Setelah berjalan seperempat lingkaran memutari bukit kecil yang mereka lalui, tibalah Joko Tenang dan Mega Kencani di sebuah kedai sederhana terpencil di pinggir jalan berkerikil. Kedai itu seolah sengaja dibangun untuk tempat persinggahan bagi para musafir. Meski bagian bukit itu bertanah kering dan berkerikil, beberapa pohon besar tumbuh di sekitar kedai, menjadi penaung tersendiri bagi bangunan bambu dan kayu itu.
Setibanya di kedai, Joko dan Mega Kencani tidak melihat ada orang di dalamnya, tapi ada makanan yang tertata di atas meja kayu dan ditutupi oleh pengurung dari anyaman bambu agar aman dari debu dan lalat.
“Tidak ada pemiliknya,” kata Joko sambil berjalan masuk melongok sampai ke dapur kedai hingga ke belakang.
Saat Joko kembali ke depan, Mega Kencani sudah duduk sambil menikmati makanan yang sudah ia buka di meja.
“Aku lapar. Jikalau pun tidak ada pemiliknya, kita makan saja makanannya,” kata Mega Kencani.
“Itu sama saja maling namanya,” kata Joko.
“Sebentar lagi pemiliknya pasti muncul. Makanlah!”
Joko tidak turut makan, ia memilih keluar untuk mencari pemilik kedai. Setelah pandangannya mengitar, Joko melihat adanya seseorang yang sedang duduk bersandar di balik sebuah pohon besar. Joko hanya melihat sebagian kain pakaian lusuh berwarna abu-abu bercampur warnah kuning. Terdengar pula ceracauan samar yang tidak jelas dari sosok di balik pohon.
“Hehehe!”
Terdengar suara kekehan seorang kakek. Seiring itu, sosok di balik pohon bergerak berdiri lalu melangkah keluar ke hadapan Joko. Si pemuda pun menghentikan langkahnya.
Sosok orang tua itu berpakaian abu-abu dan kuning compang-camping. Rambutnya putih kusut tidak teratur. Orang itu tidak lain adalah Pengemis Maling.
“Kisanak, tahukah kau ke mana perginya pemilik kedai?” tanya Joko dengan nada santun.
“Hehehe!” Pengemis Maling justru terkekeh sambil berjalan melewati sisi kiri tubuh Joko, membuat Joko menghirup aroma tubuh yang tak sedap dari orang yang jarang mandi.
Tidak dijawab semestinya, Joko hanya menduga bahwa orang tua itu adalah orang gila.
“Hehehe! Keris ini sangat bagus, Bocah,” kata Pengemis Maling.
Mendengar kata “keris”, ekspresi Joko seketika berubah. Ia segera meraba sesuatu yang ada di balik pakaiannya. Namun ia harus terkejut, sebab benda yang ia cari tidak terdapat lagi di balik pakaiannya. Buru-buru Joko berbalik.
“Orang tua!” seru Joko cepat, membuat Pengemis Maling berhenti melangkah sambil masih terkekeh-kekeh.
Segera Joko bergerak ke hadapan Pengemis Maling. Kini ia melihat kakek dekil itu memegang sebuah keris kecil tapi bagus. Keris itu masih menyatu dengan warangkanya yang hijau berukir indah bersinar redup. Ada hiasan permata biru kecil di gagangnya. Panjang keris itu hanya satu jengkal.
Joko terkejut melihat keris di tangan Pengemis Maling, karena itu adalah senjata yang seharusnya berada rapi di balik pakaiannya. Joko hanya bisa menduga bahwa orang tua itu secara hebat telah mencuri keris ketika berlalu di sisinya, tanpa sedikit pun terasa ada sentuhan.
“Kakek tua, kembalikan keris itu!” pinta Joko agak membentak.
“Keris sakti ini seperti berjodoh kepadaku, sehingga aku tertarik untuk mengambilnya. Kalau kau mau mengambilnya, kau harus merebutnya sendiri dari tanganku. Hehehe!” kata Pengemis Maling.
“Orang tua, keris itu bukan milikku. Jadi jika kau bermaksud mencurinya, maka aku tidak akan segan-segan bertindak kasar terhadapmu!” ancam Joko.
“Aku sudah tahu bahwa keris ini bukan barang milikmu, jadi pantas jika aku mencurinya. Hehehe!”
