Caraka, pov.
Aku menatap kedua orangtuaku tak percaya. Bagaimana bisa Papah berkata sedingin dan setegas itu menyuruhku memutuskan Kirana.
“Kamu tahu siapa keluarga Santoso kan? Walaupun aset mereka masih di bawah kita, tapi mereka menguasai bidang properti di sebagian besar wilayah Jawa, dan memiliki kekuasaan cukup besar di Jawa Timur dan Tengah.”
Seperti ku duga semua kembali ke masalah bisnis, seolah aku hanya aset untuk memperluas bisnis juga kekuasaan. Selama ini aku tak pernah mengeluh karena sudah mengetahui dari awal, dan semua kekayaan dan kekuasaan itu akan kembali untuk ku nikmati, tapi sekarang berbeda … ada seseorang yang lebih penting untukku dari pada kekayaan dan kekuasaan sekalipun.
“Selama ini kita telah memiliki itu semua … kekayaan juga kekuasaan.” Aku berkata setelah terdiam beberapa saat. “Bahkan keluarga kita masuk dalam daftar jajaran 5 besar pengusaha berpengaruh di Indonesia, jadi apa lagi yang Papah cari? Ingin menjadi yang nomor 1? Setelah itu apa? No 1 di Asia? Terus apa? No 1 di dunia? Berapa kali saya harus menikah untuk mewujudkan mimpi Papah? Atau Papah akan menjual Candra dan Arletha juga?”
“Raka!” Papah membetak marah mendengar ucapanku.
“Kenapa, Pah? Sekarang pun Papah seolah menjual kebahagian Raka untuk kekayaan dan kekuasaan.”
“Papah melakukan itu untuk masa depan juga kebahagiaan kamu!”
Aku terdiam, miris rasanya mendengar orangtua seolah tahu apa yang menjadi kebahagiaan kita tanpa bertanya.
“Apa Papah dan Mamah tahu, apa cita-cita Raka, Candra atau Arletha?”
Mereka terdiam mendengar pertanyaan sederhanaku.
“Selama ini, kami tidak pernah sekalipun ditanya apa mau kami? Apa cita-cita kami? Ketika Raka atau Candra berkelahi di luar, Papah maupun Mamah tidak pernah bertanya kenapa kami berkelahi kan? Ya, Papah tentu saja membereskan masalah itu dengan cepat, mengeluarkan kami dari kantor polisi dan memberikan uang konfensasi untuk menyuruh lawan kami diam terlepas apa kami bersalah atau tidak, dan menutup mulut wartawan demi nama baik Papah dan juga perusahaan.”
Aku menatap kedua orangtua yang terdiam, terlihat terkejut melihat ku mengemukakan apa yang selama ini hanya terpendam.
“Apa Papah dan Mamah tahu, kalau saya menyukai rancang bangun, Candra sangat menyukai programing, dan Arletha, dia seperti saya yang lebih menyukai arsitektur daripada psikologi?” Mereka masih terdiam membuatku tersenyum miris. “Seperti yang saya duga … Mamah dan papah tidak mengetahui apapun tentang kami, selain berapa jumlah uang yang ditransfer ke dalam rekening kami setiap bulan.”
Ku lihat Mamah menatap kami dengan mata sendu. Aku mengambil napas daam-dalam berusaha menenangkan sedikit rasa kecewaku.
“Selama ini, kami hanya seperti bidak catur yang langkahnya sudah diatur dan ditentukan ke mana kami harus melangkah. Dengan siapa kami harus berteman, di mana kami bersekolah, jurusan apa yang harus kami ambil ketika kuliah … bahkan dengan siapa kami akan menikah. Kalian tak peduli apa kami mencintai pasangan kami atau tidak, apa kami bahagia apa tidak. Yang kalian pedulikan hanya apa keuntungan yang bisa didapat kalau kami menikah.”
“Caraka!” Papah berseru tak menerima ucapanku, tapi itu memang kenyataannya.
Beberapa saat aku dan papah saling menatap tajam. Mamah memegang lengan Papah seolah menyuruhnya untuk kembali tenang. Beberapa saat masih ada ketegangan di sorot mata Papah sebelum kembali terlihat tenang walaupun matanya masih menatapku tajam.
“32 tahun tidak sekalipun saya pernah membantah apapun keinganan Papah dan Mamah. Selama 32 tahun juga saya tidak memiliki hidup saya seutuhnya, semua saya lakukan dengan mengikuti semua keinginan Papah dan Mamah.”
Aku menatap kedua orangtuaku yang terdiam mendengar ucapanku. Ku coba mengatur napas untuk kembali mengendalikan emosiku sebelum kembali berkata.
“Ini adalah kali pertama saya memohon sebagai seorang anak kepada orantuanya … biarkan saya menentukan sendiri siapa perempuan yang saya cintai dan akan saya nikahi nanti. Hanya itu. Selebihnya saya akan mengikuti kemauan Papah dan Mamah. Saya sudah menyerahkan hidup dan mimpi saya selama ini, jadi setidaknya jangan hapus mimpi masa depan saya.”
Untuk pertama kalinya aku mengutarakan apa keinganku, selama ini aku hanya akan terdiam dan mengikuti semua keputusan mereka untuk hidupku.
Aku harap untuk sekali ini saja mereka mengabulkan permintaanku, untuk menentukan hidupku sendiri ... hanya sekali ini, karena aku tak sanggup seandainya harus memilih antara orangtua dan perempuan yang ku cintai.
Apakah egois kalau aku ingin memiliki keduanya?
****
Kirana, pov.
Pak Bos : Apa hari ini kamu masuk pagi?
Kirana : Iya
Pak Bos : Pulangnya tunggu aku di taman depan, ada yang ingin aku bicarakan.
