Hujabayat berjalan pergi memasuki batas desa. Tidak berapa lama memasuki desa yang cukup padat, tiba-tiba seseorang menghadang Hujabayat tanpa jelas dari arah mana datangnya. Namun, Hujabayat dalam hati menjadi lega, sebab orang yang menghadangnya ia kenal.
“Kenapa tidak bersama Kembang Buangi?” tanya Pengemis Maling, orang yang menghadang Hujabayat. Kemarin sore mereka bertemu di kediaman Ranggasewa.
“Sayang sekali Kembang Buangi lebih dulu pergi. Ia sedang pergi membuang tubuh Mega Kencani yang terikat sinar biru,” jawab Hujabayat.
“Memangnya murid murtad itu kenapa?” tanya Pengemis Maling dengan pembawaan wajah yang berbeda dari biasanya, seolah ia membawa beban kemarahan yang tertahan.
“Kami membebaskannya dari tangkapan anak-anak buah Demang Rubagaya. Kondisinya yang terikat membuatnya tidak berdaya. Daripada kami membawanya ke kediaman gurunya, ia lebih memilih dibuang jauh-jauh.”
“Masalah anak setan itu tidak terlalu penting, karena ada masalah yang lebih sangat serius untuk segera aku selesaikan,” kata Pengemis Maling.
“Masalah serius apa itu, Ki?” tanya Hujabayat.
“Aku sedang mencari pemuda bercaping bernama Joko itu untuk buat perhitungan!” kata Pengemis Maling mulai menunjukkan kemarahan di wajahnya.
“Apa yang pemuda itu lakukan terhadapmu, Ki?” tanya Hujabayat.
“Bukan terhadapku, tapi terhadap cucuku.”
“Terhadap Pendekar Tikus Langit?” terka Hujabayat.
“Benar. Ternyata pemuda itu tidak sebaik dengan perawakannya. Jika kalian bertemu dengannya, tolong tangkapkan dia untukku!” gusar Pengemis Maling.
“Masalahnya apa dulu? Kami tidak bisa main tangkap begitu saja tanpa tahu apa permasalahannya,” kata Hujabayat.
“Orang itu sangat keparat. Dia telah berani merenggut kesucian cucuku.”
“Apa?!” kejut Hujabayat. “Joko, Joko telah mengambil kesucian Pendekar Tikus Langit?”
“Pokoknya, jika kau temukan dia, tangkap!” tandas Pengemis Maling.
“Baik, akan aku coba semampuku untuk menangkapnya,” kata Hujabayat berkomitmen.
“Aku akan mencarinya di tempat lain. Belum tenang aku jika belum menghajarnya dan memaksanya kawin!” kata Pengemis Maling lalu pergi begitu saja tak terlihat ke arah mana, sama seperti saat ia datang.
Sepeninggal Pengemis Maling, Hujabayat berdiri tertegun. Berita itu terasa sangat mempengaruhi perasaannya.
“Tikus Langit telah diperkosa. Keparat!” desis Hujabayat lirih. Ada gurat kemarahan yang tergambar di wajah tampannya. Tanda tanya muncul di kepalanya. “Tapi, bagaimana mungkin Joko bisa memperkosa seorang perempuan jika mendekatinya saja ia takut? Atau sifat itu hanya topeng belaka untuk menutupi kebusukannya?”
Cukup lama Hujabayat berdiri terpaku. Ada rasa sakit yang melanda hati dan perasaannya. Bukan hanya sakit, berita itu sepertinya menghancurkan hatinya. Entah kenapa, ingin rasanya ia menangis, karena sesuatu yang sangat ia cintai selama ini dijarah oleh seseorang dengan cara yang tidak senonoh. Padahal, ia dengan Pendekar Tikus Langit tidak memiliki hubungan khusus apa pun.
Setelah sekian lama Hujabayat terpaku dan merasa sangat terpukul, akhirnya ia memutuskan untuk ke dalam desa.
