Sobenta menghilang dari tempatnya berdiri, lalu tahu-tahu muncul di dekat Kumala berdiri. Kumala tidak terkejut dengan kebiasaan gurunya seperti itu.
“Ke mana Joko, Guru?” tanya Kumala.
“Ternyata ilmu pemuda itu tinggi. Ia bisa lolos tanpa bisa aku tahu ke mana perginya. Kau harus menikah dengannya,” kata Sobenta.
“Aku juga kesal kepada Guru. Benar kata Joko, Guru sembarangan memakai cara seperti ini untuk menentukan calon suamiku,” kata Kumala agak merengut. Namun kemudian, ia tersenyum malu sendiri. “Tapi, jika Joko orangnya, aku tidak keberatan menikah dengannya.”
“Kau menyalahkan caraku, tapi kau menyukai hasilnya!” gerutuh Sobenta. “Bayangkan, Joko bisa mengatasi jurus Irama Penghuni Laut. Pemuda itu bukan orang jahat. Sebab, dia sengaja tidak memakai tenaga dalam saat enam pukulannya menghajarku. Itu tandanya dia sayang dengan guru calon istrinya, hahaha!”
“Tapi dia dengan mudah takluk kepadaku,” kata Kumala yang menghentikan tawa gurunya.
“Maksudmu?” tanya Sobenta.
“Pertama, Joko tidak bisa mengatasi Nyanyian Jiwa Kepasrahan. Kedua, hanya dengan kupegang tangannya, ia langsung lemah tidak bertenaga,” jelas Kumala.
“Ah, itu karena Joko tidak akan bertarung dengan seorang wanita, jadi dia mengalah,” kata Sobenta tidak percaya. “Aku harus mencari tahu siapa Joko itu sebenarnya.”
“Tapi, bagaimana Joko bisa menjadi suamiku jika dia tidak mencintaiku?” tanya Kumala.
“Kau tinggal memberinya Alunan Surga. Dengan memberinya mimpi-mimpi tentang dirimu, ia akan dengan cepat mencintaimu, hahaha.”
Sementara itu, cukup jauh dari lokasi Kumala dan gurunya, Joko berjalan menyusuri tepian sungai. Setelah lolos dari Sobenta dengan mengerahkan ilmu Langkah Dewa Gaib, ia tetap saja bingung harus ke mana mencari Ginari atau penculiknya.
“Aku harus bertanya kepada seseorang,” kata Joko dalam hati.
Tiba-tiba.
“Jokooo!” teriak kencang seorang wanita, terdengar agak jauh dari posisi Joko.
Joko langsung menengok ke sumber suara. Ia bergegas mendekati titik sumber panggilan.
“Joko, lepaskan aku! Aku sangat memohon kepadamu!” teriak seorang wanita dengan begitu senang.
Joko melihat seorang wanita cantik tapi terkesan lusuh. Wanita itu berpakaian hijau kuning. Namun, tubuhnya hanya bisa menggeliat di tanah tidak jauh dari bibir sungai, sebab tubuhnya dililit tali sinar biru. Sebelumnya Joko sudah pernah melihat kondisi gadis yang tidak lain adalah Mega Kencani itu.
Mega Kencani yang terakhir diselamatkan oleh Kembang Buangi dan Hujabayat, memilih dibuang. Maka Kembang Buangi membuangnya ke tempat itu.
“Kau lagi,” kata Joko seraya tersenyum.
“Karena kau tidak menolongku tadi malam, sampai sekarang aku seperti ini,” kata Mega Kencani dengan mimik sedih. “Apa kau tega membiarkanku seperti ini seumur hidup? Kau orang sakti, kau pasti bisa melenyapkan tali ini. Apapun yang kau minta akan aku turuti, bahkan jika harus menjadi kekasihmu, atau istrimu, atau selirmu, aku rela.”
“Kau rela tapi aku tidak,” celetuk Joko. “Bagaimana aku bisa melepasnya, sedangkan mendekatimu saja adalah celaka bagiku?”
“Tidak mungkin kau tidak bisa. Terbukti kemarin kau bisa menggendongku, bahkan menyentuhku,” kata Mega Kencani.
“Meski kau orang yang tidak baik dan selalu berdusta, tapi karena kau juga manusia, terlebih kau seorang wanita, ditambah kita ditakdirkan bertemu lagi, maka aku akan berusaha memutuskan tali itu,” ujar Joko.
Joko lalu terdiam sambil memandangi Mega Kencani. Ia berpikir.
