“Ranggasewa! Keluar kau!”
Lamunan Ginari seketika buyar oleh satu teriakan dari luar gubuk. Teriakan yang memanggil nama gurunya itu terdengar kasar dan tidak bersahabat. Ginari segera bangkit. Sambil bergerak ke luar ia menutup wajahnya dengan kain hitam, sehingga hanya matanya saja yang tampak.
Setibanya di teras, Ginari mendapati empat orang yang sudah dikenalnya berdiri di depan gubuk.
“Bagus, rupanya Pendekar Tikus Langit yang langsung keluar,” kata lelaki berwajah bopeng. Ia adalah Iblis Kaki Katak.
“Apa mau kalian?” tanya Ginari mencoba lebih tenang, meski ia sadar bahwa kondisi itu tidak baik baginya.
“Jelaskan, Gajahlani!” perintah nenek bertubuh kecil yang membawa satu tongkat besar. Ia adalah Nenek Kerdil Raga.
Lelaki bertubuh besar, tinggi dan hitam legam warna kulitnya, maju ke depan dengan langkah berlenggak pinggul seperti seorang wanita.
Setelah mengibas lengan kanannya dengan gemulai di samping kepala, mulailah orang yang bernama Gajahlani itu berkata dengan suara yang mendayu-dayu, “Begini, Sayang. Kami datang karena telah dibayar oleh Ki Demang untuk membawa pulang Mega Kencani dan Pendekar Tikus Langit hidup atau mati. Kau mengerti, Sayang, hihihi?”
“Kalian datang tepat waktu di saat guruku tidak ada di sini,” kata Pendekar Tikus Langit.
“Ya, itu memang lebih baik, bisa menghemat tenaga. Namun, aku malas bertarung jika lawannya hanya satu,” kata lelaki tua berjubah merah. Usianya di atas 60 tahun. Rambutnya terurai. Ia membawa sebuah bambu kecil sepanjang satu hasta. Ia bernama Ugakikak yang dijuluki Pengasap Mayat.
Dari sisi lain.
“Setan Genggam Jiwa, apakah kau ada di dalam? Apakah ini gubukmu yang kemarin?!” teriak seseorang dari sisi belakang gubuk.
Dari sisi belakang gubuk muncul berjalan seorang pemuda bercaping lebar dan berbibir merah laksana bergincu. Pemuda itu tidak lain adalah Joko Tenang yang mengenakan caping baru. Semua mata tertuju kepada kedatangan Joko.
Kemunculan Joko Tenang jelas membakar kembali beraneka ragam kemarahan di dalam dada Ginari. Namun, kondisi yang tercipta sekarang harus memaksanya menahan amarah itu sekuat-kuatnya. Ia lebih mengutamakan untuk berurusan dengan keempat tamunya. Ia harus mengatasi keempat tokoh sakti itu atau dia yang diatasi oleh mereka. Ia terpaksa harus mengendalikan sikapnya kepada Joko.
“Oh, rupanya aku tidak salah mendatangi gubuk ini,” kata Joko seraya tersenyum saat bertemu pandang dengan Ginari.
Senyuman manis Joko yang justru dianggap mengejek itu, membuat Ginari menggeram bukan main, tapi hanya di dalam hati saja.
“Mau apa kau ke mari, Lelaki Cabul?!” tanya Ginari cukup galak.
“Hahaha, kau suka bercanda juga, Nisanak. Namaku bukan Lelaki Cabul, tapi Joko Tenang,” kata Joko yang didahului tawa kecil yang enak didengar, tapi muak bagi telinga Ginari. “Aku lupa menyampaikan satu pesan kepada gurumu. Apakah gurumu ada?”
“Dia pergi menemui gurumu untuk menyelesaikan masalah kejahatanmu terhadapku!” ketus Ginari.
“Masalah karena aku membuatmu tidak berdaya? Ya ya ya, aku dapat memahaminya. Jika demikian, aku tidak perlu menitipkan pesan tersebut kepadamu untuk disampaikan kepada gurumu. Jika demikian, aku pamit pergi.”
“Seenaknya kau mau pergi!” teriak Ginari yang membuat Joko menahan langkahnya. “Kau harus menungguku mengatasi orang-orang ini, barulah giliranmu membayar perbuatan kotormu tadi malam!”
“Perbuatan kotor yang mana kau maksud, Nisanak?” tanya Joko masih tidak mengerti.
“Jangan sebut dirimu sebagai seorang pendekar jika kau mau lari dari tanggung jawab!” tandas Ginari.
“Baik, aku menunggu,” kata Joko akhirnya, memilih mengalah.
“Pendekar itu kemungkinan besar akan membantu murid Setan Genggam Jiwa,” kata Iblis Kaki Katak agak berbisik kepada Pengasap Mayat.
“Apa yang kau takutkan dari pemuda berbibir merah itu? Ia tidak terlihat berbahaya,” kata Pengasap Mayat.
