Malam semakin larut. Kanaya mencoba menarik selimutnya dan mulai memejamkan mata.
Tapi otaknya terus berfikir keras mengenai daun kering dan juga wanita tua yang ia lihat di video. Di mulai dari wanita tua yang tersenyum, kemudian bayangan hitam yang memiliki tubuh sangat tinggi dan kemudian boneka beruang yag sangat lusuh.
Terakhir adalah daun kering yang terletak diatas buku catatannya.
“Daun kering?!” mata Kanaya kembali membuka.
Dia ingat satu hal. Sekali lagi, Kanaya kembali mencek video tersebut. Kali ini ia menggunakan smartphonenya.
Mata gadis itu benar-benar terlihat antusias. Dia memutar video live yang sudah di tonton oleh jutaan orang tersebut.
Kemudian dia mempause bagian dimana yotuber bernama Dimas sedang menggenggam boneka beruang lusuh. Dia perhatikan baik-baik benda yang menempel di atas badan boneka tersebut.
“Daun.” Ucap Kanaya. Dia mengambil daun kering diatas meja belajarnya.
Kanaya me_screenshoot video tersebut dan ia memperjelas gambar yang memang terbilang sedikit gelap. Saat gambar tampak jelas, Kanaya kembali mencocokkan dan daun yang ia punya dengan di gambar.
Walau agak ragu, namun daun yang ia genggam saat ini memiliki kesamaan bentuk dengan ada yang di gambar.
Kemudian Kanaya juga kembali memperhatikan halaman belakang rumahnya melalui jendela kamar.
Hal pertama yang ia sadari, halaman rumahnya tidak memiliki pohon dengan ukuran tinggi. Semua tumbuhan adalah tanaman bunga dengan tinggi tidak mencapai lebih dari satu meter.
Kemudian tidak ada tumbuhan dengan bentuk daun seperti ini.
“Lantas daun ini dari mana?” pikir Kanaya lagi.
CEKLEK
Pintu kamarnya tiba-tiba terbuka. Seseorang menarik daun pintu dari luar sehingga pintu membuka secara berlahan.
Kanaya terus memperhatikan pintunya yang terbuka separoh. Namun tidak satupun yang muncul dari sana.
Ruangan di luar sudah mulai gelap. Mamanya pasti telah mematikan lampu, karena sekarang sudah waktunya tidur dan lampu yang tidak dibutuhkan harus di matikan.
Terlebih lagi saat ini jam sudah menunjukkan pukul 02.45. Tidak ada yang berktivitas di jam seperti ini di rumah ini kecuali beberapa makhluk yang sekedar numpang lewat.
Sepertinya, makhluk yang satu ini sedikit berbeda. Dia tidak numpang lewat atau pun tersesat. Dia hanya berdiri di depan pintu kamar Kanaya yang separoh terbuka.
Kanaya melihat sepintas, makhluk itu mengenakan gaun berwarna putih. Rambutnya hitam terurai panjang hingga menyentuh mata kaki.
Seketika bulu kuduknya berdiri. Diakuinya, dia ketakutan melihat makhluk tersebut. Disisi lain, ia juga penasaran. Terutama tujuan dari makhluk tersebut datang kerumah ini?
Kanaya hanya diam dan memperhatikan. Dia tidak mau berkomunikasi dengan sosok yang berdiri di balik pintu tersebut. Setelah beberapa menit, sosok tersebut memutar balik badannya.
Dia berjalan menjauhi kamar Kanaya. Hal ini membuat Kanaya sedikit lega. Tanpa ia sadari, ia menahan nafas selama makhluk itu terus berdiri di depan kamarnya.
“Siapa dia?” pikir Kanaya.
Dia segera menutup pintu kamarnya. Namun rasa penasaran tidak kalah menghantuinya.
Kanaya mencoba memberanikan diri untuk mengintip. Dia ingin tau kemana perginya makhluk itu.
Di tengah remang-remang cahaya, ia bisa melihat jelas sosok bergaun putih itu berjalan lurus melewati kamar kedua orang tuanya. Kanaya terus memperhatikan sampai sosok tersebut berdiri tepat di depan pintu sebuah kamar yang berada di sebarangnya.
“Arda?” pikir Kanaya.
Ya, makhluk itu sekarang berdiri didepan pintu kamar saudara kembarnya. Ia juga masuk kesana. Hal itu membuat Kanaya semakin cemas.
“Apa yang akan ia lakukan kepada Arda?” pikir Kanaya.
Kanaya merasa tertantang. Dia memberanikan diri untuk mendekati kamar Arda dan membuka pintu kamar Arda lebar-lebar.
Tepat saat itu juga, dengan mata kepalanya sendiri, Kana melihat dengan jelas. Sosok bergaun putih tersebut duduk di atas kasur Arda.
