Bluk!
Hingga akhirnya Joko menemukan sebuah gua di tempat sepi, ia jatuhkan saja tubuh Mega Kencani seperti menjatuhkan beban berat yang sangat menyiksa pundaknya.
“Akk! Joko gila tidak berperasaan, akan aku bunuh kau nanti!” jerit Mega Kencani lalu memaki kembali.
Sementara Joko, ia langsung mengambil jarak lebih dari tiga langkah jauhnya. Napasnya tersengal-sengal seperti orang yang baru saja berlari mendaki satu gunung ke puncak. Keringatnya mengucur deras, tidak hanya membasahi seluruh wajahnya, tapi juga seluruh tubuhnya. Joko lalu duduk bersandar di batu gua dengan kondisi seperti lelaki kehabisan tenaga. Wajah berbibir merahnya mengerenyit seolah hendak pingsan. Sejak awal menyentuh tubuh Mega Kencani, saat membawanya, hingga menjatuhkannya begitu saja di tanah gua, Joko sedikit pun tidak memperdulikan caci maki dari mulut kasar wanita itu.
Sementara Mega Kencani, setelah memaki Joko, ia jadi diam karena melihat Joko kondisinya seperti orang pesakitan. Ia menangkap sesuatu yang aneh pada pemuda bercaping berbibir merah itu.
Joko lalu melakukan penenteraman diri dengan cara terapi pengolahan napas dan penenangan pikiran.
“Pendekar aneh. Dia mengangkatku dengan mata terpejam dan merapalku dengan nama Bonggol selama berlari,” membatin Mega Kencani.
Mega Kencani memang sempat melihat wajah di balik caping Joko, meski tidak seleluasa melihat rembulan purnama. Ia bisa melihat Joko memejamkan mata kuat-kuat sambil bibir merahnya komat-kamit seperti dukun cabul, karena bokongnya agak lama diremas oleh tangan Joko yang memeganginya. Sementara Joko sendiri tidak sadar bahwa tangannya telah menyentuh sana dan sini tubuh Mega Kencani, serta mencengkeram bokong gadis itu agak lama selama pelarian.
Akhirnya, kondisi Joko Tenang kembali tenang dan normal. Ia lalu memandang kepada Mega Kencani. Ditatap seperti itu, keluarlah serentetan caci maki si gadis yang menunjukkan kemarahannya.
“Kau benar-benar pemuda cabul berotak mesum! Pendekar tidak berperasaan terhadap wanita cantik! Kau pikir aku ini karung berisi batok kelapa? Main sentuh, pegang dan comot sembarangan. Aku ini sedang terluka parah, tapi kau angkat dan lempar tubuhku seperti batang kayu besar. Menyesal aku minta tolong kepadamu!”
“Maaf, jika ada yang salah sentuh dan pegang, tapi aku jaminkan kepadamu bahwa aku tidak berpikiran mesum. Begitulah risiko jika ditolong oleh aku. Termasuk risiko baru kali ini aku menolong, tapi justru dicaci maki. Jika tidak seperti itu, aku tidak bisa menolongmu, Nisanak,” kata Joko datar, santai menanggapi caci maki Mega Kencani. Ia lalu berdiri dan katanya, “Jika kau menyesal aku tolong, aku permisi pergi.”
Joko lalu melangkah menuju mulut gua.
“Hei, Joko!” panggil Mega Kencani cepat. “Apakah kau akan membiarkanku mati membusuk oleh lukaku?”
“Mungkin itu lebih baik bagimu daripada harus disentuh oleh tangan cabulku,” jawab Joko sambil terus berjalan keluar.
“Baik, aku minta maaf karena telah mencaci makimu! Kau boleh sentuh yang mana saja, asalkan kau mau menolongku dari kematian!” teriak Mega Kencani keras, membuat Joko yang sudah di mulut gua bisa mendengar jelas.
Joko Tenang berhenti di mulut gua, ia memandang daerah sekitar yang beberapa sisi ditumbuhi kelompok pohon bambu. Meski mulut gua ditumbuhi tanaman rambat liar, tapi mulut gua itu cukup terlihat dari jalan setapak yang ada.
“Joko! Jika aku sampai mati, aku bersumpah akan menjadi hantu dan mengganggumu siang malam!” teriak Mega Kencani lagi.
Setelah perkataan Mega Kencani itu, Joko Tenang berbalik dan kembali melangkah masuk ke dalam gua.
“Hihihi!”
Melihat kedatangan Joko kembali, tertawalah Mega Kencani.
“Kau pasti takut kalau aku yang cantik ini menjadi hantu yang mengfukrrt!” Kata-kata Mega Kencani terputus oleh semburan darah busuk dari dalam mulutnya.
