Joko Tenang kini dikurung dari dua arah oleh dua orang wanita bertopeng wajah jelek dari kayu. Kedua wanita itu mengenakan pakaian serba putih. Rambut panjang mereka berkibar-kibar tertiup angin, seolah-olah menambah elok wajah mereka di balik topeng kayunya.
“Apa yang kalian lakukan?” tanya Joko, hatinya terasa was-was, karena kedua wanita itu kian mendekat.
“Kami harus membunuhmu, karena kau telah membuka kedok kami!” seru wanita bertopeng di sebelah kiri Joko.
“Kau telah ikut campur, jadi kau harus mati sekarang juga!” seru wanita lainnya.
Kejap berikutnya, kedua wanita itu melompat ke udara bersamaan.
Werss!
Mereka menghamburkan bubuk putih yang sangat banyak, sehingga menutupi alam sekitar Joko. Pemuda itu jadi tidak bisa melihat apa-apa, hanya warna putih.
“Manusia mesum! Aku bunuh kau!”
Dak!
Tiba-tiba Joko mendengar suara kemarahan seorang wanita lain. Kejap berikutnya, sebuah benda keras terasa menghantam kepalanya.
Bersamaan dengan tubuhnya yang meluncur dari atas atap gubuk tempat ia tidur, Joko terbangun dengan menggeragap.
Bugk!
“Aagh!” keluh Joko Tenang setelah tubuhnya menghantam bumi. Matanya yang sudah terbuka mendapati bahwa hari telah terang. Ia kesiangan.
Wuss!
“Hugk!”
Satu angin pukulan datang dari atas dan menghajar tubuh Joko hingga terlempar sejauh dua tombak.
Bakbakbak...!
Belum juga sempurna Joko bangkit, satu sosok hitam berkelebat cepat dan mendaratkan terjangan beruntun dari udara. Lima hantaman telapak kaki yang begitu keras membuat Joko terjengkang. Dadanya terasa sangat sesak dan sakit. Bibir merahnya terembesi darah kental yang menunjukkan Joko mengalami luka.
Joko segera bangun. Namun, sebelum kesiagaannya sempurna, sosok berpakaian hitam kembali melesat cepat kepada Joko. Melihat wajah si penyerang yang tidak lain adalah wanita bernama Pendekar Tikus Langit, Joko berubah terkejut.
Beberapa pukulan bertenaga tinggi menyerang Joko. Dengan kewalahan pemuda itu menangkis. Penyakit Joko terhadap perempuan seketika bekerja. Perasaannya langsung tidak enak. Sebab itu, Joko langsung melompat mundur jauh, sebelum fisiknya benar-benar mengalami kelemahan.
“Kau tidak akan bisa lari dariku!” teriak Pendekar Tikus Langit marah dengan sorot mata yang cantik tapi mengandung kengerian. Hasrat membunuhnya terlihat tinggi.
Dia langsung meluruk memburu Joko. Si pemuda yang kini tidak bercaping itu cepat menghentakkan lengan kanannya. Pendekar Tikus Langit cukup terkejut dan buru-buru membuang diri melayang ke samping. Namun, tidak ada sedikit pun serangan ajian yang keluar dari tangan Joko.
Tampak Joko berkeringat dingin, napasnya tersengal-sengal dan bibirnya agak terbuka. Ia seperti kelelahan, seolah usai berlari keliling dunia.
“Hentikan!” teriak Joko.
Teriakan pemuda itu membuat Pendekar Tikus Langit berhenti sejenak.
“Kenapa kau menyerangku, Nisanak?” tanya Joko dengan ekspresi kelelahan.
“Aku bunuh kau, Lelaki Mesum!” teriak Pendekar Tikus Langit seraya membuat perisai besar di tangan kanannya bersinar hijau.
“Alasanmu apa mau membunuhku?” tanya Joko yang secara perlahan kondisinya mulai menormal.
“Pura-pura!” teriak Pendekar Tikus Langit.
Wesst! Brass!
Pendekar Tikus Langit melesatkan perisainya yang telah bersinar hijau. Perisai itu melesat cepat. Kondisi Joko yang membaik, membuatnya bisa melompat bersalto mengelak. Perisai dengan mudahnya memangkas sebatang besar pohon kelapa. Batang atas pohon runtuh ke bumi, sementara batang bawah hingga ke akar hangus mengarang dan mengepulkan asap tebal.