“Kakang, tunggu!” panggil seorang wanita tiba-tiba dari belakang.
Belum sempat Hujabayat berpaling, seorang wanita tiba-tiba sudah melompat dan memeluk tubuh si pemuda dari belakang, lalu mencium pipi kirinya.
“Sudah lama aku mencari-cari Kakang, tapi hilang bagai terbawa angin. Akhirnya bertemu di sini. Kakang dari mana saja selama ini?” kata wanita muda itu dengan nada kesal.
Hujabayat dengan hempasan nada kesal pula, segera melepaskan dirinya dari pelukan gadis cantik nan manis itu. Gadis itu berkulit agak hitam, tapi sangat manis di mata. Ia mengenakan pakaian warna hijau. Rambutnya yang agak ikal ia ikat sederhana dengan pita putih. Di lehernya ada kalung dari seuntai mutiara berwarna merah.
“Kenapa kau selalu mencariku, Aren Manisi?” tanya Hujabayat kesal pula.
“Kenapa Kakang tidak pernah memahamiku. Aku itu mencintai Kakang sepenuh lautan setinggi bintang dan seluas langit. Apakah aku harus berkorban dulu untuk membuktikan itu semua?” kata gadis bernama Aren Manisi itu kesal.
“Kau sendiri pun tidak pernah mau mengerti. Aku hanya memperlakukanmu dan menganggapmu sebagai adik, tidak lebih. Namun, kau justru menanggapi kebaikanku selama ini dengan salah,” ujar Hujabayat sedikit bernada memarahi.
“Tapi aku mencintaimu,” kata Aren merajuk, suara dan ekspresi wajahnya seolah ia ingin menangis.
“Aren, masih banyak pemuda yang lebih baik daripada aku. Kau gadis yang cantik. Aku harap kau bisa mengerti, Aren. Aku sudah lama memiliki kekasih yang tidak pernah kau ketahui,” kata Hujabayat.
“Kakang Hujabayat bohong!” teriak Aren yang saat itu pula menitikkan air mata.
Melihat gadis itu menangis, Hujabayat jadi serba salah.
“Aduh, kok sampai menangis seperti ini?” ucap Hujabayat sambil menyeka air mata Aren dengan jari tangannya. “Maafkan aku, Aren. Aku tidak bisa membuang kekasihku begitu saja. Ayo dong, jangan menangis seperti itu. Malu jika dilihat orang.”
“Ada apa, Kakang?” tanya seorang perempuan dari sisi lain kepada Hujabayat.
Pertanyaan itu mengejutkan mereka berdua. Orang yang datang dan bertanya tidak lain adalah Kembang Buangi. Melihat Kembang Buangi sebagai seorang gadis cantik nan anggun, Aren Manisi seketika timbul cemburu yang tinggi. Aren kian menangis, tapi ia segera berbalik lalu berlari pergi meninggalkan tempat itu.
“Aren!” teriak Hujabayat memanggil, tapi tidak mengejarnya.
Kembang Buangi hanya menunjukkan wajah heran.
“Apa yang terjadi, Kakang?” tanya Kembang Buangi.
“Namanya Aren. Aku menolak cintanya,” jawab Hujabayat lemah.
“Kenapa kau menolaknya?” tanya Kembang Buangi.
“Sudah, tidak usah dibahas,” kata Hujabayat.
“Pasti karena Kakang sudah memiliki kekasih. Siapa?”
“Tidak, tidak ada.”
“Aku tahu, Kakang menyembunyikan seorang wanita,” kata Kembang dengan mimik menggoda di depan wajah pemuda itu. “Jika Kakang tidak memberi tahu, aku pergi sendiri.”
“Aduh, kenapa jadi mengancam?” keluh Hujabayat.
“Karena aku harus tahu siapa wanita itu, sebab penting bagiku,” kilah Kembang Buangi.
“Baiklah, tapi kau jangan menertawaiku,” kata Hujabayat.
