Desa Cipanggang adalah desa yang berada di jalur pengembaraan para pesilat. Letaknya membuat para pendekar atau para musafir sering singgah beristirahat di desa ini. Hal itu juga yang membuat desa ini berkembang lebih maju dibandingkan desa-desa yang lainnya.
Desa Cipanggang lebih padat oleh pemukim dan banyak titik bisnis yang beroperasi. Sejumlah kedai makan dan minum pun saling bersaing. Termasuk ada beberapa tempat penginapan dengan layanan kelas atas.
Saat ini, Kembang Buangi dan Hujabayat makan di salah satu kedai yang cukup ramai. Mereka makan di dekat jendela yang terbuka lebar, mengizinkan angin alam nan sejuk berhembus masuk. Mereka duduk lesehan menghadapi sebuah meja pendek yang sudah dilengkapi hidangan sesuai pesanan.
Brakr! Bugk!
Belum lagi keduanya mulai makan, tiba-tiba suara papan berpatahan terdengar keras. Sekejap berikutnya, sebuah benda besar jatuh dari atas menghantam bumi, tidak jauh di depan kedai tempat Hujabayat dan Kembang Buangi makan.
Benda besar yang jatuh dari atas itu tidak lain adalah sesosok tubuh orang besar. Orang yang jatuh dari atas itu buru-buru bangun seraya wajah garangnya meringis kesakitan. Orang besar tidak berbaju berkulit hitam memandang ke atas, ke lantai dua sebuah penginapan tempat ia dilempar oleh seorang pendekar.
“Itu kan muridnya Nenek Kerdil Raga,” kata Hujabayat yang segera mengenali lelaki besar yang berdiri di depan kedai.
“Benar,” Kembang Buangi membenarkan.
Memang benar, lelaki itu tidak lain adalah Gajahlani, murid Nenek Kerdil Raga.
“Hei, Tampan! Jika berani, sini turun! Aku akan membuatmu dari tampan menjadi panggang!” teriak Gajahlani dengan suara genit mendayu-dayu, suaranya dipaksa untuk menyerupai suara lembut wanita.
“Hahaha ...!” meledaklah tawa sejumlah orang yang mendengar suara dan melihat gerak gemulai tangan Gajahlani.
Gajahlani hanya melirik sana dan sini lalu abai. Ia tidak peduli ditertawakan.
“Hei, Tampan sialan!” teriak Gajahlani lagi sambil memandang ke titik dinding kamar penginapan yang berlubang rusak, lubang tempat ia melewati lemparan.
“Pergilah!” seru seseorang yang muncul dari pintu bawah penginapan.
Gajahlani cepat memandang kepada pemuda bercaping yang berdiri di ambang pintu penginapan.
“Itu Joko!” seru Hujabayat seperti kucing melihat munculnya seekor tikus.
“Jangan bertindak dulu, Kakang. Kita lihat dulu apa yang akan terjadi antara keduanya,” kata Kembang Buangi menyarankan.
“Aiii .... Ku damba-damba muncul di atas, eh eh eh, malah muncul di bawah. Sini sini sini!” celoteh Gajahlani genit berhias senyum yang menggelikan.
“Jika kau tidak pergi, akan aku lempar kau jauh ke luar desa!” ancam pemuda bercaping yang tidak lain adalah Joko Tenang.
Brak!
Joko Tenang dan orang yang menyaksikan perdebatan itu dibuat terkejut oleh suara dari atas. Saat mereka mendongak, mereka melihat sosok kecil bertongkat berkelebat menjebol jendela penginapan di lantai dua. Sosok kecil itu membawa sesosok tubuh berpakaian hitam yang jauh lebih besar dari tubuhnya, tapi terlihat enteng dipanggul. Sosok kecil bertongkat tersebut tidak lain adalah Nenek Kerdil Raga yang membawa tubuh Pendekar Tikus Langit.
Sebelumnya, Joko Tenang membawa kabur Pendekar Tikus Langit dari pertarungan dengan Nenek Kerdil Raga di kediaman Ranggasewa. Risikonya, Joko Tenang mengalami kelemahan saat berada di penginapan. Baru saja ia berniat mengobati luka gadis itu, Gajahlani lebih dulu datang mengganggu Joko di kamar atas. Ternyata Gajahlani berperan untuk mengalihkan perhatian Joko, sehingga Nenek Kerdil bisa mencuri tubuh Pendekar Tikus Langit.
“Cepat kejar orang itu!” seru Hujabayat cepat kepada Kembang Buangi. Hujabayat bisa mengenali siapa yang dibawa oleh Nenek Kerdil Raga.
Kembang Buangi langsung berkelebat lewat jendela, pergi mengejar Nenek Kerdil Raga.
“Dasar maling!” rutuk Joko seraya hendak bergerak mengejar.
“Eit! Mau ke mana, Tampan?” Gajahlani lebih dulu menghadang dengan senyuman yang menggelikan perasaan.
“Dasar Gajah!” rutuk Joko seraya menghentakkan lengan kanannya dengan telapak terbuka.
Wuss!
Serangkum angin keras menghempas tubuh besar Gajahlani hingga terbang dan jatuh menghancurkan kursi kayu di depan kedai makan.
“Jangan lari kau, Joko!” seru Hujabayat yang cepat datang menghadang langkah Joko.
“Apa yang kau inginkan, Kisanak? Jangan menghalangiku!” kata Joko.
“Pengemis Maling menugaskanku menangkapmu karena kekeparatanmu!” tandas Hujabayat.
“Maaf, aku tidak punya alasan berurusan denganmu.”
“Kau telah menodai kekasihku, aku punya alasan untuk berurusan denganmu!” kata Hujabayat lalu tiba-tiba menyerang Joko dengan serangan cepat dan bertenaga dalam tinggi.
