Autor, Pov.
Caraka duduk berdiri di pagar balkon apartemennya, di sela jari telunjuk dan tengahnya terselip sebatang rokok yang sesekali dia hisap kemudian menghembuskan asapnya perlahan. Matanya menatap lampu jalanan kota Jakarta di malam hari pada ketinggian lantai delapan apartemennya.
Kirana Az Zahra, staff yang pernah berperan sebagai penerjemahnya dulu kini telah menempati hatinya. Awalnya dia hanya menganggap iseng ketika menggoda gadis cantik dengan senyum yang menular itu. Keisengannya berubah menjadi tantangan ketika Kirana mengatakan kalau dia tidak akan jatuh cinta kepada pria kaya raya yang hidup layaknya seorang pangeran.
Caraka hanya ingin membuktikan kalau kekayaan, status dengan nama besar keluarga konglomerat terkenal bisa membuat perempuan manapun jatuh cinta padanya seperti selama ini. Tapi dia lupa, kalau tidak semua perempuan bisa dibeli dengan status dan kekayaan. Seperti Kirana Az Zahra.
Kirana malah menertawakannya, mengatakan kalau hidup itu harus realistis karena dalam kehidupan nyata tidak ada kisah seperti Cinderella. Orang kaya akan menikah dengan orang kaya lagi, mereka akan menikah dengan orang-orang di dunia yang sama. Caraka tidak bisa mendebat itu, karena dirinya pun salah satu dari dunia itu, dimana orangtua mereka akan mencari jodoh untuk putra-putri mereka di dunia yang sama, di ruang lingkup sama dengan berbagai macam pertimbangan. Salah satunya adalah kekuatan bisnis yang semakin kuat.
Anggi Santoso, perempuan yang dijodohkan dengan Caraka. Seorang perempuan cantik, dengan segala fasilitas kemewahaan yang diterima sedari kecil. Wajahnya putih bersih, rambutnya hitam mengkilat, jari-jari tangannya lentik dengan kuku terawat sempurna. Perempuan yang di mata Caraka seperti perempuan biasa yang menjadi teman-temannya atau jajaran para mantanya selama ini. Ya, di dunianya, dimana penuh keglamoran juga topeng palsu.
Tidak ada kesan khusus dari Caraka ketika pertama kali bertemu dengan Anggi, hanya perempuan cantik dan manja, yang semua keinginannya harus terpenuhi. Caraka menganggap hal itu wajar mengingat Anggi merupakan putri satu-satunya dari pengusaha properti terbesar di Jawa Timur. Meski tidak sekaya dan seterkenal keluarganya. Keluarga Santoso merupakan salah satu crazy rich berpengaruh di Surabaya.
Berawal dari perusahaan properti kecil sampai akhirnya memegang sebagian besar wilayah Surabaya, dan di bawah kepemimpinan ayah dari Anggi yaitu Andi Santoso, bisnis mereka benar-benar berkembang. Dari hanya lingkup Surabaya sampai akhirnya sekarang memegang sebagian besar wilayah Jawa Timur dan Tengah, dan saat ini mulai melebarkan sayapnya untuk merambah Jawa Barat, juga Sumatera.
Tidak seperti Rudi Mahesa dan para pebisnis Ibu Kota yang sering wara-wari di pemberitaan nasional maupun majalah bisnis. Para pembisnis dan konglomerat daerah seperti Andi Santoso tak pernah muncul di pemberitaan televisi maupun majalah. Walaupun mereka memiliki kekayaan yang bisa membuat semua orang membelalak tak percaya, bahkan kekayaan mereka banyak yang di atas pengusaha Ibu Kota, tapi sedikit yang mengenal nama mereka selain orang-orang yang berkecimpung di dunia bisnis yang sama.
Jadi, siapa yang akan menolak untuk dijodohkan dengan putri tunggal Andi Santoso? Selain memiliki istri yang cantik, juga kemungkinan besar menjadi pewaris bisnis properti keluarganya.
Tidak ada penolakan dari Caraka ketika orangtuanya memberitahu tentang perjodohan itu, toh selama ini dia sudah mengetahui kalau cepat atau lambat dia akan dijodohkan dengan perempuan yang telah dipilihkan orangtuanya. Selama ini dia sudah cukup bersenang-senang, dan selama ini juga dia telah bekerja keras untuk pekerjaannya, hingga akhirnya mencapai posisi seperti saat ini di usia yang relatif muda. Jadi kenapa tidak?
