bab 4 Bunuh Dia

Mbah Uti yang terlihat jauh lebih muda itu berdiri di hadapan Merri dan anaknya Satria. Wajah wanita yang mungkin sudah memasuki usia satu abad itu terlihat tirus, pucat dengan mata bulat yang jarang berkedip.

Bola matanya bewarna meah darah dengan bibir yang juga senada. Seharusnya ia terlihat cantik, tapi di mata Merri, justri wanita itu terlihat sangat menakutkan.

Mbah uti juga mengenakan gaun bewarna putih. Rambutnya yang hitam gelap, terurai hingga menyentuh mata kakinya. Saat petir menyambar dan pantulan kilat mengenai jendela, Merri baru menyadari, jika mbah uti memiliki tubuh yang sangat kurus. Tubunya hanya kulit pembalut tulang.

“Hyaahahaha!!” mbah uti tertawa. Tangan kurus itu menggenggam batang leher. Semakin tinggi ia mengangkat tubuh itu maka terlihat semakin jelas.

“IBU!!” teriak Merri yang terlihat panik.

Wajah Kusuma terlihat tidak berdaya. Dia pasti mengalami sebuah hantaman yang cukup keras, sehingga tidak sadarkan diri seperti ini. Mbah Uti terus mencengkram leher Kusuma. Wajah tua dan tidak perdaya itu kini setara

dengan wajah mbah Uti. Kaki Kusuma berdiri menginjit, nafasnya tertahan dan tersedak.

“Lepaskan tanganmu dari Ibu ku!” bentak Merri.

“Tapi dia anakku. Aku ibu dari wanita tua malang ini!”

“Kau bukan seorang ibu atau nenekku lagi. Kau monster!!” teriak Merri.

“Oh ya? Saya suka pujian itu!” Mbah Uti terkekeh.

“Khuu.. Mer Merri, cepat pergi!!” perintah Kusuma dengan suara tertahan. Dia menatap Merri dengan wajah memohon.

Air mata Merri mulai jatuh membasahi pipinya yang juga menetesi wajah kecil bayinya. Ia menangis, dan hal itu di sambut isakan oleh Satria.

“Hiks... lepaskan Ibu ku!!” pinta Merri.

“OWWeeee!!!”

“Pergi!!” pinta Kusuma.

“Hmmm!!” Mbah Uti memamerkan senyum yang terlihat innoncent. Ia melihat wajah Merri, bayi yang di gendong Merri dan kemudian Kusuma. “Kalian begitu menderita?” tanya Mbah Uti.

“Ibuk, jika kau dendam dengan anak dan cucumu, maka lampiaskan kepadaku. Jangan ganggu anakku ataupun cucuku.” Ingat Kusuma menatap tajam kearah mbah Uti.

“Hmm!” mbah Uti kembali memamerkan senyum simpul. “Tanpa diingatkan aku juga akan melakukannya. Tapi setelah kau tamat maka anak dan cucumu akan menyusulmu. Lalu kita bertemu di neraka bersama-sama, seperti

keluarga.” Ucap Mbah Uti yang seketika memamerkan seringai senyum yang sangat menakutkan.

Aura kegelapan terus terpancar darinya. Merri dapat merasakan energi jahat yang sangat kuat itu. Ia sendiri tidak berdaya mendekati mbah Uti, terlebih lagi ada Satria yang harus ia jaga. Ia tidak ingin kekuatan gaib apapun menimpa tubuh kecil Satria.

Sementara itu, mbah Uti tanpa ampun menyerang Kusuma, anak yang telah ia besarkan sendiri. Ia dekatkan wajahnya kepada wajah Kusuma, kemudian ia membuka mulut sangat lebar dan menghisap semua aura dan energi Kusuma.

Bak di tarik dengan paksa, Kusuma merasakan kesakitan yang luar biasa. Ia teriak histeris. “GYAAAAA!!!!!””

“IBUUUUUUUUU!!!!!”

“OWEEEEEEEE!!!!!”

“Merri Lariiiii!!! Selamatkan dirimu!!!!” ingat Kusuma untuk terakhir kali. Kepulan asap putih keluar dari wajahnya yang semakin lama semakin memutih dan menyusut. Dalam hitungan detik, Kusuma hanya tersisa kulit

pembalut tulang yang kaku dan tak bernyawa.

Sontak, kaki Merri gemetar hebat. Dia melihat kenyataan pahit yang sulit ia terima. “I ibu... i ibu...!!” tapi ibu yang ia panggil sudah tiada. Tubuh itu di singkirkan begitu saja. Kemudian lansung hancur bak debu saat kaki telanjang mbah Uti menginjaknya dengan keras.

“IBUUU!!!!” teriak Merri histeris. Air mata itu terus tumpah. Emosi itu kemudian terbakar menjadi amarah dan dendam. Nafasnya tersengal-sengak cepat. Ia menatap mbah Uti nanar.

