Pemuda tampan ini asik duduk bertengger di dahan besar bernaung rindangnya dedaunan pohon dari sengatan sang surya. Ketampanannya yang level tinggi membuatnya seolah tidak pantas berada di atas pohon. Uniknya, pemuda setampan dewa itu memiliki bibir yang merah alami, seolah merah bergincu. Jika wajah tampan tanpa noda jerawat itu ditatap lamat-lamat, bisa-bisa akan bingung menyebutnya yang pantas, tampan atau cantik. “Kecantikan” itu justru di perkuat oleh gaya rambut gondrongnya yang lurus terurai. Namun, sebutan “cantik” tetap tidak pantas jika melihat perawakan tubuhnya yang tegap dan gagah. Meski tubuhnya berbaju biru yang dilapisi rompi merah bagus, tapi tidak bisa menutupi dadanya yang agak terbuka menunjukkan kebidangannya. Baju birunya yang agak ketat membuat otot kedua lengannya jelas tergambar bergelombang keras. Ia mengipasi wajah tampannya itu dengan caping besar dari anyaman bambu yang diwarnai cat merah.
Namun, keasikan si pemuda agak terusik oleh suara percakapan dua orang manusia. Didengar dari jenis suaranya, kedua orang itu adalah seorang pria dan wanita. Tak berapa lama, kedua orang yang berbincang itu sudah terlihat oleh pemuda di atas pohon. Keduanya berjalan dan akan lewat di bawah pohon besar itu. Keduanya terdiri dari seorang pemuda dan seorang wanita muda pula.
Si pemuda mengenakan baju merah bercelana hitam. Wajahnya tampan dengan rambut gondrong yang sebagian diikat memakai pita putih panjang. Sabuk di pinggangnya terbuat dari bahan aneh yang transparan. Di pinggang kirinya ada sebuah pedang pendek yang nyaman di warangka birunya yang berukir indah.
Sementara wanita yang berjalan di sebelahnya berusia lebih mudah dengan kecantikan yang pasti akan memukau lelaki mata jelalatan. Wajahnya halus, serasi dengan tangannya yang juga putih halus, seolah tidak pantas membawa pedang yang kini dipegangnya. Rambutnya dikepang sebagian dan sebagian lainnya dibiarkan terurai. Gadis bertubuh langsing itu mengenakan pakaian serba putih mirip gaun.
“Sudah cukup jauh kita berjalan, Kang. Lebih baik kita berteduh sejenak di bawah pohon itu. Kediaman Ranggasewa sudah tidak begitu jauh lagi,” kata gadis cantik sambil menunjuk bawah pohon di depan mereka.
“Baiklah,” kata si pemuda setuju.
Keduanya pun singgah di bawah pohon besar yang memang adalah terbesar dari pohon lainnya di area itu. Mereka duduk di akar besarnya. Terik siang itu memang membuat bayangan pohon menjadi tempat yang demikian nyaman untuk beristirahat, terlebih di sisi utara jalan itu adalah tanah rendah yang curam, membuat angin bebas menerpa ke area berpohon tempat mereka berteduh.
“Kembang, bagaimana hubunganmu dengan Dirgajaya?” tanya si pemuda tanpa memandang wajah si gadis, khawatir pertanyaannya terlalu bersifat pribadi.
“Tidak ada kemajuan, Kang,” jawab si gadis seraya tersenyum, membuat lesung di pipinya muncul yang kian memperayu parasnya.
“Kenapa tidak ada kemajuan?” tanya si pemuda seraya memandang serius kepada wajah gadis yang tadi ia sebut dengan nama Kembang.
“Bagaimana mau ada kemajuan jika ia lebih menuruti larangan orangtuanya. Kakang Hujabayat bisa pikir sendiri, orang berdarah biru mana yang rela anaknya berhubungan intim dengan orang misterius yang tidak jelas siapa ibu dan ayahnya,” kata gadis yang bernama lengkap Kembang Buangi itu.
