Cinderella VS Mumu Peri
Kami kini tengah duduk di pinggir danau menikmati pemandangan diiringi musik kecapi suling yang tengah menggantikan para pemain live music yang beristirahat. Angin yang berhembus lembut, danau yang tenang, di seberang danau terhampar hutan kota yang asri, musik tradisional yang mendayu, sangat selaras dengan makanan sunda yang tersaji.
Kami tengah tertawa mendengar cerita masa kecil mereka tentang seseorang bernama Gara yang berprofesi sebagai dokter, namun sayang hari ini dia tidak datang karena jadwa di rumah sakit yang tidak bisa ditanggal.
“Hai … sorry tidak ganggu kan?”
Seorang perempuan berdiri di di samping kursi Caraka, membuat semua orang kini menatap ke arah perempuan itu … aduuuh dia siapa sih? Aku lupa! Perempuan cantik dengan gaun hijau, tubuhnya tinggi semampai, rambutnya berwarna coklat, matanya menatapku penuh penilaian dari atas sampai bawah, sebelum akhirnya dia tersenyum. Tapi, hei! Kenapa senyumannya terlihat menghina begitu?
“Apa kabar, Hon … ups!” dia menutup mulutnya seolah lupa kalau dia keceplosan mengatakan sesuatu yang terlarang … hmmm, Honey? Oh iya, aku ingat … si mantan yang tidak bisa move on! Perempuan yang mendapat julukan Peri karena kecantikannya dari para penggemarnya. (Ingat, hanya dari para penggemarnya!)
“Maaf, kebiasaan susah dilupakan,” lanjutnya sambil menatapku dengan senyuman seolah dia menyesal.
Hei, Mumu Peri! Anda bermain dengan orang yang salah. Terbiasa menghadapi tamu yang menyebalkan dan sekarang harus menghadapi mantan yang tidak bisa move on, itu bukan apa-apa. Oke! Kita lihat mau sampai mana dia berusaha bermain denganku.
“Tidak apa-apa, Mbak, saya mengerti kok kalau Mbak tidak bisa move on dari … pacar saya.” Aku berkata sesantai mungkin dengan senyum andalan khas staff front office yang sangat ramah.
Wajahnya kini terlihat kesal menatapku, tapi berubah 180⁰ ketika menatap Caraka.
“Honey, how are you?” Dia setengah membungkuk hendak memeluk Caraka sambil kembali berkata, “I Miss…”
“Maaf, Mbak.” Aku memotong sambil merentangkan tangan di depan Caraka masih dengan senyum tiga jari. “Tidak bisa move on boleh … tapi tidak boleh pegang-pegang, peluk-peluk, apalagi cium-cium … bukan mahram … dosa, Mbak.”
Wajahnya kini mulai memerah, matanya nyalang menatapku yang masih tersenyum ramah. Beberapa saat kami saling pandang seolah mengadu kekuatan dengan tatapan mata … sebelum akhirnya dia tersenyum licik.
“Mungkin kamu tidak tahu, tapi …” dia memberi jeda hanya untuk kembali menyeringai, matanya menatapku tajam kemudian melanjutkan ucapannya, “hubungan kami sudah seperti … mahram.”
Caraka hampir saja melompat berdiri dengan amarah, tapi aku menahannya, Caraka menatapku yang dibalas dengan senyuman sambil mengangguk memintanya untuk percaya padaku. Ini pertarungan antar perempuan, laki-laki dilarang ikut campur walau dadaku berdegup kencang mulai terpancing emosi, tapi jangan lupa aku adalah staff front office hotel bintang lima yang sudah sering mendapat caci maki dari para tamu, jadi jangan harap ucapan seperti itu bisa memprofokasiku.
“Aaaah!” Aku kembali tersenyum, “Maksudnya hubungannya sudah seperti adik kakak ya?” Dia terkejut melihat reaksiku, sebelum akhirnya mencibir menganggapku bodoh. “Baiklah, kalau begitu aku juga akan menganggapmu sebagai … ADIK IPAR.” Matanya membulat terkejut mendengar ucapanku. “Tapi … sepertinya Mbak jauuuuh lebih TUA dari saya, jadi yang lebih cocok jadi … KAKAK IPAR … atau TANTE?”
Matanya semakin membulat, aku yakin sedikit lagi tuh mata bisa melompat ke luar. Aku tidak tahu mana yang lebih membuatnya terkejut. Ketika aku menyebutnya tua, kakak ipar, atau tante, atau mungkin karena aku tak termakan umpannya.
Ku lihat hidungnya kembang kempis, dadanya naik turun, sebelum akhir mendelik dan berbalik meninggalkan kami yang menatap kepergiannya sebelum akhirnya meledaklah tawa dari Caraka dan teman-temannya.
