“Hah!” jerit Joko terkejut bukan main.
Bdak!
Spontan Joko melempar tubuhnya jauh ke belakang, hingga-hingga punggungnya menabrak dinding gua.
Ketika pemuda berbibir merah itu membuka matanya, ia mendapati wajah cantik Mega Kencani telah berada begitu dekat di depan wajahnya, seolah hendak menciumnya. Itulah yang membuat Joko terkejut panik.
Kini Joko terduduk dalam kondisi wajah pucat berkeringat dengan napas terengah-engah.
“Hihihik...!”
Mega Kencani tertawa keras dan berkepanjangan sambil merapikan bahu pakaiannya yang tadi agak terbuka. Ia pun membersihkan darah-darah kotor yang mengotori wajah dan tubuhnya.
Tep!
Joko Tenang mengarahkan tangannya ke posisi caping besarnya. Benda itu langsung tersedot oleh tenaga dalam dan melesat ke tangan Joko. Ia segera menutupi kepala dan sebagaian wajahnya dengan caping tersebut.
“Ilmu pengobatanmu memang luar biasa, Joko. Aku sampai terangsang,” kata Mega Kencani seraya tersenyum malu seperti gadis dipingit.
“Apa maksudmu tadi?” tanya Joko agak membentak, tapi tidak marah. Ia tidak mengindahkan kesan dan kekaguman gadis itu.
“Yang mana?” tanya Mega Kencani tak mengerti.
“Kau mendekatkan wajahmu ke wajahku,” jawab Joko.
“Wajahmu begitu tampan, sangat tampan. Jadi aku ingin melihat, apakah itu kulit asli atau topeng,” kata Mega Kencani. “Kenapa kau begitu takut dengan kecantikanku?”
“Tidak usah dibahas. Bukankah sudah aku beri tahu tadi,” kata Joko lalu berdiri dengan kondisi fisik dan jiwa yang sudah normal. “Siapa namamu?”
“Mega Kencani,” jawab Mega lalu turut berdiri. “Setelah kau memegang seluruh tubuhku, apakah kau tidak tertarik kepadaku?”
“Jangan mendekat!” seru Joko cepat saat Mega Kencani berniat lebih dekat kepadanya.
“Baik,” kata Mega patuh seraya tersenyum memandang bibir merah Joko.
“Sebelum aku pergi, boleh aku tahu permasalahanmu dengan orang-orang tadi?” kata Joko.
“Sangat boleh. Tapi, apakah kau benar akan pergi meninggalkanku sendiri? Kau tidak tertarik sedikit pun kepadaku setelah kau merasakah kelembutan tubuhku?” kata Mega Kencani mencoba memancing kelelakian Joko.
“Ceritakanlah!” kata Joko, tidak mempedulikan kegenitan Mega Kencani.
“Baik. Pendekar Kucing Demang berhasil melukaiku dengan Pukulan Kubur Hitam lalu berniat membunuhku, bahkan memperkosaku. Aku mengetahui rahasia tuan mereka, sehingga aku wajib dibunuh. Tuan mereka, Demang Rubagaya, telah memerintahkan untuk membunuh istrinya, karena istri Si Demang ternyata mandul. Jika aku laporkan kepada ayah dari istri Demang bahwa kematian putrinya adalah atas perintah Demang sendiri, bisa habis itu Demang. Pendekar Kucing Demang itu sebenarnya bukan apa ....”
Tiba-tiba Joko melompat menerkam tubuh Mega Kencani, membuat bicaranya terputus, sehingga keduanya jatuh bertindihan di sudut gua.
Blarr!
Bersamaan dengan itu, satu titik dinding gua meledak hancur.
“Rupanya ada yang mau bermain-main dengan mautnya murid Setan Genggam Jiwa!” gerutu Mega Kencani marah.
Joko yang posisinya menindih tubuh Mega Kencani, menggulingkan tubuhnya ke samping hingga tergeletak di sisi gadis itu. Terlihat Joko terbaring dalam kondisi wajah berkeringat dan pucat, tubuhnya seolah tergeletak tanpa tenaga. Bibirnya terbuka, seolah ingin menyedot udara sebanyak-banyaknya agar bisa bernapas.
“Kenapa kau, Joko?” tanya Mega Kencani berubah agak panik.
“Menjauhlah dariku agar aku tidak pingsan,” kata Joko lemah. “Temui saja orang di luar yang menyerangmu, nanti aku menyusul.”
“Baik,” ucap Mega Kencani, tapi ia ragu untuk meninggalkan Joko dalam kondisi lemah seperti itu. Namun, ia harus segera melihat siapa yang telah menargetkannya dari luar gua.
Mega Kencani segera meninggalkan Joko dan berlari ke luar gua.