“Jadi Demang Rubagaya bukan ayahmu?” tanya pemuda yang tadi disebut bernama Hujabayat.
“Demang Rubagaya hanya ayah angkatku, itupun atas permintaan istrinya. Istrinya kasihan melihatku semasa bayi terbuang begitu saja di jalanan. Karena takut istrinya membencinya, Demang Rubagaya memungutku dan kemudian membuangku kembali setelah aku dirawat beberapa bulan. Semuanya aku tahu dari istri Demang Rubagaya sendiri.”
“Apakah gurumu juga tidak tahu siapa orangtuamu?”
“Tidak. Nama Kembang Buangi diberikan karena aku adalah anak yang dibuang tapi terlihat cantik,” kata Kembang Buangi lalu tertawa kecil, membuat Hujabayat juga turut tersenyum. “Tapi aku akan tetap berusaha mencari siapa orangtuaku sesuai petunjuk orang sakti yang pernah aku temui....”
“Siapa?” tanya Hujabayat memotong.
“Aku tidak tahu namanya, tapi dia tahu namaku, tahu sejarahku di masa lalu. Orang tua itu seakan-akan tahu semua hal, kecuali masa depan. Tapi untuk mengetahui apa yang akan terjadi kemudian, dia tahu tempat mencari petunjuknya,” jawab Kembang.
“Aku tidak pernah mendengar ada tokoh yang bisa mengetahui banyak hal yang ada pada diri seseorang begitu saja,” kata Hujabayat.
“Orang tua itu mengatakan, orang yang bernama Bugujula tahu banyak tentang kedua orangtuaku. Andai saja orang tua itu tidak cepat pergi, mungkin ia bisa langsung menyebut nama ibu ayahku. Mungkin Ranggasewa tahu siapa tokoh tua itu,” kata Kembang.
“Namanya Malaikat Serba Tahu!” kata satu suara lain yang tiba-tiba mencampuri obrolan muda-mudi itu.
Kalimat dari suara orang lain itu mengejutkan Hujabayat dan Kembang Buangi, sebab ternyata keberduaan mereka tidak sendiri. Keduanya cepat mendongak melihat ke atas pohon, karena jelas suara itu datang dari sisi atas mereka. Keduanya pun melihat keberadaan seorang pemuda yang sedang duduk santai dengan wajah yang tertutupi oleh besarnya caping.
“Siapa kau, Kisanak? Turunlah!” seru Hujabayat yang sudah berdiri bersama Kembang Buangi.
“Silakan lanjutkan obrolan kalian. Aku tetap di sini, anggap saja aku tidak ada,” kata pemuda di atas pohon. Caping besarnya hanya membuat dagu dan bibir merahnya yang tampak dari bawah.
“Kisanak, turunlah! Aku ada perlu denganmu!” kata Kembang Buangi pula. Lalu ia bertanya setengah berbisik kepada Hujabayat, “Orang itu lelaki atau perempuan?”
Meski berbisik, tapi pertanyaan itu sampai dengan jelas ke telinga pemuda di atas pohon.
“Aku lelaki perkasa!” sahut pemuda di atas pohon sebelum Hujabayat menjawab.
“Hihihi!” tertawalah Kembang Buangi mendengar kata “lelaki perkasa”. “Lelaki perkasa pesolek? Hihihi!”
Hujabayat yang juga bisa melihat bahwa pemuda di atas pohon berbibir merah, turut tertawa kecil.
“Kalian melecehkanku,” kata pemuda di atas pohon.
“Tidak, kami tidak bermaksud melecehkanmu,” kata Kembang Buangi, tapi masih tersenyum-senyum merasa lucu. “Maafkan kami. Tapi, turunlah!”
“Jika ada perlu, katakan saja,” kata pemuda bercaping.
“Jika begitu, aku yang naik!” kata Kembang Buangi lalu dengan ringannya melompat naik ke atas pohon. Dua kali tolakan, Kembang Buangi sudah berdiri di dekat pemuda bercaping.
