Grayuda dan Mega Kencani dibuat terkejut dengan munculnya seseorang yang sudah berdiri menghadang mereka.
“Joko!” pekik Mega Kencani gembira saat mengenali sosok bercaping besar dan berompi merah. Namun, kesenangannya mendadak sirna setelah melihat lelaki yang menghadang itu membawa perisai logam milik Pendekar Tikus Langit.
“Kisanak, mau kau bawa ke mana kedua wanita itu?” tanya si penghadang yang tidak lain adalah Joko Tenang. Ia tidak begitu mengindahkan panggilan Mega Kencani.
“Joko! Tolong lepaskan ikatanku ini!” teriak Mega Kencani lagi.
“Tenanglah, biar aku urus dulu orang yang telah mengikatmu ini,” kata Joko.
“Tidak, dia temanku, Kakang Grayuda,” kata Mega Kencani cepat meralat.
“Jika bukan dia, lalu siapa yang mengikatmu?” tanya Joko.
“Ini perbuatan wanita bertopeng itu,” jawab Mega Kencani.
“Lalu mau kalian bawa ke mana wanita berpakaian hitam itu?” tanya Joko.
“Kami mau mengobatinya,” jawab Mega Kencani.
“Di tempat pertarungan kalian aku menemukan jejak racun yang menempel di bunga-bunga. Itu pasti milikmu, Kisanak. Jika kalian bermaksud mengobati wanita bertopeng itu, tentunya kalian tidak akan meninggalkan senjatanya begitu saja di jalan. Terlebih kau, Mega Kencani, kau adalah wanita yang tidak bisa dipercaya.”
Mendeliklah Grayuda dan Mega Kencani mendengar analisa Joko.
“Pergilah kalian dan tinggalkan tubuh wanita itu, Kisanak!” kata Joko.
“Kau pikir siapa dirimu, Orang Asing? Beraninya kau mencari urusan dengan Pangeran Pedang Air!” kecam Grayuda marah.
“Tinggalkan wanita itu atau aku rebut secara paksa!” tandas Joko.
“Tikus pengganggu memang harus cepat-cepat disingkirkan,” rutuk Grayuda lalu menjatuhkan tubuh Pendekar Tikus Langit begitu saja ke tanah berumput halus.
Alam mulai meremang. Tampaknya pertarungan kedua pemuda itu tidak bisa dicegah lagi. Mega Kencani tidak bisa mencegah pula.
“Rasakan seranganku!” teriak Grayuda sambil merangsek maju lancarkan serangan tangan dan kaki bertenaga dalam tinggi.
Namun, tanpa bergeser sedikit pun dari tempatnya berpijak, Joko mementahkan semua serangan Grayuda. Hingga beberapa saat menyerang, Grayuda memilih mundur lalu diam sejenak menatap tajam Joko Tenang.
“Rupanya dia lawan yang tangguh. Apakah jurus Belut Membelit-ku mampu membuatnya bergeser dari tempat berpijaknya,” membatin Grayuda.
Gruyuda lalu memasang kuda-kuda dengan kedua tangan terentang lemas dan bebas. Joko hanya berdiri diam di tempatnya, menunggu serangan macam apa pun.
Kejap berikutnya, Grayuda maju. Tangannya bergerak cepat gemulai tapi arah serangannya sulit diterka. Semisal tampak mengarah dada, tapi pukulannya justru berbelok ke arah wajah. Disangka mengincar lutut, tapi justru meliuk mengincar perut. Terpaksa Joko harus sedikit bergeser dari tempat berpijaknya untuk mengimbangi serangan aneh Grayuda.
Pada satu kesempatan, Joko memilih bergerak mundur dengan cepat sejauh tiga tombak. Hal itu membuat Grayuda kian senang dan semakin bersemangat memburu. Namun setelah itu, Joko Tenang justru maju mendesak dengan jurus baru yang mengejutkan lawannya.
Permainan tangan Joko terlalu cepat, sehingga sulit dibaca dan dilihat dengan jelas oleh Grayuda. Terutama jika melihat gerakan jari-jari tangan Joko yang seperti tarian tangan-tangan setan, tak terlihat utuh bentuknya. Menghadapi permainan tangan Joko yang demikian cepatnya, jurus Belut Membelit Grayuda jadi berantakan.
