Fii uuu fuuu uuu...!
Sebelum Joko melangkah pergi, si wanita bertopeng daun cepat meniup seruling peraknya dengan irama yang berbeda dari sebelumnya.
Mendengar suara seruling itu, tiba-tiba Joko terdiam. Ia menyadari ada yang aneh dari suara alunan seruling itu.
“Irama merdunya mencoba mengendalikan pikiranku,” membatin Joko. Karenanya, Joko berusaha konsentrasi untuk melawan pengaruh irama seruling yang terdengar merdu tapi terasa aneh di perasaan.
Namun, sebisa mungkin Joko mencoba berkonsentrasi agar pikiran dan perasaannya tidak terpengaruh, tetap saja sepasang matanya mulai meredup sayu. Hingga akhirnya, sepasang mata Joko terpejam keduanya.
Mengetahui Joko telah terkena pengaruh irama serulingnya, si wanita bertopeng kemudian mengubah nada iramanya. Hal itu membuat Joko berbalik sendiri menghadap ke arah si wanita. Selanjutnya, Joko melangkah maju mendekati si wanita, seolah Joko bergerak atas tuntunan irama seruling. Hingga akhirnya, Joko berdiri satu langkah di depan si wanita. Joko bergerak turun berjongkok.
Si wanita menghentikan permainan serulingnya. Alunan musik tiup itu berhenti. Beberapa detik kemudian, sepasang mata Joko yang terpejam, terbuka. Joko tersadar.
“Hah!” pekik Joko terkejut.
Spontan ia mendorong tubuhnya melompat ke belakang lalu jatuh terduduk di tanah.
Wanita bertopeng kini melihat Joko terduduk dengan napas terdengar terengah-engah, seiring dadanya yang turun naik dengan cepat. Meski tidak melihat wajah atas Joko lantaran tertutup caping lebarnya, tapi wanita bertopeng bisa melihat keringat tiba-tiba muncul mengucur hingga ke dagu Joko. Joko terlihat seperti orang yang kehabisan tenaga.
Wanita bertopeng merasa heran melihat kondisi Joko. Ia sangat yakin, pengaruh serulingnya tidak akan membuat orang menjadi lemas seperti yang dialami Joko.
“Hei, apa yang terjadi denganmu, Kisanak?” tanya si wanita.
“Sudah aku katakan, aku tidak bisa, mendekatimu,” jawab Joko dengan terengah-engah.
“Aku hanya mengendalikanmu sebentar dan membuatmu mendekat kepadaku, kenapa kau sampai seperti orang yang mau mati?” tanya wanita itu.
“Biarkan aku pergi, maka aku akan mengingat perbuatan baikmu,” kata Joko yang sadar tidak sanggup menghadapi ilmu seruling si wanita bertopeng.
“Tidak, sebelum kau lepaskan topeng di wajahku. Aku tidak mau memanggil lelaki lain lagi. Apa jadinya jika lelaki yang datang nanti bukan lelaki baik,” tandas si wanita.
“Aku juga bukan lelaki baik, biarkan aku pergi,” kata Joko dengan nada suara yang mulai normal, menunjukkan kondisinya mulai berangsur pulih kembali.
“Tidak tidak tidak. Kisanak, coba kau pikirkan cara untuk bisa melepas topengku ini.”
“Mudah, gunakan kedua tanganmu,” tandas Joko.
“Sudah aku katakan, harus orang lain yang membuka topeng ini!” tegas wanita bertopeng.
“Hah!” Joko menghempaskan napas berlapang dada. Ia yang sudah pulih secara cepat, bergerak berdiri. “Baik, akan aku bantu dengan cara terakhir, karena tidak ada cara lain lagi. Tapi, setelah aku bantu bukakan, kau harus membiarkanku pergi, jangan gunakan alunan serulingmu itu untuk mempermainkanku.”
“Baik, aku akan membiarkanmu pergi.”
“Sekarang kau diam, agar aku tidak terganggu,” kata Joko.
Wanita bertopeng itu pun diam menurut.
“Empat langkah,”ucap Joko lirih menghitung jaraknya dengan si wanita.
Ia pun mengangkat tangan kanannya setinggi pinggang, mensejajarkan dengan tinggi wajah si wanita yang duduk. Joko lalu memejamkan mata dan mulai merapal untuk menciptakan imajinasi tentang sosok seorang lelaki, bukan wanita seperti yang kini ada di depannya.
“Pangeran ayam terjebak benang kusut, pangeran ayam terjebak benang kusut, keok-keok tujuh putaran, cacing tanah guling-guling,” ucap Joko merapal seraya menciptakan gambar dalam pikirannya. Kalimat yang serupa Joko ulang-ulang sehingga bayangan di kepalanya benar-benar seolah terwujud nyata.
Rapalan Joko yang berulang-ulang membuat wanita bertopeng jadi tersenyum geli, meski ia tidak tahu apa maksud dari mantera Joko itu.
Selanjutnya, Joko maju cepat dengan empat langkah terukur. Tangan kanan Joko yang sudah terarah langsung tepat menyentuh topeng daun di wajah wanita. Dengan mata tetap terpejam, Joko menarik lepas topeng dari susunan daun itu. Setelahnya, Joko melangkah mundur.
Tap!
Joko Tenang terkejut, sampai matanya yang terpejam jadi terbuka. Gerak mundurnya tertahan karena tangannya dipegang dan ditahan oleh wanita itu.
