Ginari alias Pendekar Tikus Langit segera bangkit dari tanah. Berdirinya sempat sempoyongan sejenak, tapi ia segera betulkan kuda-kudanya. Pandangannya tajam menatap Nenek Kerdil Raga yang terkekeh menjengkelkannya.
Ginari lalu membuka penutup wajahnya. Maka tampaklah wajah jelita yang bibir dan dagunya berlumur darah.
“Cuih!” Ginari meludah darah ke tanah. Ia pun menyeka wajahnya dari darah yang belepotan.
“Wah wah wah, baru kali ini aku melihat wajah aslimu, Tikus Langit. Rupanya kau wanita yang jelita, hihihi!” kata Nenek Kerdil Raga tertawa.
“Nenek ...!” panggil Gajahlani, lelaki besar dengan suara panjang mendayu dan gerak tubuh yang merengut manja.
“Kenapa, Gajahlani?!” tanya Nenek Kerdil Raga membentak. “Saat serius seperti ini kau minta kencing?!”
“Tidak, aku tidak mau pipis, tapi aku mau diaaa,” jawab Gajahlani merajuk seraya menunjuk Ginari yang membuatnya seketika tertarik oleh kecantikan gadis itu.
“Hahaha!” Joko Tenang yang tidak biasa melihat “makhluk aneh” seperti Gajahlani, jadi tertawa terbahak di tempat duduknya.
“Kurang ajar!” maki Gajahlani dengan suara mendayu.
Ses! Blar!
Gajahlani menyentilkan sebutir sinar merah yang melesat menyerang Joko Tenang. Hal itu membuat Joko terkejut lalu buru-buru melompat menghindar, membuat tempat duduknya meledak kecil.
“Hahaha!” Joko kembali melanjutkan tawanya.
Gajahlani akhirnya hanya merengut. Ia memilih mengabaikan Joko yang telah menyinggungnya.
“Jangan berbangga dulu, Nenek Kerdil!” seru Ginari.
“Silakan tunjukkan kemampuan tertinggimu sehingga aku pun bisa mengeluarkan kehebatanku!” kata Nenek Kerdil Raga. “Tapi jangan paksakan, Gadis Cantik. Kau sudah terluka.”
“Biar pun aku sampai mati, aku tidak menyesal!” seru Ginari.
Ginari lalu mencelat naik tinggi lurus ke atas. Hebatnya, ia tidak turun lagi, bisa mengambang di atas sana. Posisi Ginari itu membuat Nenek Kerdil Raga bersiaga.
Wusss! Wusss!
Bduar! Bduar!
Dari atas tempatnya berada, Ginari melepaskan pukulan jarak jauh beruntun menghujani Nenek Kerdil Raga. Si nenek bergerak cepat menghindari setiap titik serangan. Titik yang ditinggalkannya selalu meledak setelahnya. Kubangan-kubangan tanah tercipta membuat area itu berantakan. Beberapa kali Nenek Kerdil Raga harus jatuh bergulingan.
Sebenarnya, bisa saja Ginari melakukan serangan yang lebih dahsyat dengan ilmunya. Namun, kondisinya yang telah terluka membuat ia hanya melepaskan pukulan jarak jauh.
Ses!
Melihat gurunya cukup kelabakan menghindari hujan pukulan itu, Gajahlani menyentilkan sebutir sinar merah ke atas, kepada Ginari. Serangan itu membuat Ginari cukup terkejut ketika ia fokus kepada si nenek. Buru-buru tubuhnya bergerak mundur di udara dan sinar merah Gajahlani lewat di depan tubuhnya terus naik dan menghilang di ketinggian.
Jress!
Sela waktu luang yang tercipta, cepat dimanfaatkan oleh Nenek Kerdil Raga. Ia menusukkan tongkatnya mengarah posisi Ginari yang jauh di atas. Dari ujung tongkat itu berlesatan lingkaran-lingkaran sinar hijau kecil. Namun, semakin tinggi sinar hijau itu melesat, wujudnya kian membesar. Serangan besar dan ramai itu membuat Ginari terkejut, ia tidak yakin bisa menghindar.
Ginari tetap berusaha melesat mundur agar tidak masuk dalam lingkaran sinar hijau itu. Namun, sebelum Ginari bisa keluar dari zona lingkaran yang lebar, sinar-sinar itu lebih dulu sampai pada ketinggiannya. Sementara Ginari belum berhasil keluar.
Jebs! Jebs!
“Akh!”
Akibatnya, ketika sinar-sinar yang berbaris naik itu sama tinggi dengan posisi Ginari, lingkaran sinar itu langsung mengecil dan mencekik tubuh Ginari beramai-ramai. Ginari pun menjerit tertahan, sehingga tubuhnya pun tertahan tidak berkutik di atas sana.
Semakin banyak sinar yang datang membelitnya, semakin kuat belitan itu dan semakin kesakitan Ginari. Sakit dan panas seperti api dirasakan olehnya. Bahkan arus napasnya juga dibuat tersumbat. Perlahan-lahan tubuh Ginari diturunkan oleh kekuatan tongkat Nenek Kerdil Raga.
“Apakah kau perlu bantuan, Nisanak?” tanya Joko Tenang kembali menawarkan jasa.
“Aku tidak perlu pertolonganmu! Akh ...!” teriak Ginari seraya menahan sakit.
“Aku ingin lihat, sampai di mana kemampuanmu bisa bertahan!” seru Nenek Kerdil Raga lalu meningkatkan kekuatan pada aliran ilmunya lewat tongkat.