Kirana : Hmmm … sepertinya sesuatu yang serius nih. Apa Big Boss sudah memberi ultimatum mencoretmu dari KK?
Pak Bos : Hahaha, tidak tapi sepertinya saat ini mereka sedang memikirkan ide itu.
Kirana : Sebaiknya Bos cepat memindah namakan tabungan dan depositomu sebelum mereka memblokir semuanya.
Pak Bos : Hahaha, ide yang sangat bagus. Apa aku menggantinya atas namamu saja?
Kirana : Ide bagus!
Pak Bos : Hahaha … baiklah aku akan melakukannya.
Kirana : Beritahu aku kalau sudah melakukannya, aku akan pergi dari sini dan menghilang.
Pak Bos : Hei, kalau seperti itu aku tidak akan mendapat apa-apa.
Kirana : Tidak usah khawatir aku akan meninggalkan si merah, jadi Bos bisa belajar jadi ojek online.
Pak Bos : Si merah bahkan belum lunas.
Kirana : Hahaha …
Kirana : Bos, aku harus mematikan ponsel, mata Pak Edi sudah mengeluarkan api melihatku.
Pak Bos : Hahaha, baiklah … sampai nanti sore.
Kirana : Oke!
“Saya akan mematikannya.” Dengan cepat ku matikan ponsel setelah menyadari Pak Eddy mengawasiku dari tadi dengan mata yang berapi-api.
Apa yang ingin Bos bicarakan denganku? Apa dia telah berbicara dengan orangtuanya? Aaah! Gara-gara pesan dari Bos tadi membuatku susah berkonsentrasi di sisa jam kerjaku dan berharap jam kerja akan segera berakhir.
Ketika jam kerjaku berakhir dengan cepat aku menuju Taman Lapangan Banteng. Sebuah taman yang tak jauh dari hotel, aku hanya tinggal menyeberang untuk sampai sana.
Taman Lapangan Banteng cukup luas untuk ukuran sebuah taman jadi tidak salah kalau taman ini menjadi salah satu tempat favorit warga ibu kota untuk jogging, ataupun sekedar kumpul bersama teman maupun keluarga. Sore itu tidak begitu ramai, mungkin karena hari kerja, jadi hanya ada beberapa orang yang terlihat jogging di trek atletik dan di sekitaran monument pembebasan Irian Barat dimana terlihat beberapa orang sedang berfoto di bawah monument setinggi 35 meter itu.
Aku berjalan melewati dinding yang penuh kutipan-kutipan para Pahlawan yang membakar semangat nasionalisme, sedangkan tempat yang menjadi tujuanku adalah amphiteater. Sebuah spot yang cukup terkenal di sini, terdapat undakan-undakan yang bisa menampung banyak orang dimana sebuah pohon sengaja ditanam di tengah tribun, tapi sayang tempat itu ternyata cukup ramai oleh para remaja yang tengah asik berfoto-foto.
Aku kembali berjalan melewati ampliteater, tak jauh dari sana terdapat danau buatan yang cukup besar. Seperti ampliteater, di sini pun terdapat undakan-undakan yang bisa menampung banyak orang, tapi tempat ini tak seramai di sana.
Ku ambil ponselku untuk mengirim pesan mengenai lokasiku saat ini, supaya Bos tidak perlu berkeliling untuk mencariku.
Kirana : Aku di depan danau.
Pak Bos : Oke, tunggu sebentar lagi aku akan ke sana.
Aku tersenyum membaca pesannya. Duduk di depan danau menikmati sore sambil membaca novel, aku menunggunya, dan perlahan mulai larut dalam dunia fiksi sampai akhirnya tanpa terasa terdengar suara adzan magrib bersamaan dengan seseorang duduk di sampingku. Kakinya yang panjang berselonjor melewati beberapa undakan, tangannya menjadi tumpuan tubuhnya yang bersandar santai, wajahnya menengadah ke atas dengan mata terpejam. Dengan berlatar langit sore yang sudah menua, pemandangan di sampingku terlihat seperti pemeran tokoh fiksi yang baru saja ku baca.
Beberapa saat aku terpesona melihat pemandangan itu sampai dia membuka matanya kemudian menatapku. Dadaku berdesir, jantungku berdegup kencang. Bagaimana jantungku tidak menggila kalau kita ditatap seperti itu oleh lelaki seperti tokoh fiksi yang seolah hidup dalam dunia nyata yang tersenyum lembut sambil berkata,
“Kita sholat magrib dulu.”
Aku balas tersenyum kemudian mengangguk. Dia berdiri lebih dulu untuk menjulurkan tangannya yang dengan ragu dan malu ku sambut. Setelah membantuku berdiri dia tak melepaskan genggaman tangannya membuat jantungku semakin menggila. Sepanjang perjalanan kami bergandengan tangan dalam keheningan, tak ada kata yang terucap dari bibir yang hanya menyunggingkan senyum di bawah langit senja kota Jakarta.
Ku harap waktu akan berhenti beberapa saat, biar ku nikmati kebersamaan ini lebih lama, karena ku tahu sesuatu telah terjadi yang mungkin akan memgembalikanku kepada kenyataan.
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
semoga kamu tdk terbangun dlm rasa kecewa krn mimpimu berbeda dgn kenyataan, Kirana.. dan semoga semesta berpihak pd hati kalian berdua...
2024-12-28
1
Reni Ajja Dech
Ikut penasaran apa yg mau di katakan si Raka.
2024-11-15
0
Lia Kiftia Usman
bukan karena kirana juga...caraka terlihat tdk bakti ke orangtua...tapi karena caraka ingin bahagiaaaa....dgn pilihan caraka..
2024-10-20
0