Jika Tuhan berkehendak lain, maka malam itu aku telah mati. Tapi seorang wanita telah menyelamatkanku dan membawaku kembali ke ragaku. Saat itu aku bersyukur. Namun setelah satu purnama, aku di temui wanita lainnya. Dia melakukan perjanjian. Bisa di katakan, apapun keputsanku adalah sebuah kerugian besar untukku dan keberuntungan baginya.
.
.
.
03.15 dini hari. Angin pagi semakin menusuk hingga ke tulang. Membuat semua orang yang terbuai dalam mimpi tak ingin terusik. Mereka menarik selimut hingga menutupi kepala. Sehingga sang angin malam tak bisa mengganggu lagi. Mimpi indahpun berlanjut.
Namun tidak semua orang bisa melakukannya. Hanya mereka yang terlahir spesial menyadari arti dari angin tersebut. Mereka akan berkeringat basah, mersakan kepanasan dari tiap hembusan tersebut. Tiupan angin itu adalah pesan bagi mereka. Pesan yang bisa saja sebuah mimpi buruk di kehidupan nyata. Dan itulah yang ia rasakan malam ini.
“Merrriiii.....!!!!” suara bisikan serak menggema di langit-langit kamarnya. Dia semakin terusik akan lelapnya. “Aku... kembali... dan akan menuntut BALAS!” ucap gema suara tersebut. Di akhir katanya, ada penekanan yang membuat matanya terbuka dan terbelalak.
“M e r r r i i i. . .!” sayup-sayup suara itu masih
menggema. Entah dari mana, namun cukup mengganggu.
“OOOWAAAA!!!” tangsian bayi di tengah malam, membuatnya bersiaga. Ia dekati bayi kecil nan lemah tak berdaya itu. Bayi berusia enam bulan yang tidurnya tiba-tiba terganggu.
“Ust.. ust... ibu disini nak... jangan nangis...!” ia mengangkat anaknya dan menimang-niman dalam ayunan kecil. Lambat laun tangisan itu reda.
“Merri?” sapa seorang wanita paruh baya. “Satria bangun lagi?” tanyanya yang mendekati Merri.
“Ya buk.” Angguk Merri pelan.
“Hmm... sudah seminggu ini, dia terbangun pukul 03.15 dini hari.” Pikir ibunya yang tak lain bernama Kusuma. “Apa kalung yang aku buat tidak mempan ya?” pikir Kusuma lagi.
“Mungkin dia rindu bapaknya.” Ucap Merri mencoba berfikir positif. Dia melihat rona wajah bayi kecil itu.
“Hmm... baguslah kalau benar begitu. Aku lebih suka jika dia benar-benar merindukan ayahnya dari pada mengalami mimpi buruk.” Ucap Kusuma. Tapi mata Kusuma begitu awas melihat sekitar. “Dimana Rohi?” tanya Kusuma tiba-tiba.
“Dia menghadiri pertemuan dengan bangsa jin di puncak gunung.” Jelas Merri. “Katanya permintaan itu datang lansung dari juru kunci.”
Kusuma terlihat tidak tenang. Dia agak cemas. Merri yang telah tumbuh dewasa dengan kepribadian yang matang juga terdiam. Mereka berdua sama-sama menyadari jika ada yang tidak beres. Sesuatu yang buruk atau mungkin
lebih dari apa yang mereka takutkan.
“Hiks Hiks... oweeeee oweee!!!” tiba-tiba bayi di pangkuan Merri kembali merengek. Tangis itu pecah dengan suara tinggi melengking. “OWEEEEEE!!!!”
“Satria... ini ibu nak... tenang ya tenang...!” Merri mencoba menenangkan putranya.
Dalam gelapnya malam yang di sirami cahaya lampu yang temaram, baik Kusuma maupun Merri lansung mengacu pada satu hal. Bayangan hitam yang berdiri di balik tirai kamar. Terlihat seperi seseorang yang berdiri di balik jendela sana.
“Itu apa?” tanya Merri kepada Kusuma.
Kusuma tidak menjawab karena ia sendiri juga tidak mengenal sosok yang berdiri di balik jendela tersebut. Tapi secara mengejutkan, sosok itu berjalan mengitari rumah berjendela besar tersebut. Berlahan dan semakin jelas, Merri dan Kusuma menangkap ada sepasang benda terlihat runcing di atas kepalanya yang membuat bayangan itu memiliki tanduk yang panjang dan juga berbahaya.
“OOOWAAAAAAAA!!!!!!” bayi kecil itu histeris.
“Ibuk!!!” Merri yang ketakutan dan tidak tega dengan bayinya memohon kepada sang ibu.
“Kau jaga Satria.” Perintah Kusuma yang kemudian mencoba mengikuti langkah bayangan tersebut.
Merri tidak bisa diam. Ibunya sudah berumur dan keadaannya tidak sesehat dulu. “Ibu! Aku minta ibu jaga Satria!!” panggil Merri yang telah di tinggal jauh oleh Kusuma.
“OWEEEEEE!!!!!” bayi di tangan Merri juga semakin tidak tenang.
“Nak!! Ibu disini nak... tenang... tidak terjadi apa-apa...!!”
Tangan kecil Satria menggenggam baju tidur Merri bewarna peach dengan motif bunga. Genggaman itu sangat erat. Merri memperhatikan jari-jari kecil anaknya. Ia melihat wajah Satria yang terus menangis dan meronta.