Tapi semua berantakan ketika perempuan sederhana, yang seolah tak peduli dengan penampilannya. Kulitnya kuning bersih, rambut hitamnya sering diikat asal, jari-jari tangannya sedikit kasar karena sering bekerja membantu pekerjaan ibunya di rumah, tapi dia memiliki mata bening dan senyum yang membuat orang terpesona. Kecantikannya terlihat natural tanpa make up, tak ada kepura-puraan saat dia bicara, terlihat kecerdasaan di sana. Lebih suka makan di tenda kaki lima daripada di restoran mahal. Sangat bangga dengan motor matic merahnya yang belum lunas, karena hasil dari kerja kerasnya selama ini.
Ya, perempuan sederhana itulah yang telah membuat Caraka jatuh cinta. Seolah terkena karma, disaat dia ingin membuktikan kalau semua perempuan akan jatuh cinta padanya karena status dan kekayaannya, semua menjadi terbalik. Kini dia yang jatuh cinta kepada perempuan sederhana itu. Perempuan yang untuk pertama kalinya membuat dia ingin menolak keinginan orangtuanya.
Ting!
Sebuah pesan masuk, menyadarkan Caraka dari lamunannya tentang percakapannya dengan Kirana tadi. Setelah bersusah payah meyakinkan Kirana tentang perasaannya, akhirnya Caraka berhasil membuat perempuan itu memberinya waktu dan kesempatan.
Big Bos : Besok pagi datang ke rumah.
Caraka hanya bisa menghela napas, dia sudah tahu akan seperti ini. Ayahnya akan mengawasi setiap gerak-geriknya apalagi setelah minggu kemarin dia menyatakan untuk membatalkan perjodohannya dengan Anggi yang tentu saja langsung mendapat tentangan keras.
*****
Caraka memarkirkan mobilnya di garasi rumah orangtuanya yang megah di kawasan elit Jakarta Pusat. Dia memasuki rumah besar, namun terasa sepi. Rumah megah lebih dari 1.000 meter persegi, dengan dengan berbagai fasilitas mewah itu hanya diisi oleh kedua orangtuanya dan beberapa asisten.
“Assalamualaikum,” ucap Caraka ketika melihat Ibunya yang tengah duduk di taman belakang terlihat merawat tanaman kesayangannya, tak jauh dari sana terlihat Rudi Mahesa terlihat duduk di kursi taman belakang dengan secangkir kopi di atas meja, dan tablet di tangannya. Dia menatap putranya sesaat sebelum kembali menatap tablet dengan serius.
“Wa’alaikumsalam, Kakang, kok tidak bilang mau pulang.” Caraka mencium pipi Mamah Widya yang menyambutnya dengan ramah dan penuh kasih sayang seperti biasa. “Emang ora mangkat neng kantor? (Memang tidak ke kantor?) Kalau tahu Kakang mau pulang, tadi Mamah minta Mbak Nani masak sup buntut kesukaan Kakang.”
“Raka cuma sebentar, Mah, mau ketemu Big Boss.” Caraka meringis ketika menyebut kata Big Boss.
“Ono opo to, Kang? (ada apa sih, Kang?) Ket mambengi papahmu nesu nesu ( dari semalam papahmu uring-uringan),” bisik Mamah Widya sambil melirik suaminya yang duduk di dekat kolam renang.
“Bukan apa-apa. Raka ketemu Papah dulu ya.” Caraka tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya membuat perempuan cantik dan anggun itu tersnyum.
Mamah Widya terlihat lembut dengan aura ningrat Solo yang khas. Caraka memiliki darah campuran Sunda dari sang Ayah dan Solo dari sang Ibu.
Di rumah Caraka dipanggil dengan sebutan Kang Raka, atau Kakang (Sebutan orang sunda untuk kakak laki-laki) atau terkadang mereka akan memanggilnya dengan nama kecil saja yaitu Raka, selain diambil dari Caraka, Raka sendiri memiliki arti kakak dalam bahasa sunda. Ayah Caraka merupakan anak tertua di keluarganya dan karena terlambat menikah dan memiliki keturunan, hingga akhirnya Caraka lahir dan dipanggil Raka untuk membiasakan adik-adik sepupunya yang umurnya lebih tua agar memanggilnya dengan sebutan itu, karena bagaimanapun Caraka adalah putra tertua di keluarga Mahesa.
“Pah.” Caraka menyapa Rudi Mahesa sambil duduk di kursi hadapan pria yang masih terlihat gagah walau dengan rambut yang sudah mulai memutih sebagian.