Mendengar keributan di luar kedai, Mega Kencani jadi penasaran.
“Kakek Pengemis Maling,” desis Mega Kencani pelan saat mengenali siapa orang yang dihadapi oleh Joko. Sejenak ia terdiam, akalnya berpikir. “Itu pasti pusaka milik Guru yang Joko ceritakan tadi. Jika aku memilikinya, tentunya akan menguntungkan aku.”
Mega Kencani lalu mengendap-endap di dalam kedai tembus ke balakang.
“Jangan salahkan jika aku bertindak keras, orang tua,” kata Joko yang masih ditanggapi dengan kekehan Pengemis Maling.
Tiba-tiba dari arah samping melesat terbang laksana anak panah sosok Mega Kencani. Melintas tepat di depan wajah Pengemis Maling, sementara tangan gadis itu merampas keris di tangan si kakek.
“Hehehe ...!”
Pengemis Maling justru tertawa kian kencang melihat aksi Mega Kencani, seolah perbuatan gadis itu adalah hal yang tidak berarti.
Wess!
Baru saja Mega Kencani mendarat dari terbangnya, sesosok bayangan hitam telah melintas di depannya. Seiring itu, tangannya pun kosong oleh keris yang sempat dirampasnya.
“Keris ini tidak pantas berada di tanganmu, Perempuan Keparat!” kata sosok berpakaian serba hitam dan bertopeng kain hitam seperti ninja. Ialah orang yang menyambar keris di tangan Mega Kencani. Sosok bersuara perempuan itu menyandang tameng besar berbahan logam di punggungnya.
“Tikus Langit!” pekik Mega Kencani terkejut saat tahu siapa yang merebut keris di tangannya.
“Kau mau lari lagi?” tanya sosok berpakaian hitam yang adalah Pendekar Tikus Langit.
“Aku tidak akan lari lagi!” tandas Mega Kencani.
“Kau pikir teman lelakimu itu bisa membantumu?” tanya Pendekar Tikus Langit. Ia lalu melesatkan keris di tangannya kepada Pengemis Maling yang hanya doyan terkekeh.
Slap!
Setelah menerima keris dari Pendekar Tikus Langit, tiba-tiba Pengemis Maling menghilang dari tempatnya.
Joko Tenang terkejut. Ia tahu ke arah mana orang tua itu melesat pergi. Tanpa pamit kepada siapa pun, Joko pun melesat laksana menghilang memburu Pengemis Maling.
Kini tinggallah kedua wanita itu berhadapan. Kepergian Joko ternyata membuat Mega Kencani khawatir, karena ia harus menghadapi Pendekar Tikus Langit sendirian. Akhir-akhir ini, orang yang paling dikhawatirkan oleh Mega Kencani adalah Pendekar Tikus Langit. Selain pendekar bertopeng itu berkesaktian lebih tinggi, ia juga tidak bisa diakali, karena tugasnya adalah menangkap Mega Kencani hidup atau mati.
“Harga makananmu di kedai sudah aku tanggung, jadi tidak perlu lagi kau membayarnya. Tak ada yang bisa membantumu kali ini. Kau memilih menyerah atau masih mau berusaha kabur?” ujar Pendekar Tikus Langit.
Wuss!
Mega Kencani melepaskan serangkum angin pukulan yang menderu keras. Dengan kibasan tameng di tangan kirinya, Pendekar Tikus Langit mengalihkan angin keras itu ke tempat kosong, sehingga debu dan kerikil kecil berhamburan tertiup kencang.
Saat Pendekar Tikus Langit hendak meyerang Mega Kencani, gadis berpakaian hijau kuning itu sudah melesat melarikan diri. Tidak mudah bagi Mega Kencani untuk lolos dari pemburunya itu, sebab wanita bertopeng itu sudah melesat cepat laksana angin badai mengejar. Setiap ada pohon, Pendekar Tikus Langit menjadikannya sebagai tolakan untuk mempercepat laju terbangnya. Dalam waktu singkat, jarak kejarnya semakin dekat.
