bu Mega (baik bangetkan gueeee)
Siska : Oh, iya! Ingat, jadi kerupuk! Jangan jadi paket hemat apalagi cuma kerupuk abang-abang bubur yang warnanya oranye! Minimal lo jadi kerupuk udang, oke!
Sialan! Entah nasib apa yang membuatku memiliki sahabat setengah matang seperti dia! Padahal dia kan paling tahu bagaimana aku menghindari Bos dan jajaran para pangeran yang auranya susah ditolak. Apalagi pangeran yang saat ini duduk di belakang stir mobil sport Bugatti putih, matanya yang tajam tertutup kacamata hitam mahal menatap lurus jalanan, jam tangan yang harganya di atas gaji setahunku melingkar dengan manis di pergelangan tangannya yang terlihat santai memegang stir, jangan lupakan outfit yang dia kenakan hanya untuk jalan di cars free day.
“Maaf ya, Bos, padahal tadi saya naik ojek online saja. Bos, tidak perlu repot-repot mengantarkan saya segala, lagian tuh si kutu kupret kenapa tiba-tiba pakai mules segala sih!”
“Hahaha, yang namanya panggilan alam tidak ada yang bisa nahan, Na.” (Ok, panggilannya berubah lagi dari Ra, menjadi Na #BosMahBebas)
“Iya, tapi kan, dompet saya tidak harus dibawa juga!”
Aku kembali kesal mengingat dompet yang ku titipkan di tasnya terbawa pulang olehnya, atau aku sangat yakin setelah membaca pesannya kalau dia sengaja membawanya membuatku tak bisa menolak ketika akhirnya bos menawarkan diri mengantarku pulang.
“Hahaha … jadi setiap hari kamu pergi sejauh ini kalau kerja?” Bos bertanya mencoba mengalihkan pikiranku dari bagaimana cara mengeksekusi Siska nanti. Saat ini kami baru keluar tol Cibubur memasuki Jl. Alternatif Cibubur yang mulai padat merayap.
“Iya, tapi karena sudah terbiasa jadi, yaaa …” Aku mengangkat bahuku membuat Bos tersenyum.
Memang jarak rumahku ke kantor memakan waktu kurang lebih sejam kalau lancar. Mohon diingat kalau lancar! Dan mengingat jalanan lancar di Ibu Kota tercinta ini merupakan hal yang sangaaaat jarang terjadi, jadi yaaa… rata-rata perjalanan dari rumah ke kantor itu satu setengah jam.
Biar ku perjelas … rumahku berada di pinggiran kota Jakarta Timur berbatasan dengan Jawa Barat, sedangkan kantor di daerah Jakarta Pusat. Jadi walaupun kerja dibagian front office hotel bintang lima jangan harap aku akan pergi kerja dengan keadaan rapih dan wangi. Karena percuma walau dari rumah dalam keadaan rapih dan wangi, sampai kantor mukaku sudah tebal oleh debu, wangi parfumku sudah bercampur dengan bau asap knalpot kendaraan, bajuku sudah lusuh, rambut yang kusisir rapih sudah lepek oleh keringat dan helm. Jadi mengertikan kalau aku lebih memilih berangkat kerja dengan stelan seperti pembalap daripada pegawai hotel bintang lima?
“Dan setiap hari kamu memakai si merah untuk kerja?”
“Iya, karena hanya dia sahabat sejati yang tak bakalan meninggalkan saya karena panggilan alam!”
“Hahaha.” Bos hanya tertawa sambil menggelengkan kepala melihatku yang kembali kesal.
Saat ini kami sudah berada di Jl. Alternatif Cibubur, setelah melewati Perkemahan Jambore dengan kondisi jalan yang sudah padat. Jalanan ini memang lebih sering macetnya daripada lancarnya, belum lagi saat ini tengah dibangun jalan MRT yang menambah kemacetan.
“Bos, sampai di sini saja, nanti Bos putar balik saja di depan.”
“Lho, kenapa? Rumahnya sudah dekat?”