“Apa dia yang menjadi alasanmu ingin membatalkan perjodohan dengan Anggi Santoso?”
Tanpa basa basi Rudi Mahesa langsung bertanya sambil menyodorkan tablet, perkataannya itu sukses membuat Mamah Widya penasaran, dia kini ikut bergabung duduk dengan suami dan putranya.
Caraka terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengambil tablet dimana terdapat foto-fotonya bersama Kirana semalam.
“Bukankah dia sangat cantik?” Caraka tersenyum menatap foto Kirana yang tengah tersenyum di depannya. “Kami terlihat serasi,” lanjutnya.
Rudi Mahesa terdiam menatap putranya yang masih menggeser-geser foto yang semalam dikirim orang suruhannya, begitu juga dengan Mamah Widya yang lebih penasaran ingin melihat wajah perempuan yang membuat putranya tersenyum walau hanya menatap potretnya saja.
Mereka pikir Caraka hanya bermain-main seperti biasanya, tapi melihat reaksi putranya saat ini, sepertinya mereka salah.
“Dia salah satu karyawan di hotel kan? Bagian resepsionis?”
“Resepsionis?” Mamah Widya mengambil tablet dari tangan Caraka untuk melihat wajah perempuan yang kini sedang dibicarakan. Dia terkejut bagaimana bisa putra sulungnya memiliki hubungan dengan seorang resepsionis.
“Tidak ada yang salah dengan pekerjaannya, bukankah hotel kita memiliki kriteria tinggi untuk setiap karyawannya, dan dia memiliki itu.”
Rudi Mahesa terdiam, tentu saja dia telah mengetahui tentang latar belakang Kirana. Setelah Caraka meminta pembatalan perjodohan dengan perempuan yang menurutnya sangat cocok dengan putra sulungnya, dia mulai mencari tahu tentang alasan di balik putranya itu tiba-tiba memutuskan menolak perjodohan. Dan laporan yang diberikan oleh orang suruhannya adalah kalau Caraka tengah dekat dengan seorang perempuan yang tak lain dan tak bukan karyawannya di hotel.
“Dia lulusan dari universitas ternama dengan hasil yang memuaskan, dia juga menguasai beberapa bahasa asing.”
“Dia cukup pintar,” puji Mamah Widya membuat Caraka tersenyum lebar kemudian mengangguk.
“Iya, dia memang sangat pintar, cantik, baik, juga menyenangkan. Makanya Raka menyukainya, Mah.”
Mamah Widya saling pandang dengan suaminya, karena untuk pertama kalinya putra sulungnya itu mengungkapkan kalau dia menyukai seorang perempuan. Selama ini mereka mengetahui hubungan Caraka dengan beberapa perempuan dari berbagai kalangan, dan ketika ditanya biasanya dia hanya akan tertawa dan mengatakan kalau dia hanya iseng saja. Jadi mereka tak pernah ambil pusing tentang hubungan asmara putranya itu, tapi kini sepertinya berbeda.
“Karena itu kamu ingin memutuskan perjodohan dengan Anggi Santoso?” Mamah Widya bertanya dengan wajah serius menatap putranya.
“Iya.” Tanpa ragu Caraka menjawab tegas. “Raka harap Papah dan Mamah berbicara dengan keluarga Santoso untuk membatalkan perjodohan ini. Saya dan Anggi-pun belum memiliki hubungan yang terlalu jauh, kami baru bertemu dua kali dan tidak ada pembicaraan khusus tentang hubungan kami, jadi Raka pikir tidak akan sulit untuk memutuskan perjodohan ini.”
Kedua orangtuanya kembali saling tatap, wajah mereka kini sama-sama terlihat serius menatap Caraka yang juga terlihat serius dengan apa yang diucapkannya. Setelah terdiam dalam keheningan, akhirnya sang Big Boss berucap dengan tegas
“Putuskan dia, beri apapun yang dia mau.”
Caraka tersentak, matanya terbelalak membulat menatap kedua orangtuanya yang menatapnya serius.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
nyatanya di sini bukan Kirana yg tdk berdaya krn setatusnya yg hanya RAJEL... tp kamu sendiri Caraka.. kamu yg tdk berdaya dan tdk punya kuasa utk membuat pilihan dlm hidupmu...
2024-12-28
0
Bungatiem
"putuskan Dia, kasih 5m." kalo gw,,, gass....🤣
2025-01-06
0
✨️ɛ.
kan, kan..
2024-11-09
0