20 Takdir

Karin terus memberontak. Dia menahan Agus untuk mengambil kapak.

“Kalian gila! Kalau anakku terluka bagaimana?” bentaknya.

Agus tidak tega melakukannya. Dia mengikuti perkataan istrinya. Dia juga tidak mau sesuatu yang buruk dialami oleh anaknya.

Fitri yang berada didepan pintu hanya berdiri. Dia ketakutan sekaligus bingung dengan situasi yang terjadi.

Arinda keluar dari kamar itu. Dia dengan raut wajahnya yang tiba-tiba dingin.

“Nda, mau kemana?” tanya Fitri.

Arinda tidak menjawab. Dia hanya pergi meninggalkan Karin yang masih nanar melihatnya.

“Jangan lakukan yang terburuk untuk anak-anak kita.” Ucap Karin kepada Agus.

Agus mengangguk. Ia kemudian mencoba menarik paksa lemari tersebut. Padahal tidak ada kunci untuk lemari kayu khusus anak-anak ini. Tapi lemari itu sangat keras dan sulit untuk dibuka.

“Kira-kira apa yang menahan pintu lemari itu, Gus?” tanya Fitri. Dia mencemaskan hal-hal lalu akan terjadi lagi.

Agus tidak menjawab. Dia menundukkan kepala dan menyandarkannya didepan pintu lemari itu. Ada banyak hal yang bersarang dibenaknya. .

“Apa yang loe pikirin, Agus?” tanya Arinda yang kembali masuk kedalam kamar.

Semua orang menoleh kearah Arinda.

“GYAA GILA LU\, K*mPr*t?!” Fitri berteriak dengan sesuatu yang dibawa Arinda.

“Rinda buat apa kapak itu. Apa lu mau bunuh anak-anak gua?” tanya Karin berusaha menghalangi perbuatan Arinda.

“Maaf Karin, jika gak segera dibuka, bisa jadi anak-anak itu mati kehabisan nafas atau dibunuh oleh sosok itu.” Jelas Arinda yang mulai mengangkat kapak.

“ARINDA, TAHAN!” perintah Agus.

Arinda tidak mendengar mereka semua. Dia segera mendekati lemari tersebut dan kemudian mengayunkan tangan agar kapak itu segera menancap ke dalam lemari. Namun sebelum hal itu terjadi…

PLAK…

Pintu lemari itu tiba-tiba terbuka. Semua orang kaget, begitu juga dengan Arinda. Namun mata kapak sudah mendekati lemari tersebut, bersamaan dengan keluarnya seoarang dari sana.

“KANA?!!!"

"TIDAAAKK!”

“ARINDA TAHAN!!” Agus menghalangi serangan Arinda.

Tepat waktu, Agus mendorong lengan Arinda. Arinda juga langsung melepas kapak itu dari tangannya. Sehingga benda berbahaya itu terjatuh di lantai.

Untung tidak ada yang mati diantara mereka. Kapak itu hanya sedikit menggores telapak tangan Agus hingga meneteskan darah.

“Huaa…!!” Kanaya yang menangis ketakutan langsung memeluk Karin.

Karin juga memeluk erat anak perempuannya. “Tenang nak, kamu sudah aman. Kamu ada dirumah sama mama dan papa.”

Arinda terduduk lesu. Dia hamper saja menerima kenyataan sebagai pembunuh anak kecil. Mata bulatnya kemudian melirik tetesan darah yang berasal dari tangan Agus.

“Agus, tangan lu….” Ucap Arinda merasa bersalah.

Agus tersenyum lemah. “Tidak apa-apa, untung tidak ada yang mati.” Dia bangkit dan segera memeluk Kanaya.

Kanaya kemudian memandang tangan ayahnya yang terluka. Mata itu terbuka dengan lebar seolah tetesan darah itu suatuhal yang menarik dimatanya.

“Kanaya, kamu tau Arda dimana?” tanya Karin.

Kana melihat wajah Karin. Dia menggelengkan kepala. "Aku tidak tau, Ma, Pa!" ucapnya dengan suara pelan.

Karin kembali memeluk anaknya. Agus juga ikut memeluk putri sulungnya. Diantara kedua orangtuanya Kanaya merasa tenang. Dia terus mengusap tangan kedua orang tuanya, terutama bagian tangan Agus yang ditetesi darah segar.

Tidak ada yang menyadari, karena semuanya terlihat kaget, syok, dan juga bersyukur namun diselimuti rasa was-was. Tapi Fitri yang sejak dulu terkenal penakut menyadari ada yang tidak beres dari Kanaya.

Dia melihat jari remaja cantik itu yang seperti menyeka darah Agus dan secara diam-diam ia cium aromanya.

.

.

.

.

(Kediaman Merri)

“Selamatkan kami.”

“Takdir”

“Selamatkan kami”

“Takdir”

Dua wajah yang serupa dengan rambut bewarna putih seperti salju. Mereka yang berpakaian lusuh itu diikat disebuah rumah gubuk tua yang dikelilingi hutan dengan pohon bewarna merah.

Saat Merri mencoba mendekati dua remaja yang tidak ia kenali, tetesan air bewarna merah menghujaninya. Aroma amis itu membuatnya terkejut.

Ia menyadari hujan ini tidak biasa.

Kemudian ia menatap kelangit dan melihat sebuah tubuh terjatuh dari atas langit. Badannya penuh luka dan gaun yang ia kenakan juga terkoyak.

Merri mendekati tubuh yang terkulai tidak berdaya diatas tanah keras itu. Wajah Wanita itu mengingatkannya akan ibunya.

“Ibu?!” panggil Merri dengan wajah sendu.