“Tidak apa-apa dari sini saya naik ojek saja, kasian Bos macet nanti pulangnya.”
“Kalau tidak macet bukan Jakarta namanya lagian tanggung, masa nurunin perempuan di pinggir jalan. Tidak sopan itu.”
“Tidak apa-apa, Bos, benaran deh! Saya tidak enak sama Bos kalau harus mengantarkan sampai rumah.”
Bos menatapku penuh selidik sebelum kembali menatap jalanan yang kini sudah mulai sedikit lancar.
“Dari sini ke mana lagi?”
Huuufffttt … sepertinya apapun alasanku, Bos tidak akan mendengarkan ku dan tetap akan mengantarku sampai rumah.
“Depan, persis sebelah Trans Studio belok kiri,” jawabku pasrah membuat Bos tersenyum penuh kemenangan.
“Jawab dengan jujur, kenapa kamu tak mau aku antar sampai rumah? Hei! Jangan bilang kamu tak mau mengenalkanku pada Ibumu, bukankah kamu bilang aku adalah calon menantu idaman semua ibu-ibu?”
“Karena itulah saya tidak mau mengenalkan Bos sama Mamah.”
“Apa Ibumu juga sepertimu yang tidak menginginkan … orang sepertiku untuk menjadi menantunya?”
“Justru sebaliknya, Mamah sangat berharap memiliki menantu sepertimu, Bos.”
“Hahaha, bagus! Dekati ibunya untuk dapatkan putrinya!”
Aku tak salah dengarkan? Dia mau mendekati Bu Mega untuk mendapatkan aku?
“Wow, Bos, jangan sepercaya diri itu … Mamah memang berharap memiliki menantu seorang Pangeran, tapi keputusan akhir tetap berada di tangan saya.” Bos mengangguk seolah paham apa yang ku katakan.
Mobil yang kami tumpangi kini sudah berbelok memasuki Jl. Harjamukti dan suasana mulai terasa berbeda, tak ada lagi kemacetan. Kiri kanan kami kini banyak lahan kosong yang masih rimbun oleh pohon, daerah ini sudah masuk wilayah Depok, Jawa Barat. Berbeda dengan Jalanan di depan tadi yang penuh hiruk pikuk dengan kendaran-kendaraan yang memadati jalanan, sepanjang jalan berderet tempat makan nyaman dan mewah, komplek perumahan elit, serta mall kalangan atas. Tepat di belakang kemegahan itu jalan ini terasa lenggang, komplek perumahannya pun hanya perumahan sederhana dan cluster-cluster di antara perkampungan warga.
“Nanti turunkan saya di depan komplek saja.” Aku menunjuk sebuah mini market yang ada persis di depan pintu masuk komplek.
“Kenapa? Apa kamu takut Ibu mu akan memaksamu menikahiku?”
“Hahaha, tidak, bukan seperti itu. Hanya saja … hmmm, komplek tempat tinggal saya bukan komplek perumahan-perumahan elit dimana semua orang tinggal secara individu, yang tak peduli dengan kehidupan tetangga sebelah rumah.”
Bos menatapku terlihat bingung. “So …?”
“So … ibu-ibu di komplek rumah saya masih senang bergosip setiap pagi sambil mengerumuni gerobak sayur Mas Jarwo, daaan saya menempati posisi teratas sebagai bahan gosip ibu-ibu komplek.”
Bos mulai memelankan kendaraan sebelum akhirnya berhenti, dia kini menatapku setelah sebelumnya melepas kacamata hitamnya dan menatapku tak percaya.
“Kamu? Kenapa?”
Aku membalikkan posisiku menjadi miring menghadap Bos dan menatapnya serius.
“Perempuan lajang, kerja di hotel, kadang pulang tengah malam, bahkan kadang pulang pagi, dan sekarang saya diantar oleh mobil sport yang sangaaat jarang ada di sini … bukankan itu akan menjadi bahan gossip yang paling hot?”
Bos terdiam beberapa saat kemudian mengangguk dan kembali menghadap depan, menyalakan mesin mobil kemudian melajukan mobilnya memasuki komplek membuatku memantapnya tak percaya.