Makhluk yang terlihat seperti kuntilanak itu memperhatikan wajah Arda yang tertidur pulas. Tangan kurus dan pucat itu juga mengelus kepala Arda seperti seorang ibu yang memberikan belaian kepada anaknya di saat tidur.
“Jangan sentuh Arda!!” perintah Kanaya dengan suara bergetar.
Sosok itu menghentikan aktifitasnya. Dia menoleh kearah Kanaya. Walau seluruh wajahnya terhalang dengan rambut hitam panjang itu, Kanaya bisa menangkap satu gurat senyum yang terpapar di wajah hantu tersebut.
Senyum itu semakin memanjang hingga garis lengkung tersebut terbentuk hingga menyentuh tulang pipi yang berada di bawah kelopak mata yang sayu itu.
DEG
Kanaya merasakan ketakutan yang sangat luar biasa. Jantungnya memompa sangat cepat dan badannya menjadi kaku seketika.
Saat itu juga, makhluk tersebut seketika berdiri. Pandangannya lurus ke arah Kanaya.
Tangan kurus dan pucat itu mengacung menunjuk Kanaya yang tidak bisa bergerak sama sekali.
Rasa takutnya membuat tubuhnya menjadi kaku. Tanpa ada aba-aba, makhluk itu segera mendekati Kanaya, ia membuka lengannya selebar mungkin seolah ingin memeluk Kanaya. Namun...
CLIK
Lampu di nyalakan dan sosok itu lansung hilang begitu saja.Kanaya lansung terduduk. Kedua kakinya masih beretar hebat. "Makhluk apa itu?" pikirnya dalam hati.
“KANAYA?” panggil Agus yang menepuk pundak putrinya. Kanaya belum bergeming. Hal itu membuat Agus cemas.
“Kamu tidak apa-apa?” tanya Agus dengan cemas.
Saat itu Kanaya baru menoleh kearah Agus. Matanya berkaca-kaca dan wajahnya terlihat pucat. “Aku melihatnya, Pa.” Ucap Kanaya dengan suara bergetar.
“Siapa? Siapa yang kamu lihat?” tanya Agus cemas.
“Dia ingin mengambil Arda.” Ucap Kanaya menunjuk sosok Arda yang juga terbangun dan duduk diatas tempat tidurnya.
Agus menatap Arda yang tertidur lelap. Dia mencemaskan banyak hal, terutama Kanaya yang memang memiliki kelebihan seperti dirinya.
Namun, Arda? Agus tidak mencemaskan apapun selain sebuah fakta jika anak lelakinya seorang anak autis.
Agus menenangkan Kanaya, “Kalau terjadi apa-apa kamu panggil saja papa atau mama, ya.” Ucap Agus.
“Ya!” ucap Kanaya. Dia berjalan kembali menuju kamarnya. Sementara Agus terus memperhatikan Arda dan berfikir akan banyak hal.
“Apakah itu Arda? Atau Kana?” pikir Agus dalam hati.
Ia mematikan lampu kamar Arda dan terus memperhatikan putranya yang tidur dengan nyenyak. Kemudian matanya beralih kepada Kanaya yang masih berdiri di pintu kamarnya.
“Tidak apa-apa. Tidurlah. Hanya makhluk numpang lewat seperti biasa.” Ucap Agus kembali menenangkan Kanaya.
Kanaya hanya menuruti dan ia menutup pintu kamarnya dengan berlahan.
"Jika benar dia makhluk yang hanya singgah untuk sementara, kenapa dia begitu tertarik dengan Arda? apa dia nenek sihir?" pikir Kanaya dalam hati.
Malam ini jelas dia tidak akan bisa tidur. Terlebih garis senyum sosok itu terus membayangi di benaknya.
.
.
.
.
Pagipun menjelang dan semua terlihat baik-baik saja. Arda seperti biasa, dia akan berisik menceloteh hal-hal yang ia sukai.
Sedangkan ibunya, Karin akan mengomeli setiap tindak tanduk yang di lakukan Arda. Ayahnya, Agus juga terlihat kalem seperti biasa. Melihat hal itu Kanaya mulai menyimpulkan kejadian semalam bukanlahh sebuah ancaman.
Kanaya seperti biasa, dia akan diantar sekolah oleh ibunya dan memulai kehidupan yang membosankan sepanjang delapan jam pelajaran kedepan. Terlebih lagi anak-anak disekolahya semakin menyebalkan.
“Hai Lia!!!!” Bianka dan Veni berlari dan sengaja menabrak Kanaya.
Bukannya minta maaf melihat Kanaya yang hampir terjatuh, dua remaja itu malah tertawa.
Lia yang tidak jauh berada didepannya terlihat cemas. Dia ingin membantu Kanaya namun tangannya sudah di tarik Bianka dan Veni.
“Yuk ke kelas.” Ajak Bianka.
“Tapi itu...”
“Siapa? gue nggak lihat siapa-siapa? hahaha!!!” mereka tertawa cekikikan.