“Lukamu semakin memburuk!” ucap Joko jadi agak tegang.
“Huk huk huk!” Mega Kencani terbatuk-batuk darah dalam kondisi tergeletak di tanah gua yang kotor. Lalu katanya kepada Joko, “Kau sudah tahu sebentar lagi aku akan mati membusuk, tapi kau belum melakukan apa-apa terhadapku. Huk huk huk!”
“Seandainya kau laki-laki, aku pasti bisa mengeluarkan racunnya dan menyembuhkan lukamu!” kata Joko bernada kesal pula.
“Memangnya kenapa jika aku wanita?” tanya Mega dengan suara mulai melemah, sorot matanya pun mulai meredup. Ia menggeliat sehingga posisi tubuhnya terbaring sempurna, seolah memberi tantangan tingkat tinggi kepada Joko sebagai seorang pria.
“Karena kau adalah wanita, justru nanti malah aku yang pingsan lebih dulu sebelum mengobatimu,” kata Joko sambil memperhatikan tubuh indah si gadis, bukan bermaksud mesum, tapi memeriksa kondisinya.
Tepat di bagian bahu kanan Mega, menghitam bekas telapak tangan yang menghitam di kain baju kuningnya. Di balik bekas telapak tangan hitam itulah racun menggerogoti menciptakan proses pembusukan di bahu yang sebentar lagi akan menjalar ke dada lalu membunuh jantung. Luka yang sama juga terdapat di bagian perut.
“Aku sungguh tidak mengerti maksudmu, Joko bodoh. Oh, sebentar lagi aku akan menjadi hantu gentayangan,” ucap Mega lemah seperti orang berceracau.
“Terus terang, aku punya penyakit jika berdekatan dengan wanita, apalagi jika sampai bersentuhan kulit. Jika aku dekat dengan wanita, aku akan lemah, bahkan puncaknya bisa pingsan,” ujar Joko yang saat itu memang sedang bingung.
“Bukankah tadi kau bisa menyentuhku dan membawaku pergi?” tanya Mega lemah dengan wajah mengerenyit menahan sakit yang hebat. Matanya telah terpejam, tapi napasnya masih jelas ada.
“Bila aku lakukan cara itu, tanganku bisa sembarang menyentuh,” kilah Joko.
“Dasar Joko bodoh,” ucap Mega Kencani dengan mata terpejam. Ia lalu berhenti, seolah sedang mengumpulkan napas untuk bisa berbicara lagi. “Kau lebih memilih menjunjung kehormatanmu daripada ....”
Mega Kencani kembali terdiam memutus kata-katanya yang kian lemah. Ia mengumpulkan oksigen untuk bisa berbicara. Sementara Joko masih menunggu dengan gundah pula.
“Daripada menolong sesama manusia. Aku rela, jika kau .... Jika kau menyentuh semuanya, asalkan aku selamat,” ucap Mega menyempurnakan kalimatnya.
“Ya, kau benar. Seharusnya aku mementingkan untuk menyelamatkan nyawamu lebih dulu, meski nanti kau akan menuntut nyawa atas kekurangajaranku karena menyentuhmu,” kata Joko. “Maafkan aku yang sedalam-dalamnya, karena tanganku harus menyentuh luka di bahu dan perutmu. Jangan mati dulu, tahan sebentar saja.”
Mega Kencani hanya diam dengan mata terpejam, seolah sedang menghayati perjalanannya menuju gerbang kematian.
Joko Tenang lalu meletakkan caping besarnya untuk membiarkannya cukup bebas bergerak. Ia lalu pejamkan matanya seiring penarikan dan pembuangan napas secara teratur. Otaknya mulai bekerja menciptakan imajinasi yang diperkuat oleh rapalan lidah dan bibir merahnya.
“Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati. Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati ....”
Joko Tenang mulai merapal mendukung imajinasinya. Ia membayangkan dan menggambarkan bahwa ia sedang menghadapi lelaki bernama Bonggol yang terluka parah dan akan mati jika tidak diobati. Bonggol adalah lelaki berkumis tebal.
Sambil tetap memejamkan mata, mulut merapal, dan pikiran berhayal, Joko mulai bergerak mendekati tubuh Mega Kencani. Sepasang tangan Joko yang sudah dialiri tenaga dalam mulai melakukan perabaan terhadap tubuh si gadis. Hanya itu cara satu-satunya yang bisa Joko lakukan untuk mencoba menolong Mega Kencani. Si gadis pun mau tidak mau harus ikhlas. Tangan Joko harus sedikit menyingkap kain baju pada bagian bahu kanan, tempat luka itu bercokol.
