9. Birthday Party

Birthday Party

Seperti yang sudah Bos beritahu, hari sabtu hotel terlihat sibuk. Ballroom Kenanga yang sudah mewah terlihat menjadi luar biasa dengan hisan yang sangat luar biasa, para karyawan di briefing khusus mengenai acara malam ini. Menjelang sore para pencari berita sudah mulai berkerumun di depan hotel, tamu undangan yang sebagian besar dari kalangan atas dan juga pesohor negri ini mulai berdatangan satu persatu membuat kehebohan di luar maupun dalam hotel.

Dan akhirnya sekitar pukul delapan, sang Pangeran datang sambil menggandengan sang Putri di depan para wartawan seolah tanpa berkata mereka telah memproklamirkan hubungan mereka. Walaupun aku sudah mempersiapkan diri untuk hari ini, tapi tetap saja melihat mereka berdua bergandengan sedikit melukaiku, sekaligus kembali menyadarkanku untuk bangun dari mimpi.

Mata kami saling menatap untuk beberapa saat ketika mereka berjalan melintasi lobi. Dia terlihat luar biasa tampan dengan pakaian resmi yang melekat pas membalut tubuhnya yang atletis, dan sang Putri tak kalah terlihat luar biasa dengan gaun yang aku yakin harganya bisa mencapai gajiku selama setahun, dan senyum menghiasi wajah cantiknya.

“Pangeran memang cocoknya dengan seorang Putri,” ucap Shanti sambil menghela napas berat terdengar patah hati, membuatku memalingkan pandangan dari Bos.

Iya, yang dikatakan Santi memang benar seorang Pangeran memang seharusnya dengan seorang putri bukan dengan Cinderella.

*****

Manis bercampur pahit dari kopi yang kusesap menghangatkan tenggorokanku memberi sedikit kenyamanan. Jam kerjaku telah berakhir, tapi kepala dan hatiku sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja jadi aku memutuskan untuk naik ke rooftop setelah sebelumnya membeli segelas kopi. Ya, saat ini aku memerlukan kafein agar pikiranku bisa kembali lurus, dan ini cukup berhasil.

Semilir angin malam, segelas kopi, dan pemandangan gemerlap lampu jalanan ibu kota sedikit membuat hatiku tenang, hingga otakku bisa kembali berpikir jernih tentang apa yang baru saja terjadi.

“Aku tahu kamu akan berada di sini.”

Aku menatap ke belakang, ku lihat Bos berdiri di sana dengan senyum rupawan seperti biasanya. Satu tangannya dimasukan ke dalam saku celana, satunya lagi menenteng jas yang tadi dia kenakan, aku hanya mengangkat bahu sebelum kembali manatap jalanan. Aku merasakan dia berjalan mendekat dan tiba-tiba sesuatu tersampir di bahuku membuatku tersentak.

“Dingin,” ucapnya sambil membetulkan letak jasnya di bahuku.

“Tidak begitu dingin.” Aku meraih jas tapi tanganku dihentikannya.

“Kamu tidak merasakannya karena hati kamu sedang panaskan?” Dia menatapku dengan senyum jahil.

“Bukan karena hatiku yang panas, tapi karena kopi ini,” jawabku sambil berbalik kembali menatap jalanan.

Dia berdiri di sampingku ikut menatap jalanan selama beberapa saat sebelum akhirnya mengubah posisinya menjadi miring menghadapku. Bukannya aku tak tahu kalau matanya menatapku penuh selidik, tapi aku pura-pura tak terpengaruh dengan itu. Ckk, lebih baik aku menikmati kopiku saja.

1 menit …

Aku kembali menyesap kopiku berusaha mengabaikannya.

Dua menit …

Ok, aku sudah mulai risih ditatap seperti itu.

Tiga menit …

Aku sudah tak tahan lagi!

“Apa?” tanyaku sambil menatapnya yang kini mulai tersenyum.

“Kamu marah?”

“Marah? Marah kenapa?” Aku kembali menatap ke depan sambil menyesap kopi. Hei! Kenapa aku harus menghindari tatapannya?

“Karena acara tadi, tapi aku sudah meminta izin darimu, ingat?”

“Bos, tidak harus meminta izin dariku.”