“Ak! Aww! Adui! Ek! Ao...!” jerit Grayuda berulang-ulang tidak karuan. Setiap jari-jari Joko menyentuhnya, terasa seperti tusukan jarum besar. Maka setiap satu sentuhan jari Joko terhadapnya, Grayuda pasti menjerit nyaring.
Pekikan-pekikan Grayuda yang terdengar genit membuat Mega Kencani tertawa merasa lucu. Sementara bagi Grayuda, itu adalah penyiksaan.
Bakk!
Hingga akhirnya, di tengah Grayuda merasakan begitu menyiksanya jurus Tarian Jari Setan Joko, kedua telapak tangan Joko kompak menghantam keras dada Grayuda hingga melukai tubuh dalamnya. Grayuda terjajar beberapa tindak.
“Keparaaat!” teriak Grayuda murka. Darah kental sudah memenuhi mulutnya.
“Kau masih aku beri kesempatan. Tinggalkan wanita berpakaian hitam itu atau kau akan mendapat luka yang lebih parah!” kata Joko Tenang.
“Simpan saja tawaranmu itu! Cuih!” teriak Grayuda lalu meludah darah ke tanah.
Grayuda memasang kuda-kuda kembali. Kali ini kedua tangannya saling mencengkeram kuat.
“Hiaaat!”
Wiusss!
Grayuda menghentakkan kedua lengannya ke depan dengan jari-jari saling menyatu. Hentakkan itu melahirkan satu sinar merah yang melesat berputar spiral.
Slep!
Joko yang telah bersiap, awalnya hendak mengadu ilmu dengan sinar merah itu. Namun, karena gerakannya yang cukup sulit dibidik, Joko akhirnya memutuskan hanya berbalik punggung menerima serangan itu. Sinar merah liar itu terserap masuk ke dalam punggung rompi pusaka Joko. Akibatnya, Joko hanya terdorong beberapa langkah ke depan tanpa membuatnya jatuh.
“Hah! Pukulan Menoreh Langit-ku tidak berguna baginya!” kejut Grayuda.
“Aku memberi penawaran terakhir kepadamu, Kisanak. Tinggalkan wanita itu!” tandas Joko.
“Persetan! Kini akan aku tunjukkan siapa sebenarnya orang yang kau hadapi ini!” teriak Grayuda sambil mencabut pedang tembus pandangnya dari pinggang.
“Keras kepala!” desis Joko sambil melesat cepat ke depan.
“Hah!” kejut Grayuda tidak berdaya.
Meskipun Grayuda sudah mencabut pedang pusaka warisan ayahnya, tapi kecepatan serangan tangan Joko membuatnya mati kutu.
Bababak! Bukh!
“Hukr!”
Tiga pukulan beruntun dalam waktu setengah detik menghajar dada Grayuda. Detik berikutnya, satu tinju keras Joko menghajar perut, membuat Grayuda terdorong naik ke udara dengan mulut menyemburkan darah kental. Lalu ia jatuh berdebam di tanah. Grayuda meringkuk menggeliat lemah kesakitan.
“Gila!” ucap Mega Kencani terpana oleh kecepatan serangan Joko.
Joko lalu melangkah meninggalkan tubuh Grayuda yang terkapar. Ia memungut perisai milik Pendekar Tikus Langit dan melangkah mendekati tubuh wanita berpakaian hitam yang belum sadarkan diri.
“Joko! Lepaskan ikatanku ini!” teriak Mega Kencani.
“Semoga nasib baik bersamamu. Aku mendapat nasihat dari Setan Genggam Jiwa agar tidak berurusan denganmu. Maaf,” ujar Joko.
“Joko, aku tidak seburuk yang diceritakan oleh Guru. Guruku hanya kesal kepadaku, sebenarnya dia tetap menyayangiku!” teriak Mega Kencani.
Sweerrs!
Presss! Blaarr!
