Joko segera alihkan pandangannya ke arah gubuk bambu.
Di ambang pintu gubuk berdiri seorang pria tua berusia di atas 80 tahun, tapi terlihat fisiknya masih bugar untuk ukuran orang sepuh. Ia berpakaian biru sederhana. Wajah putih bersihnya ditumbuhi oleh jenggot putih yang rapi. Rambut putihnya digelung di atas kepala dan diikat dengan pita berwarna kuning.
“Tolong kau bantu aku menghadapi bocah ini!” seru Pengemis Maling yang tadi disebut nama aslinya “Kalugar”.
“Aku tidak percaya jika kau tidak sanggup menghadapi pemuda semuda itu,” kata orang tua yang tadi namanya dipanggil, yaitu Ranggasewa.
“Para Kisanak Tua, aku tidak mau membuat masalah dengan kalian, tolong serahkan keris itu!” kata Joko yang masih bisa menahan sabar sejak tadi.
“Ranggasewa, aku tidak mengerti, mengapa pusaka milikmu sampai bisa berada di tangan pemuda itu?” tanya Pengemis Maling seraya menuding Joko.
“Bertemu saja baru kali ini, bagaimana mungkin senjataku bisa berada di tangannya? Mungkin itu senjata orang lain yang kau maksud,” jawab Ranggasewa.
“Apakah keris ini bukan milikmu?” tanya Pengemis Maling sambil menunjukkan keris kecil yang dicurinya dari Joko.
Melihat benda itu, Ranggasewa jadi terkejut. Tubuhnya cepat berkelebat terbang dan mendarat di depan Pengemis Maling.
“Apakah kerisku ini kau dapat dari pemuda itu?” tanya Ranggasewa yang memastikan bahwa benda itu adalah benar-benar miliknya.
“Aku mencurinya karena aku curiga, sebab keris ini berada di balik pakaiannya,” tandas Pengemis Maling.
Ranggasewa lalu beralih menghadap kepada Joko. Keris sudah berada di tangannya.
“Siapa sebenarnya kau, Anak Muda?” tanya Ranggasewa santun.
“Justru aku yang seharusnya bertanya, Orang Tua. Siapa dirimu sehingga kau mengaku pemilik keris pusaka itu?” balas Joko.
“Pemiliknya tidak akan melupakan barang miliknya sendiri. Aku pemilik Pusaka Serap Sakti ini. Aku Ranggasewa, Setan Genggam Jiwa,” jawab Ranggasewa.
“Jadi Kakek yang bernama Setan Genggam Jiwa?” tanya ulang Joko, ingin memastikan.
“Benar.”
“Bila kau memang benar adalah Setan Genggam Jiwa, sudah pastinya kau tahu siapa orang yang mengutusku,” kata Joko bermaksud menguji kebenaran pengakuan orang tua di depannya itu.
“Hahaha!” tawa pelan Ranggasewa. “Justru aku yang tidak percaya jika kau muridnya Ki Ageng Kunsa Pari.”
“Kau memang Setan Gengga Jiwa, sahabat guruku dan gurunya Mega Kencani,” kata Joko lega.
“Mega Kencani bukan lagi muridku, ia adalah murid murtad yang tidak pantas diberi ampunan!” kata Ranggasewa dengan nada agak meninggi, muncul sepotong emosi di dirinya. Namun, kemudian ia beralih fokus kepada Joko. “Aku sangat berterima kasih atas kesediaanmu mengantarkan pusaka ini. Agar lebih nyaman, mari kita bicara di gubukku saja.”
“Hehehe!” tawa kekeh Pengemis Maling, karena ia bisa bernapas lega dengan kisah akhir yang tercipta.
“Ke mana Ginari, Kalugar?” tanya Ranggasewa dengan menyebut nama asli Pengemis Maling.
“Dalam usaha menangkap murid setan itu,” jawan Pengemis Maling sambil mengikuti Ranggasewa berjalan ke gubuk bambu.
Joko pun mengikuti di belakang.
Senaiknya ke gubuk, Pengemis Maling langsung rebahkan diri begitu saja di teras yang sempit.
“Masuklah, duduklah di mana saja yang membuatmu nyaman. Aku buatkan minuman dulu,” kata Ranggasewa kepada Joko.
“Tidak usah repot, Ki,” kata Joko.
“Repot saja, aku sangat haus dikejar-kejar olehmu, Bocah!” celetuk Pengemis Maling.
Ranggasewa bergerak masuk ke bagian belakang gubuk. Joko memilih duduk di ruang depan, tidak jauh dari pintu.
“Hei, Bocah!” panggil Pengemis Maling dari luar. Ia masih bisa memandang Joko. “Siapa namamu?”
“Joko Tenang.”
“Sulit aku percaya jika kau murid tokoh sakti itu. Setahuku, dia tidak pernah mau mengambil murid,” kata Pengemis Maling.
