Penyesalan selalu datang terakhir. Aku merasa bersalah pada setiap keputusan yang telah aku ambil. Aku
bersalah telah menjadi seperti ini. Bukannya pergi dan berhenti, aku bersikap seolah semua tidak terjadi apa-apa.
Aku bersembunyi di balik cincin pernikahan. Di balik figur sang kekasih dan seorang orang tua. Seharusnya dari awal, aku tolak semua kehangatan ini, jika pada akhirnya aku akan melihat persembahan darah di akhir hayat*.
.
.
.
.
Bel sekolah berbunyi cukup panjang. Artinya, kegiatan belajar hari ini telah selesai. Semua siswa segera bergegas keluar kelas setelah memberi salam kepada guru.
Kanaya pun begitu. Dia memasukkan semua alat tulis kedalam ranselnya.
“Lia, lo janjikan hari ini main kerumah gue!” seru Bianka.
Ia sengaja meninggikan suaranya. Tujuannya tentu menarik perhatian Kanaya.
Bianka ingin Kanaya sakit hati.
Sayangnya Kanaya bersikap seperti biasa. Sejujurnya dia memang tidak terganggu dengan hal itu.
“Gue akan kenalin lu teman cowok yang tampan. Mau anak SMA atau mahasiswa. Gue punya semua. Hahaha!!” seru Bianka lagi.
Lia hanya mengangguk kaku. Dia sedikit merasa bersalah kepada Kanaya.
“Woi, Bi! Lo jangan ajakin Lia yang aneh-aneh dulu. Kita main game aja. Seperti biasa. Atau ga maskeran. Gue udah beli masker.” Seru Veni.
“Ide bagus. Nanti kita maskerin trus lomba tahan tawa!” seru Bianka lagi.
“Ide bagus!” seru Veni. Lia juga mengangguk senang.
Dia melihat kearah Kanaya yang ternyata sudah tidak ada di bangkunya. Kanayaternyata telah berlalu begitu saja tanpa memperdulikan kehebohan Bianka.
Gadis itu, Kanaya, sekarang berjalan diantara para pelajar yang juga hendak keluar dari gerbang penuh penyiksaan ini.
Bagi para pelajar, penyiksaan yang di maksud adalah delapan jam berada disekolah, belajar dan tugas. Setiap hari di tuntut disiplin dan menjawab tes setiap sesi mata pelajaran.
Namun bagi Kanaya, penyiksaannya diikuti beberapa makhluk halus yang ada disekolah. Kalau ada yang menyadari kemampuannya hal itu lebih merepotkan lagi.
Jika sudah begini, ia mengenakan headset dan menyetel musik rock di ponselnya agar ia tidak mendengar lolongan tangisan mereka yang haus perhatian.
Salah satunya adalah arwah penasaran yang menggantung di loteng gerbang sekolah. Dia kerap mengikuti Kanaya hingga gerbang sambil terus teriak histeris.
“GYAAAAA Carikan aku si breng*ek itu!!!!!”
Kanaya menekan batang hidungnya agar tidak mencium aroma gadis itu.
“Kau yang bunuh diri kenapa aku yang sibuk?” gumam Kanaya dalam hati.
Belum lagi arwah-arwah lainnya yang tidak kalah iseng. Seperti hantu kepala butung di perpustakaan.
Pocong yang berada di labor biologi dan hantu yang bentuknya tidak jelas yang selalu berjalan mengelilingi gedung sekolah. Semua itu sering ia hadapi setiap hari.
Dan untuk mengatasinya, ia harus berpura-pura tidak melihat ataupun mendengar mereka.
Semua kebisingan itu langsung hilang ketika dia sudah berada di luar gerbang sekolah. Namun hal itu tidak membuatnya merasa nyaman.
Justru ia akan menghadapi suara yang tidak kalah berisik dari para arwah pengganggu. Semua itu akan di mulai disini, di dalam mobil dimana mama dan saudara kembarnya telah menunggu di parkiran luar sekolah.
“Nenek... nenek sihir. Dia ada...! Nenek sihir! Dia pemakan anak-anak. Nenek... nenek!” dia Ardaya, saudara kembar Kanaya.
