Gimba menghentikan langkahnya saat ia melihat seorang wanita muda berlari terhuyung-huyung. Gadis cantik berpakaian hijau kuning itu kemudian jatuh tersungkur, tapi ia cepat bangkit lagi dan berusaha untuk kembali berlari ke arah timur. Larinya sudah sangat lambat yang membuatnya sulit meninggalkan daerah itu.
“Sepertinya perempuan itu memerlukan pertolongan, tapi ia perempuan,” membatin Gimba yang mengamati dari balik rerumputan di tanah ketinggian. Ia bimbang.
Belum juga ia menentukan keputusannya, dari arah barat muncul empat lelaki, satu di antaranya membawa pedang. Tampaknya jelas bahwa mereka sedang mengejar wanita muda terluka itu. Kemunculan para lelaki itu membuat si gadis semakin panik dan berusaha mempercepat larinya, tapi tetap saja selambat seperti awalnya.
“Mega Kencani, berhentilah!” teriak lelaki yang membawa pedang, ia tidak lain adalah Sujibak Lugang, Pendekar Kucing Demang.
Bruks!
Wanita itu malah jatuh tersungkur kembali. Ia masih berusaha bangun. Namun, Sujibak Lugang sudah berkelebat menerjang.
Bak! Bruks!
Kaki Sujibak mendarat keras di punggung gadis yang tadi disebut namanya Mega Kencani. Gadis itu tersungkur lebih keras dengan darah tersembur lebih banyak dari mulutnya.
Kini Mega Kencani tidak bisa berusaha bangkit lagi, karena ujung pedang Sujibak sudah menempel di leher putihnya yang berkeringat.
“Sudah waktunya kau kami habisi!” desis Sujibak seraya terkekeh kecil.
“Tunggu, Kang Sujibak!” seru seorang lelaki dari ketiga anak buahnya yang bersenjatakan pisau terbang.
“Kenapa?!” tanya Sujibak seraya membentak.
“Hehehe, alangkah bijaknya jika kita manfaatkan dulu tubuhnya, Kang. Terlalu sayang jika tubuh sebagus itu langsung membusuk. Tentunya Kakang bisa mulai lebih dulu, baru giliran kami,” ujar si anak buah seiring senyum-senyum mesumnya.
“Hemm,” gumam Sujibak sambil manggut-manggut. Ujung pedangnya masih menempel di leher Mega Kencani yang seolah sudah pasrah. “Memang bagus jika kita nikmati dulu tubuhnya. Anggap saja pembayarannya karena telah membuat kita repot.”
“Aku saja takut mendekati perempuan, lalu bagaimana bisa menikmati perempuan?” membatin Gimba dari tempat pengintaiannya.
“Pegang pedang ini, Jagur!” perintah Sujibak kepada anak buahnya yang tadi berusul.
Anak buah yang bernama Jagur pun ambil alih pegang gagang pedang, sementara ujung tajamnya masih menyandera Mega Kencani.
“Hahaha! Selain merasakan kesaktianku, kau pun akan merasakan keperkasaanku, Kencani!” kata Sujibak tertawa mesum, sambil tangannya buru-buru melepas celananya hingga akhirnya dia hanya berbaju dan bercawat kuning.
“Hahaha!” tawa Jagur dan dua anak buah lainnya yang berdiri berdampingan dengan wajah sumringah. Otak dan hayalan mereka sudah penuh sesak oleh pikiran cabul.
Mereka memang berada di tempat berumput setinggi lutut yang jauh dari keramaian.
“Sedang apa, Kang?” tanya Gimba yang sudah berdiri di sisi kedua anak buah Sujibak. Ia turut longokkan kepala untuk melihat adegan yang siap mulai.
“Ini, sedang antre menikmati gadis cantik,” jawab anak buah Sujibak di samping Gimba.
“Hei! Kalian jangan berisik!” bentak Sujibak sambil menengok melotot kepada kedua anak buahnya yang lain. Namun, Sujibak jadi sangat terkejut, karena ia melihat penampakan orang asing bercaping berdiri di antara anak buahnya. Buru-buru Sujibak meletakkan kedua tangannya di bawah perut untuk menutupi cawat kuningnya dan kedua pahanya dirapatkan sebagai tanda malu. Ia pun membentak keras, “Siapa kau?!”
Bentakan keras Sujibak membuat ketiga anak buahnya pun jadi tersadar dan terkejut, sebab ternyata sudah ada orang asing yang berdiri di antara mereka.
“Aku Joko Tenang. Mau diapakan perempuan itu, Kang?” jawab Joko santai dan bertanya sewajarnya.
“Jangan diam saja, hajar dedemit itu!” teriak Sujibak kepada kedua anak buahnya yang hanya berdiri memandangi Gimba yang mengaku bernama Joko Tenang. Sujibak marah dan panik.
Blugk!