“Akk ...!” Ginari semakin tinggi menjerit. Wajahnya memerah.
“Tampaknya sekarang kau memerlukan bantuanku?” tanya Joko lagi.
“Sampai mati, tidak akan!” teriak Ginari.
“Ya sudah,” ucap Joko lirih agak kecewa.
Di saat Ginari mati-matian berusaha untuk tetap bertahan, Pengasap Mayat datang menghampiri Joko.
“Tampaknya kau berminat sekali bisa menolong perempuan itu,” kata Pengasap Mayat.
“Tidak begitu berminat juga. Hanya, sebagai pemuda yang baik, kita harus selalu menawarkan pertolongan kepada orang yang memerlukan seperti perempuan itu,” ujar Joko seraya tersenyum ramah dengan bibir merahnya.
“Aku dengar kau memiliki kehebatan yang lumayan,” kata Pengasap Mayat.
“Memangnya kenapa, Orang Tua?” tanya Joko santai.
“Aku ingin menjajal kesaktianmu.”
“Aku khawatir kau menyesal berurusan denganku, Orang Tua,” kata Joko lalu tertawa kecil yang enak didengar.
“Rupanya kau punya kesombongan juga, Anak Muda!” desis Pengasap Mayat. “Bangunlah, kita adu kesaktian sebagai awal perkenalan atau akhir dari perkenalan. Aku Pengasap Mayat!”
“Aku Joko Tenang, Orang Tua,” kata Joko seraya bangkit dari duduknya. “Sebenarnya aku tidak bernafsu menghadapimu, tapi karena kau begitu bernafsu, tentunya tidak boleh memotong nafsu yang sedang memuncak.”
Setelah berkata-kata, Joko bergerak tiba-tiba dan sangat cepat. Nyaris tidak terlihat oleh pandangan mata awas Pengasap Mayat.
“Hah!” hanya keterkejutan yang dialami Pengasap Mayat. Serangan Joko hanya terlihat samar di matanya. Bahkan ia tidak tahu, anggota mana dari tubuhnya yang terkena serangan.
Joko kini berdiri satu jangkauan di hadapan Pengasap Mayat. Joko telah berhenti. Ia hanya tersenyum kepada lelaki berjubah merah itu. Selanjutnya, Joko berbalik berjalan dan duduk kembali ke tempatnya. Sementara Pengasap Mayat terpaku mendelik.
“Begitu cepat. Aku yang sesakti ini tidak berkutik. Tapi, kenapa dia berhenti? Apakah dia hanya sengaja membuatku terkejut?” membatin Pengasap Mayat.
Joko kembali fokus kepada perjuangan Ginari yang masih berlangsung.
“Hahaha...!”
Tiba-tiba Pengasap Mayat tertawa terbahak-bahak tanpa terlihat ada sebab yang lucu. Anehnya, tawa keras Pengasap Mayat terus berkepanjangan. Hal itu membuat Nenek Kerdil Raga dan Iblis Kaki Katak beralih fokus dan menjadi heran. Bahkan, lelaki tua berjubah merah itu kini tertawa sambil berguling-guling di tanah. Tawanya begitu hebat.
Rasa heran dan penasaran, membuat Nenek Kerdil Raga agak lengah dari fokusnya. Ginari yang bisa merasakan ada kekendoran, segera mengerahkan seluruh tenaga dalamnya yang tersisa. Ia tidak peduli lagi efek buruk yang akan dideritanya, karena kondisi tubuhnya telah terluka cukup parah.
Psap! Clap!
Dari dalam tubuh Ginari, berpijar sinar merah yang langsung membuat lilitan sinar-sinar hijau buyar. Hal itu membuat Nenek Kerdil Raga terjajar beberapa tindak.
“Fukrr!”
Tiba-tiba Ginari menyemburkan darah cukup banyak dari mulutnya. Ginari perlahan goyah lalu jatuh berlutut, tapi tubuhnya tetap tegak.
“Mampus kau, Tikus Langit!” teriak Nenek Kerdil Raga siap eksekusi akhir.
Nenek Kerdil Raga melesat ke depan dengan tangan kiri menggenggam bola sinar biru yang akan dihantamkan kepada Ginari. Ilmu Telur Setan Laut akan mengakhiri riwayat Pendekar Tikus Langit yang sudah tidak berdaya, tidak mungkin bisa mengelak atau membentengi diri lagi.
Sress!
Wess!
Bluarr!
Seiring Nenek Kerdil Raga melepaskan sinar biru Telur Setan Laut, Ginari langsung lenyap bersama kelebatan warna merah. Akibatnya sinar biru segenggaman itu hanya menghancurkan tempat kosong hingga menciptakan kerusakan tanah yang besar.
“Kampreeet!” teriak Nenek Kerdil Raga murka.
“Hahaha...!” tawa Pengasap Mayat yang tidak berhenti.
“Diam kau, Mayat!” bentak Nenek Kerdil Raga kesal.
“Tolong hahaha! Aku hahaha! Hentikan hahaha! Tawa ini hahaha!” teriak Pengasap Mayat yang meringkuk pegangi perutnya seraya terus tertawa-tawa tidak karuan.
Sementara Joko, orang yang telah menyarangkan Cubitan Seribu Geli kepada Pengasap Mayat, telah menghilang bersama Ginari. (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
Budi Efendi
mantap thorrr
2023-01-08
1
rajes salam lubis
mantap
2022-05-31
1
rajes salam lubis
hahaha
2022-05-31
1