“Tidak,” kata Kembang Buangi sambil tertawa kecil, membuat lesung pipinya tampil begitu manis.
“Tuh kan, belum aku beri tahu kau sudah tertawa,” kata Hujabayat.
“Iya iya iya, aku tidak tertawa,” kata Kembang Buangi seraya menahan tawanya. “Siapa? Katakanlah yang sejujurnya.”
“Kau sudah mengenalnya. Murid Ki Ranggasewa,” jawab Hujabayat.
“Pendekar Tikus Langit?” terka Kembang Buangi dengan wajah terkejut.
“Ya.”
“Aku sedikit pun tidak tahu jika Kakang mengenalnya dengan baik,” kata Kembang Buangi.
“Tidak juga. Ia pernah menyelamatkanku sebanyak dua kali. Karena itulah aku jatuh cinta kepadanya, meski aku tidak pernah melihat paras di balik topengnya. Namun, ia tidak tahu bahwa aku sangat mencintainya. Jadi, cintaku baru sekedar hayalan semata,” kata Hujabayat dengan nada setengah sedih.
Kembang Buangi terdiam mendengar pengungkapan pribadi Hujabayat.
“Tapi, kini harapanku telah musnah, Kembang!” desis Hujabayat tiba-tiba mengandung amarah.
“Kenapa, Kakang?” tanya Kembang Buangi heran.
“Harapan indahku telah dihancurkan oleh Joko, pemuda bercaping itu!” gusar Hujabayat seolah mengandung dendam.
“Kenapa tiba-tiba Kakang menyalahkan pemuda aneh itu?”
“Karena dia, karena dia telah merenggut kesucian gadis yang aku cintai!” kata Hujabayat setengah berteriak, wajah menegang dan menunjukkan kemarahan.
Jawaban itu membuat Kembang Buangi terkejut.
“Bagaimana Kakang bisa menuduhnya seperti itu? Bukankah itu tidak mungkin?”
“Rupanya Joko itu pemuda busuk yang berpura-pura takut berada di dekat wanita, tapi faktanya dia justru telah memperkosa Pendekar Tikus Langit. Saat kau pergi membuang Mega Kencani, Pengemis Maling datang kepadaku dan meminta aku untuk menangkap Joko bila menemuinya, karena Joko telah merenggut kesucian Tikus Langit. Berita ini sangat menyakitiku.”
Kembang Buangi terdiam, seolah berpikir dalam mendengar berita tersebut.
“Kesaktian Pendekar Tikus Langit tinggi, sangat tidak mudah untuk memperkosanya. Ditambah bahwa Joko tidak mungkin melakukan hal seperti itu. Aku tidak melihatnya bahwa ia pemuda yang genit terhadap wanita ketika kita pertama bertemu dengannya, terlebih ia takut didekati oleh wanita. Meski aku yakin Joko berilmu tinggi, tapi aku tidak percaya sepenuhnya bahwa Joko bisa memperkosa Pendekar Tikus Langit. Jika itu benar terjadi, berarti peristiwanya kemungkinan tadi malam. Kita harus menanyakan lebih dulu kepada Joko, daripada ada kesalahpahaman,” ujar Kembang Buangi.
“Aku sangat berharap Pengemis Maling salah paham,” ucap Hujabayat, masih bernada emosi. “Tapi, akankah Joko mengaku bila kita tanya?”
“Entahlah. Ayo kita ke kedai sana, Kakang!” ajak Kembang Buangi.
Hujabayat menurut ikut. Ia hanya terdiam dengan pikiran kalut memikirkan masalah pemerkosaan terhadap Pendekar Tikus Langit. Dalam hati pun ia membenarkan sebagian analisa Kembang Buangi. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Elmo Damarkaca
Beritanya Cepat juga berkembang Walau masih belum tentu benar ...😁😁
2023-04-16
2
Budi Efendi
lanjutkan thorrr
2023-01-08
1
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
itu namanya cinta bertepuk sebelah tangan hujabayat🤭
2022-11-19
3