Birthday Party
Seperti yang sudah Bos beritahu, hari sabtu hotel terlihat sibuk. Ballroom Kenanga yang sudah mewah terlihat menjadi luar biasa dengan hisan yang sangat luar biasa, para karyawan di briefing khusus mengenai acara malam ini. Menjelang sore para pencari berita sudah mulai berkerumun di depan hotel, tamu undangan yang sebagian besar dari kalangan atas dan juga pesohor negri ini mulai berdatangan satu persatu membuat kehebohan di luar maupun dalam hotel.
Dan akhirnya sekitar pukul delapan, sang Pangeran datang sambil menggandengan sang Putri di depan para wartawan seolah tanpa berkata mereka telah memproklamirkan hubungan mereka. Walaupun aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, tapi tetap saja melihat mereka berdua bergandengan sedikit melukaiku, sekaligus kembali menyadarkanku untuk bangun dari mimpi.
Mata kami saling menatap untuk beberapa saat ketika mereka berjalan melintasi lobi. Dia terlihat luar biasa tampan dengan pakaian resmi yang melekat pas membalut tubuhnya yang atletis, dan sang Putri tak kalah terlihat luar biasa dengan gaun yang aku yakin harganya bisa mencapai gajiku selama setahun, dan senyum menghiasi wajah cantiknya.
“Pangeran memang cocoknya dengan seorang Putri,” ucap Shanti sambil menghela napas berat terdengar patah hati, membuatku memalingkan pandangan dari Bos.
Iya, yang dikatakan Santi memang benar seorang Pangeran memang seharusnya dengan seorang putri bukan dengan Cinderella.
*****
Manis bercampur pahit dari kopi yang kusesap menghangatkan tenggorokanku memberi sedikit kenyamanan. Jam kerjaku telah berakhir, tapi kepala dan hatiku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja jadi aku memutuskan untuk naik ke rooftop setelah sebelumnya membeli segelas kopi. Ya, saat ini aku memerlukan kafein agar pikiranku bisa kembali lurus, dan ini cukup berhasil.
Semilir angin malam, segelas kopi, dan pemandangan gemerlap lampu jalanan ibu kota sedikit membuat hatiku tenang, hingga otakku bisa kembali berpikir jernih tentang apa yang baru saja terjadi.
“Aku tahu kamu akan berada di sini.”
Aku menatap ke belakang, ku lihat Bos berdiri di sana dengan senyum rupawan seperti biasanya. Satu tangannya dimasukan ke dalam saku celana, satunya lagi menenteng jas yang tadi dia kenakan, aku hanya mengangkat bahu sebelum kembali manatap jalanan. Aku merasakan dia berjalan mendekat dan tiba-tiba sesuatu tersampir di bahuku membuatku tersentak.
“Dingin,” ucapnya sambil membetulkan letak jasnya di bahuku.
“Tidak begitu dingin.” Aku meraih jas tapi tanganku dihentikannya.
“Kamu tidak merasakannya karena hati kamu sedang panaskan?” Dia menatapku dengan senyum jahil.
“Bukan karena hatiku yang panas, tapi karena kopi ini,” jawabku sambil berbalik kembali menatap jalanan.
Dia berdiri di sampingku ikut menatap jalanan selama beberapa saat sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi miring menghadapku. Bukannya aku tak tahu kalau matanya menatapku penuh selidik, tapi aku pura-pura tak terpengaruh dengan itu. Ckk, lebih baik aku menikmati kopiku saja.
1 menit …
Aku kembali menyesap kopiku berusaha mengabaikannya.
Dua menit …
Ok, aku sudah mulai risih ditatap seperti itu.
Tiga menit …
Aku sudah tak tahan lagi!
“Apa?” tanyaku sambil menatapnya yang kini mulai tersenyum.
“Kamu marah?”
“Marah? Marah kenapa?” Aku kembali menatap ke depan sambil menyesap kopi. Hei! Kenapa aku harus menghindari tatapannya?
“Karena acara tadi, tapi aku sudah meminta izin darimu, ingat?”
“Bos, tidak harus meminta izin dariku.”
Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Tentu saja aku harus memberitahumu, cause you are my Cinderella.” (karena kamu adalah Cinderella-ku)
“I’m not.” (Saya bukan Cinderella-mu)
“Yes, you are.” (Ya, kamu adalaha Cinderella-ku)
“In your dream.” (Dalam mimpimu) Aku kembali menatap ke depan dengan kesal.
“Kenapa kamu tidak mengakui saja kalau kamu marah, kamu cemburu melihatku dengan perempuan lain.”
“Kenapa saya harus marah?” Oke, emosiku kini sudah tersulut. “Kalaupun iya, apa itu akan berpengaruh?” Aku mantapnya yang terdiam menatapku. “Tidak kan? Jadi, buat apa saya marah toh itu hak kamu, Bos, untuk menemani calon tunangan yang ulangtahun,” lanjutku dengan penekanan pada kata calon tunangan.
“Mantan calon tunangan.”
“Big Boss sudah menyetujuinya?"
Dia mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya kemudian nenyulut sebatang rokok, dia terdiam sambil menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya.
“Belum.”
“Bagaimana kalau mereka tak setuju dan tetap meneruskan perjodohan ini?”
Hening, tak ada jawaban.
Aku kembali menyesap kopiku sebelum kembali berkata, “Saya memang baru mengenal, Bos, tapi saya tahu kalau, Bos, adalah anak yang berbakti. Bos selalu mengikuti apa kemauan orangtua meski itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau harapkan.” Semilir angin malam terasa dingin mengelus tubuh. “Jadi saya pikir … percuma, Bos, menentang perjodohan ini kalau pada akhirnya orangtua, Bos, keukeuh melanjutkan perjodohan ini, dan Bos tidak akan berani untuk menolaknya.”