Ckkk … dari awal sudah ku katakan kau bermain dengan orang yang salah, Mumu Peri!
“Aku harap …” Aku menatap Caraka yang masih tertawa terbah-bahak. “Mantanmu yang lain tidak semenyebalkan itu.” Caraka tersenyum sambil mengelus rambutku. “Kita akan membicarakan soal mahram itu nanti,” bisikku dengan wajah serius menatapnya yang terdiam sebelum akhirnya tertawa. Menyebalkan!
“Tidak perlu cemburu … karena tidak pernah ada hubungan seperti itu, aku tahu batasanku … percaya padaku,” ucapnya dengan mata menatapku dengan penuh keyakinan.
Tentu saja aku percaya padanya, aku cukup mengenal siapa Caraka Benua, dia bukan tipe pria brengsek yang tidak bisa menghormati perempuan, walau tidak bisa dipungkiri rekam jejaknya dalam putus sambung dengan wanita sudah sangat panjang. Ya, semua orang punya masa lalu, dan tak seorang pun bisa menghapus masa lalu itu karena bagaimanapun itu bagian dari hidupnya, yang memberinya pengalaman dan pelajaran.
Yang bisa ku lakukan sekarang adalah menerima dirinya seutuhnya, termasuk cerita lalunya. Ya, aku memang harus menerima kisah masa lalunya, tapi tidak dengan perempuan di masa lalunya yang ingin kembali padanya. Termasuk Mumu Peri yang seolah tak menyerah terus berusaha menggangguku.
Setelah makan aku pamit sebentar ke toilet, dan tebak siapa yang mengikutiku? Yap, Mumu Peri! Entah bagaimana dia bisa tahu kalau aku ke toilet, apa jangan-jangan dari tadi dia memerhatikanku? Apa dia melihat, bagaimana Caraka tadi memerlakukan ku dengan sangat manis? Mudah-mudahan sih dia lihat, biar dia tahu kalau dia tidak punya kesempatan untuk kembali lagi sama My Prince.
“Jadi, Caraka sudah memberikanmu apa saja?” tanyanya to the point membuatku mengangkat alis.
Saat ini aku tengah mencuci tangan, dan bisa ku lihat dari pantulan kaca bagaimana dia menatapku dengan angkuh sambil bertumpang tangan.
“Maksudnya?” tanyaku bingung.
“Jangan sok polos, gue paling tidak suka sama cewek sok polos kaya lo!”
Aku kembali menatapnya dari pantulan kaca sambil berkata, “Mbak jangan ge-er, saya juga tidak suka kok sama Mbak.” Aku ingin tertawa melihatnya yang melotot marah mendengar ucapanku.
“Dengerin ya! Lo itu bukan levelnya Caraka, lo itu enggak pantas sama dia.”
“Ah, jadi maksudnya Caraka pantasnya sama Mbak?”
Aku mengeringkan tanganku kemudian bersidakep menghadapnya yang mengherdikkan sebelah bahu seolah setuju dengan ucapanku, tapi kemudian wajahnya kembali terlihat marah ketika mendengar ucapanku selanjutnya.
“Tapi bagaimana ya, Mbak, Caraka cintanya sama saya bukan sama Mbak … buktinya dia mutusin Mbak dan malah mengejar-ngejar saya.”
Senyum ramahku kini telah menghilang, berubah menjadi tatapan tajam dan serius. “Jadi jangan harap bisa kembali lagi padanya karena kita tahu siapa yang akan dia pilih seandainya kita suruh dia memilih. Sampai sini paham kan?!”
Dia terdiam sedikit terkejut melihat perubahan sikapku. Aku baru membalikkan badan ketika dia kembali lagi berkata,
“Jadi lo sudah diapain saja sama dia?”
Astagfirullahaladzim! Ok, dia berhasil membuatku mulai marah. Aku kembali berbalik menghadapnya yang kini kembali tersenyum mengejek.
“Gue tahu tipe cewek kaya lo, yang akan menyerahkan tubuh lo demi sebuah tas branded,” ucapnya dengan nada mengejek, dia kembali lagi menatap atas sampai bawah terlihat menghina.
“Tapi sepertinya tidak perlu barang branded buat dapatin tubuh lo.” Dia mendengus kemudian kembali melanjutkan ucapannya, “Dan Yang perlu lo ingat, Caraka sudah punya tunangan, jadi mending lo sekarang puas-puasin deh sama dia, ambil apa yang lo mau sebelum lo dibuang.”