“Aku sudah pernah bentrok sepintas dengannya dan merasakan ketinggian tenaga dalamnya,” kata Iblis Kaki Katak.
“Wahai, para tetua! Kalian tinggal pilih, cara satu-satu, atau mengeroyok?” tantang Ginari.
“Untuk menghadapimu, tidak perlu beramai-ramai, Tikus Langit. Cukup aku saja,” kata Iblis Kaki Katak seraya maju tiga langkah dengan kaki katak raksasa yang berwarna hijau.
“Baik. Terima seranganku!” seru Ginari lalu melesat terbang. Ia mengarahkan pukulan bertenaga dalam tinggi jarak jauh kepada pria berwajah menyeramkan itu.
Iblis Kaki Katak langsug menyambut pula dengan pukulan jarak jauhnya. Ginari yang lihai di udara bisa bergerak mengelaki pukulan lawannya, sementara pukulannya tetap menyasar ke dada Iblis Kaki Katak.
Bak bak!
Iblis Kaki Katak sebenarnya bisa mengelaki serangan Ginari, tapi ia membiarkan dadanya dihantam oleh pukulan yang bisa menghancurkan bongkahan batu besar itu.
“Hah!” kejut Ginari, karena ia merasakan tenaga pukulannya yang mengenai sasaran justru memantul balik kepadanya.
Bak!
Akibatnya, serangan Ginari makan tuan. Ia terlempar balik ke belakang. Namun, ia masih bisa mendarat dengan baik di bumi.
“Hahaha! Bagaimana dengan permulaan ini?” tanya Iblis Kaki Katak langsung jumawa.
“Itu tidak ada apa-apanya, Kaki Katak!” tandas Ginari tidak kalah sombong.
Sementara Nenek Kerdil Raga, Gajahlani dan Pengasap Mayat menjadi penonton di pinggiran. Joko pun mengamati seraya duduk di teras gubuk.
“Kini giliranku menyerang!” kata Iblis Kaki Katak lalu melesat maju mendapati Ginari.
Iblis Kaki Katak bermain kaki. Bentuk kaki yang tidak normal sudah memberi kesan yang mengerikan, terlebih kecepatan dan hawa mautnya dapat dirasakan oleh Ginari. Gadis bertopeng hitam itu tidak berani menangkis serangan kaki berwarna hijau itu. Sambaran angin tendangan Iblis Kaki Katak terasa panas menyengat. Namun, Ginari sangat gesit mengelaki agresi kaki aneh itu.
Setelah mempelajari serangan Iblis Kaki Katak, akhirnya Ginari melakukan perlawanan. Ia memilih banyak bermain di udara, sehingga kaki lawannya tidak banyak menyerangnya. Iblis Kaki Katak terpaksa lebih banyak memakai jasa ilmu Lontar Daya-nya.
Ilmu Lontar Daya Iblis Kaki Katak mulai tidak berguna ketika Ginari mengerahkan jurus Tinju Menembus Gunung. Kekuatan jurus itu ternyata tidak bisa dipantulkan oleh ilmu Lontar Daya.
Bukh!
“Hugk!”
Ketika tinju dari jurus Tinju Menembus Gunung datang untuk pertama kali, Iblis Kaki Katak tetap membiarkan tubuhnya dihantam. Namun, Iblis Kaki Katak harus kecewa, tenaga besar pukulan itu ternyata gagal dibalikkan kepada pemiliknya. Perut Iblis Kaki Katak yang jadi sasaran dihantam keras, membuat orang tua itu terdorong keras ke belakang hingga jatuh terduduk.
Mulut Iblis Kaki Katak mengeluarkan rembesan darah kental. Ia meringis kesakitan seraya pegangi perutnya.
Bdarr!
Tubuh Ginari melesat terbang di udara seraya lepaskan pukulan jarak jauh. Tidak mau terulang seperti tadi, Iblis Kaki Katak memilih cepat berguling ke samping. Seiring itu, tanah yang ia tinggalkan meledak menciptakan lubang yang cukup untuk mengubur kepala kerbau.
Namun, Ginari telah datang ke arahnya melalui udara. Buru-buru Iblis Kaki Katak menghentakkan kaki kanannya ke arah kedatangan Ginari. Iblis Kaki Katak hanya bisa mendelik saat melihat Ginari bisa mencelat ke atas menghindar, padahal kakinya tidak punya tolakan untuk meluncur.
Btaar!
Akibat elakan Ginari, sedahan di pohon yang tinggi hancur lalu sisanya jatuh.
“Aww!” jerit Gajahlani genit terkejut, karena dahan itu jatuh di sisinya.
Wuub!
Di puncak lejitannya di udara, Ginari melepaskan Tinju Menembus Gunung dari jarak jauh. Iblis Kaki Katak yang belum sempat bangun, buru-buru langsung melompat seperti katak.
