Sepeninggal Joko, tampak sepasang mata Pendekar Tikus Langit mengalirkan air mata. Ia menangis tanpa suara. Ia menangis bukan karena ditinggalkan oleh Joko, tapi karena tidak mampu membunuh orang yang dianggapnya telah merusak kehormatannya.
Pada akhirnya, semua totokan di tubuh Pendekar Tikus Langit terlepas. Ia bisa bergerak bebas. Sepasang tangannya langsung mengeluarkan sinar hijau gelap.
“Aaa...!” teriak Pendekar Tikus Langit histeris melampiaskan kemarahannya.
Berulang-ulang sinar hijaun gelap ia lesatkan ke setiap apa yang berdiri.
Blar blar blar...!
Gubuk usang hancur, pepohonan sekitar hancur dan bertumbangan, tanah-tanah berlubangan, tanah berhamburan ke udara, dan kehancuran berserakan di sekeliling si gadis. Di akhir kemarahannya, Pendekar Tikus Langit terduduk di tanah menangis seperti anak kecil.
“Kelak aku akan membunuhmu, Keparat!” desis Pendekar Tikus Langit penuh dendam.
Ia lalu kembali berdiri. Sejenak ia terdiam, lalu kemudian berkelebat cepat.
Setibanya di lingkungan kediaman Ranggasewa, Setan Genggam Jiwa, Pendekar Tikus Langit berhenti melesat. Ia berjalan biasa menuju ke gubuk bambu. Pengemis Maling yang sedang menikmati burung bakar di bawah pohon, ia lalui begitu saja.
“Ginari, dari mana saja kau?” tanya Pengemis Maling sambil berdiri malas-malasan.
Pendekar Tikus Langit tidak menjawab. Ia malah berlari kecil naik dan masuk ke dalam gubuk.
Sejenak Pengemis Maling kerutkan kening. Itu sikap yang tidak biasa dari seorang Ginari. Orang tua itu segera menyusul naik dan masuk ke dalam gubuk. Ia langsung menuju ke kamar yang bertirai. Namun, ia harus berhenti. Ia mendengar suara tangis dari dalam kamar.
“Ginari menangis? Aneh. Aku tidak pernah melihatnya menangis selama ini, pasti masalahnya terlalu gawat,” pikir Pengemis Maling.
Pengemis Maling segera masuk. Di atas dipan yang bertilam tipis, dilihatnya tubuh Ginari yang masih berpakaian hitam tertelungkup menutupi wajahnya.
“Apa yang terjadi, Ginari?” tanya Pengemis Maling bernada marah.
Namun, Ginari tidak menjawab. Ia tetap menangis yang membuat punggungnya terguncang-guncang.
“Siapa yang membuatmu menangis, Ginari? Biar aku langsung membunuhnya!” kata Pengemis Maling penuh emosi.
“Pemuda berbibir merah itu,” jawab Ginari tanpa berbalik menunjukkan wajahnya.
“Oh, yang tampannya setengah hidup itu? Hehehe!”
Pengemis Maling seketika hilang emosinya dan ganti terkekeh setelah mengetahui siapa adanya orang yang dimaksud Ginari.
“Kau sudah berkenalan dengannya? Kau pasti sudah jatuh cinta kepadanya sehingga sampai menangis ditinggal olehnya. Hehehe!”
“Aku menangis karena dia telah berani menyentuh tubuhku dan membuka topengku!” kata Ginari kesal sambil tetap menangis.
“Hehehek!” Pengemis Maling kian terkekeh keras. “Itu hal yang biasa. Pasti setelah melihat kecantikanmu, Joko Tenang langsung jatuh hati kepadamu.”
“Kenapa Kakek malah senang?!” tanya Ginari agak membentak seraya berpaling memandang kepada Pengemis Maling. “Bagaimana bisa Kakek menganggap kelakuan orang setan itu sesuatu yang menggirangkan?”
“Memangnya kau diapakan?” tanya Pengemis Maling, kali ini ia serius, tanpa kekehan lagi.
“Aku disetubuhi saat aku tidak sadarkan diri,” jawab Ginari pelan, nyaris tidak terdengar.
“Apa?!” pekik Pengemis Maling dengan ekspresi seakan tidak percaya.
“Aku disetubuhinya, Kek,” ulang Ginari, kali ini lebih menangis.
“Hehehe...! Itu berarti aku bisa menimang seorang cicit!” kata Pengemis Maling girang.
Namun, mendadak kegirangan dan kesenangan hatinya berhenti mendadak. Dia baru sadar akan apa yang sedang menimpa cucunya itu.
“Apa?! Jadi dia merusak kehormatanmu?!”
Pendekar Tikus Langit hanya mengangguk.
Membaralah dada Pengemis Maling dengan kemarahan yang berapi-api.
“Akan aku bunuh setan itu dengan tanganku sendiri!” geram Pengemis Maling, seakan ingin melampiaskan kemarahannya saat itu juga dengan membunuh Joko Tenang.
“Ada apa ini, Kalugar?” tanya Ranggasewa yang muncul dari balik tirai. Ia baru kembali dari suatu tempat.
“Aku harus membunuh Joko Tenang hari ini juga. Dia sedikit pun tidak memiliki perasaan dengan beraninya merusak kesucian Ginari!” kata Pengemis Maling.
“Apa?” ucap Ranggasewa terkejut mendengar kata-kata terakhir Pengemis Maling. Ia memandang kepada Ginari yang kembali membenamkan wajahnya di atas bantal. “Ginari, bangunlah!”