Tubuhku sudah mulai gemetar ingin menjambaknya, tapi …
Tahan Kirana! Kamu tidak boleh membuat malu Caraka di depan umum hanya karena provokasi seorang mantan yang tidak bisa move on.
“Pengalama pribadi, Mbak? Yang dibuangkan Mbak bukan saya.” Aku berusaha mengatur suaraku agar tetap tenang. “Dan jangan samakan saya seperti Mbak yang rela mengumbar cerita aib sendiri di acara televisi hanya karena beberapa lembar rupiah, atau mengejar-ngejar pria yang jelas-jelas tidak menyukaimu hanya karena sebuah voucher belanja, atau jangan-jangan…” aku berjalan mendekatinya yang kini matanya melotot tajam, rahangnya terlihat mengeras, “Mbak yang menjual tubuh demi barang branded diskonan?”
“Elo!”
“Mbak merasa insecure sama saya?” Aku memotong ucapannya yang terlihat mulai menggebu.
“Gue insecure sama Elo! Jangan mimpi, jaga mulut lo!” Suaranya kini meninggi.
Rupanya si Mumu Peri sudah tidak bisa mengendalikan emosinya, begitu juga dengan ku yang sudah mulai berasap. Ok! Tidak ada salahnya kau mengeluarkan sedikit amarahku.
“Kalau lo tidak merasa insecure, lo tidak perlu melakukan semua ini.” Aku kembali berjalan semakin mendekat dengan emosi yang sudah tidak bisa dibendung lagi. “Dengan melakukan ini, itu tandanya lo merasa kalah … dan yang harus menjaga mulut itu, Elo bukan gue! Jadi jaga mulut lo kalau tidak mau mulut lo, gue sobek!” geramku sambil terus malangkah maju mendekat, mataku menatapnya tajam, ku lihat dia melangah mundur walau masih berusaha terlihat angkuh, tapi sorot matanya mulai bergetar tak seangkuh tadi.
“Jangan pikir karena lo terkenal, lo bisa seenaknya menghina gue.” Aku kini berdiri di depannya berusaha memberi tekanan dengan sorot mataku. “Karena akan mudah bagi gue cuma buat bikin muka luka penuh cakaran saat ini juga.” Kulihat dia diam-diam menelan ludah, membuatku kembali berkata dengan penuh penekanan.
“Dan satu lagi, jangan pernah sekali-kali menghina perempuan dengan menganggap mereka rendahan hanya karena status yang berbeda, kalau tidak ingin dihina balik … paham!”
Dia terdiam tak menjawab, tapi aku tahu kalau dia sudah mengerti apa maksudku. Aku berbalik dan ke luar dari toilet dengan perasaan gemas … aaah, seandainya ini bukan di pesta orang lain, ingin rasanya aku benar-benar mencakar mukanya yang sombong itu.
Aku kembali duduk bergabung dengan Caraka yang tengah tertawa bersama teman-temannya.
“Kok lama di toiletnya?” Caraka bertanya ketika aku kembali duduk di sampingnya.
“Tidak apa-apa … tadi hanya ada lalat yang sedikit mengganggu di toilet.”
“Lalat?” tanya Abi terkejut.
“Iya, lalat hijau yang sangat mengganggu.”
Mereka mengerutkan alis sesaat sebelum akhirnya Tama tergelak tertawa, disusul oleh Caraka yang terbahak-bahak sambil mengelus rambutku.
“Jadi kamu apakan lalat hijau itu?” tanyanya dengan senyum menggoda. Dan sepertinya Abi dan Askara telah mengerti tentang ‘lalat hijau’ terlihat mereka pun kini ikut tertawa.
“Hanya sedikit memberinya pelajaran,” jawabku santai, membuatnya kembali tertawa sambil menggelengkan kepala.
“I think you have meet the right one, Bro, (Aku pikir kamu telah bertemu dengan orang yang tepat)” ucap Askara.
“Yes, I am,” jawab Caraka sambil menatapku lembut, membuatku balas tersenyum melupakan pertarunganku beberapa saat lalu dengan masa lalu Caraka yang ku harap tak akan kembali hadir dalam kehidupan kami.
Aaarrggghhh ... tapi masih sangat kesal!
*****
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
itu baru satu mantan yg mengusik kamu Kirana.. jgn lupa masih banyak barisan para mantan pelarian Caraka yg lainnya.. belum lagi org tua Caraka.. mereka yg bakal jd tembok besar utk hubungan kalian.. semoga kamu kuat nantinya..
2024-12-28
0
Reni Ajja Dech
Yo kita rame ramein Ra.
2024-11-15
0
sakura🇵🇸
bener...rasanya blm puas klo blm nimpuk ya😄😄
2023-11-08
0