Sementara itu, kejar-kejaran tingkat tinggi terjadi antara Joko Tenang dan Pengemis Maling. Rupanya Joko mampu memburu Pengemis Maling sehingga terjadi pertarungan. Namun, pertarungan itu hanya singkat, sebab Pengemis Maling kembali kabur. Joko pun kembali mengejar. Terkejar lagi. Bertarung lagi. Kabur lagi dan dikejar lagi. Hal itu terjadi berulang beberapa kali.
Ternyata kehebatan menghilang dan kabur Pengemis Maling tidak bisa mengecoh Joko Tenang.
Blarrk!
Pada satu kesempatan dalam pengejaran, Joko Tenang melesatkan pukulan Pisau Neraka yang berwujud sinar merah berbentuk pisau. Sinar itu menghancurkan sebatang pohon yang membuat batang atasnya tumbang di depan lesatan tubuh Pengemis Maling. Si kakek terpaksa mengerem larinya dan membuat Joko berhenti beberapa langkah darinya.
“Kakek, tolong berikan keris itu. Ini pintaku yang terakhir!” kata Joko.
“Hehehe, panjang juga napasmu, anak muda. Aku tetap tidak akan memberikannya, karena keris ini bukan milikmu!” tandas Pengemis Maling.
“Itu berarti kau memaksaku untuk bertindak serius!” tegas Joko.
“Hah! Apakah yang tadi belum serius?” kejut Pengemis Maling.
“Itu baru pemanasan,” jawab Joko.
“Gila kali lipat. Aku kira tadi adalah kemampuan tertingginya, ternyata baru tahap awal. Padahal aku sudah tidak bisa menghindar dari kejarannya. Siapa sebenarnya pendekar asing ini?” membatin Pengemis Maling.
“Kenapa?” tanya Joko yang melihat perubahan ekspresi Pengemis Maling.
“Hehehe. Itu pun tadi baru permulaanku, aku pun belum begitu serius,” kilah Pengemis Maling.
“Jika demikian, maafkan jika aku bertindak keras kepada orang tua!” seru Joko lalu langsung merangsek maju.
Pengemis Maling mendelik lalu buru-buru meladeni serangan Joko. Serangan Joko kali ini sangat cepat, lebih cepat dari yang sebelum-sebelumnya. Karenanya Pengemis Maling jadi kelabakan. Pengemis Maling seolah menghadapi serangan sepuluh tangan, terasa terlalu banyak.
Bak! Bababak!
“Hugk!”
Pada akhirnya, Pengemis Maling tidak bisa bertahan. Empat pukulan beruntun lolos menghajar ke dada tua si kakek. Pengemis Maling terjengkang.
“Huk huk huk!” Pengemis Maling terbatuk beberapa kali. Ia membatin, “Serangan tangannya lebih cepat dari tangan pencuriku. Ini serangan tangan tercepat yang pernah aku hadapi.”
“Bagaimana, Kek?” tanya Joko Tenang.
“Untung kau tidak mengerahkan tenaga dalam saat memukulku. Hebat kau, Bocah!” puji Pengemis Maling sambil bangun berdiri. “Tapi aku belum menyerah.”
Bak! Werss!
Wusss!
Pengemis Maling menghentakkan kaki kanannya ke bumi. Dari bawah tapak itu melesar aliran sinar biru menjalar di bumi ke arah kaki Joko. Pemuda bercaping itu langsung naik ke udara sambil lepaskan serangkum angin pukulan.
Blar!
Angin itu menghantam sinar yang menjalar sehingga menimbulkan ledakan tenaga dalam yang tinggi. Tanah terbongkar ke udara seiring terpentalnya tubuh tua Pengemis Maling.
“Gila kali lipat! Ilmu apa yang dilepasnya sehingga tubuhku merasakan panas seperti ini?” rutuk Pengemis Maling. Ia segera memainkan tenaga dalamnya untuk menciptakan hawa dingin di dalam tubuhnya.
Setelah bisa menormalkan suhu dalam tubuhnya, Pengemis Maling lalu menatap tajam dada Joko. Melihat keanehan cara memandang Pengemis Maling, Joko pun curiga.
“Dia pasti sedang berusaha menyerangku secara gaib,” batin Joko. Namun, tak berapa lama, Joko kemudian merasakan sakit yang sangat pada jantungnya, hingga ia menjerit tertahan, “Ak!”