Tiba-tiba dari ujung pedang Grayuda melesat sinar biru seperti luncuran air. Serangan membokong yang cepat, dirasakan oleh Joko, membuat pemuda bercaping itu berbalik sambil lepaskan sinar putih menyilaukan mata dari tangan kanannya. Joko melepaskan ilmu Surya Langit Jagad.
Pertemuan dua sinar pun terjadi dahsyat. Gelombang tenaga kedua kesaktian itu menyebar mematahkan beberapa dahan pohon dan membuat kulit pohon sampai mengepulkan asap tipis.
“Aaa!” pekik Mega Kencani yang ikut terdorong hingga bergulingan di tanah seperti seonggok kayu besar.
Grayuda yang terhubung langsung dengan benturan kesaktian itu terpental cukup jauh dengan jeritan memilukan, lalu jatuh terselip di antara pohon-pohon pisang.
Sementara Joko, ia masih berdiri di tempatnya. Hal itu menunjukkan begitu jauhnya perbandingan kekuatan kedua ilmu pendekar muda itu. Ilmu Surya Langit Jagad adalah ilmu terkuat yang dimiliki oleh Joko. Jika seorang pendekar tahu kehebatan ilmu itu, maka pendekar tersebut tidak akan pernah mau beradu ilmu dengan Surya Langit Jagad. Biasanya, hasilnya hanya dua, yaitu mati atau kritis.
Joko kini berdiri empat langkah dari tubuh Pendekar Tikus Langit. Ia menatap sejenak wajah cantik gadis itu.
“Ini perjuangan berat lagi, tapi tidak mengapa daripada harus berdiam tangan membiarkan murid sahabat Guru celaka,” membatin Joko.
Joko lalu konsentrasi dengan diawali menarik napas dalam-dalam. Ia mulai pejamkan mata dan otaknya menciptakan imajinasi bahwa sosok yang tergeletak di depannya itu adalah seorang lelaki berpakaian serba hitam bernama Goceng.
“Goceng pemuda genit sedang pingsan. Goceng pemuda genit sedang pingsan. Goceng pemuda genit sedang pingsan!” rapal Joko seiring imajinasinya sedang melihat Goceng terkapar pingsan.
“Joko! Tolong lepaskan aku!” teriak Mega Kencani kencang.
Namun, meski Joko mendengar teriakan Mega Kencani, tapi ia tidak mau terganggu konsentrasinya.
“Goceng pemuda genit sedang pingsan!”
Terus saja Joko merapal. Lalu bergerak cepat menghampiri tubuh Pendekar Tikus Langit, kemudian meraihnya dan memanggulnya. Selanjutnya melesat pergi meninggalkan tempat itu tanpa peduli lagi dengan nasib Mega Kencani.
Selama perjalanannya, Joko tidak henti-hentinya merapal untuk menghindari reaksi tubuhnya terhadap wanita.
Namun, setelah cukup jauh melesat dan seiring gelap telah datang, Joko berhenti. Rapalannya pun mendadak berhenti.
“Ah, aku kehilangan arah ke tempat kediaman Setan Genggam Jiwa,” membatin Joko. Sejenak Joko melirik wajah Pendekar Tikus Langit yang sangat dekat menempel di dadanya. Tiba-tiba Joko terkejut dan langsung melempar tubuh gadis pingsan itu ke tanah.
Joko buru-buru menjauh lebih dari tiga langkah. Kesadarannya yang kembali, membuat tubuhnya langsung bereaksi terhadap keberadaan wanita itu bersamanya. Wajah Joko seketika berkeringat dingin dan napasnya tersengal-sengal.
Joko lalu melakukan pemulihan kondisinya dengan cara sedikit bermeditasi.
“Bagaimana sekarang? Aku kehilangan jalan. Tidak mungkin aku meninggalkan wanita pingsan ini sendiri sebelum ia sadar,” pikir Joko.
Joko terdiam merenung agak lama.
“Biar aku bawa ke tempat yang baik untuk bermalam,” batin Joko, akhirnya ia memutuskan.