“Ayo, cepat lepaskan aku, Joko!” rajuk Mega Kencani.
“Tapi kau jangan berbuat jahat lagi kepada orang lain,” kata Joko.
“Iya iya iya iya iya! Janji!” kata Mega Kencani setengah berteriak.
“Sebentar, aku sedang memikirkan caranya,” kata Joko.
“Kau tinggal menutup matamu, lalu mendekatiku dan merabaku, lalu putuskan talinya!” kata Mega Kencani agak kesal.
“Aduh, aku lupa!” ucap Joko seakan baru teringat sesuatu.
“Lupa apa?” tanya Mega Kencani.
“Murid Setan Genggam Jiwa sedang diculik, aku harus segera mencarinya,” jawab Joko sambil bergerak hendak meninggalkan Mega Kencani.
“Hei, Joko, tunggu!” seru Mega Kencani cepat. “Mungkin aku bisa membantu jika aku tahu siapa yang menculiknya.”
“Jika kau bisa benar-benar memberiku petunjuk, akan aku coba lepaskan kau. Orang yang menculiknya adalah nenek kerdil yang menyerang kita saat di gua kecil kemarin.”
“Nenek Kerdil Raga?” terka Mega Kencani.
“Benar.”
“Tidak ada tempat lain yang dituju untuk membawa Pendekar Tikus Langit selain kediaman Demang Rubagaya, sebab dia adalah buruan yang paling diinginkan oleh si Demang itu,” kata Mega Kencani.
“Di mana kediamannya?”
“Desa Tepak Giring di sebelah barat.”
“Baiklah,” ucap Joko lalu merapikan sikap menghadapnya ke arah tubuh Mega Kencani. “Kau jangan bergerak dan jangan berbuat apa-apa saat aku mencoba melepas tali itu. Jika kau tidak patuh, aku akan benar-benar meninggalkanmu.”
“Baik.”
Seperti yang ia lakukan terhadap Kumala Rimbayu, Joko menghitung jaraknya dari tubuh Mega Kencani. Tangan kanannya ia arahkan untuk membidik, agar ketika ia merenggut tali sinar di tubuh wanita itu, tidak salah renggut. Joko tidak mau kesalahan salah sentuh terulang lagi.
“Jika aku sampai mengerahkan sedikit ilmu Surya Langit Jagadku, kau harus bisa menahannya,” kata Joko.
“Baik.”
“Diamlah!” perintah Joko.
Joko lalu memejamkan mata. Ia pun menghadirkan hayalan di dalam kepalanya yang dibantu dengan rapalan lucu.
“Ular melilit anak monyet, ular melilit anak monyet, ular melilit anak monyet!” rapal Joko berulang-ulang.
Mendengar bunyi mantera Joko, Mega Kencani jadi mendelik lalu mendengus kesal. Namun, ia memilih bersabar dan harus menerima dianggap “anak monyet”.
“Ular melilit anak monyet, ular melilit anak monyet, ular melilit anak monyet ....”
Sambil terus merapal, Joko maju dengan cepat dan berhenti dalam hitungan langkah yang tepat. Tangan kanannya pun tepat memegang tali sinar biru di tubuh Mega Kencani. Tenaga dalam tinggi Joko kerahkan.
Namun, Joko harus terkejut. Sebab ternyata tenaga dalamnya tidak mampu memutus tali sinar itu. Joko lalu memegang pula dengan tangan kiri. Tenaga dalam tinggi ia kerahkan untuk menarik tali sinar itu.
“Ular melilit anak monyet! Ular melilit anak monyet! Anak monyet! Anak monyet!” rapal Joko dengan suara yang lebih kencang, seiring ia mengerahkan tenaga dalam tinggi.
Press!
“Akk!” jerit Mega Kencani kesakitan.
Sebab tidak juga putus ditarik dengan dua tangan hingga semua urat dan otot mengencang, akhirnya Joko mengerahkan ilmu Surya Langit Jagad dengan takaran yang kecil. Sejenak kedua tangan Joko menyala putih terang. Sinar itulah yang membuat Mega Kencani menjerit kesakitan, karena kulitnya terasa terbakar bara api.
Seiring menjeritnya Mega Kencani, Joko cepat melompat mundur menjauh, terlebih tali sinar biru yang melilit lenyap begitu saja.
“Joko kurang bodoh!” maki Mega Kencani marah sambil bangun berdiri. “Aaa, kulitku jadi terluka!”