Cepat Joko Tenang berbalik membelakangi Pengemis Maling. Rasa sakit yang tiba-tiba menyerang jantungnya mendadak lenyap. Melihat Joko telah berdiri sempurna dan tidak menunjukkan lagi gangguan pada dirinya, Pengemis Maling lebih berkonsentrasi menatap seolah hendak menembus ke dalam jantung Joko dari arah belakang. Namun, Joko tidak menunjukkan reaksi sakit sedikit pun.
“Ilmu apa yang membuatnya bisa menangkal Tatapan Gigit Angan milikku? Tidak mungkin hanya dengan berbalik ilmu hebatku bisa dia mentahkan,” membatin Pengemis Maling.
Di luar sepengetahuan Pengemis Maling, rompi merah yang dikenakan Joko adalah rompi pusaka yang bernama Api Emas. Rompi itu adalah pusaka dari ayah Joko. Rompi itulah yang menghalangi pengaruh Tatapan Gigit Angan Pengemis Maling.
Setelah agak lama tidak menunjukkan hasil dari serangan gaibnya, Pengemis Maling akhirnya berhenti.
Merasakan kekuatan mata kakek itu telah berhenti menyerang kepadanya, Joko pun kembali berbalik.
“Hebat kau, Bocah!” puji Pengemis Maling.
“Kapan kau akan mengembalikan senjata itu?” tanya Joko.
“Kapan kau bisa menangkapku?” balas tanya Pengemis Maling menantang.
Setelah berkata, Pengemis Maling kembali melesat laksana menghilang. Namun, Joko tidak langsung melesat pergi mengejar.
“Kau memaksaku menggunakan Langkah Dewa Gaib,” ucap Joko lirih.
Joko lalu berjalan berputar di tempatnya. Tubuhnya kemudian tiba-tiba lenyap begitu saja.
“Hehehe ...!”
Pengemis Maling terkekeh panjang saat mengetahui tidak ada Joko yang mengejar di belakangnya.
“Mau lari ke mana kau, Kek?” tanya Joko yang tiba-tiba muncul dari balik pohon menghadang lesatan tubuh Pengemis Maling.
“Huaah! Kodok buncit!” teriak Pengemis Maling sangat terkejut dan spontan ia mengerem laju tubuhnya. Ia menatap tajam Joko seraya membatin, “Baru kali ini bertemu lawan muda sehebat ini.”
Pengemis Maling lalu memutuskan berbelok arah ke utara. Kali ini ia mengerahkan tenaga maksimalnya untuk melesat secepat mungkin.
“Kodok bunting!” pekik Pengemis Maling lagi sambil spontan berhenti, membuat tubuhnya justru tersandung dan jatuh bergulingan ke depan kaki Joko Tenang.
Joko Tenang lagi-lagi muncul mendadak dari balik pohon menghadang lesatan tubuh Pengemis Maling.
“Hehehe!”
Meski dalam hati tidak habis pikir dengan kemampuan Joko muncul tiba-tiba di hadapannya, tapi Pengemis Maling tetap terkekeh seraya bergerak bangun.
“Apakah kau tidak bermaksud mampir ke gubukku, Anak Muda?” tanya Pengemis Maling.
Memang, saat itu keduanya berada tidak jauh dari sebuah rumah bambu berpanggung. Tinggi panggungnya hanya sepinggang orang dewasa. Berteras sempit, tapi di sisi kanannya ada balai-balai bambu.
“Serahkan keris itu atau aku serang!” tandas Joko tanpa pedulikan pondok yang dimaksud orang tua di depannya.
Tiba-tiba Pengemis Maling berteriak keras.
“Ranggasewaaa ...!”
“Siapa yang kau panggil, Kek?” tanya Joko tanpa mencoba mencari lihat siapa orang yang Pengemis Maling panggil.
“Ranggasewa, aku tidak bisa urus bocah hebat ini!” teriak Pengemis Maling sambil memandang ke arah gubuk.
“Baru kali ini aku dengar kau mengeluhkan lawanmu, Kalugar!” sahut seseorang yang keluar dari dalam gubuk. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
ASGARD
kalau pergi ke pasar bisa langsung kaya ini pengemis
2023-08-05
3
Budi Efendi
mantap thorrr
2023-01-07
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
pengemis maling degeul pisan wkwkwk 🤣🤣🤣
2022-11-11
1