Tidak ada sedikit pun pikiran mesum atau kotor di benak Joko yang sibuk membayangkan sosok pria bernama Bonggol. Dalam kondisi menahan lemah dan sakit, di dalam hati Mega Kencani justru tertawa mendengar rapalan Joko yang lucu.
Proses penyembuhan Joko pun berlangsung dalam kondisi keduanya sama-sama memejamkan mata.
Joko dibekali dua cara pengobatan hebat oleh gurunya, yaitu pengobatan untuk orang lain yang bernama Serap Luka dan pengobatan untuk diri sendiri yang bernama Cuci Raga. Proses penyembuhan yang sedang ia lakukan adalah Serap Luka.
Serap Luka memiliki empat tahapan proses. Pertama adalah membaca luka dengan cara menyentuh kepala orang yang sakit lalu menyalurkan tenaga dalam yang berfungsi mempelajari jenis luka dan racun di seluruh tubuh. Kedua adalah penarikan racun dan kuman bakteri dari dalam tubuh dan kulit sehingga si sakit benar-benar bersih dari unsur jahat. Ketiga adalah pemulihan sel-sel tubuh yang rusak dan pengeringan luka yang parah. Keempat adalah pengembalian stamina si sakit kepada kondisi yang segar.
“Ak!” jerit Mega Kencani tertahan saat telapak tangan kanan Joko yang diselimuti sinar biru bening menempel di bahu kanan dan perutnya yang membusuk kulit dan dagingnya. Ada rasa sakit lain yang tercipta dari proses penyembuhan itu.
Tenaga dalam yang Joko kerahkan dalam tahap kedua itu, menyedot kuat seluruh racun di dalam tubuh Mega Kencani. Dalam waktu singkat, sinar biru bening di tangan Joko berubah warna menjadi biru keruh yang kemudian menjadi biru gelap, seolah ada cairan yang terkumpul di tangan itu.
Prack!
Setelah cukup, Joko mengangkat kedua tangannya dari kulit dada dan perut Mega Kencani, lalu menghentakkannya ke arah jauh. Dua gumpalan cairan yang cukup banyak berwarna hitam gelap terlempar ke dinding gua. Itu adalah kumpulan racun yang disedot oleh Joko dari luka dan dalam tubuh si gadis.
“Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati. Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati....”
Sembari lisannya terus merapal tidak berhenti, Joko kembali menyentuhkan kedua tangannya yang kini bersinar biru bening kembali ke luka Mega Kencani untuk melakukan tahapan ketiga. Dalam waktu singkat, ternyata penyembuhan tahap ketiga bisa membuat kulit bahu dan perut Mega kembali normal menjadi halus tanpa kerusakan sedikit pun.
Setelah cukup, barulah Joko melakukan penyembuhan tahap keempat. Di tahap ini, Mega Kencani sudah tidak merasakan sakit sedikit pun, seluruh luka dalam dan luarnya sudah sembuh. Di tahap keempat, Joko menyalurkan energi sejuk ke tubuh Mega Kencani dengan cara menggenggam kedua tangannya.
Kondisinya yang sudah sehat dan nyaman, membuat Mega Kencani bisa membuka matanya. Saat ia melihat wajah Joko yang terbuka tanpa pelindung capingnya, terpanalah ia oleh ketampanan si pemuda. Dari pandangan mata itu, muncullah desiran indah dalam perasaan dan hati Mega, terlebih saat itu kedua tangannya digenggam sejuk oleh Joko yang masih memejamkan mata dan terus merapal.
Wajah cantik Mega yang sebagian masih kotor oleh darah busuk, tampak tersenyum-senyum seolah menikmati ketampanan dan kelucuan Joko yang terus merapal kalimat, “Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati. Si Bonggol terluka parah mau mati, lelaki berkumis hutan ini harus aku obati ....”
Akhirnya Joko melepas tangannya dari tangan Mega Kencani, menandakan tahap keempat dari pengobatan telah selesai. Sambil mulutnya tetap merapal, Joko membuka matanya.
“Hah!” jerit Joko terkejut bukan main.
Bdak!
Spontan Joko melempar tubuhnya jauh ke belakang, hingga-hingga punggungnya menabrak dinding gua. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Idrus Salam
Karakter yang diciptakan pada tokoh memiliki keunikannya masing-masing, sungguh menarik latarbelakang dari setiap penokohannya.
2024-01-26
1
м᩸σͦηⷬⷬ💯тⷬяͦσͦⒻ⃟🐠
asem, si mega yg cantik dirubah sugesti jd bonggol brrkumis😂🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
2023-08-01
2
м᩸σͦηⷬⷬ💯тⷬяͦσͦⒻ⃟🐠
td caci maki, eh sekr nawarin untuk dicomot, 🤣🤣🤣
siksaan mu blm berakir jok😂😂😂
2023-08-01
2