5. Saat Pergi

“Bunuh dia Merri, anak cacat akan sangat merepotkan.” Ucap Mbah Uti sekali lagi. “Kemudian abdikan sisa hidupmu untukku. Bergabunglah bersama mereka.”

Merri mengepal tinjunya. Rohi yang kembali mengumpulkan tenaganya kembali mengambil ancang-ancang.  Begitu juga pria dengan pakaian hitam yang siap melemparkan keris untuk rohi.

Mbah Uti tersenyum simpul.

Setelah mengucapkan mantra, pria tua itu lansung melempar keris yang kemudian segera di tangkap oleh Rohi. Namun sayangnya, strategi itu terlalu gampang di baca oleh musuh.

Mbah Uti membalikkan badannya, ia melompat

mendekati Rohi dan menendang perut rohi, manusia setengah reptil itu terbanting dengan keras.

“UHUK!!!” Rohi terbatuk. Perutnya merasa keram akibat serangan Mbah Uti.

Ia berfikir, kekuatan wanita tua itu sangat tinggi. Dia sangat berbahaya.

“Tipuan lama tidak akan mempan untukku!” ucap Mbah Uti. Ia mengayunkan tangannya yang menimmbulkan hembusan angin cukup kuat. Angin itu menghantam anak tangga yang terbuat dari kayu.

Pria tua yang bersembunyi di sana lansung pergi menyelamatkan diri.

Mbah Uti terlihat geram. Ia tidak suka ada orang lain yang ikut campur dengan masalah keluarganya.

Merri melihat keris bewarna kuning emas itu tergeletak di dekatnya. Ia segera mengambil kesempatan untuk mengambil  keris itu dan mengacungkannya di hadapan mbah Uti.

Batinnya bergejolak. Satu sisi darahnya mendidih ingin mencabik-cabikkan wanit tua itu. Namun sisi lain wanita tua yang ada dihadapanny adalah neneknya sendiri.

Dulu hubungan darah mereka sempat manis dan hangat.

Tapi ibunya mati ditangan wanita tua itu.

"Siapapun yang membunuh ibuku, orang-orang yang aku sayangi, dia pantas untuk mati!" lirihnya.

“Atas nama penguasa langit dan bumi, pemilik kekuatan tertinggi dari semua makhluk dan insan di diantara dua dunia. Pemagang kunci surga dan neraka, lindungilah hamba dari sang kegelapan, dari mantra penuh

kesesatan dan makhluk jahat...” Merri mengucapkan mantranya dengan lantang.

“GYAAHAHAHA!!!” mbah Uti hanya tertawa terkekeh, “Kau anggap wanita ini adalah iblis? Aku adalah keluargamu, Merri!!”

“Kau hanya makhluk tamak yang harus di musnahkan!!” Merri menghunuskan keris tepat di dada mbah Uti.

“GYAAAAA!!!!” mbah Uti teriak sejadi-jadinya. Teriakannya seirama dengan bunyi tepir dan kilat yang juga semakin menderu. Seolah malam itu menjadi malam mencekam, baik bagi penduduk desa lainnya yang sebenarnya tidak tau apa yang terjadi.

“GYAAAAA!!” mbah Uti berusaha melepaskan keris yang menancap di dadanya. Namun tangannya tidak bisa memegang keris tersebut. Energi dari keris itu justru semakin menyiksa mbah Uti.

“Merri, cepat pergi dari sini!” ajak pria tua yang mengenakan pakaian jawa kuno dan bertopi blankon.

“Mbah Karto!?” ucap Merri yang sangat mengenal pria tersebut. Dia adalah kakek dari pihak ayahnya dan sekaligus orang pintar yang juga disegani di daetah tempat ia tinggal. “Tapi bagaimana dengan ibu?” tanya

Merri mengingat jasad ibunya masih ada di lantai atas.

“Biar saya yang urus!” ucap Rohi. “Bawa Satria jauh dari sini terlebih dahulu!” lanjut Rohi.

Merri mengangguk pelan. Dia dan Mbah Karto pergi meninggalkan rumah.

“Tidak semudah itu!!!! Kau TIDAK BOLEH PERGIIIII!!!!” teriak mbah Uti yang meronta kesakitan. Wajahnya yang muda berlahan-lahan lumer dan memperlihatkan keriput wajah yang sesungguhnya.

Merri melihat pemandangan mengerikan itu. Ia melihat separuh wajah neneknya. Wajah yang ia kenal dan separuh lagi wajah wanita muda yang sangat asing dan jahat.

“CEPAT!” pinta mbah Karto yang terus menarik Merri.

Mereka lansung menaiki mobil. Di saat bersamaan Rohi juga sudah membawa tubuh Kusuma yang sudah tak bernyawa. Mereka pergi meninggalkan rumah yang telah di huni selama sepuluh tahun lamanya. Rumah yang mereka sangka akan menjadi tempat teraman.

Namun tidak ada tempat yang aman baik bagi Merri maupun Satria.

.

.

.

“INI BELUM BERAKHIIIIRRRRRR!!!!!” teriak mbah Uti yang penuh dengan dendam dan amarah.

.

.

.

“Ini belum berakhir!” Merri mengusap batu nisan ibunya.

Kesedihan yang ia rasakan juga di sambut dengan langit gelap dan deras hujan di siang itu. Sudah tidak ada lagi air mata yang turun.

Semua sudah tumpah hingga habis dari semalam. Kini yang ada hanya rasa dendam yang tersimpan di lubuk hati terdalam.