Joko dengan tenang mengelaki semua serangan Hujabayat.
Sementara itu, Gajahlani yang kesakitan, memilih melesat pergi dari tempat itu.
Buk!
Satu tendangan masuk ke perut Joko, karena ia lalai melihat kepergian Gajahlani. Joko hanya terjajar beberapa tindak. Selanjutnya ia kembali fokus kepada Hujabayat.
Bak bak!
Ketika Joko balas menyerang, dua pukulan telapak tangannya yang tidak begitu berbahaya menghajar dada Hujabayat.
Tanpa berkata apa-apa lagi, Joko Tenang segera berkelebat pergi ke arah kepergian Nenek Kerdil Raga yang menculik Pendekar Tikus Langit. Hujabayat yang tidak terluka, secepatnya mengejar Joko.
Dalam pengejarannya, Hujabayat harus mengakui ia kalah jauh oleh Joko yang tidak bisa dikejarnya.
Nasib sama dialami Joko, ia pun tidak tahu pasti harus mengejar ke mana lagi, karena ia pun kehilangan buruan. Secepat apa pun ia melesat, ia tetap tidak mendapatkan keberadaan Nenek Kerdil Raga atau pun Gajahlani.
Joko akhirnya memutuskan berhenti dari lesatannya di antara pepohonan. Satu alunan nada indah muncul begitu memikat pendengaran dan perasaannya.
“Suara seruling merdu di tempat sepi seperti ini,” membatin Joko seraya menikmati kemerduan irama seruling yang didengarnya dan menilik dari sisi mana sumber asalnya. “Tapi, kenapa terdengar begitu sedih, perasaanku jadi terbawa.”
Setelah memastikan arah sumber irama merdu alunan seruling, Joko lalu berkelebat ke barat. Joko hinggap di atas sebuah pohon yang tumbuh di tebing tanah keras. Di bawah Joko kini terhampar lembah kecil bersungai mungil. Dari pohon itu, ia bisa melihat seorang wanita duduk bersandar di bawah sebuah pohon rindang di bawah sana.
Joko kembali berkelebat. Sekali kelebatan, Joko dengan halus mendarat tanpa suara di depan wanita di bawah pohon.
Barulah Joko bisa melihat, wanita peniup seruling perak ternyata wajahnya ditutupi oleh topeng yang terbuat dari susunan daun. Hanya sepasang mata beningnya dan bibir merah yang terlihat. Ia mengenakan busana berbahan tebal tapi halus berwarna putih bersih. Baju yang mirip mantel itu dihiasi dengan sulaman emas bercorak bunga-bunga di area pinggang.
Kehadiran Joko di depannya membuat wanita itu menghentikan tiupan dan permainan lentik jemarinya di lubang-lubang seruling.
“Apa yang kau lakukan, Kisanak Pendekar?” tanya wanita yang Joko duga masih muda usianya.
“Tentunya Nisanak tahu hal apa yang membuatku datang. Irama serulingmu sungguh membuatku tertarik, sehingga aku mengenyampingkan urusan utamaku. Namun, keindahan itu terasa begitu sedih.”
“Memang, hatiku sedang sedih,” kata wanita itu.
“Lalu, apa yang kau lakukan di tempat sunyi seperti ini? Terlebih kau adalah seorang wanita.”
“Selain untuk melepaskan kesedihanku dengan bermain seruling, aku sangat membutuhkan bantuan seorang pemuda untuk menuntaskan masalahku,” ujar wanita bertopeng.
“Aku seorang pemuda. Jika hal yang kau butuhkan bisa aku perbuat, sampaikanlah,” kata Joko.
“Sepertinya Kisanak orang yang budiman,” ucap wanita bertopeng.
“Katakanlah apa yang bisa aku bantu!”
“Permainan serulingku memang sengaja untuk menarik seseorang datang ke mari. Tujuannya agar aku bisa meminta bantuannya untuk melepaskan topeng daunku,” ujar gadis bertopeng.
“Membuka topeng daunmu? Kau berkelakar, Nisanak. Tanganmu tidak dalam keadaan terbelenggu, bagaimana mungkin kau bisa meminta orang lain untuk membukanya?”
“Harus orang lain, khususnya lelaki,” tandas si wanita.
“Kenapa?”
“Ini perbuatan guruku. Jika tidak ada pria yang membukanya dari wajahku, maka topeng ini akan terus terpasang, dan selama itu pula aku akan duduk di bawah pohon ini, sebab guruku telah memaku diriku di bawah pohon ini, sehingga aku tidak bisa ke mana-mana.”
“Apa salahmu?”
“Tidak ada, kecuali karena aku belum mau menikah.”
“Sangat tidak masuk akal. Hanya karena kau belum mau menikah sehingga kau dihukum di bawah pohon ini sampai seorang lelaki membuka topengmu? Gurumu kejam juga,” kata Joko. “Tapi, aku pun tidak mungkin bisa melepas topeng itu untukmu.”
“Kenapa tidak bisa?” tanya si wanita dengan nada agak meninggi.
“Sebab, aku tidak akan bisa mendekatimu.”
“Kenapa tidak bisa?” tanya si wanita bernada agak kesal. “Aku tidak mengancammu!”
“Tapi aku tidak bisa mendekati seorang wanita. Aku sarankan, kau mainkan lagi serulingmu, semoga ada pria lain yang mendengarnya dan datang kepadamu. Permisi,” kata Joko lalu berbalik hendak pergi. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Budi Efendi
lanjutkan
2023-01-08
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
Joko tenang, nakal. kalau semua cowok elergi cewek, damai dunia ini
2022-11-20
1
rajes salam lubis
lanjut
2022-06-01
1