“Wah!” pekik tertahan pemuda bercaping terkejut, ia tidak menyangka jika gadis di bawahnya itu benar-benar naik kepadanya.
Keterkejutan si pemuda membuat dirinya refleks bergerak menjauh, tapi menjauhnya justru ke tempat tanpa dahan. Akibatnya, tubuh pemuda itu jatuh meluncur ke bawah. Meski jatuhnya tidak teratur, tapi pemuda bercaping itu bisa mendarat di tanah dengan baik dan ringan tanpa suara. Hujabayat yang memperhatikan, dapat melihat bahwa tidak ada rumput yang bergerak, kecuali rumput yang terinjak oleh kaki si pemuda bercaping.
“Orang ini kesaktiannya tinggi juga,” membatin Hujabayat.
Kini Hujabayat dan pemuda bercaping saling berhadapan. Hujabayat tidak bisa melihat seluruh wajah pemuda bercaping, yang terlihat jelas hanyalah bibir dan dagunya. Dari jarak sedekat itu, barulah Hujabayat tahu bahwa merah bibir pemuda bercaping adalah alami, bukan polesan gincu.
Kembang Buangi kembali turun dan mendarat dua langkah di depan pemuda bercaping. Posisi si gadis membuat pemuda berompi merah langsung melompat mundur menjauh. Hal itu membuat Hujabayat dan Kembang Buangi merasa heran, tapi itu tidak lama mereka pikirkan.
“Hei, apakah kau maling sehingga melindungi wajahmu? Atau kau adalah buruan?” tanya Kembang Buangi.
“Aku hanya kepanasan,” kilah pemuda bercaping.
“Rupanya bibirmu merah alami ya, aku kira kau pesolek. Hihihi!” kata Kembang Buangi lalu tertawa lagi.
“Kisanak, siapa kau adanya?” tanya Hujabayat.
“Maaf, aku mengganggu kalian. Aku permisi,” kata pemuda itu lalu berbalik berlari kecil.
Hujabayat ternyata tidak ikhlas jika pemuda bercaping itu pergi, karenanya ia cepat melompat dan berlari di udara, lalu mendarat menghadang di depan si pemuda. Pemuda bercaping terpaksa berhenti lalu cepat berbalik. Namun, ternyata Kembang Buangi sudah bergerak dan mendarat satu jangkauan darinya.
“Aku masih punya urusan denganmu,” kata Kembang Buangi.
Berbeda ketika dihadang oleh Hujabayat, kedatangan Kembang Buangi justru membuat pemuda bercaping itu seolah panik, itu terlihat dari bahasa tubuhnya yang tidak tenang ketika didekati Kembang Buangi. Dengan gerakan terburu-buru, pemuda bercaping melesat ke samping menjauh.
Kembang Buangi sedikit mengerahkan ilmu peringan tubuhnya untuk memburu pemuda bercaping. Tubuhnya melesat lebih cepat memburu lesatan tubuh si pemuda. Si pemuda terkejut, karena Kembang Buangi sudah melesat di depannya, terlebih tangan kiri Kembang Buangi bergerak cepat berusaha merampas caping di kepalanya. Namun, dengan gerakan lihai, pemuda bercaping meliuk-liukkan kepalanya menghindari serangan tangan Kembang. Ketika keduanya sudah mendarat di bumi, Kembang masih berusaha merampas caping di kepala si pemuda, tapi yang diserang kembali cepat melompat menjauh. Kembang Buangi tidak memburu lagi.
“Kenapa kalian mencoba menahanku?” tanya pemuda bercaping setelah merapikan posisi capingnya.
“Kami hanya ingin bertanya kepadamu, tidak susah, kan?” kata Kembang Buangi sambil melangkah mendekat ke arah pemuda bercaping.