Setelah memangkas pohon kelapa, perisai Pendekar Tikus Langit kembali terbang memutar dan menyerang Joko untuk kedua kalinya. Kembali Joko melompat bersalto di udara. Lolos untuk kedua kalinya, perisai bersinar hijau itu kembali berbalik dan memburu lagi seperti magnet. Kembali Joko bersalto di udara sehingga perisai itu lewat di bawah punggungnya. Satu pohon liar kecil yang menjadi sasaran perisai seketika hangus tanpa kobaran api lagi.
Wuss!
Baru saja Joko menginjak bumi, satu rangkum angin maut menderu keras dari arah samping. Buru-buru Joko melompat tinggi menghindari angin pukulan dari Pendekar Tikus Langit. Serangan itu menghancurkan bagian depan gubuk sehingga rusak parah.
Namun, pada saat Joko masih di udara, perisai Pendekar Tikus Langit melesat cepat mengincar tubuhnya.
Press! Bduar!
Tidak ada jalan lain. Joko Tenang harus adu ilmu dengan perisai maut itu. Sinar putih menyilaukan mata muncul di tangan kanan Joko, lalu dilesatkan menghadang perisai. Akibatnya, perisai yang dihantam oleh ilmu Surya Langit Jagad itu hancur menjadi serpihan kecil yang melesat ke segala arah.
Terkesiap wajah jelita Pendekar Tikus Langit melihat senjata hebatnya bisa dihancurkan dengan mudah. Sementara Joko tidak sedikit pun terpengaruh oleh peraduan itu.
Joko mendarat dengan baik di tanah.
“Benar-benar keparat!” maki Pendekar Tikus Langit.
“Hei! Apakah kau bisa berhenti menyerangku!” seru Joko.
“Aku tidak akan berhenti sebelum membunuhmu!” tandas Pendekar Tikus Langit.
Clap!
Tiba-tiba sosok wanita berpakaian hitam itu menghilang begitu saja. Joko pun segera bersiaga.
Clap! Bak!
Kejap berikutnya, sosok Pendekar Tikus Langit muncul begitu saja di belakang Joko dan langsung menghantamkan satu pukulan bersinar kuning bertenaga dalam tinggi ke punggung Joko. Tubuh pemuda itu hanya terdorong ke depan nyaris terjatuh.
Terkejut si gadis. Seharusnya Joko langsung terkapar dengan punggung hangus terkena pukulan Tapak Purnama Merah. Melihat Joko hanya terhuyung, Pendekar Tikus Langit langsung menyusul melompat dan menerjang pungguh Joko yang dilapisi Rompi Api Emas. Terjangan itu membuat Joko yang terhuyung langsung tersungkur ke tanah. Namun, Joko segera bangun dengan kondisi mulai melemah. Napasnya kembali memburu.
Clap!
Pendekar Tikus Langit kembali menghilang. Kali ini Joko lebih siaga. Jantungnya berdetak cepat. Ia merasakan gerakan angin di sisi kirinya. Joko cepat bergerak melesatkan tangan kanannya.
Pak!
Tangan Joko menangkap sesuatu yang tidak tampak di udara. Seiring itu, Joko menahan kekuatan tubuhnya yang merosot tajam. Joko lalu mendorong tangannya seperti membuang sesuatu ke tanah.
Clap!
Di tanah muncul sosok Pendekar Tikus Langit yang jatuh bergulingan. Ia berlutut satu kaki seraya menatap tajam kepada Joko.
Kondisi sebenarnya yang terjadi, Joko berhasil menangkap wajah Pendekar Tikus Langit dengan tangannya saat gadis itu tak terlihat. Kemudian hanya mendorong kepala Pendekar Tikus Langit hingga jatuh bergulingan.
Sementara kini, Joko jatuh terduduk di tanah dengan wajah pias bermandi peluh. Tenaganya melemah.
“Kenapa kau menahan seranganmu terhadapku?!” tanya Ginari dengan membentak.
“Aku tidak punya alasan untuk melukaimu, tapi kenapa kau sangat ingin membunuhku?” kata Joko dengan suara lemah dan sorot mata agak sayu.
“Jika kau tidak punya alasan untuk membunuhku, lalu apa alasanmu kau merenggut kesucianku?!” tanya Pendekar Tikus Langit dengan mata mendelik merah, menahan amarah dan rasa ingin menangis.
Joko Tenang terdiam. Otaknya sedang berproses mencoba memahami kata-kata Pendekar Tikus Langit.