Dia terdiam sesaat menatapku sebelum kembali menatap ke depan sambil menghisap rokok. Sikunya ditumpukan di beton pagar pembatas membuatnya menjadi sedikit membungkuk, matanya terlihat menerawang menatap jalanan Ibu Kota yang sudah tak seramai tadi, tapi hingar bingar lampu-lampu gedung, lampu monas yang terlihat di kejauhan berubah warna tiap menit, lampu reklame, dan lampu jalanan masih menghiasi malam ibu kota di antara dinginnya udara malam.
“Tidak bisakah kamu menjadi Cinderella untukku?”
Aku menatapnya terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu, dia menatapku dengan sungguh-sungguh membuatku tersenyum sambil menghela napas.
“Tidak bisa, karena kisah kita berbeda dengan kisah Cinderella,” jawabku. Bisa kulihat kerutan halus di antara kedua alisnya, menandakan kalau dia bingung dengan jawabannku. “Pangeran di Cinderella tidaklah seberbakti, Bos, dia dengan terus terang menentang permintaan orangtuanya untuk dijodohkan dengan Putri dari negri seberang. Cinderella datang ke pesta itu dan Pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama, dengan bermodalkan sebelah sepatu kaca yang ditinggalkan Cinderella, dia mencari gadis yang dia cintai ke seluruh negri hingga semua orang mengetahui siapa gadis yang dicintai sang Pangeran. Cinderella tidak melakukan apapun, Bos. Dia hanya duduk diam sampai pangeran datang menjemputnya.”
Aku menatapnya yang masih terdiam menatapku.
“Jadi sekarang kita tahukan apa perbedaan kisah Cinderella dengan kisah kita? Dan saya tidak ingin membuat, Bos, menjadi anak yang tidak berbakti.” Aku tersenyum sambil membuka jasnya, “Terimakasih untuk jasnya. Saya pulang dulu, Bos, assalamualaikum.” Aku berjalan meninggalkannya. Ya, aku harus kembali menarik garis tegas di antara hubungan kami kalau tidak akulah yang akan terluka.
“Kirana Az Zahra!” serunya membuatku berhenti kemudian berbalik menatapnya. “Apa kamu siap kalau seluruh negri tahu kamu yang kupilih menjadi Cinderella-ku?”
Aku hanya bisa menghela napas mendengar pertanyaan itu. “Pangeran tak pernah bertanya kepada Cinderella, dia siap atau tidak karena Pangeran akan berada di samping Cinderella dan melindunginya, tapi Bos …” Aku terdiam beberapa saat menatapnya yang juga menatapku dalam. “Apa Bos akan menjadikan saya sebagai Cinderella perebut tunangan Sang Putri?”
Bisa ku lihat dari keremangan cahaya malam dia kembali mengerutkan alisnya, khas seorang Caraka Benua ketika sedang bingung.
“Setelah kejadian malam ini, begitu banyak mata yang melihat penampilan kalian berdua, ditambah lagi wartawan yang meliput bisa saya pastikan saat ini berita tentang kalian sudah tersebar di dunia maya dan besok akan menghiasi seluruh pemberitaan. Jadi apa namanya saya kalau tiba-tiba Bos mengumumkan tentang … kita, setelah secara tidak langsung, Bos, mengumumkan tentang … kalian?”
Apa kita adalah kata yang tepat? Karena selama ini tidak pernah ada kita di antara kami, yang ada hanya Bos dan bawahannya. Ckk, aku benci diriku sendiri.
“Jadi, katakan padaku apa yang harus aku lakukan?” Suaranya terdengar putus asa, membuatku kembali terdiam menatapnya.
“Sebelum Bos bertanya apa saya siap, sebaiknya Bos bertanya pada diri Bos sendiri, apa yang sebenarnya Bos mau? Apa Bos siap dengan segala konsekuensi yang akan diterima seandainya, Bos, membatalkan pertunangan itu?”
Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin, dan kami masih berdiri di bawah gelapnya malam berselimut keheningan dan hembusan angin malam. Suara ponsel membuyarkan keheningan di antara kami.
“Oka datang menjemputku,” ucapku setelah mematikan panggilan itu. “Saya pulang dulu, assalamualaikum.”
Dengan cepat aku meninggalkannya yang masih berdiri mematung. Sebetulnya bukan hanya dia yang harus bertanya pada dirinya sendiri, tapi aku juga … ya, pertanyaan itu lebih tepat ditujukan kepadaku bukan padanya.
Apa aku siap seandainya mendobrak semua prinsipku tentang Pangeran? Karena sepertinya imunku sudah benar-benar kalah dari Virus Pangeran kali ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 90 Episodes
Comments
Sandisalbiah
Kirana berpikir dan bersikap bijak walau sedikit munafik krn sejujurnya hatinya sudah luluh dgn pesona seorang Caraka.. tp dia harus bisa menolak dan menjauh dr sang pangeran demi kewarasanya sendiri..
2024-12-28
0
ArlettaByanca
loh emng kalian pernah jadian ?...baru sering asik ngobrol blm tentu sdh jadian. Blm ada sepakat okey kita jadian
2024-10-02
0
sakura🇵🇸
ok kirana...wake up baby,perbaharui tembokmu...biar lebih kokoh
pangeran terlalu berbahaya buatmu yg manis t
2023-11-07
0