“Apa, kenapa Satria?” tanya Merri.
“OOOWEEEEEE!!!!”
“Rohi...? dimana kau?” Merri memejamkan matanya dan berharap komunikasi melalui telepati ini bisa menghubungkannya dengan Rohi, sosok yang bisa ia percayai selain keluarganya saat ini.
.
.
.
Kusuma kembali mamasuki kamarnya yang berada samping kamar Merri. Ia membuka lemari pakaiannya yang terbuat dari kayu jati dengan ukiran pohon rimbun lengkap dengan akar yang menjalar di dalam tanah. Kusuma meraih sebuah kotak bewarna hitam. Ia membuka kotak tersebut dan mengambil sebilah keris kecil yang di gulung kain putih.
Kemudian tubuh tua dan mulai lamban itu segera menuju lantai dasar rumah. Ia mengambil segelas air dan bumbu-bumbu dapur dalam genggaman tangannya.
DUAAARRRR
Petir menyambar, listrik seketika padam. Membuat rumah semi permanen, dengan bentuk bangunan atik dan bertingkat dua itu lansung padam dan gelap gulita.
Kusuma memperhatikan langit-langit rumah tersebut. Hitam dan gelap. Tapi ada satu sosok yang berdiri di belakangnya. Sosok yang mengenakan gaun putih dengan rambut hitam ter-urai panjang. Di atas kepalanya juga di hiasi sepasang tanduk panjang yang menyamai separuh panjang tubuhnya.
.
.
.
Merri yang berada di kamar juga terdiam. Begitupun dengan bayi yang ia gendong. Suasana semakin hening. Hanya ada deru hujan, angin kencang dan juga petir yang terus menyambar di luar sana. Hal itu membuat
suasana malam dini hari itu semakin mencekam.
“Hee eh...!” Bayi bernama Satria menggumam. Dia merasakan detak jantung sang ibu yang semakin berdebar kencang.
Merri mengusap kepala sang bayi. Dia ingin anaknya merasa nyaman dan tidak merasakan apapun, seperti yang ia rasakan saat ini.
Kalatak...
Klatak...
Lantai dua yang berbahan kayu itu berbunyi. Seseorang berjalan di atasnya. Langkah pelan dan penuh hati-hati itu semakin lama terasa semakin mendekat.
“Siapa kau?” tanya Merri.
Tidak ada jawaban.
Klatak....
Klatak...
Tapi langkah itu terus berjalan mendekati Merri. Hawa dingin dan mencekam menyerang bulu kuduknya.
“Siapa kau?” tanya Merri sekali lagi. “Jika berani menyentuh anakku, kau akan mati detik itu juga!” ancam Merri yang berjalan mundur.
“O ya?!” suara itu datang tepat di belakang Merri. Serak, getir dan penuh kebencian itu menyapu daun telinga kirinya.
Merri segera berbalik dan mundur beberapa langkah.
“Hyaaahaha...!!” tawa itu pecah dan membuat gema yang sangat mengerikan di dalam ruangan tersebut. Merri bergidik. Dia mengenal warna suara ini. Ini suara yang telah lama tidak ia dengar.
“Kau...?” ucap Merri.
“Ya... ini aku!” ucapnya. Sosok itu berdiri di depan Merri. Penerangan dari luar memperlihatkan sosok yang mengenakan baju bewarna putih.
“Ke kenapa kau kesini?” tanya Merri.
“Hyaahaha!!” sosok itu tertawa. Petir di luar menyambar seolah menyambut tawa menakutkan itu. “Bukankah kita keluar, Merri!” satu petir menyambar keras dan memperlihat sebuah wajah menakutkan.
Mbah Uti tidak lagi terlihat tua. Dia terlihat muda dan juga menakutkan. Terlebih lagi dengan sepasang mata bewarna merah dan tanduk runcing yang menghiasi kepalanya.
“Bolehkah aku melihat cicitku?” tanya mbah Uti.
Merri menggenggam bayinya dengan erat. Dia tidak mau bayinya di sentuh sedikitpun oleh wanita mengerikan ini.
“Kau bukan mbahku, kau bukan keluarga. Pergi kau dari sini!” ucap Merri geram.
“HYAAAAHAHAHA!! Anak durhaka ternyata kau belum pernah berubah sedikitpun!!”
“Tidak ada yang berubah selain kau!”
“Ooya?!” Mbah dengan wajah tirus dan putih pucat itu tersenyum sinis. “Oo betapa aku merindukan kalian, tapi sayangnya tidak ada yang menerimaku lagi. Begitu juga dengan Kusuma. Anak durhaka itu telah aku urus. Sekarang giliran cucuku dan kemudian cicit kesayanganku.”
Merri membelalakkan matanya. Dia mencemaskan ibunya. Tapi untuk saat ini, jangan sampai ia lengah. Ia berharap, semoga wanita jadi-jadian ini hanya menggertak dan membuyarkan konsentrasinya. Sementara itu dalam
genggamannya, Satria terus memperhatikan raut wajah sang ibu, seolah ia membaca tanda bahaya dari sang ibu.
Pesta Jailangkung Season 2// bersambung....
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
ren rene
akhirnya ketemu lg
2020-12-23
0
.
Thor... Aku kembali padamu tanpa undangan, tanpa panggilan
2020-11-12
6
.•♫•♬•Zellea Zeyn•♬•♫•.
yok thorr up lagi donk :)
2020-11-11
0