Kembali Joko berkonsentrasi dan memejamkan mata dengan otak kembali berimajinasi tentang Goceng, sosok kakak seperguruan Joko. Rapalan “Goceng pemuda genit sedang pingsan” terus ia lafazkan.8
Joko mendekati Pendekar Tikus Langit dengan mata terpejam, lalu meraih dan mengangkatnya ke bahu. Kondisi si gadis yang tidak sadarkan diri membuat Joko tidak perlu khawatir jika dirinya salah pegang. Joko kembali melesat. Dalam kondisi melesat seperti itu, Joko sudah tidak memejamkan mata lagi, tapi ia tidak berani memandang kepada apa yang dipanggulnya.
“Ada gubuk!” seru Joko senang dan langsung saja mendatangi bayangan gubuk gelap yang dilihatnya.
Buru-buru Joko menurunkan tubuh bawaannya ke balai-balai bambu yang usang. Setelahnya, Joko langsung ambil jarak.
Press!
Joko menyalakan ilmu Surya Langit Jagad di tangan kanannya, membuat suasana berubah terang menyilaukan. Dengan cahaya ilmunya, Joko bisa melihat kondisi gubuk yang sudah tidak terurus, penuh debu dan tempat laba-laba merajut sarang. Joko bergerak masuk ke dalam gubuk berlantai tanah itu. Hanya ada dua bilik. Di salah satu bilik terdapat balai-balai papan yang masih cukup baik kondisinya. Di satu sudut ada rak usang berisi beberapa helai pakaian berdebu.
Joko memadamkan sinar ilmunya. Lalu dengan tenaga panasnya ia menyalakan lampu minyak yang tergantung di tiang bambu.
Ia mengambil kain yang ada di rak, lalu menebaskannya ke balai-balai untuk membersihkan debu.
Selanjutnya, Joko kembali keluar. Di luar, ia kembali mengatur napas dan memejamkan mata.
“Goceng pemuda genit sedang pingsan!”
Joko kembali merapal berulang-ulang. Selanjutnya, ia bergerak cepat mengangkat tubuh Pendekar Tikus Langit dan buru-buru membawanya masuk. Setibanya di dalam, tubuh gadis itu diletakkan begitu saja di balai-balai. Joko buru-buru berjalan ke luar.
“Fuuu!”
Joko mengeluarkan napas panjang kelegaan. Ia menyentuh dadanya, mendengarkan irama jantung yang berdetak kencang.
“Setidaknya malam ini aku bisa tidur nyenyak,” ucap Joko pelan.
Ia kemudian bekerja mengumpulkan kayu-kayu kering untuk membuat api unggun.
Tanpa sepengetahuan Joko, di dalam gubuk terjadi perubahan terhadap Pendekar Tikus Langit yang tidak sadarkan diri.
Kepala si gadis bergerak lemah. Namun kemudian, gerakan tubuhnya seperti orang yang sedang dilanda mimpi buruk tanpa sadarkan diri. Tangannya bergerak-gerak mengusap-usap papan balai, lalu beralih mengusap-usap tubuhnya sendiri, sesekali meremas. Semakin lama semakin tidak karuan. Dadanya turun naik dengan napas memburu.
Dengan mata yang tertutup dan tanpa sadar, Pendekar Tikus Langit melepas pakaiannya sendiri dengan cara yang liar.
Apa yang dialami oleh Pendekar Tikus Langit adalah wujud pengaruh dari Racun Kembang Nafsu milik Grayuda yang mulai bekerja.
Orang yang terkena Racun Kembang Nafsu akan mengalami kondisi tidak sadarkan diri. Dalam ketidaksadaran itu, orang tersebut akan dibakar nafsu birahi yang tinggi. Pengaruh racun akan lenyap jika korban telah melalui masa pelampiasan nafsu birahinya.
Joko Tenang yang tidak pernah menengok lagi kondisi Pendekar Tikus Langit, tidak tahu apa yang terjadi di dalam. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Budi Efendi
lanjutkan thorrr
2023-01-07
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
kalau sekarang itu obat perangsang ya bang Rudi 🤭🤭🤭
2022-11-11
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣, baru sadar yang di gendong perempuan wkwkwk
2022-11-11
1