Tampak Mega Kencani kerepotan menghadapi Pendekar Tikus Langit yang berusaha menangkapnya. Mega Kencani mati-matian melawan demi tidak mau dibawa oleh mantan kakak seperguruannya itu.
Clap!
Tiba-tiba Pendekar Tikus Langit yang bernama asli Ginari itu menghilang begitu saja. Sosoknya tidak terlihat. Mega Kencani pun mencari-cari dengan perasaan takut.
“Lebih baik aku lari,” pikir Mega Kencani lalu ayunkan kaki untuk pergi secepatnya.
Slap! Bak!
“Hugk!” keluh Mega Kencani saat tiba-tiba Pendekar Tikus Langit muncul begitu saja di depannya dan langsug menendang perut dengan sangat keras.
Mega Kencani terdorong jatuh sambil pegangi perutnya dan meringis kesakitan.
Sets!
Pendekar Tikus Langit melesatkan serangkai sinar biru berbentuk jala kecil yang kemudian membelit tubuh Mega Kencani hingga membuatnya tidak berdaya.
“Sudah waktunya kau dibawa untuk mendapat hukuman. Jika kau lelaki, sudah aku bunuh kau sekarang juga tanpa harus aku bawa ke depan Guru, Kencani!” kata Pendekar Tikus Langit bernada marah.
“Apakah kau tidak kasihan kepadaku jika aku sampai dihukum oleh Guru?” kata Mega Kencani memelas.
“Kata-katamu sudah tidak bisa dipercaya. Gara-gara ulahmu, Guru nyaris berurusan dengan orang-orang yang tidak ada benarnya!” kecam Pendekar Tikus Langit. Ia lalu memaksa Mega Kencani berdiri dan menariknya agar berjalan dalam kondisi terbelenggu oleh jala sinar biru.
Sest! Blarr!
Tiba-tiba dari samping kanan melesat satu larik sinar merah yang cepat dielakkan oleh Pendekar Tikus Langit. Akibatnya, sinar itu meledakkan sebatang pohon kecil.
Wuss!
Pendekar Tikus Langit cepat melepaskan pukulan jarak jauh ke atas sebuah pohon.
Bdar!
Bersama meledaknya satu dahan pohon, dari atas pohon itu pula berkelebat turun sesosok tubuh berpakaian ungu. Sosok tubuh itu langsung menyerang Pendekar Tikus Langit dengan pukulan-pukulan bertenaga dalam tinggi. Pendekar Tikus Langit cepat pula menangkis semua serangan itu dengan tangkisan tangan yang bertenaga dalam seimbang pula.
Wut!
Pada satu ketika, Pendekar Tikus Langit mengibaskan perisai besinya. Serangan berbahaya itu cepat dihindari oleh lawan dengan melompat mundur sejauh 20 langkah. Sosok berpakaian ungu yang merupakan seorang pemuda itu, langsung menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka.
Bak!
“Uhg!” keluh pemuda berpakaian ungu seraya tubuhnya terjajar beberapa tindak, ketika pukulan jarak jauhnya dihalau oleh perisai besi Pendekar Tikus Langit.
“Kau jangan membuat urusan denganku!” hardik Pendekar Tikus Langit.
“Kakang Grayuda! Tolong lepaskan aku!” teriak Mega Kencani cepat, setelah mengenali siapa penyerang itu adanya.
Pemuda berpakaian ungu memiliki paras nan tampan dengan rambut gondrong diikat sederhana memakai pita kuning. Di pinggang kirinya tergantung sebuah pedang tanpa warangka. Uniknya, pedang tipis itu tembus pandang, sepertinya tidak terbuat dari unsur logam. Ketampanan pemuda itu memiliki kekhasan pada model mata yang sayu. Ia bernama Grayuda yang juga dikenal dengan nama Pangeran Pedang Air.
“Aku hanya memerlukan Mega Kencani,” kata Grayuda.
“Itu berarti kau mencari urusan. Jika kau berani menyentuh wanita binal itu, maka bersiaplah terluka olehku!” ancam Pendekar Tikus Langit.
“Hahaha!” Grayuda malah tertawa pendek. Lalu katanya, “Aku sudah mendengar tentang ketinggian ilmumu, Tikus Langit. Itu membuatku tertarik untuk menjajalnya.”
“Jangan kira pedang warisan ayahmu itu bisa membunuh keberanianku!” tandas Pendekar Tikus Langit.
“Aku juga jadi penasaran ingin mengungkap wajah di balik topeng itu, hahaha!”
“Tak perlu banyak bicara!” seru Pendekar Tikus Langit sambil melesat cepat ke depan lancarkan tendangan bergantian kedua kakinya.
Sambil bergerak mundur dengan langkah cepat, Grayuda menangkis semua tendangan berbahaya Pendekar Tikus Langit. Selanjutnya, serangan Pendekar Tikus Langit berganti serangan tangan kiri saja, sementara tangan kanan memegang perisai. Meski hanya menghadapi serangan tangan kiri, tapi kecepatan dan kekuatannya cukup membuat si pemuda kelabakan.
Merasa terdesak, Grayuda memilih melompat mundur pada satu kesempatan untuk menciptakan jarak. Dari tempatnya, Pendekar Tikus Langit melesakkan pukulan jarak jauh.
Bdar!
Elakan Grayuda membuat batu besar di belakangnya terbelah menjadi beberapa bagian.
“Permulaan yang sangat bagus!” puji Grayuda.
“Lalu kenapa kau mundur?” tanya Pendekar Tikus Langit.