Kini Joko melihat separas wajah indah seorang wanita muda yang begitu menyegarkan tanpa pelindung topeng daun lagi. Wajah putihnya begitu cerah dengan hidung yang mancung indah setakar dengan lebar wajahnya. Sepasang alis yang agak tebal lagi panjang memberi kesan kegalakan dalam kecantikan itu.
Namun, kecantikan yang indah itu tidak menggugah perasaan Joko, karena ia dengan cepat berubah lemas, sebab tangan kanannya dipegang kuat oleh si gadis. Joko jatuh terlutut dengan wajah mengerenyit, kemudian jatuh terkulai, tergeletak di tanah. Hantaman kepala Joko ke tanah membuat capingnya lepas dari kepalanya dan membuat wajahnya tersingkap total. Si gadis yang awalnya terkejut karena jatuhnya Joko, kini berubah terperangah melihat ketampanan sang pemuda, sehingga tak terasa ia terus memegang tangan Joko.
Beberapa saat kemudian, si gadis tersadar dan buru-buru melepas tangannya dari tangan Joko. Gadis itu bergerak dari duduknya kian menghampiri Joko. Ia sudah tidak duduk terpaku.
“Kenapa kau, Kisanak?” tanya si gadis agak panik.
“Menjauhlah,” ucap Joko sangat lemah, nyaris tidak terdengar.
Gadis cantik itu terdiam sejenak, seolah sedang mencerna maksud perkataan Joko. Namun pada akhirnya, gadis itu bergerak menjauh meninggalkan posisi yang sejak tadi didudukinya.
“Dia begitu tampan,” membatin si gadis dalam hati. “Tapi apa yang sebenarnya terjadi dengannya?”
Si gadis hanya berdiri memperhatikan Joko dari jarak lima langkah. Tampak Joko berusaha bangun, tapi tenaganya begitu lemah untuk mengangkat tubuh atasnya. Si gadis bergerak mendekat ingin membantu.
“Jangan mendekat!” seru Joko cepat, tapi lemah.
Si gadis pun menahan diri.
“Biarkan aku sebentar,” kata Joko lagi dan memilih tetap berbaring, menikmati penyakit anehnya.
Menjauhnya wanita itu, membuat energi dan aliran darah Joko berproses pulih. Hingga tak berapa lama, Joko bisa bangun ke posisi duduk. Seraya menunggu tenaganya pulih semua, Joko menatap gadis cantik berpakaian putih itu.
“Sebenarnya, apa yang terjadi denganmu?” tanya wanita itu.
Joko Tenang justru menjawab dengan senyuman yang begitu memikat di mata si gadis.
“Aku menjadi lemas dan tidak bertenaga,” jawab Joko setelah diam beberapa saat.
“Aku tahu kau menjadi lemah seperti itu. Tapi, apa yang membuatmu menjadi seperti itu, padahal aku tidak menyerangmu sedikit pun?”
“Karena kau memegangku,” jawab Joko.
Agak melebar sepasang mata si gadis mendengar jawaban Joko. Ia tidak mengerti.
“Bagaimana mungkin aku membuatmu tak berdaya hanya dengan memegang tanganmu? Aku pun tidak mengerahkan tenaga dalam atau ilmu apa pun. Lelaki yang lain justru akan bergairah bila dipegang oleh gadis cantik sepertiku,” kata si gadis sedikit merasa tersinggung karena dituding sebagai penyebab pemuda bercaping di depannya menjadi sakit.
“Maaf, memang bukan salahmu,” kata Joko menanggapi dengan lemah. Ia lalu dengan berat bergerak berdiri, tapi masih sedikit membungkuk, belum bisa gagah. Lalu katanya lagi, “Ini salah penyakitku yang tidak boleh dekat-dekat dengan wanita. Sudah aku katakan bahwa aku tidak bisa, tapi kau memaksa. Sudah aku katakan untuk diam agar aku tidak terganggu, tapi kau malah memegang tanganku.”
Terdiam si gadis mendengar penjelasan Joko. Dalam hati ia mengakui telah tidak patuh dengan arahan pemuda berbibir merah itu.
“Maafkan aku jika demikian adanya,” ucap si wanita.
“Sudahlah. Dengan kau menjauh, secara tidak langsung kau membantuku untuk pulih,” kata Joko. Lalu tanyanya, “Siapa namamu?”
“Kumala Rimbayu,” jawab si gadis.
“Agar aku di kemudian hari bisa menjaga jarak bila bertemu denganmu,” kata Joko.
“Tapi, Kisanak,” kata Kumala cepat. “Karena kau telah membuka topeng daunku dan membebaskanku dari ilmu Bumi Jerat Raga guruku ....”
“Eh!” seru Joko cepat, memotong perkataan Kumala. “Karena aku sudah memenuhi permintaanmu, maka jangan cegah aku untuk pergi. Permisi.”
Joko yang sudah pulih bergerak memungut capingnya lalu ia kenakan kembali di kepala, sehingga menutupi kepala dan wajah atasnya. Selanjutnya ia berbalik dan berjalan pergi.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Anak Muda!”
Tiba-tiba satu gelombang suara keras seorang lelaki menggema keras, membuat Joko yang sudah pulih kondisinya, berhenti melangkah. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Idrus Salam
Semakin menarik... tapi seakan bertambah misteri
2024-01-30
3
Budi Efendi
mantap thorrr
2023-01-08
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
tuh guru nya datang, pasti kamu di suruh menikahi murid nya 😂😂😂
2022-11-20
1