Pemuda bercaping turut melangkah mundur ketika jarak Kembang Buangi semakin dekat. Tindakan pemuda bercaping membuat gadis ayu itu berhenti dengan menatap curiga. Pemuda bercaping pun turut berhenti. Selanjutnya Kembang Buangi mendekat lagi beberapa langkah, pemuda bercaping pun mundur menjauh pula beberapa langkah. Lalu Kembang Buangi melakukan gerakan maju beberapa langkah lalu berhenti, kemudian maju lagi beberapa langkah dan berhenti kembali. Ternyata gerakan itu diiringi oleh gerakan pemuda yang mundur beberapa langkah lalu turut berhenti, kemudian mundur lagi beberapa langkah lalu berhenti lagi.
Melihat gerakan Kembang Buangi dan pemuda bercaping yang seperti sedang bermain langkah, membuat Hujabayat tersenyum lebar. Sementara Kembang Buangi menahan tawanya.
Kembang Buangi menatap semakin curiga kepada pemuda bercaping. Hingga akhirnya, Kembang Buangi berlari tiba-tiba hendak menubruk tubuh pemuda bercaping. Pemuda bercaping sontak pula melesat mundur menjauh.
“Hahaha!”
Meledaklah tawa Kembang Buangi dan Hujabayat.
Ditertawai seperti itu, pemuda bercaping hanya mencibirkan bibirnya. Ia mengerti apa yang kedua orang itu tertawakan dari dirinya.
“Sudah, berhentilah tertawa,” kata pemuda bercaping. “Jika ada perlu, lekas katakan.”
“Kisanak, apakah kau melihat teman cantikku ini seperti hantu dari alam kuburan?” tanya Hujabayat yang masih tersisa tawanya.
“Aku tidak takut terhadap teman wanitamu yang secantik hantu laut itu, aku hanya tidak mau dekat dengannya. Jika tidak ada hal lagi, aku lebih baik pergi,” kata pemuda bercaping.
“Baik, kami tidak akan mempermasalahkan tingkah anehmu itu. Aku hanya ingin menanyakan keberadaan orang tua yang kau sebut Malaikat Serba Tahu itu,” ujar Kembang Buangi.
“Aku hanya pernah mendengar tentangnya dari cerita guruku. Aku pun tidak tahu keberadaannya dan aku pun belum pernah bertemu dengannya,” jawab pemuda bercaping.
“Huh, percuma saja,” gerutuh Kembang Buangi.
“Jika demikian aku boleh pergi,” kata pemuda bercaping sambil melangkah hendak pergi.
“Tunggu, Kisanak!” seru Hujabayat sambil berjalan mendekati pemuda bercaping. “Kau belum menjawab pertanyaanku.”
“Apakah kau akan memasukkan namaku ke kumpulan orang hitam? Namaku....” Pemuda bercaping memutuskan kata-katanya. Dia berpikir, “Jika aku memberi tahu namaku, pasti mereka menertawakanku lagi.”
“Hei, begitu mahalnya namamu, Kisanak!” sahut Kembang Buangi.
“Namaku Gimba,” jawab pemuda bercaping itu akhirnya.
“Julukanmu?” tanya Kembang Buangi.
“Maaf, tidak ada julukan. Permisi,” kata pemuda bercaping lalu melangkah pergi.
Kali ini Hujabayat dan Kembang Buangi membiarkan pemuda bercaping yang mengaku bernama Gimba itu pergi.
“Ayo kita lanjutkan perjalanan, Kakang,” ajak Kembang Buangi.
“Dia pemuda yang menarik,” kata Hujabayat sambil melangkah mengikuti si gadis. “Kemampuan Gimba saat mendarat tanpa menggerakkan sebatang rumput pun dan mampu mementahkan usahamu untuk merebut capingnya, menandakan ilmunya tidak rendah.”
“Aku juga memperhatikannya,” kata Kembang Buangi. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
delete account
aduh suara nya 🤣 tapi merinding tak ta?
2024-05-21
1
Deki Marsoni
rubacara, rubalaku, rubaarah 😂😅😅🤣 rubaposisi😅😆😁 otak gue lg mikir yg.... 🤭
2024-04-23
2
Idrus Salam
Menarik
2024-01-26
1