“Namun, kenyataannya demikian, Kek,” kata Joko.
“Aku mengaku kalah. Baru kali ini aku menghadapi pendekar muda sesakti kau. Kau tahu, kenapa aku dijuluki Pengemis Maling? Itu karena aku tidak pernah bisa ditangkap. Namun kau hari ini, benar-benar membuatku kewalahan untuk lari. Pendekar sehebat dirimu seharunya menyandang satu gelar hebat. Atau, kau sudah punya gelar dunia persilatan?”
“Aku tidak pernah memikirkan itu, Kek,” jawab Joko.
“Terkadang julukan itu menempel dengan sendirinya dari penyebutan orang-orang dunia persilatan lainnya,” kata Ranggasewa yang keluar membawa dua gelas bambu minuman.
Satu gelas ia letakkan di hadapan Joko dan lainnya ia letakkan di dekat pintu untuk Pengemis Maling.
“Ini sudah di dalam rumah, kenapa kau masih mengenakan capingmu?” tanya Ranggasewa.
Joko melepaskan caping besarnya lalu meletakkannya di lantai. Maka tampaklah wajah tampan Joko.
“Wuaah! Ternyata kau sangat tampan, Joko!” puji Pengemis Maling sambil segera bangun dari rebahannya. Ia meraih gelas untuknya lalu langsung meminumnya tanpa jedah.
“Bagaimana keadaan gurumu, Joko?” tanya Ranggasewa.
“Hingga terakhir aku tinggalkan, keadaannya sehat.”
“Kau dipercaya oleh Ki Ageng untuk membawa Pusaka Serap Sakti kepadaku, padahal sangat berbahaya jika sampai senjata itu jatuh ke tangan orang yang salah. Tentunya gurumu sangat yakin dengan kesaktianmu untuk melakukan perubahan di kancah dunia persilatan,” kata Ranggasewa.
“Guru memang menugaskan aku untuk turut serta terlibat dalam menegakkan kebenaran di dunia ini, Ki.”
“Kau memang memiliki tanda-tanda untuk menjadi pendekar nomor satu. Namun, perlu kau waspadai, begitu banyak tipu daya dan kelicikan yang banyak menggugurkan orang-orang yang berniat baik sepertimu.”
“Boleh aku bertanya tentang Mega Kencani, Ki?” tanya Joko.
“Jauhi wanita itu. Dia memang muridku, tapi sudah tidak aku anggap. Dia telah melakukan kekacauan di daerah ini dan mengadu domba aku dengan tokoh-tokoh sakti lainnya di daerah ini. Selamanya ia tidak akan pernah benar!” kata Ranggasewa dengan nada agak marah.
“Jadi salah jika aku telah menolongnya. Ia sempat meminta keris itu untuk disampaikan langsung kepadamu, Ki.”
“Kau salah telah menolongnya. Akan jadi bencana bila pusaka itu sampai berada di tangannya,” tandas Ranggasewa.
“Apakah wanita bertopeng hitam itu juga murid Ki Ranggasewa?” tanya Joko.
“Benar, namanya Ginari. Ia dijuluki Pendekar Tikus Langit,” jawab Ranggasewa.
“Tampaknya Joko tertarik dengan Ginari, Ranggasewa. Kita jodohkan saja dia dengan Ginari. Aku sangat yakin Ginari tidak akan menolak, terlebih jika ia sudah melihat wajah tampan Joko,” kata Pengemis Maling.
“Kau pikir semudah itu?” hardik Ranggasewa.
“Ada yang datang, Ki,” kata Joko sambil cepat memakai kembali capingnya.
Hal itu membuat mereka memandang ke luar.
Tampak seorang pemuda dan seorang gadis berjalan mendekati gubuk itu.
“Itu Kembang Buangi,” kata Ranggasewa yang sudah mengenal adanya si gadis cantik, tapi ia belum mengenal si pemuda yang adalah Hujabayat.
Joko sendiri sebelumnya telah sempat berurusan dengan keduanya di hari itu.
“Sepertinya kau tidak mau dikenali, Joko,” kata Ranggasewa sebelum kedua tamunya tiba di depan gubuk.
“Aku sempat bermain-main dengan mereka tadi pagi, Ki,” kilah Joko.
“Langsung masuklah, Kembang Buangi!” seru Ranggasewa kepada kedua tamunya.
“Terima kasih, Ki,” ucap Kembang Buangi seraya tersenyum, membuat lesung pipinya yang cantik terlihat. Ia segera mengambil duduk di dekat Joko.
Sebelum terjadi musibah bagi dirinya, tiba-tiba Joko telah lenyap dari duduknya, membuat mereka semua terkejut.
“Maaf, Ki! Aku harus pergi!” seru Joko yang tahu-tahu sudah berdiri di depan gubuk. Selanjutnya ia langsung menghilang entah ke mana.