Sepeninggal Mega, Joko berangsur membaik dan ia segera memulihkan diri.
“Hihihi...!”
Setibanya di luar gua, Mega Kencani mendapati seorang anak kecil yang tertawa nyaring seperti gadis malam di tengah kuburan. Meskipun besar tubuhnya seperti anak kecil berusia belasan tahun, tapi sebenarnya wanita kecil itu adalah seorang nenek dengan usia di atas 70 tahun. Ia membawa sebatang tongkat besar yang tidak lurus. Tawanya membuat giginya yang tinggal beberapa buah jadi terlihat jelas tidak indah dipandang.
Kontras dengan si nenek yang bertubuh mungil, di belakangnya justru berdiri sesosok tubuh lelaki tinggi besar bertampang sangar dengan mata lebar dan hidung besar. Tawanya yang mengiringi tawa si nenek membuat deretan gigi kusutnya terlihat menyeramkan. Pria berkulit hitam kelam itu tidak berbaju, kian lengkaplah penampilannya yang bercahaya karena keringatnya memantulkan sinar matahari. Celananya berwarna biru yang dihiasi logam-logam besi yang mengkilap.
“Oh, jadi kau ingin membunuhku Nenek Kerdil Raga?!” kata Mega setengah membentak nenek yang sudah dikenalnya itu.
“Muridku melaporkan bahwa kau berada di gua ini bersama seorang pemuda bercaping. Maaf, aku jadi mengganggu kalian. Tentunya sangat mengesalkan jika kesenangan kita diganggu orang lain. Ternyata asmara membuatmu sangat cepat sembuh. Hihihi...! Padahal kau terluka parah oleh Pukulan Kubur Hitam Sujibak. Hihihi...!” kata Nenek Kerdil Raga tertawa-tawa genit.
“Iya!” sahut lelaki besar hitam di belakang si nenek dengan suara mengayun dan gerakan tangan yang gemulai. Suaranya suara lelaki yang seolah dipaksa dikebiri agar menyerupai suara wanita. “Tadi aku melihatmu sedang digendong mesra oleh pria bercaping. Ih, aku ingin seperti itu deh.”
“Hei, Gajahlani!” bentak Mega Kencani galak. “Kenapa kau tidak langsung minta digendong saat itu juga agar aku bisa membunuhmu? Kenapa kau harus lapor kepada guru kecilmu ini?”
“Ih, galak sekali, sih. Aku jadi ciut,” kata lelaki besar lalu gerakan dagunya melengos menatap ke arah lain, seolah jual mahal terhadap pandangan Mega Kencani.
“Mega, kau memilih cara mati yang seperti apa?” tanya Nenek Kerdil.
“Sebelum kau membunuhku, aku ingin tahu alasan dibalik niatmu itu, Kerdil?” tanya Mega Kencani tanpa memandang bahwa lawan bicaranya adalah orang yang jauh lebih tua.
“Seperti ini loh, Sayang,” ucap pria kewanitaan yang bernama Gajahlani itu sambil lambaikan tangannya agar Mega memandangnya. “Karena Nimas Mega Kencani sudah mengetahui satu rahasia Demang Rubagaya, agar rahasia itu tidak sampai ke telinga Dubak Jokjong, kami harus membunuhmu, Sayang.”
Dari dalam gua muncul Joko lalu berdiri agak jauh dari Mega Kencani.
“Oh, pemuda bercaping idaman!” pekik Gajahlani dengan wajah terkejut sambil dua tangannya menempel di pipinya. Senyum cantiknya yang menggelikan mekar mengagumi sosok Joko yang seolah-olah seorang idola papan atas. “Gagahnya.”
“Hahaha ...!”
Meledaklah tawa Joko melihat reaksi Gajahlani, membuat pria hitam cantik itu merengut imut seperti sarang semut.
“Kini bukan aku saja yang tahu, jadi kemungkinan besar hal ini tetap akan bocor sampai ke Dubak Jokjong,” kata Mega.
“Hihihi! Tidak bisa. Demang Rubagaya telah meminta bantuan orang-orang sepertiku untuk memburumu dan Pendekar Tikus Langit. Termasuk kau anak muda,” kata Nenek Kerdil lalu menunjuk Joko yang masih menyisakan tawanya. “Kau juga harus mati.”
“Kenapa aku, Nek?” tanya Joko.
“Karena kau telah mengetahui rahasia Demang Rubagaya!” sentak Nenek Kerdil.
“Hihihi!”
Mega Kencani justru tertawa, seolah menertawakan Nenek Kerdil Raga. Tawa itu membuat si nenek dan muridnya berubah curiga.
“Kenapa kau tertawa?” tanya Nenek Kerdil Raga.