“Kau sudah bebas dari belenggumu, aku pergi!” kata Joko lalu berkelebat pergi begitu saja meninggalkan Mega Kencani.
“Joko!” panggil Mega Kencani terkejut karena ditinggal begitu saja. Akhirnya ia hanya bisa kecewa kemudian mengerenyit kembali merasakan sakit di pinggangnya.
Kain baju Mega Kencani berlubang karena hangus terbakar. Kulit dan daging pinggangnya juga mengalami luka bakar selebar lingkar jari jempol dan telunjuk.
“Aduh, aku juga lapar,” keluh Mega Kencani.
*****
Di lokasi yang lain, Sujibak Lugang terpaksa kembali ke Desa Tepak Giring dengan tangan kosong. Dalam dua hari belakangan ini nasibnya sungguh tidak baik. Ia selalu bertemu lawan yang jauh lebih unggul. Enam anak buah bersenjata pisau terbang yang bersamanya seolah tidak banyak manfaat.
“Kakang Sujibak, apakah kita akan pulang tanpa hasil?” tanya seorang anak buah kepada Sujibak Lugang, saat mereka sudah berada di batas desa.
“Kalau bukan karena kalian yang tak berguna, tidak mungkin aku pulang dengan tangan kosong seperti ini!” bentak Sujibak Lugang marah. “Tetap aku yang akan dimarahi setengah mati oleh Ki Demang.”
Keenam anak buah Sujibak Lugang jadi terdiam layu, tidak berani bicara lagi. Padahal, di dalam hati mereka pun memaki-maki Sujibak Lugang sebagai pemimpin yang tidak becus.
Mendadak mereka bertujuh dikejutkan dengan kelebatan sesosok tubuh yang melintas di atas mereka. Orang berompi merah bagus itu mendarat di depan mereka, seolah bermaksud menghadang. Pria bercaping itu tidak lain adalah Joko Tenang.
“Maaf, maaf,” ucap Joko sambil pertemukan kedua telapak tangannya di depan dada. “Tidak bermaksud menghadang kalian, hanya ingin bertanya.”
Melihat siapa adanya orang yang menghadang, Sujibak Lugang seketika naik darah.
“Kau!” teriak Sujibak Lugang geram sambil acungkan pedang tanpa sarungnya.
“Ya, aku, Joko Tenang. Tentunya kau masih ingat, Kang,” kata Joko santai sambil tersenyum ramah.
Jelas kemunculan Joko membuat Sujibak Lugang murka, karena Jokolah yang kemarin memergokinya saat hendak mencabuli Mega Kencani di semak-semak belukar. Dan Joko pulalah yang membuat dua pisua terbang menancap di bokongnya. Beruntung Sujibak memiliki obat mujarab untuk menyembuhkan luka tusuk di bokongnya.
“Kau harus membayar perbuatanmu terhadapku, anak kurang ajar!” gusar Sujibak Lugang.
“Tapi, bokongmu sudah sembuh kan, Kang? Aku lihat jalanmu sudah gagah,” tanya Joko.
“Tak ada jalan hidup bagimu, Bocah!” teriak Sujibak sambil bergerak maju dengan pedang terangkat siap tebas.
“Sabaaar!” seru Joko sambil mundur dua tindak.
Sujibak Lugang dan anak buahnya pun menahan gerakannya.
“Aku beri tawaran kepada kalian. Siapa yang bersedia ikhlas menuntunku ke kediaman Demang Rubagaya, maka akan selamat dari penghajaranku. Jika tidak ada, terpaksa aku yang memilih dan menyeretnya ke kediaman Demang Rubagaya,” ujar Joko.
“Aku!” seorang anak buah Sujibak Lugang tunjuk tangan.
Hal itu membuat Sujibak Lugang mendelik kian marah. Ia menengok melotot kepada anak buahnya yang jadi tersenyum kecut takut.
“Kau mau habis di tanganku, Jagur?!” bentak Sujibak Lugang.
“Tidak, Kang,” jawab anak buah bernama Jagur itu. Namun, dalam hati dia berkata, “Bukan aku yang habis, tapi kau dulu yang habis di tangan orang bercaping itu. Sudah tahu lawan sakti, masih berlagak jago.”
“Kalian! Serang orang mengjengkelkan ini!” teriak Sujibak Lugang kepada anak buahnya. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Jhonny Afrizon
ini ceritanya muter muter di situ aja,jadi membosankan
2024-11-17
0
asta guna
Mega monyet hahHa
2024-04-02
1
Elmo Damarkaca
Top Markotop...👍
2023-04-16
3