“Aku memang menyentuhmu. Aku minta maaf,” ucap Joko yang menerjemahkan kata “merenggut kesucian” hanya sebatas persentuhan kulit. Seiring itu, kondisinya kembali menguat.
“Maaf? Hanya maaf? Kau merenggut kehormatanku secara diam-diam lalu kau hanya mengucapkan maaf?” tanya Pendekar Tikus Langit seakan tidak percaya. Lalu teriaknya, “Yang seharusnya kau lakukan adalah membiarkan dirimu aku bunuh!”
“Iya, aku minta maaf. Aku terpaksa menyentuhmu, karena kau tidak sadarkan diri dan sepertinya pemuda teman Mega Kencani ingin berbuat buruk terhadapmu. Aku terpaksa menggendongmu untuk aku bawa pulang ke gurumu, tapi aku lupa jalan dan kita terpaksa bermalam di sini,” ujar Joko dengan kalimat yang lebih tenang seiring kondisinya yang sudah kembali normal.
“Lalu kau melakukan perbuatan terkutuk itu kepadaku!” tuding Pendekar Tikus Langit.
“Tunggu dulu, Nisanak!” kata Joko sambil bangkit berdiri. “Jika aku runut-runut, sepertinya aku tidak melakukan hal yang salah terhadapmu sehingga aku harus membayarnya dengan kematian. Aku tidak mengerti.”
“Sangat jelas kau telah menodaiku, tapi kau tidak juga mau mengaku. Kau memang binatang yang harus mati!” desis Pendekar Tikus Langit dengan tatapan kian penuh kebencian.
Zress!
Kedua tangan Pendekar Tikus Langit kini telah diselimuti sinar hijau gelap yang kekuatan tenaganya menimbulkan angin keras. Debu-debu berterbangan dan pakaian Pendekar Tikus Langit berkibar kencang di tubuhnya.
“Gadis ini tidak boleh dibiarkan. Bisa-bisa aku yang celaka atau justru dirinya yang terluka,” pikir Joko.
“Hah!” kejut Pendekar Tikus Langit.
Gadis cantik itu tidak menyangka bahwa Joko bergerak sangat cepat dan nyaris tidak terlihat. Pemuda berbibir merah itu tahu-tahu telah berdiri di sisi Pendekar Tikus Langit lalu menyarangkan beberapa totokan di tubuh si gadis. Seiring itu, dua sinar hijau di tangan Pendekar Tikus Langit padam.
Setelahnya, Joko langsung menjauh dengan napas kembali terengah-engah. Ia kini berdiri membungkuk sambil memegangi kedua lututnya. Sementara Pendekar Tikus Langit berdiri diam tidak bergerak.
“Lepaskan aku, Keparat! Kau dan aku harus ada yang mati!” teriak Pendekar Tikus Langit.
Joko kembali berdiri tegak. Ia lalu menanggapi tantangan Pendekar Tikus Langit.
“Jangan seperti itu. Guru-guru kita adalah sahabat baik, bagaimana mungkin murid-muridnya harus saling bunuh? Kau sedang dalam pikiran yang tidak terkendali. Pasti kau salah paham terhadapku,” ujar Joko.
“Bagaimana aku salah paham? Jelas-jelas kaulah yang merusak kehormatanku!” teriak Pendekar Tikus Langit keras, tapi tanpa bisa berbuat apa-apa.
“Totokanku hanya bersifat sementara. Sebentar lagi kau akan bebas dengan sendirinya. Maaf, aku lebih baik pergi daripada membuatmu marah,” kata Joko lalu melangkah pergi meninggalkan si gadis mematung seorang diri.
“Jangan kabur kau, Pengecut! Aku tidak akan membiarkanmu bernapas tenang! Aku akan terus memburumu sampai di antara kita ada yang mati!” teriak Pendekar Tikus Langit.
Namun, Joko sudah tidak menggubris lagi kemarahan gadis murid sahabat gurunya itu. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Jhonny Afrizon
nama MC harusnya bukan Joko tenang,tapi Joko panik😜
2024-11-16
0
Idrus Salam
Ginari belum bisa mencerna apa yang terjadi pada dirinya, sedangkan Joko Tenang atau Gimba tidak bisa menjelaskan permasalahan secara runtut. Kesalahpahaman
2024-01-29
1
Zakirreksi
cerita bikin bingung pembaca..masa ada pendekar punya penyakit..kl cacing tanah pasti.
2023-02-12
0