“Aku tidak akan membiarkanmu pergi, Anak Muda!”
Tiba-tiba satu gelombang suara keras seorang lelaki menggema keras, membuat Joko yang sudah pulih kondisinya, berhenti melangkah. Ia belum melihat keberadaan orang lain selain ia dan Kumala Rimbayu, tapi suara itu terdengar dekat. Ia pun tidak melihat seseorang di kejauhan atau di tanah atas yang tinggi.
Namun, Joko tidak perlu menunggu lama, sebab ia merasakan kehadiran seseorang dari arah timur. Ia menoleh ke kanan memandang ke seberang sungai. Cukup jauh di seberang sana, seseorang berpakaian warna hijau muncul, lalu lenyap begitu saja. Kurang sedetik kemudian muncul begitu saja dengan jarak yang lebih dekat. Tahu-tahu orang berkepala gundul itu telah berjalan di pinggir sungai di sisi seberang. Lalu hilang kembali dan kejap berikutnya telah muncul seperti setan di hadapan Joko.
“Hahaha...!” tawa lelaki tua berjenggot putih sedada itu setibanya di hadapan Joko. Jubah hijaunya dijahit dengan benang putih tebal membentuk pola susunan daun. Ia pun membawa tongkat bambu kecil tapi panjang. Di salah satu ruas ujung tongkatnya ada lubang-lubang berpola seperti lubang seruling.
“Orang tua ini suaranya bisa dekat padahal posisinya masih jauh di seberang. Siapa dia? Apakah dia guru Kumala?” membatin Joko.
“Akhirnya aku mendapatkan calon suami untuk murid kesayanganku. Kau beruntung, Anak Muda. Siapa namamu?” kata orang tua itu.
“Joko Tenang,” jawab Joko seraya tersenyum kecil, tapi kaku. “Kumala itu muridmu?”
“Benar, Kumala adalah murid kesayanganku,” jawab orang tua itu.
“Tapi, kau cukup kejam sampai memaku dia di bawah pohon hanya untuk urusan buka topeng. Jika tak ada hal lain, aku permisi, Kek,” kata Joko lalu melangkah hendak meninggalkan orang tua gundul itu.
“Tunggu, Joko!” seru orang tua itu, membuat Joko berhenti melangkah. “Bagaimana kau bisa pergi begitu saja dari Sobenta, Pendekar Seruling Panjang, guru calon istrimu, Joko?”
Mendelik Joko mendengar kata “calon istrimu”.
“Calon istriku?” ucap Joko sambil menengok kepada orang tua yang mengaku bernama Sobenta bergelar Pendekar Seruling Panjang. “Apakah calon suami untuk muridmu itu, yang kau maksud aku, Kek?”
“Hahaha! Benar sekali,” kata Sobenta begitu senang. “Coba lihat ke mari, Joko!”
Sobenta bergerak dan berdiri ke samping Kumala Rimbayu yang hanya diam memandang kepada Joko. Pemuda bercaping itu berbalik dan menghadap kepada guru dan murid tersebut.
“Lihatlah, bukankah Kumala Rimbayu begitu indah? Sudah begitu banyak pemuda yang aku ajukan dan datang untuk menikahinya, tapi semua ia tolak. Maklum, muridku ini begitu indah, jadi ia begitu pemilih. Hahaha.”
“Begitu pemilih apa? Kau gunakan cara sembarangan untuk mencari jodoh bagi muridmu yang kau sebut indah itu. Bagaimana jika yang datang membuka topeng di wajah Kumala adalah seekor monyet? Kau sebagai gurunya mau bertanggung jawab?”
“Hihihi!”
Meledak tawa Kumala begitu saja mendengar Joko memarahi gurunya yang justru jadi merengut.
“Bagaimana bisa guru berbuat seperti itu untuk murid kesayangannya?” ucap Joko mendumel sambil berbalik dan melangkah pergi.
Sobenta cepat melompat dan bersalto di udara lalu turun menghadang Joko.
“Kau belum boleh pergi, Joko. Kau harus mengakui Kumala sebagai calon istrimu dan kau harus kubawa dulu ke Perguruan Seruling Sakti!” tandas Sobenta.
“Aku tidak kenal muridmu itu, bagaimana kau sembarangan menjodohkanku dengan dia, Kek? Aku rasa dia pun tidak mau menjadi istri dari lelaki asing sepertiku. Apa lagi aku ini orang jahat,” kata Joko agak kesal tapi dengan nada sabar.
“Kumala, apakah kau mau menjadi istri Joko?” tanya Sobenta kepada Kumala.
“Jika Guru senang, tentunya aku pun senang menjadi istrinya Joko,” kata Kumala.
“Kau...,” ucap Joko tertahan sambil berbalik memandang Kumala yang hanya berdiri tersenyum cantik. Lalu tanyanya dengan nada sabar, “Bagaimana mungkin aku menjadi suami jika kau dekati saja aku bisa mati? Bagaimana mungkin kau menjadi istri dari orang berpenyakit sepertiku?”