Dengan seenaknya, pemuda bercaping yang bernama asli Joko Tenang itu meraup wajah kedua anak buah Sujibak di dekatnya, lalu mendorong keras kepala mereka hingga terjungkal ke belakang.
“Jagur, serang!” perintah Sujibak kepada satu anak buahnya lagi, sementara ia buru-buru memakai kembali celananya.
“Siap!” sahut Jagur lalu bergerak menarik pedang di tangannya dari leher Mega Kencani dan beralih menusuk ke arah Joko Tenang.
Joko hanya maju selangkah ke depan seraya mengelak, membuat tusukan pedang dan tangan jagur lewat tipis di sisi tubuh pemuda berbibir merah itu. Sementara telapak tangan kanan Joko sudah mencaplok wajah Jagur, membuat pria bersenjata pisau di tubuhnya itu hanya mendelik diam.
Blugk!
Cukup keras Joko mendorong kepala Jagur sehingga jatuh terjengkang ke rerumputan.
“Nisanak, apakah kau perlu pertolongan?” tanya Joko kepada Mega Kencani.
“Tidak!” jawab Mega Kencani tegas sambil kakinya menendang keras bokong Sujibak yang sedang memasukkan kaki kirinya ke dalam celananya.
Bsruk!
Sujibak yang masih panik karena kepergok basah mau berbuat cabul, terpaksa harus jatuh tersungkur.
Mega Kencani cepat berusaha bangun dan bisa berdiri dengan terbungkuk menahan rasa sakit dari luka yang didapat dari pertarungan sebelumnya.
Melihat Sujibak Lugang tersungkur dalam kondisi celana melorot, dua anak buah yang sudah bangkit berdiri memilih langsung menyerang Mega Kencani. Gadis itu dengan susah payah mencoba melayani serangan pukulan dan tendangan kedua anak buah Sujibak.
Bak! Buk! Dak!
Satu pukulan bersarang keras di bahu kanan Mega Kencani, menyusul satu tendangan ke perut yang membuatnya terbungkuk. Lalu satu kibasan kaki menghajar sisi kiri kepalanya. Gadis itu terbanting keras ke samping.
“Kisanak bercaping, tolong aku!” kata Mega Kencani kepada Joko, ia tidak bisa bangkit lagi.
Dak!
Mendengar permintaan tolong Mega Kencani, Joko langsung mengibaskan tendangannya menghajar kepala Jagur yang baru berdiri tegak.
“Nisanak, bangunlah, ayo kita pergi!” seru Joko dari tempat berdirinya.
“Orang bodoh! Apa kau tidak melihat aku sudah tidak sanggup berdiri?” maki Mega Kencani yang masih terbaring lemah dengan mulut belepotan darah.
Dua anak buah Sujibak yang melumpuhkan Mega Kencani segera cabut pisau-pisau terbangnya. Namun, keduanya tiba-tiba diam tidak bergerak dengan gaya masing-masing. Joko tahu-tahu sudah berdiri di dekat keduanya dalam satu jangkauan dan menotok mereka.
“Jagur, berikan pedangku!” perintah Sujibak kepada Jagur yang baru hendak menyerang Joko.
Jagur melempar pedang di tangannya kepada Sujibak. Pendekar Kucing Demang dengan gesit langsung menyerang Joko setelah pedang ada di tangan. Joko dengan gesit pula mengelaki setiap tusukan dan sabetan pedang yang berniat melukainya, bahkan membunuhnya.
Set!
Di tengah pertarungan antara Joko dan Sujibak Lugang, Jagur melesatkan tiga pisau terbangnya sekaligus yang mengincar Joko. Pemuda bercaping yang awalnya hanya menghindar saja, dengan gerakan nyaris tidak terlihat, tahu-tahu tangan kanannya mencengkeram leher Sujibak yang membuatnya mendelik terkejut sekaligus tercekik.
Tseb!
“Aaak...!” jerit Sujibak Lugang tinggi.
Sujibak yang dicengkeram lehernya ditarik keras sehingga posisinya berpindah tempat yang berfungsi menjadi tameng bagi Joko. Dua bilah belati terbang justru menancap di bokong Sujibak, itulah yang membuatnya menjerit setinggi awan dengan mulut terbuka selebar-lebarnya. Sementara satu bilah pisau lagi lewat tanpa mengenai sasaran.
“Hup! Hiah!” seru Joko memasang satu kuda-kuda dengan kedua tangan ditarik merapat ke lambung. Selanjutnya ia hentakkan kedua tangannya bertemu di dagu Sujibak yang sedang menjerit kesakitan.
Sujibak yang terhantam dagunya dari arah bawah, tubuhnya jadi terlompat tinggi ke belakang lalu jatuh setombak jauhnya dengan bokong mendarat bumi lebih dulu.
“Aaak...!” jerit Sujibak Lugang lagi, karena dua pisau anak buahnya kian dalam menusuk bokongnya.