Dia terdiam beberapa saat sebelum akhirnya berkata, “Tentu saja aku harus memberitahumu, cause you are my Cinderella.” (karena kamu adalah Cinderella-ku)

“I’m not.” (Saya bukan Cinderella-mu)

“Yes, you are.” (Ya, kamu adalaha Cinderella-ku)

“In your dream.” (Dalam mimpimu) Aku kembali menatap ke depan dengan kesal.

“Kenapa kamu tidak mengakui saja kalau kamu marah, kamu cemburu melihatku dengan perempuan lain.”

“Kenapa saya harus marah?” Oke, emosiku kini sudah tersulut. “Kalaupun iya, apa itu akan berpengaruh?” Aku mantapnya yang terdiam menatapku. “Tidak kan? Jadi, buat apa saya marah toh itu hak kamu, Bos, untuk menemani calon tunangan yang ulangtahun,” lanjutku dengan penekanan pada kata calon tunangan.

“Mantan calon tunangan.”

“Big Boss sudah menyetujuinya?"

Dia mengeluarkan bungkus rokok dari saku celananya kemudian nenyulut sebatang rokok, dia terdiam sambil menghisap rokok kemudian menghembuskan asapnya.

“Belum.”

“Bagaimana kalau mereka tak setuju dan tetap meneruskan perjodohan ini?”

Hening, tak ada jawaban.

Aku kembali menyesap kopiku sebelum kembali berkata, “Saya memang baru mengenal, Bos, tapi saya tahu kalau, Bos, adalah anak yang berbakti. Bos selalu mengikuti apa kemauan orangtua meski itu tidak sesuai dengan apa yang diinginkan atau harapkan.” Semilir angin malam terasa dingin mengelus tubuh. “Jadi saya pikir … percuma, Bos, menentang perjodohan ini kalau pada akhirnya orangtua, Bos, keukeuh melanjutkan perjodohan ini, dan Bos tidak akan berani untuk menolaknya.”

Dia terdiam sesaat menatapku sebelum kembali menatap ke depan sambil menghisap rokok. Sikunya ditumpukan di beton pagar pembatas membuatnya menjadi sedikit membungkuk, matanya terlihat menerawang menatap jalanan Ibu Kota yang sudah tak seramai tadi, tapi hingar bingar lampu-lampu gedung, lampu monas yang terlihat di kejauhan berubah warna tiap menit, lampu reklame, dan lampu jalanan masih menghiasi malam ibu kota di antara dinginnya udara malam.

“Tidak bisakah kamu menjadi Cinderella untukku?”

Aku menatapnya terkejut dengan pertanyaan tiba-tiba itu, dia menatapku dengan sungguh-sungguh membuatku tersenyum sambil menghela napas.

“Tidak bisa, karena kisah kita berbeda dengan kisah Cinderella,” jawabku. Bisa kulihat kerutan halus di antara kedua alisnya, menandakan kalau dia bingung dengan jawabannku. “Pangeran di Cinderella tidaklah seberbakti, Bos, dia dengan terus terang menentang permintaan orangtuanya untuk dijodohkan dengan Putri dari negri seberang. Cinderella datang ke pesta itu dan Pangeran jatuh cinta pada pandangan pertama, dengan bermodalkan sebelah sepatu kaca yang ditinggalkan Cinderella, dia mencari gadis yang dia cintai ke seluruh negri hingga semua orang mengetahui siapa gadis yang dicintai sang Pangeran. Cinderella tidak melakukan apapun, Bos. Dia hanya duduk diam sampai pangeran datang menjemputnya.”

Aku menatapnya yang masih terdiam menatapku.

“Jadi sekarang kita tahukan apa perbedaan kisah Cinderella dengan kisah kita? Dan saya tidak ingin membuat, Bos, menjadi anak yang tidak berbakti.” Aku tersenyum sambil membuka jasnya, “Terimakasih untuk jasnya. Saya pulang dulu, Bos, assalamualaikum.” Aku berjalan meninggalkannya. Ya, aku harus kembali menarik garis tegas di antara hubungan kami kalau tidak akulah yang akan terluka.

“Kirana Az Zahra!” serunya membuatku berhenti kemudian berbalik menatapnya. “Apa kamu siap kalau seluruh negri tahu kamu yang kupilih menjadi Cinderella-ku?”