Jguarr!
Tanah yang ditinggalkan Kaki Katak meledak hebat sekaligus mementalkan tubuhnya sejauh beberapa tombak.
“Hoekh!”
Iblis Kaki Katak muntah darah, tapi ia segera bangun duduk.
Lagi-lagi Ginari terbang di udara sambil hentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka.
Wuss!
Serangkum angin pukulan bertenaga dalam tinggi menderu keras ke arah Kaki Katak yang masih terduduk.
Weszz! Buludarr!
Iblis Kaki Katak cepat menghentakkan kaki kanannya ke arah datangnya angin menderu. Sinar hijau berbentuk kaki katak melesat cepat menghantam inti tenaga angin pukulan tersebut. Pertemuan dua tenaga tinggi itu menimbulkan ledakan tenaga yang hebat.
Tubuh Iblis Kaki Katak kembali terpental lalu jatuh berdebam dengan luka dalam yang kian parah. Ginari pun terlempar keras di udara lalu jatuh menjebol atap gubuknya.
Sebentar kemudian, Ginari muncul dari dalam gubuk dengan sedikit terhuyung. Tampak kain penutup wajahnya pada bagian mulut basah oleh cairan yang kian memperhitam warna kainnya.
Sett!
“Kau tidak apa-apa, Nisanak?” tanya Joko sambil melesatkan tiga kerikil kecil yang sejak tadi dimainkan di tangannya.
Tretak!
Ketiga batu kecil itu menghadang lesatan jarum-jarum yang dilesatkan oleh Iblis Kaki Katak dari lokasi terlukanya.
Ginari cukup terkejut melihat jatuhnya tiga batu kecil yang berubah jadi serbuk putih. Bersamanya juga jatuh tiga batang jarum berwarna putih yang nyaris tidak terlihat mata. Sejenak Ginari memandang Joko yang justru memandang ke arah Iblis Kaki katak yang tidak sanggup lagi bangkit berdiri.
“Sepertinya kau tidak akan sanggup lagi menghadapi mereka seorang diri, Nisanak,” kata Joko kepada Ginari.
“Biar pun aku mati, aku sedikit pun tidak membutuhkan bantuanmu!” ketus Ginari. “Aku lebih baik mati di tangan mereka sebagai seorang pendekar, daripada harus mati di dalam kehidupanmu. Aku tidak pernah bermimpi untuk hidup bersamamu!”
“Aku juga tidak pernah bermimpi hidup bersama gadis kasar sepertimu!” balas Joko.
“Rasakan ini!” gusar Ginari lalu melepaskan satu pukulan jarak jauh kepada Joko.
Namun, Joko dengan mudah menghindari serangan itu.
“Jangan terlalu banyak membuang tenaga dalam kondisi terluka seperti itu,” kata Joko menasihati.
“Tikus Langit, kau memilih dibawa secara hidup atau mati?” tanya Nenek Kerdil Raga.
“Percuma julukanku seorang pendekar jika harus menyerah!” seru Ginari kepada Nenek Kerdil Raga.
“Jika demikian, kita lihat, sejauh mana kau bisa bertahan dalam kondisi terluka seperti itu,” kata Nenek Kerdil Raga lalu besiap untuk bertarung.
“Apa kau perlu aku bantu, Nisanak?” tanya Joko lagi menawarkan jasa.
“Aku tidak perlu bantuanmu, Keparat!” teriak Ginari sangat kesal, tapi tidak terlihat dari ekspresinya yang tertutup.
“Baik ... baik ...,” ucap Joko.
Dengan membawa rasa kesal terhadap Joko, Ginari melesat menerjang Nenek Kerdil Raga.
Nenek Kerdil mengibaskan tongkat besarnya hendak menghajar kaki Pendekar Tikus Langit yang datang kepadanya. Di dalam lesatan tubuhnya yang cepat, Ginari dapat mempermainkan kedua kakinya, sehingga terhindar dari kibasan tongkat si nenek dan justru lutut yang mengarah ke dada Nenek Kerdil. Hal itu tidak dapat dielakkan.
Daks!
“Akh!”
Hantaman lutut Ginari ke dada si nenek menimbulkan percikan sinar kuning, membuat Ginari menjerit sakit seiring tubuhnya terpental ke belakang dan jatuh terjengkang di tanah. Sementara Nenek Kerdil kokoh berdiri di posisinya.
“Apa perlu aku bantu, Nisanak?!” tanya Joko setengah berteriak kepada Ginari.
“Tidak!” jawab Ginari berteriak. Ia kian kesal. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Idrus Salam
Kendalikan dirimu nduk...
2024-01-30
1
Budi Efendi
lanjutan
2023-01-08
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
hebat jg Ginari, itu nanti jadi istri nya si Joko ya Thor🤔
2022-11-16
1