Ginari tidak bisa membantah perintah gurunya. Ia pun bergerak bangun dan duduk menunduk seraya terisak. Ranggasewa sejenak memperhatikan kondisi Ginari. Terlihat memang pakaiannya tidak rapi seperti biasanya, seolah-olah dikenakan dengan terburu-buru.
“Benar kau sudah tidak suci lagi?” tanya Ranggasewa berwibawa.
Gadis jelita itu hanya mengangguk membenarkan.
“Aku akan mencari Joko setan itu dan membunuhnya dengan caraku sendiri!” kata Pengemis Maling lalu melangkah hendak keluar.
“Apakah kau yakin bisa menandingi kesaktiannya?” tanya Ranggasewa yang membuat Pengemis Maling berhenti.
Pengemis Maling terdiam sejenak. Lalu katanya, “Aku akan membunuhnya dengan sekuat kemampuanku, meskipun justru aku yang mati!”
“Bagaimana jika Ginari mengandung bayinya Joko, Kalugar? Apakah bayi itu akan dibunuh di dalam kandungan?” tanya Ranggasewa.
Pengemis Maling kembali terdiam sejenak. Lalu katanya pula, “Jika begitu, akan kubuat cacat dia dan kupaksa menikahi Ginari!”
Pengemis Maling cepat melangkah ke luar. Ia tidak mau mendengar lagi larangan saudaranya itu.
“Jangan bertindak ceroboh kau, Kalugar!” pesan Ranggasewa.
Pengemis Maling terus berjalan ke luar gubuk. Setelah itu ia melesat pergi membawa amarah yang meletup-letup.
“Bagaimana bisa Joko melakukan hal seperti itu, Ginari?” tanya Ranggasewa kepada muridnya. Ia lalu duduk di sisi dipan. “Aku rasa mustahil jika dipikir dengan akal sehat.”
“Dia sangat jelas telah menodaiku, Guru. Setelah aku sadar dari pingsanku, barulah aku tahu aku telah dinodai. Setelah aku sadar, aku sudah tidak berpakaian lagi. Tidak ada orang lain selain dia di gubuk tempat dia membawaku,” kata Ginari sedih.
“Jadi kau direnggut dalam kondisi tidak sadarkan diri?” tanya Ranggasewa lagi memastikan.
“Iya."
Meski ada amarah yang muncul bergolak di dalam dada tuanya, Ranggasewa tetap berbicara dengan nada halus kepada muridnya.
“Kau sudah tidak pantas lagi memakai pakaian hitam itu atau menutup wajahmu, karena kau sudah tidak suci lagi. Orang yang diperbolehkan bersetubuh adalah orang yang sudah resmi menikah. Jadi, apa pun yang terjadi, kau harus menikah dengan Joko Tenang.”
“Tapi, Guru ....”
Akhirnya Ginari hanya menangis lalu memeluk gurunya.
“Sudahlah. Nasib sudah membubur. Berhentilah menangis,” kata Ranggasewa. “Olahlah pikiranmu untuk menerima pemuda itu sebagai orang yang harus menjadi suamimu.”
“Tidak, Guru. Ini sangat menyakitkan, aku tidak bisa menerimanya. Bahkan aku ingin membunuhnya sekarang juga,” tandas Ginari.
“Walaupun kau dapat membunuhnya, lalu apakah masalah ketidaksucianmu itu bisa selesai? Terlebih jika seandainya kau hamil.”
Ginari terdiam. Ia bingung memilih. Sikapnya lebih kepada niat untuk membunuh pemuda berbibir merah yang bernama Joko Tenang. Namun, tidak mungkin pula ia membantah titah gurunya. Meski di dalam hatinya ia mengakui pemuda itu memang tampan.
“Memang sulit mempercayai bila murid Ki Ageng Kunsa Pari melakukan perbuatan sekotor itu. Sebagai murid seorang tokoh aliran bersih di dunia persilatan, tentu muridnya dididik dengan kepribadian yang sangat baik. Masalah ini harus segera aku beri tahu Ki Ageng di kediamannya.”
“Jadi Guru akan pergi?” tanya Ginari pelan.
“Benar, saat ini juga. Selama aku pergi, jangan tinggalkan gubuk ini, karena aku menyimpan sebuah pusaka yang sangat penting dan berbahaya di sini.”
“Tapi, Guru,” potong Ginari keberatan.
“Sudahlah. Bila urusan ini sudah selesai, masalah perasaanmu akan mudah kau atasi. Nasibmu sudah menjadi bubur, jangan buat bubur itu semakin basi. Makanlah meski kau tidak menyukainya. Itu lebih baik,” kata Ranggasewa. Ia lalu berdiri. “Ingat, jangan tinggalkan gubuk ini untuk urusan pemuda itu atau Ki Demang.
“Baik, Guru,” ucap Ginari patuh, meski sangat berat hati.
“Aku pergi,” pamit Ranggasewa lalu melangkah keluar dengan membawa beban perasaan dan pikiran yang berat.
Brakr!
Tak lama setelah gurunya pergi, Ginari menghantamkan kedua telapak tangannya ke tilam yang didudukinya. Akibatnya, dipan itu hancur berpatahan, seiring tubuh Ginari yang turut jatuh ke lantai gubuk. Ia melampiaskan kemarahannya.
Selanjutnya, Ginari hanya duduk melamun dengan wajah sedih. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Jhonny Afrizon
sekumpulan orang bodoh,masa gak kalo masih suci apa gak,emang gak berasa apa di badan,hah
2024-11-16
1
Zakirreksi
masa cerita teh bodo bodo amet nyah..
2023-02-12
1
Budi Efendi
lanjutkan
2023-01-07
1