Ia mencoba mengangkat kepala Wanita itu, namun seketika, mata Wanita tak berdaya itu terbuka lebar. Begitu juga dengan tangannya yang agresif mencekik leher Merri.

Wajahnya seketika berubah dengan sosok yang sangat ia kenal. Terutama dengan suara serak yang keluar dari tawanya yang aneh.

“HUAHAHA.. MERRI cucuku yang paling bo*oh!”

“HUAAAAAAAAAA!!!” dua anak yang diikat itu berteriak ketakutan.

.

.

.

DUG

DUG

DUG

Merri terbangun dengan mata terbuka lebar. Ia melihat keadaan disekitarnya. Sebuah ruangan yang didominasi oleh kayu bewarna coklat.

“Hah hah hah… mimpi, aku Cuma mimpi.” Ucapnya dengan nafas terengah-engah.

Merri segera bangkit dan melihat keadaan anaknya. Ternyata Satria masih terlelap. Hal itu membuatnya merasa lega.

Tapi rasa sakit dilehernya sedikit merasa nyata. “Mimpi macam apa itu?” pikir Merri.

DUG

DUG

DUG

Merri mendengar sesuatu dari atas rumahnya. Suara itu terdengar seperti seseorang sedang memaku.

“Rohi rajin sekali pagi-pagi begini.” Pikirnya.

Ia segera keluar dari kamar untuk mengambil segelas air mineral di dapur. Mbok Lastri pasti telah mempersiapkan air mineral dan beberapa makanan untuknya.

Karena suatu kejadian yang telah lampau, Mbok Lastri yang merupakan bangsa jin memiliki hutang budi kepada Kusuma, ibunya Merri. Juga, kematian sang ibu juga membuatnya merasa bersalah. Hal itu membuatnya ingin membantu Merri.

Sesuai dugaan Merri, Lastri sudah berada di halaman belakang rumah. Sepertinya ia masih berpatroli mengusir arwah-arwah pengganggu yang numpang tinggal dirumahnya.

Sementara itu Rohi dengan tubuh manusianya, tertidur diatas sofa sambil memeluk remot tv.

“Pemalas.” Gumam Merri.

Merri segera meminum sebotol air mineral yang ia ambil dari kulkas. Setelah mimpi buruk, rasanya ia ingin menelfon suaminya.

“Hai!” sapa Merri menggunakan smartphone miliknya. Panggilan itu ia tunjukan kepada suaminya. Suara orang yang ia sayangi saat ini membuatnya sangat rindu.

“Aku merindukanmu, cepatlah kembali.” Ucap Merri tulus.

Tawa dari sebrang membuatnya menoreh senyum diwajahnya yang kecil. “Iya, aku dalam perjalanan pulang.”ucap suara itu.

“Kalo bisa pulanglah lebih cepat. Aku ingin kita bertemu secepatnya.” Ucap Merri.

Pembicaraan singkat itu  berakhir. Ia juga tidak mau mengganggu pekerjaan suaminya.  “Pulanglah sebelum terlambat!” bisik Merri. Percakapan itu berlangsung manis dan terdengar sedih. Sosok ibunya belum bisa ia lupakan.

"Kau kuat, aku yakin kamu bisa melaluinya." semangat dari suara yang berada ditelfon.

"Aku tidak yakin." Merri ingin sekali menceritakan mengenai mimpinya, tapi ia tidak mau suaminya khawatir.

"Kau ingin foto anak kita?" tawar Merry.

"Segera kirim ya, aku ingin melihatnya. Aku sangat rindu sama Satria melebihi apapun didunia ini. Tapi kamu jangan cemburu ya?" gurau suami Merry. Ia digoda hanya tertawa kecil.

Tentu Merry tidak akan marah akan hal itu. Justru ada hal-hal lain yang ia cemaskan. Salah satunya, apakah ia bisa melihat wajah suaminya? Tak lama kemudian, pembicaraan berakhir.

Merry yang ingin kembali ke kamarnya menemui Satria seketika terhenti. Suara gaduh itu kembali terdengar.

DUG

DUG

DUG

Sumbernya masih sama, diatas rumahnya. Merri menoleh kearah Rohi kemudian melihat Lastri yang masih berada dihalaman rumahnya.

“Suara apa itu?” tanya Merri.

“Merri bisakah tidak berisik, saya masih ngantuk!!” ucap Rohi.

“Sepertinya ada yang datang.”

“Tamu macam apa yang datang pagi-pagi?” dumel Rohi.

“Entahlah, aku juga penasaran, tamu macam apa yang datang dari atas?” tanya Merri.

Rohi mencerna kata-kata Merri. Seperkian detik kemudian dia sadar ada sesuatu yang aneh. Tubuh besar berotot itu terbangun. Matanya juga menoleh keatas atap.

“Shh shh!!” dia mencoba mencium aroma sekitar rumah dengan hidung iblisnya. “Hmm… aroma tikus got, busuk.” Ucap Rohi.

“Tikus got?” tanya Merri.

“Iya. Menurut penciumanku yang jenius ini, ada dua tamu dengan bau seperti tikus got. Mungkin juga kelakuannya juga sama.” Ucap Rohi.

“Maksudmu?” tanya Merri.

“Tamu yang dikirim siburuk rupa.” Jawab Rohi dengan percaya diri.

DUG

DUG

DUG

Pesta Jailangkung 2// bersambung

Terpopuler

Comments

Witri Ayu

Witri Ayu

sebenarnya jadwal up nya kapan ya?
ni cerita seru, tapi sayang lama up nya

2023-01-01

0

Elis Jasmi

Elis Jasmi

kapan niih up lagi gak sabar

2021-08-10

1

ferxani

ferxani

up lagi dong thor

2021-08-02

3

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!