Karena menderita asperger syndrome yaitu salah satu jenis autis. Dimana si penderita bisa berkomunikasi dengan baik namun sulit bersosialisasi dan memahami perasaan orang lain.
Hal inilah yang membuatnya disekolahkan di tempat berbeda dengan Kanaya.
Kanaya membuka pintu mobil belakang dan duduk di samping Ardaya yang tidak henti-henti menceracau. Bisa dikatakan jika kembarannya sedang risau.
Dia memang orang yang gampang terganggu dengan suatu hal kecil.
“Ardaya kamu bisa diam. Mama lagi nelfon tante Fitri!” ucap ibu mereka bernama Karin. “Ooh ****!” Karin hampir menjatuhkan smartphonenya.
Dia kaget kedatangan Kanaya yang tiba-tiba.
“Oii lu kenape mahmud?” tanya seseorang yang ia telfon.
“Ga! Anak gue!”
“Ne nenek! Ne nenek. Dia mencuri anak-anak. Nenek nenek si sihirrr! Nenek sihir Hansel Gretel!!”
“Hallo... Fit!” panggil Karin. Dia mulai kehabisan kesabaran.
“Naya bisa bantu mama buat nenangin adek kamu ?” pinta Karin.
Permintaan Karin tidak akan di dengar oleh putrinya. Karin menoleh dan baru sadar jika anaknya pasti mengenakan headset.
“CK!” karin menjentikkan jari depan Kanaya. Gadis itu memperhatikan ibunya.
Karin memberi instruksi agar ia melepaskan headset di kupingnya.
“Ya mah?” tanya Kanaya.
Karin menunjuk kearah si tukang ngomel yang belum berhenti ngomong dari tadi. “Ajak ngobrol Arda, biar kalem dikit?” pinta Karin.
Kanaya mengangguk pelan. Dia menarik wajah Ardaya yang dari tadi melihat keluar jendela dan ngomong tidak jelas.
“Naya?! Naya sudah datang?” tanyanya. Mata Ardaya berbinar saat melihat saudari kembarnya. “Naya tau ada nenek sihir? Nenek yang makan Hansel dan Gretel.”
Kanaya mengangguk dan tersenyum. “Video yang mana?” tanya Kanaya.
Arda langsung mengambil hp yang dia kalungi dan mencari video yang di maksud. Melihat kondisi anaknya yang tenang. Karin segera melanjutkan menelfon temannya Fitri.
“Kamu belum download?” tanya Ardaya.
“Kuota aku hampir habis.”
“Naya memang pelit. Dari dulu Naya terkenal perhitungan. Padahal ada nenek sihir dalam video. Nenek sihir!”
Kanaya hanya angkat bahu. “Ada hal lain yang lebih penting dari video itu tau.”
“Tapi ini penting. Ada nenek sihir! Nenek sihir yang makan anak-anak. Nenek sihir Hansel dan Gretel.”
Kanaya tidak tertarik. Tapi dia harus mendengar Ardaya, jika salah satu orang tidak mau menanggapi Ardaya, takutnya ia akan mengamuk. Sebab Ardaya sangat sulit mengendalikan emosi.
Dia tidak tau bagaimana menyampaikan rasa kecewa, sedih, marah dan juga bahagia. Salah-salah sikap dia bisa mengamuk dan menjadi monster.
“Ok Fit, gue mau jalan. Anak gue udah di mobil semua. Gue harus sediain makan malam buat sang suami tercinta. Gue sibuk. Kalau Arinda sudah sampe di Jakarta tolong kabarin gue. Byeee!!!” Seru Karin. Dia meletakkan smartphone di bangku yang ada disampingnya.
Karin memperhatikan dua anaknya. Arda masih sibuk celoteh video kartun yang dari tadi ia hebohkan. Sementara Kanaya menahan kantuk.
Karin hanya tersenyum melihat dua anak kembarnya yang sama sekali tidak mirip baik fisik dan juga sifat.
“Let’s Go!” Seru Karin yang heboh sendiri. Ia mulai menginjak pedal gas. Namun seorang wanita tiba-tiba mendekati mobilnya.
Dia terlihat tergesa-gesa. Untung Karin bisa langsung menginjak Rem di saat yang tepat.
“Kenapa ma?” tanya Kanaya.