“Aku mundur karena ingin memberimu satu jurus kemesraan. Bersiaplah, karena kau belum mengetahui kehebatanku!” seru Grayuda.
“Rasakan dulu seranganku ini!” seru Pendekar Tikus Langit lalu melesat cepat ke depan, siap melancarkan serangan tangan bertenaga dalam tinggi, lebih serius dari serangan sebelumnya.
“Kenalah kau!” seru Grayuda, sambil melompat mundur ia hentakkan kedua lengannya.
Wurss!
Dari kedua lengan Grayuda berhamburan bunga-bunga kecil harum semerbak yang melesat menaburi sosok Pendekar Tikus Langit yang datang menyerang. Gadis bertopeng itu tidak mampu mengelaki taburan bunga-bunga yang dia yakini tetap mengandung bahaya.
Tiba-tiba Pendekar Tikus Langit terdiam. Rasa pusing tiba-tiba menyerang kepalanya dan sakitnya cepat menguat. Ia mulai melihat alam menjadi samar-samar dan bergerak berputar.
“Hahaha ...!” tawa Grayuda keras melihat serangannya mulai bereaksi terhadap Pendekar Tikus Langit. “Sebentar lagi kau akan merasakan betapa hebatnya Racun Kembang Nafsu-ku!”
Bug!
Akhirnya Pendekar Tikus Langit jatuh tidak sadarkan diri. Melihat hal itu, Mega Kencani tertawa senang.
“Kakang Grayuda, cepat lepaskan tali sinar ini!” teriak Mega Kencani.
“Aku tidak bisa melepaskan tali itu dari tubuhmu!” sahut Grayuda sambil melangkah menghampiri tubuh Pendekar Tikus Langit. “Aku ingin lihat, apakah wajahnya terlalu cantik sehingga harus ditutupi.”
Grayuda lalu membungkuk dan menyingkap kain penutup wajah Pendekar Tikus Langit.
“Waw!” desah Grayuda terpana dengan mulut sedikit terbuka. “Pantas jika wajahnya takut dilihat oleh orang lain.”
Apa yang dilihat oleh Grayuda adalah seraut wajah jelita berkulit putih halus menawan. Paras yang berbibir sensual, tidak kecil dan tidak juga tebal, serasi dengan hidung mancungnya yang sedang.
“Laksana bidadari yang tertidur dengan nyenyaknya,” puji Grayuda sambil berani mencolek pipi halus Pendekar Tikus Langit. “Sungguh gadis yang sangat indah. Tidak percuma aku memberinya Racun Kembang Nafsu. Hahaha!”
Grayuda segera memanggul tubuh Pendekar Tikus Langit lalu melangkah hendak pergi.
“Kakang Grayuda! Apakah kau mau membiarkanku menjadi santapan hewan lewat?!” teriak Mega Kencani gusar sambil berusaha bergerak-gerak mencoba bangun berdiri.
“Jika kau mau ikut, berusahalah sendiri. Sudah untung kau aku selamatkan,” kata Grayuda lalu kembali berjalan pergi dengan perasaan senang.
“Apakah kau akan memakainya di tempat tidur, Kakang?!” tanya Mega Kencani seraya berteriak. Ia dengan susah payah akhirnya bisa berdiri. Dengan langkah yang sempit, ia mencoba berjalan mengejar Grayuda.
“Untuk apa aku melewatkan makanan yang begitu nikmat?” kata Grayuda.
“Jika sudah kau nikmati, lebih baik kau langsung bunuh saja, Kakang. Akan sangat berbahaya membiarkannya hidup!” kata Mega Kencani.
Tidak berapa lama, dari arah matahari senja muncul Joko Tenang yang berlalu di tempat terjadinya pertarungan antara Pendekar Tikus Langit dan Grayuda. Joko berhenti karena menemukan tameng besar milik Pendekar Tikus Langit tergeletak begitu saja.
“Bukankah ini senjata milik murid Setan Genggam Jiwa?” membatin Joko. Ia lalu melihat ke daerah sekitar. Tidak menemukan seseorang pun, Joko memperhatikan area yang menunjukkan adanya bekas-bekas pertarungan. “Sepertinya orang bertopeng itu mengalami sesuatu yang tidak baik. Tidak mungkin ia sampai terlupa dengan senjata hebat seperti ini.”
Joko memperhatikan sebagian rumput yang rusak dan merunduk rata dengan tanah. Selanjutnya, dengan membawa perisai milik Pendekar Tikus Langit, Joko berkelebat cepat ke arah selatan.
Senja mulai turun ke bumi.
Sementara itu, Grayuda menjadi kesal dengan kelambanan Mega Kencani. Gadis itu tidak bisa berjalan cepat karena belenggu tali sinar yang tidak bisa hilang.
“Kau memperlambat aku saja, Kencani!” bentak Grayuda.
“Sabar! Lagi pula, sebentar lagi kau akan bersenang-senang dengannya sepanjang malam!” dengus Mega Kencani kesal pula.
“Aku tidak mau bermalam di jalan gara-gara kau!” tandas Grayuda.
“Berhenti kalian!” seru seseorang tiba-tiba. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
asep harja
cerita nya blm jelas .arah nya ..
mohon..siapa yg jd pemeran utama dan permasalahan waktu jaman itu🙏
2024-04-08
0
Idrus Salam
Masih misteri...
siapa yang akan berjodoh dan mengalami ujian itu...
2024-01-28
1
Budi Efendi
lanjutkan
2023-01-07
0