“Hihihi!”
Kembang Buangi melepas tawanya melihat kepergian Joko yang tiba-tiba seiring dengan kedatangannya bersama Hujabayat. Hujabayat pun tertawa kecil. Ranggasewa dan Pengemis Maling tidak turut tertawa, hanya heran dengan situasi yang tercipta.
“Ada apa dengannya sehingga ketika kalian datang dia pergi?” tanya Ranggasewa.
“Gimba takut karena aku duduk di dekatnya,” jawab Kembang Buangi.
“Gimba? Tapi namanya Joko Tenang,” kata Ranggasewa.
“Dia bernama Gimba, Ki,” kata Kembang Buangi.
“Berarti dia telah membohongi kita, dia mengaku bernama Joko Tenang!” kata Pengemis Maling.
“Maaf, Ki. Aku rasa namanya yang benar mungkin Joko Tenang. Rasanya tidak mungkin bila dia berani membohongi para sesepuh. Justru kamilah yang dia bohongi,” kata Hujabayat santun.
“Siapa kau adanya, Anak Muda?” tanya Ranggasewa.
“Namaku Hujabayat, Ki. Aku murid Nyi Lampingiwa,” jawab Hujabayat.
“Ooh, bagaimana kabar gurumu?” tanya Ranggasewa lagi.
“Sehat, Ki.”
“Kalian belum menjawab tentang Joko tadi,” kata Ranggasewa.
“Dia takut berdekatan dengan wanita, Ki. Waktu kami bertemu, dia selalu menjauh ketika aku dekati,” jelas Kembang Buangi.
“Takut berdekatan dengan wanita?” tanya Pengemis Maling, seolah tidak percaya. “Bagaimana bisa dijodohkan dengan Ginari jika berdekatan dengan wanita saja tidak bisa.”
“Lalu, apa yang bisa kubantu untuk kalian?” tanya Ranggasewa.
“Saat ini aku sedang mencari siapa orangtua kandungku, Ki. Sebab, aku pernah bertemu dengan seorang tua sakti yang mengetahui banyak tentang diri dan masa lalu seseorang ....”
“Maksudmu Malaikat Serba Tahu?” terka Pengemis Maling.
“Mungkin, sebab Joko tadi pagi juga menyebut nama itu,” kata Kembang Buangi. “Orang tua itu mengatakan, orang yang bernama Bugujula tahu banyak tentang siapa orangtuaku. Sudah aku tanyakan kepada guruku dan Nyi Lampingiwa, tapi mereka tidak tahu tentang orang yang bernama Bugujula. Mungkin Ki Ranggasewa tahu tentang orang itu.”
“Oh, jadi demikian,” ucap Ranggasewa manggut-manggut. “Bugujula adalah nama kecil dari Demang Rubagaya. Aku masih sangat ingat ketika ayahnya panik mencari-cari anaknya yang tiba-tiba menghilang. Nama Bugujula selalu disebutnya memanggil anaknya di area hutan berjurang. Bugujula itulah yang kini bernama Demang Rubagaya.”
“Jadi, selama ini Demang tahu banyak tentang siapa kedua orangtuaku,” ucap Kembang Buangi yang sempat menjadi anak angkat Demang Rubagaya.
“Hehehe!” kekeh Pengemis Maling tiba-tiba.
“Ada apa, Ki?” tanya Kembang Buangi kepada Pengemis Maling.
“Apakah kau masih menyimpan gelang biru di kakimu yang sudah ada sejak kau bayi?” tanya Pengemis Maling.
“Tidak, sudah lama aku buang, karena sudah sempit,” jawab si gadis.
“Aku pernah melihat Demang Rubagaya membunuh seorang wanita yang memakai gelang sama dengan yang kau miliki,” kata Pengemis Maling.
“Apakah itu ibuku yang dia bunuh?” tanya Kembang Buangi dengan wajah menunjukkan api kemarahan.
“Bisa iya dan juga bisa tidak. Jelas kau harus kembali lagi kepada Demang Rubagaya untuk menanyakan langsung hal itu,” kata Ranggasewa. “Jangan sampai ia lebih dulu mati sebelum kau mendapat keterangan darinya. Sebab, aku telah menugaskan Pendekar Tikus Langit untuk membunuhnya.” (RH)
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 413 Episodes
Comments
ASGARD
apakah dia gurunya kakek segala tahu (WS212) hahaha?
2023-08-05
3
Budi Efendi
lanjutkan thorrr
2023-01-07
0
🍃⃝⃟𝟰ˢ🫦🥑⃟🇩ᵉʷᶦbunga🌀🖌
coba di dunia ini cowok ganteng takut di dekati cowok ganteng, aman dunia ini. GK ada wanita yang hamil di luar nikah wkwkwk
2022-11-11
1