“Hahaha!” tawa Joko melengkapi penderitaan Sujibak Lugang.
Tinggallah Jagur yang bimbang. Joko memandangnya dan menunjuknya.
“Kau, pilih buka baju atau pilih buka nyawa?” tanya Joko.
“Anu, pilih anu....” jawab Jagur tergagap kelabakan sendiri.
“Oh, berarti pilih buka nyawa,” kata Joko mengerti, lalu tiba-tiba tangan kanannya menyala putih cemerlang.
“Aku pilih buka baju! Buka baju!” teriak Jagur buru-buru menjawab dengan jelas sambil tangannya turut buru-buru bekerja membuka bajunya. Ia tidak mau jika Joko lebih dulu melepaskan satu ilmu berbahayanya.
“Bagus,” puji Joko seraya manggut-manggut.
“Apakah celana juga perlu, Pendekar?” tanya Jagur setelah badannya tanpa baju lagi.
“Tentu, tadi kau berniat mau buka celana juga kepada wanita itu, sekalian saja agar terlaksana,” kata Joko.
“I... iya,” kata Jagur lalu turut membuka celananya.
Dengan sabar Joko menunggu hingga Jagur melepas celananya. Kini Jagur berdiri dengan hanya bercawat. Ia berdiri tidak tegak sempurna, sebab kedua pahanya ia rapatkan serapat sari rapat dan lututnya setengah menekuk, sepertinya ia terlalu malu untuk mempertontonkan keperkasaannya kepada Joko dan Mega Kencani yang masih sadar tak berdaya.
“Sekarang berbalik dan pergilan sejauh yang kau inginkan!” perintah Joko.
“Siap!” seru Jagur patuh.
Jagur segera balik kiri dan berlari pergi menerobos rerumputan rendah. Sementara kedua temannya yang tertotok hanya menonton dalam ketidakberdayaannya.
Joko lalu beralih kepada Mega Kencani yang terkapar empat langkah darinya.
“Nisanak, apakah kau bisa bangun dan berjalan?” tanya Joko.
“Joko bodoh! Jika kau mau menolong, bawa aku. Jika kau mau membiarkan aku mati, pergi sana!” maki Mega Kencani.
“Waduh, bagaimana ini ya?” gumam Joko kepada dirinya sendiri yang masih terdengar oleh Mega Kencani. Ia berpikir.
“Apa susahnya? Kau tinggal menggendong tubuhku dan membawanya ke tempat aman, lalu kau bisa meringankan lukaku dengan tenaga dalammu. Luka dalamku semakin membusuk!” kata Mega Kencani setengah berteriak-teriak.
“Baik, baik, baik,” kata Joko akhirnya.
Joko lalu berdiri dengan sikap sempurna. Ia menarik napas dalam-dalam. Sementara otaknya sedang memberi sugesti dalam pikirannya yang dilafazkan berulang-ulang oleh lisannya.
“Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah. Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah. Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah. Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah,” ucap Joko berulang-ulang seperti melafazkan sekalimat mantera.
Di saat merapal seperti itu, Joko memejamkan mata di balik kedalaman bayangan capingnya.
“Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah. Dia lelaki bernama Bonggol yang sedang terluka parah....”
Sambil terus merapal dengan mata terpejam, tiba-tiba Joko bergerak cepat. Ia maju ke sisi Mega Kencani, langsung meraih tubuh wanita itu, lalu mengangkatnya seperti mengangkat karung beras ke bahu kanan, kemudian membawanya melesat pergi seperti larinya orang yang mencuri sesuatu. Semua itu Joko lakukan dengan mata tertutup. Jarak, apa yang dipegang, hingga arah pelarian, semua sudah ia perhitungkan.
“Aw! Joko kurang ajar! Joko cabul! Ak! Pendekar tidak berperasaan! Pemuda kasar!” caci maki Mega Kencani selama dalam penanganan Joko.
Tindakan Joko yang terburu-buru dan dengan mata tertutup, membuat ia asal pegang tanpa pilih anggota tubuh wanita Mega Kencani yang layak dipegang dan mana yang tidak layak, membuat ia seperti mengangkat benda mati tanpa ada takaran kelembutan. Akibatnya, anggota tubuh terlarang Mega Kencani tercomot tak sengaja oleh tangan Joko, kekasaran cara penanganan membuat gadis itu kesakitan di sana dan di sini. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
delete account
bergegas buru-buru karena terkejut 🤔
2024-05-21
1
☕ 𝙾𝙵𝙵𝙻𝙸𝙽𝙴
komentar ini bakal viral !
2023-08-04
3
м᩸σͦηⷬⷬ💯тⷬяͦσͦⒻ⃟🐠
🤣🤣🤣🤣🤣🤣yg kecomot joko bagian yg mn nih🤣🤣🤣🤣.
2023-07-31
1