Joko tidak membutuhkan jawaban dari Kumala. Ia lalu beralih kepada Sobenta.
“Kau salah pilih, Kek. Biarkan aku pergi dengan damai,” kata Joko.
“Akan aku buktikan bahwa aku tidak salah pilih. Jika kau bisa lolos dariku, maka aku tidak salah pilih. Aku akan membawamu ke Perguruan Seruling Sakti untuk langsung menikah dengan Kumala!” tandas Sobenta.
Joko lalu berkelebat pergi. Namun, di udara tahu-tahu sosok Sobenta telah menghadang dengan tangan kiri hendak merampas caping Joko. Joko terpaksa menepis tangan Sobenta lalu turun ke tanah.
Dari peraduan tangan tadi, Joko bisa merasakan besarnya tenaga dalam Sobenta.
Selanjutnya Sobenta telah menyerang dengan kecepatan tinggi. Tongkat bambu kecilnya juga digunakan menyerang Joko. Namun, orang tua botak itu harus mendelik saat menyaksikan Joko bisa mementahkan semua serangan tangan, kaki dan tongkatnya dengan gerakan yang tak kalah cepat.
Sobenta meningkatkan kecepatan serangannya dengan jurus Tarian Penghuni Laut.
Kumala sebagai penonton menyaksikan gerakan dua sosok yang tidak jelas berbuat seperti apa. Baginya pertarungan itu begitu cepat, yang terlihat hanya berupa gerakan berbayang hijau dan merah.
Seperti biasa, sebagai orang yang diserang lebih dulu tanpa perkara yang mendesak, Joko memilih hanya mengelak dan bertahan.
“Anak ini bisa mengimbangi kecepatan Tarian Penghuni Laut. Tingkatannya sejajar para pendekar tua,” batin Sobenta sambil terus berjuang untuk menaklukkan Joko.
“Aku terlalu lama di sini, sementara aku belum mendapat petunjuk pengejaran. Murid Ranggasewa bisa semakin terancam nyawanya,” pikir Joko.
Akhirnya Joko melompat mundur beberapa tindak, lalu langsung maju lagi menyerang.
“Gila!” pekik Sobenta terkejut, karena serangan Joko jadi setengah lebih cepat dari sebelumnya. Justru dirinyalah yang kini terdesak dan kelabakan meladeni serangan pemuda itu.
Joko telah memainkan jurus Bayang-Bayang Malaikat, satu jurus tingkat tinggi yang sulit ditangkap oleh mata yang awas, terlebih mata orang awam.
Bababak! Buk!
“Huk!” keluh Sobenta setelah lima pukulan telapak tangan Joko mendarat beruntun dalam satu detik di dada tuanya. Disusul satu tinju di perut.
Beruntung bagi Sobenta, enam pukulan itu adalah pukulan yang kosong dari tenaga dalam.
Setelahnya, Joko langsung melesat cepat di udara meninggalkan Sobenta. Namun, Sobenta mendadak lenyap dan muncul begitu saja menghadang di depan tubuh Joko yang melesat hendak pergi.
“Aku tidak akan membiarkanmu dengan mudah lolos, kau harus menikah, Joko!” seru Sobenta sambil kembali menyerang Joko.
Pertarungan pun terjadi jauh dari pandangan Kumala.
“Ternyata kesaktiannya begitu tinggi,” kata Kumala dalam hati. “Tapi kenapa hanya dengan disentuh olehku dia bisa lemas tidak berdaya?”
Joko kembali gunakan jurus Bayang-Bayang Malaikat. Sobenta yang memang tidak menemukan cara untuk mengatasi jurus itu, terpaksa melompat mundur pada satu kesempatan guna menghindari tendangan Joko.
Clap!
Tiba-tiba Joko menghilang dari pandangan. Sobenta cepat mencari keberadaan Joko, tapi ia tidak menemukan di daerah itu. Sobenta segera kerahkan ilmu pendeteksinya. Matanya memejam, indera perasanya mencoba mencari keberadaan manusia lain selain muridnya di daerah itu. Sobenta memiliki kemampuan bisa merasakan keberadaan manusia lain sampai radius yang cukup jauh, terlebih Joko baru menjalani pertarungan tingkat tinggi, tentunya akan lebih mudah terasa keberadaannya.
Sobenta membuka mata, raut wajahnya menunjukkan kekecewaan.
“Aneh,” ucapnya lirih. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Budi Efendi
lanjutkan thorrr
2023-01-08
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
aihh kabur Joko tenang nya😂😂😂
2022-11-20
2
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
kalau onel nya di jodohkan dgn cewek cantik seperti itu pasti GK nolak 🤔🤔🤔
2022-11-20
1