“Kalau aku menurunkanmu di depan komplek dan seseorang tanpa sengaja melihatmu turun dari mobil ini. Itu malah akan membuat kamu jadi bahan gosip besok di tukang sayur, dan semua orang bakal mengira kamu diantar oleh om-om atau kakek-kakek hidung belang bukan seorang pangeran tampan.”
Aku masih menganga tak percaya sebelum akhirnya tertawa mendengar penjelasannya yang masuk akal. Bisa gawat besok kalau itu sampai terjadi, dan Mamah yang akan menjadi sasaran di tempat Mas Jarwo pasti bakal bingung tanpa tahu kebenarannya.
“Jadi kita lurus saja atau kemana nih?” tanya Bos sambil menatap jalanan dengan serius membuatku menghela napas.
“Setelah masjid hijau itu, belok kanan.”
Bos tersenyum mendengarku mengarahkan jalan menuju rumah.
Daaaan aku lupa kalau hari ini di rumah akan diadakan arisan ibu-ibu komplek!
“Ah, sial!”
Bos menghentikan kendaraannya tepat di depan rumahku membuat semua orang menatap ke arah kami dengan penasaran.
Ini semua gara-gara si kutu kupret!!!
***
“Hahahaha, selamat ya, Na, lo jadi bahan gosip emak-emak komplek lagi.”
“Sialan, ini gara-gara lo! Coba lo gak ninggalin gue kan gak mungkin gue jadi bahan gosip tuh emak-emak.”
“Jangan salahin gue, salahin perut gue yang gak bisa diajak kompromi.”
“Lo beneran sakit perut tadi?” Saat ini aku dan Siska tengah duduk di teras depan rumah sambil menikmati udara malam dengan sepiring gorengan lengkap dengan cabe rawit.
“Iya, lo tanya Oka kalau gak percaya, dia sampai harus ngebut nyari pom bensin.”
Aku berdecak sambil menggigit bakwan diselingi cabe rawit.
“Terus-terus tadi Bu Mega gimana waktu lihat Bos ganteng?”
“Ya nggak gimana-gimana, lo tahu sendiri emak-emak lihat cowok ganteng turun dari mobil bagus, nganterin anak gadisnya di depan ibu-ibu sekomplek. Yang ada langsung senyum lebar, dan seperti menyambut pahlawan yang menang perang.”
Aku menggelengkan kepala mengingat bagaimana tadi Mamah langsung memelukku dengan senyum lebar ketika melihat Bos yang mengenalkan diri sebagai teman kerjaku.
“Hahaha, gue yakin saat ini berita lo yang diantar cowok ganteng, naik mobil sport sudah mulai menyebar ke kampung sebelah.”
Aku hanya bisa menghela napas mengingat gossip emak-emak itu sangat mengerikan. Kecepatan penyebarannya mengalahkan kecapatan cahaya.
“Tapi untung juga tuh Bos turun dari mobil dan kenalan sama Bu Mega, kalau tidak bisa-bisa lo dikira diantar sama om-om atau kakek-kakek hidung belang, bisa tambah gawat lagi nanti gosipnya.”
Aku menatap Siska yang berpikiran sama dengan Bos. Ya, tadi aku memang sempat meminta Bos tidak usah turun, tapi belum selesai mulutku berkata Bos telah turun terlebih dahulu bahkan membukakan pintu untukku, membuatku menatapnya sambil menggelengkan kepala, tapi hanya ditanggapi dengan senyum iseng penuh kemenangan.
Hmmm ... virus Pangeran sepertinya lebih tangguh karena berhasil menyerang sang ratu drakor ... sial!!!
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
martina melati
owalah... jd traktir nih... y gpp lah untuk sohib yg dukung kamu, kirana!
2025-04-06
0
martina melati
nti sampe dtempat kerja/hotel, rapikan penampilan biar fresh
2025-04-06
0
martina melati
pdhl cari aja alfamart ato infomart ada tuh
2025-04-06
0