Karin yang sangat shock, mengangkat kepalanya berlahan. Dia melihat wanita didepannya yang juga sama kagetnya. Dia berdiri didepan mobil dan memegang jantungnya.
“Nenek sihir!” unjuk Ardaya.
Wanita itu segera mendekati Karin dan juga Kanaya dan Ardaya dengan cemas. “Apa kalian tidak apa-apa?” tanyanya.
Karin berusaha bersikap ramah. “Kami tidak apa-apa! Maaf soalnya saya terburu-buru.” Ucap Karin.
“Saya yang seharusnya minta maaf. Saya ceroboh!” ucap wanita tersebut.
“Oke, kalau begitu saya pamit dulu.” Ucap Karin akhirnya. Dia tidak mau terjebak pembicaraan yang tidak ada ujungnya ini.
“Ma, sepertinya dia ingin numpang.” Bisik Kanaya.
“Apa? Huft!” Karin terlihat keberatan. Tapi tidak ada pilihan lain. “Hmm mau kemana?” tanya Karin.
“Saya kearah barat. ada apotik yang harus saya temui.”
“Oke deh, kita searah. Silahkan naik.” Ajak Karin.
“Boleh? Terimkasih.” Ucapnya yang berbinarnya. Ia kemudian duduk disamping Karin dan mengenakan sabuk pengaman.
.
.
.
.
Karin melajukan mobilnya. Arda yang mengantuk merebahkan badannya kebadan Kanaya yang sejak tadi sudah kembali menyumbat kupingnya dengan lagu-lagu rock kesukaannya.
Sedangkan Karin terjebak dengan wanita asing yang duduk disampingnya.
Jika di perhatikan, wanita tersebut terlihat masih muda. Dia mengenakan baju bewarna putih dan sepatu heels bewarna putih juga.
Rambutnya di gulung hingga memamerkan leher jenjang dan juga sepasang anting
mutiara.
Kalau di perhatikan, wanita ini terlihat sangat glamaour. Hal itu membuat Karin sedikit curiga.
Seharusnya wanita berpenampilan seperti ini kemana-mana dengan kendaraan pribadi atau naik taksi.
“Maaf saya menganggu. Saya habis melamar pekerjaan di sekolah.” Ucapnya tiba-tiba.
“Oh ya? Di SMP Bougenville?” tanya Karin merasa suprise. “Mau menjadi guru?” tanya Karin.
“Ya, saya mendaftar sebagai guru Bimbingan Konseling. Ini lamaran pekerjaan pertama saya setelah lulus kuliah.” Ucapnya.
“Waw... bagus sekali. Itu pilihan bagus. Jangan langsung nikah. Nanti susah kemana-mana. Apalagi kalau langsung dapat anak dan anaknya kembar lagi.” Ucap Karin.
“Ya... semoga saja.” Ucapnya. “Saya berhenti didepan sini saja.” Tunjuk wanita itu.
“Oke!” ucap Karin yang menepikan mobilnya.
“Itu apotik ayah saya. Kalau kakak butuh obat dan vitamin silahkan datang kesini saja.” Ucapnya.
“Haha... ya boleh!” ucap Karin basa basi.
Gadis itu segera turun. “Oh ya, namanya siapa?” tanya Karin.
“Oh ya, nama..?”
“Jika nanti kamu benar sudah resmi diterima disana, saya nanti akan banyak konseling masalah anak!”
“Susan, nama saya Susan!” ucapnya.
“Oke Susan!” angguk Karin. Dia menyunggikan senyum lalu menaikkan kaca mobil. Karin menginjak pedal gas.
Susan terus menatap mobil keluarga itu hingga menjauh. Dia memberi tatapan kosong.
DEG
Kanaya melepas headset dan melihat kearah belakang mobil. Dia tidak melihat apa-apa selain mobil-mobil lainnya. Tapi jantung dan bulu romanya berdiri dalam sepersekian detik. Tapi sepasang mata kucing itu terus menatap dan mencari tau dari mana sumber energi ini.
Pesta jailangkung 2/ Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Silta ( IG : @silfyanisilta )
semacam karma ini mah.. wkwk
2020-12-15
0
Machan
3 like kak
2020-11-30
1
erma wijayanti
sukaaa...yang ditunggu2 akhirnya muncul juga 😄
2020-11-24
2