Aku hanya bisa menghela napas mendengar pertanyaan itu. “Pangeran tak pernah bertanya kepada Cinderella, dia siap atau tidak karena Pangeran akan berada di samping Cinderella dan melindunginya, tapi Bos …” Aku terdiam beberapa saat menatapnya yang juga menatapku dalam. “Apa Bos akan menjadikan saya sebagai Cinderella perebut tunangan Sang Putri?”

Bisa ku lihat dari keremangan cahaya malam dia kembali mengerutkan alisnya, khas seorang Caraka Benua ketika sedang bingung.

“Setelah kejadian malam ini, begitu banyak mata yang melihat penampilan kalian berdua, ditambah lagi wartawan yang meliput bisa saya pastikan saat ini berita tentang kalian sudah tersebar di dunia maya dan besok akan menghiasi seluruh pemberitaan. Jadi apa namanya saya kalau tiba-tiba Bos mengumumkan tentang … kita, setelah secara tidak langsung, Bos, mengumumkan tentang … kalian?”

Apa kita adalah kata yang tepat? Karena selama ini tidak pernah ada kita di antara kami, yang ada hanya Bos dan bawahannya. Ckk, aku benci diriku sendiri.

“Jadi, katakan padaku apa yang harus aku lakukan?” Suaranya terdengar putus asa, membuatku kembali terdiam menatapnya.

“Sebelum Bos bertanya apa saya siap, sebaiknya Bos bertanya pada diri Bos sendiri, apa yang sebenarnya Bos mau? Apa Bos siap dengan segala konsekuensi yang akan diterima seandainya, Bos, membatalkan pertunangan itu?”

Kami sama-sama terdiam beberapa saat. Malam semakin larut dan cuaca semakin dingin, dan kami masih berdiri di bawah gelapnya malam berselimut keheningan dan hembusan angin malam. Suara ponsel membuyarkan keheningan di antara kami.

“Oka datang menjemputku,” ucapku setelah mematikan panggilan itu. “Saya pulang dulu, assalamualaikum.”

Dengan cepat aku meninggalkannya yang masih berdiri mematung. Sebetulnya bukan hanya dia yang harus bertanya pada dirinya sendiri, tapi aku juga … ya, pertanyaan itu lebih tepat ditujukan kepadaku bukan padanya.

Apa aku siap seandainya mendobrak semua prinsipku tentang Pangeran? Karena sepertinya imunku sudah benar-benar kalah dari Virus Pangeran kali ini.

Terpopuler

Comments

Sandisalbiah

Sandisalbiah

Kirana berpikir dan bersikap bijak walau sedikit munafik krn sejujurnya hatinya sudah luluh dgn pesona seorang Caraka.. tp dia harus bisa menolak dan menjauh dr sang pangeran demi kewarasanya sendiri..

2024-12-28

0

ArlettaByanca

ArlettaByanca

loh emng kalian pernah jadian ?...baru sering asik ngobrol blm tentu sdh jadian. Blm ada sepakat okey kita jadian

2024-10-02

0

sakura🇵🇸

sakura🇵🇸

ok kirana...wake up baby,perbaharui tembokmu...biar lebih kokoh
pangeran terlalu berbahaya buatmu yg manis t