“Kau memang sudah terlalu tua sehingga dengan mudahnya kau dikadali oleh Si Demang itu,” kata Mega Kencani.
“Apa maksudmu?!” tanya Nenek Kerdil Raga membentak.
“Bukan hanya rahasia pembunuhannya yang aku tahu, tapi juga rahasia di balik upayanya menyewa kau dan lainnya. Apakah kau pikir Demang menyewamu hanya semata-mata untuk membunuhku dan Pendekar Tikus Langit? Tidak, dia punya maksud lain. Maksud itu tentunya Demang rahasiakan dari kalian,” ujar Mega Kencani.
“Kau jangan membuatku bingung!” bentak Nenek Kerdil Raga.
“Memang benar istri Demang dibunuh karena kemandulannya. Namun, itu adalah satu dari dua alasan sebab ia dibunuh. Alasan kedua ia dibunuh adalah karena ia mengetahui bahwa suaminya ingin memiliki beberapa benda pusaka milik beberapa tokoh. Salah satunya adalah kau, Nenek Kerdil,” jelas Mega Kencani.
“Kau jangan coba mempermainkanku, Gadis Murah. Benda berharga apa yang Demang inginkan dariku?” kata Nenek Kerdil Raga.
“Tentunya kau memiliki Pil Gerogot Jantung, Nenek Kerdil?” terka Mega Kencani.
Terlihatlah ekspresi setengah terkejut di wajah tua Nenek Kerdil Raga. Gajahlani bahkan memekik kecil karena Mega Kencani menyebut nama Pil Gerogot Jantung.
“Bagaimana bisa kau tahu aku memiliki Pil Gerogot Jantung?” tanya Nenek Kerdil Raga curiga.
“Aku tahu dari istri Demang Rubagaya. Tentunya, Demang juga menyewa jasa sakti Iblis Kaki Katak,” tandas Mega Kencani.
“Apa benar yang kau katakan itu?” tanya Nenek Kerdil Raga ragu.
“Aku tidak akan memaksamu untuk percaya, apa untungnya aku? Karena itulah aku sangat penting untuk kalian bunuh, agar kalian dengan mudah dibohongi oleh Demang. Hihihi, semakin tua semakin bodoh.”
Nenek Kerdil Raga tampak berubah geram. Ia memandang murid besarnya yang tidak bisa berkata apa-apa.
“Demang berencana merebut secara diam-diam beberapa benda hebat dari beberapa orang sakti, karenanya ia menyewanya agar dengan mudah mendapatkannya. Jika benda-benda itu terkumpul, Demang akan menciptakan sebuah senjata sakti untuk menyingkirkan para pesaingnya dari sesama tokoh golongan hitam,” jelas Mega Kencani.
Nenek Kerdil Raga tampak jadi bimbang. Kegarangannya kini hilang berganti kebingungan.
“Kau tinggal memilih, Nenek Kerdil. Kau mau membunuhku dulu yang belum tentu bisa, karena bersamaku ada seorang pemuda sakti. Atau, kau selesaikan urusanmu dengan Demang yang berencana membunuhmu setelah jasamu sudah tidak berharga lagi,” tandas Mega Kencani.
“Nenek!” panggil Gajahlani seperti gadis manja yang merengek minta kawin.
“Apa?!” bentak Nenek Kerdil Raga sewot.
“Aku tidak tahan lagi!” rajuk Gajahlani sambil berdiri setengah menekuk lutut dan mengapit sudut pahanya, seolah sedang berusaha menyekik salauran air seninya.
Nenek Kerdil Raga lalu berkata kepada Mega Kencani, “Kau selamat kali ini. Namun, jika kau membohongiku, jangan harap kau bisa kabur untuk kedua kalinya!”
“Jika aku berbohong kepadamu, kau tahu bahwa aku tidak akan selamat dari kesaktianmu Nenek Kerdil,” kata Mega Kencani.
“Gajahlani, ikut aku menemui Demang keparat itu!” perintah Nenek Kerdil Raga.
“Iyaaa, Nek!” sahut Gajahlani lalu berjalan buru-buru dengan pinggul melenggang asik, pergi mengikuti sang guru.
“Hahaha!” tawa Joko melihat pembawaan Gajahlani. Lalu tanyanya kepada si gadis, “Apakah benar yang kau katakan itu?”
“Tidak. Aku hanya menghindari bentrok dengan orang sakti itu,” kata Mega Kencani jujur. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Idrus Salam
Siasat memang penting, apalagi untuk membela diri.
2024-01-27
1
м᩸σͦηⷬⷬ💯тⷬяͦσͦⒻ⃟🐠
otakku gesrek bang gara2 nama peran gajah lani🙈
2023-08-03
2
Elmo Damarkaca
Ashiik...
2023-04-14
1