“Tabahkan hatimu, Merri!” ucap Mbah Karto. “Ibumu sudah melakuakn tugasnya dengan baik. Dia wanita yang baik. Sekarang biarkan dia istirahat dengan tenang.”

Merri tidak menjawab. Ia hanya diam seribu bahasa sambil mengusap batu nisan ibunya.

DUUAAARRR

Petir dan kilat menyambar dengan keras seolah mewakili perasaan Merri sesungguhnya.

Mbah Karto hanya menepuk pundak Merri pelan. Dia paham dengan rasa kehilangan yang di rasakan Merri.

Hanya saja, dia mencemaskan banyak hal. Mbah Karto merasa, kematian Kusuma akan menjadi sebuah bencana yang mungkin lebih buruk. Karena ini baru awal.

.

.

.

.

3 Hari Setelah Kematian Kusuma.

Merri sudah berpenampilan rapi. Dia juga mempersiapkan koper berisi pakaian miliknya dan putranya. Rohi

yang sangat setia juga mempersiapkan diri.

Melihat hal itu Mbah Karto merasa sedikit bingung.

“Kau akan kemana?” tanya Mbah Karto.

“Saya harus pergi mbah.”

“Ya, tapi kemana?” tanya Mbah Karto.

“Mungkin ke Jakarta. Rumah Ibu yang dulu. Disana ada buku koleksi ibu dan juga ruang bersemedi. Mungkin disana saya bisa lebih tenang.” Ucap Merri.

“Apa tidak bisa nanti saja. Tunggu suamimu tugas dulu.”

Merri merenung sesaat. Dia memegang cincin pernikahan yang melingkar di jari manisnya.

Kemudian dia melihat Satria yang tertidur pulas di atas ayunan bayi. Ia bisa saja sembunyi, tapi melihat kematian ibunya, Merri merasa tidak bisa.

“Aku tidak bisa diam begitu saja.” Ucap Merri.

“Merri, kendalikan dirimu. Saat ini sungguh sangat berbahaya kalau kau pergi. Mbahmu akan terus mengejarmu. Terlebih lagi kau juga merusak ilmu sukma abadi miliknya.” Jelas Mbah Karto.

“Ilmu yang membuatnya terlihat lebih muda itu?” tanya Merri.

“Bukan hanya terlihat lebih muda dan segar, tapi juga memberikan kekuatan bagi dirinya. Sebab, ilmu sukma abadi milik mbah Uti tergolomg jahat. Ia harus mencari wanita muda yang memiliki indra keenam untuk di serahkan kepada sang iblis."

"Dengan begitu sang iblis akan menyetujui perjanjian dan memberikan imbalan berupa wajah yang rupawan dan keabadian.” jelas mbah Karto.

“Saya sedikit banyak mendengar hal itu. Tapi saya tidak muda lagi. Dan lagi Satria juga bukan anak yang memiliki indra keenam atapun indigo. Dia anak yang normal seperti ayahnya.”

“Kita tidak bisa tau Merri. Kamu juga tidak boleh menganggap remeh wanita tua itu.”

“Tapi diam dan bersembunyi juga tidak menyelesaikan masalah. Cepat atau lambat dia akan mencariku kembali. Mungkin malam itu yang mati ibuku, tapi aku tidak mau nantinya kau yang mati. Aku ingin kau tetap hidup. Setidaknya aku masih punya keluarga untuk kembali pulang.”

“Merri, kau persis ayahmu. Dia sangat sulit di hentikan.”

Merri hanya tersenyum simpul. Seketika dia merindukan kedua orang tuanya.

“Aku tidak ingin kau mati.” Ucap Mbah Karto.

“Tidak aku tidak akan mati. Aku janji. Aku bukan Merri yang naif dan selalu bersembunyi lagi.” Ucap Merri tersenyum simpul kepada Mbah Karto.

Pria tua itu turut menyunggingkan senyumnya dan mengangguk pelan. Dia menghormati keputusan cucunya.

Walau jauh dalam hati ia sangat mencemaskan keselamatan Merri dan juga Satria. Untuk berjaga-jaga, ia

memberikan sebuah bingkisan kecil dan diserahkan kepada Merri.

“Untuk berjaga-jaga.” Ucap mbah Karto. Merri mengangguk.

“Jaga dia untukku!” Mbah Karto melihat kearah Rohi yang sejak tadi berdiri di belakang Merri.

“SSSttt!!!!” desis Rohi seperti biasa dengan sifat angkuhnya. Dia mengikuti Merri yang pergi meninggalkan rumah. Siap berpetualang meninggalkan nuansa pegunungan yang tenang menuju kota yang penuh hiruk pikuk.

“Kita akan tinggal di rumah itu lagi?” tanya Rohi kepada Merri saat dalam perjalanan.

“Ya!” jawab Merri singkat.

“Bagus! Aku suka rumah itu. Ada banyak gerbang dimensi disana.” Ucap Rohi yang mengenakan kaca mata hitam. “Aku jadi ingin bermain-main dengan boneka jailangkung. Apakah masih ada disana? Terakhir aku menyimpan di ruang semedi ibumu.”

“Entah lah!” jawab Merri tampak tidak semangat dengan pembicaraan Rohi.

Pesta Jailangkung 2// bersambung...

Terpopuler

Comments

Kamelia Zulfa Rasyid

Kamelia Zulfa Rasyid

masih... misterius.....

2020-11-23

0

L_K712

L_K712

up lagi thoorr mangattt

2020-11-23

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!