2023-11-07

0

lihat semua
Episodes
1 1. Become Cinderella in Seven Days
2 2. Sunrise
3 3. Prince, Coffee, and Star
4 4. Diner
5 5. Cars Free Day
6 6. Gossip
7 7. Good Morning, Kiki!
8 8. Jealousy
9 9. Birthday Party
10 10. Cinderella Syndrom
11 11. Miss You So Bad
12 12. Confession
13 13. Big Boss
14 14. I wish, I could stop the time for a while
15 15. Reallity VS Drakor
16 16. What are you doing, Boss?
17 17. Just the two of us
18 18. The girl who stole my heart
19 19. Cinderella VS Mumu Peri
20 20. The Past
21 21. Surprised!!
22 22. Takeshi Castle
23 23. Lunch time
24 24. The Most Awesome Man I Ever Know
25 25. Paradeisos
26 26. Kang Kopi
27 27. It's okay, I'm here with you
28 28. I love you, just the way you are.
29 29. Go Public
30 30. Bersua Baji dengan Matan
31 31. Paradoks
32 32. An eye for an eye
33 33. Ibu Suri
34 34. Spell
35 35. Zip Your Mouth!
36 36. Shoulder to cry on
37 37. Opportunity
38 38. I will let you go
39 39. Farewell
40 40. Randi Prasetyo
41 41. Be safe, be happy
42 42. E-World
43 43. Rapunzel
44 44. Jealous guy
45 45. Mood Booster
46 46. My Past
47 47. Homesick
48 48. I’m here for you
49 If
50 50. Puzzle Piece
51 51. SAH!
52 52. Another puzzle pieces
53 53. She’s not your kind
54 54. Just a story from the past
55 55. Ibu Peri, Ibu Suri
56 56. Debut
57 57. Deja vu
58 58. Gift
59 59. Calon menantu Mahesa
60 60. In the right place at the right time
61 61. A picture of a puzzle
62 62. Just My Imagination?
63 63. A proving
64 64. Benak hitam
65 65. Identitas Bi
66 66. The return of the nightmare
67 67. Memories
68 68. Roller coaster
69 69. Bi
70 70. After 20 years
71 71. I love you, I’m sorry
72 72. The Truth
73 73. The real truth
74 74. Stay with me
75 75. Ordinary people
76 76. Anaking jimat awaking
77 77. Family reunion
78 78. Forgiveness
79 79. Someday
80 80. Marry me!
81 81. Lelaki paripurna
82 82. One step closer
83 83. Daughter first love
84 84. Heaven
85 Extra part 1
86 Extra part 2
87 Extra part 3 (Tamat)
88 Extra part 3 (Tamat)
89 COMING SOON!!!
90 Pengumuman si Abang
Episodes

Updated 90 Episodes

1
1. Become Cinderella in Seven Days
2
2. Sunrise
3
3. Prince, Coffee, and Star
4
4. Diner
5
5. Cars Free Day
6
6. Gossip
7
7. Good Morning, Kiki!
8
8. Jealousy
9
9. Birthday Party
10
10. Cinderella Syndrom
11
11. Miss You So Bad
12
12. Confession
13
13. Big Boss
14
14. I wish, I could stop the time for a while
15
15. Reallity VS Drakor
16
16. What are you doing, Boss?
17
17. Just the two of us
18
18. The girl who stole my heart
19
19. Cinderella VS Mumu Peri
20
20. The Past
21
21. Surprised!!
22
22. Takeshi Castle
23
23. Lunch time
24
24. The Most Awesome Man I Ever Know
25
25. Paradeisos
26
26. Kang Kopi
27
27. It's okay, I'm here with you
28
28. I love you, just the way you are.
29
29. Go Public
30
30. Bersua Baji dengan Matan
31
31. Paradoks
32
32. An eye for an eye
33
33. Ibu Suri
34
34. Spell
35
35. Zip Your Mouth!
36
36. Shoulder to cry on
37
37. Opportunity
38
38. I will let you go
39
39. Farewell
40
40. Randi Prasetyo
41
41. Be safe, be happy
42
42. E-World
43
43. Rapunzel
44
44. Jealous guy
45
45. Mood Booster
46
46. My Past
47
47. Homesick
48
48. I’m here for you
49
If
50
50. Puzzle Piece
51
51. SAH!
52
52. Another puzzle pieces
53
53. She’s not your kind
54
54. Just a story from the past
55
55. Ibu Peri, Ibu Suri
56
56. Debut
57
57. Deja vu
58
58. Gift
59
59. Calon menantu Mahesa
60
60. In the right place at the right time
61
61. A picture of a puzzle
62
62. Just My Imagination?
63
63. A proving
64
64. Benak hitam
65
65. Identitas Bi
66
66. The return of the nightmare
67
67. Memories
68
68. Roller coaster
69
69. Bi
70
70. After 20 years
71
71. I love you, I’m sorry
72
72. The Truth
73
73. The real truth
74
74. Stay with me
75
75. Ordinary people
76
76. Anaking jimat awaking
77
77. Family reunion
78
78. Forgiveness
79
79. Someday
80
80. Marry me!
81
81. Lelaki paripurna
82
82. One step closer
83
83. Daughter first love
84
84. Heaven
85
Extra part 1
86
Extra part 2
87
Extra part 3 (Tamat)
88
Extra part 3 (Tamat)
89
COMING SOON!!!
90
Pengumuman si Abang

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!