Kanaya berdiri dan menatap tajam ketiga remaja itu dengan wajah datar. Lalu ia tersenyum sinis.
“Cih..!”
Bianka yang mendengar itu lansung membalikkan badan. Dia tidak terima dengan ekspresi Kanaya yang seakan mentertawakannya.
“Lo tadi ngetawain gue ya?” tanya Bianka..
“Oo ternyata lihat toh, gue kira lo benar-benar buta.” Ucap Kanaya yang kemudian berjalan meninggakan Bianka yang semakin kesal.
“Heh!” panggil Bianka.
Kanaya mengabaikan panggilan Bianka. Tidak terima akan tindakan itu, gadis itu menarik ransel kanaya dengan kasar.
“Lo jangan berlagak disini. Dasar gadis cupu nggak punya teman. Lo pikir lo siapa?!”
Kanaya mengibas beberapa debu yang menempel di tasnya. Sebenarnya tidak ada debu di tas Kanaya, hanya saja dia sengaja melakukan itu agar Bianka semakin kesal.
“Kotoran!” ucap Kanaya. “Kotoran itu harus di buang.” Ucap Kanaya lurus menatap Bianka.
Bianka membulatkan matanya. Dia merasa dihina.
Beberapa anak-anak yang berada disana berbisik-bisik.
“Kuarang ajar!” Bianka mulai naik pitam.
Dia tidak mau trek record sebagai cewek populer di sekolah hancur gara-gara di permalukan oleh gadis seperti Kanaya.
Bianka kembali menarik ransel Kanaya dengan lebih kasar. Saking kuatnya, ransel itu lansung lepas dari punggung gadis tersebut dan terjatuh di lantai koridor.
Mendapat perlakuan Bianka yang semakin menjadi-jadi membuat Kanaya mulai gerah. Tanpa aba-aba, Kanaya lansung manarik kerah seragam Bianka dan mendorong gadis itu hingga jatuh kelantai.
Walau terlihat lebih kurus dari Bianka, ternyata Kanaya memiliki tenaga yang tidak bisa dianggap remeh.
“GYAA!!!” bukan hanya Bianka, semua mata yang melihat juga terkejut.
Baru kali ini mereka melihat Kanaya bertindak agresif. Gadis ini selama ini selalu menjaga dinding es dirinya.
“Kurang ajar, berani-beraninya lo!!” Bianka shock, namun dia tidak mau diam.
Kanaya lansung menahan bahu gadis berbedak tebal itu dengan kakinya. Hal itu semakin membuat suasana semakin panas sekaligus heboh.
Mereka tidak percaya, sekaligus takjub dengan tindakan Kanaya. Walau Bianka cantik dan populer, namun tidak semua orang yang menyukainya. Beberapa siswa menganggap tindakan Kanaya cukup heroik.
“Kotoran harus berada di bawah. Jangan ngelunjak.” Ucap Kanaya dengan tatapan dinginnya.
Veni yang melihat temannya di permalukan mencoba mendorong Kanaya. Namun hal itu gagal, sebab Kanaya segera mengelak, sehingga gadis tersebut hanya terjatuh akibat perbuatannya sendiri.
Kanaya mengambil ranselnya dan kemudian pergi meninggalkan dua gadis tersebut. Dia sempat menatap Lia dengan dingin kemudian berlalu begitu saja.
"KURANG AJAR!!!" teriak Bianka. "Awas lo! Gue aduin ke guru. Gue bikin LO NYESAL!!!"
Kanaya tidak peduli dengan teriakan Bianka. Dia tidak peduli dengan tatapan orang-orang sekitarnya.
Dia hanya ingin semua orang untuk tidak mengganggunya. Sebab Kanaya yang cerdas dan memiliki IQ diatas rata-rata adalah seorang antisosial.
"KANAYAAA.... GUE SERIUS AKAN BIKIN LO NYESAL!!!" ancam Bianka dengan suara tinggi melengking.
Kanaya membalikkan badannya. Ia menatap tajam kearah Bianka.
Entah kenapa saat itu juga ia ingin melukai gadis itu atau lebih tepatnya melenyapkannya dari hadapannya.
"Ingin melihat maut?" tanya Kanaya dingin.
Kanaya meletakkan tasnya di koridor. Ia mendekati Bianka kembali. Semua mata memandang seketika merasa takut terlebih lagi Bianka.
Kanaya semakin mempercepat langkahnya dan siap untuk mengakhiri hidup gadis pengganggu itu.
"Biar saya tunjukkan rupanya!" ucap Kanaya yang menyunggingkan senyum cukup mengerikan.
Di ujung koridor, Susan hanya melihat kejadian itu. Dia tersenyum melihat Kanaya. "Menarik." puji Susan dalam hati.
.
.
.
Pesta Jailangkung season 2/ bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
The my heary
kak ,"up yang banyak Donk~🤗~
2021-01-12
0
Ayesha Meghan
Susan si Mbah Uti
2020-12-06
0