Sementara itu, mbah Uti hanya tersenyum. Secara berlahan, kulit pucat dan sangat kurus itu memberinya sedikit perubahan. Kulit wajahnya seketika menjadi cerah dan sedikit berbadan.

“Dari awal seharusnya aku memakan energi kalian. Kenapa setelah berpuluh-puluh tahun dan usiaku sudah menginjak satu abad, aku baru menyadarinya.” Mbah Uti terlihat puas dengan perubahan badannya yang semakin

muda.

“Jika Kusuma yang sudah tua mampu memberiku perubahan yang sangat signifikan, lantas bagaimana dengan kau, Merri. Secara dalam kemampuan, kita hampir setara. Ops, maaf sepertinya aku jauh lebih kuat.” Mbah Uti terus menyombongkan diri. Ia berjalan mendekati Merri dan bersiap-siap mendekati Merri untuk di ambil raganya.

“Tidak semudah itu wanita tua!!” bentak Merri. Ia mengambil sebuah keris yang terpajang di dinding kamarnya. Keris sakti yang sengaja ia simpan untuk mengatasi makhluk seperti yang ia hadapi saat ini.

Melihat cahaya keris yang sangat kemilauan itu, mbah Uti lansung mundur selangkah. Ia menyadari ada sesuatu yang bisa melukainya disana.

Merri yang penuh akan rasa dendam terus mengacungkan keris di hadapan Mbah Uti. “Tega kau membunuh anakmu?!” bentak Merri yang terus menahan emosi.

“Kau yang tega membuangku. Apa kau masih ingat?” jawab Mbah

Uti.

“Kau juga membunuh ayahku.”

“Itu hukuman bagi manusia normal yang telah ikut campur.” Jawab Mbah Uti.

“Bohong!! Ayahku orang yang disegani dia keturunan dari penganut ilmu putih, ilmu yang kau tentang dan hindari!!” Merri melangkah semakin cepat agar bisa menyerang mbah Uti. Tangan kanan mengacung keris sedangkan tangan kirinya menggendong bayinya yang tidak hentinya menangis.

Mbah Uti menghindar dengan cepat. Terlambat sedikit saja, ia bisa saja terluka dengan keris tua itu. Sepertinya ia menyadari asal benda itu.

“Ya, kau memang cerdas, inilah peninggalan ayahku. Keris ini dari leluhurku!”

“Ya, keris itu memang dari leluhurmu.” Mbah Uti melihat sebuah lukisan yang menggantung di dinding. Posisi lukisan itu tidak jauh dari posisi Merri berdiri. Ia mendapat ide licik dari itu. Dengan sekali tatapan saja, benda itu lansung melayang dan menyerang tangan kanan Merri, sehingga keris pelindung itu terjatuh dari tangannya.

PLAKK

Merri yang kaget akan benda yang seketika menyerangnya, spontan melindungi bayinya. Keris terdorong jauh hingga mencapai rangka Kusuma yang telah menjadi debu. Merri yang lengah lansung di hampiri oleh Mbah Uti.

“Kau? Cucu tidak tau diri!” Mbah Uti siap melayangkan sebuah tamparan. Merri yang kaget dengan keberadaan Mbah Uti terbelalak. Ia terdiam dalam hitungan detik, begitu juga dengan Satria yang tanpa ia sadari menatap

makhluk menyeramkan di depannya.

“He eh!” Bayi Satria bersin kecil. Mata merah mbah Uti itu lansung melihat Satria. Wajah bayi tanpa dosa itu membuatnya lengah dalam beberapa detik.

Kemudian

WHOOOSSSSS!!!

Jendala kaca rumah itu terbuka, angin kencang terhembus bergitu kencang. Pemandangan di luar terlihat sangat gelap dan mencekam. Secara bergantian, petir dan kilat terus menyambar. Kemudian satu sosok dengan kilat bewarna kuning kehijauan itu masuk dengan begitu cepat. Secepat angin dan seterang kilat.

Sosok itu datang memeluk Merri dan Satri dari belakang. Merri merasakan perlindungan yang datang di saat yang tepat. Dia melihat ke belakang. Sosok yang menyelamatnya adalah sebuah makhluk astral dengan sisik ular berwarna hijau memenuhi badan setengah reptil itu.

“Rohi!” ucap Merri.

“Nyaris saja!” gumam Rohi.

Merri terbawa dengan cepat di lantai bawah rumahnya. Rohi menepatkan mereka di atas sofa yang empuk dan nyaman. Namun ternyata, mbah Uti tidak mau diam, dia juga mengikuti Merri.

“BADAAASHHH!!!” Desis Rohi yang terlihat kesal.

“GYAHAHAHA... ternyata iblis kecil ini masih setia mengikutimu!” ucap Mbah Uti yang tertawa terpingkal. “Hai Rohi!” sapanya kepada Rohi yang terus was-was.

“DSISHHH... pergi kau jauh-jauh manusia kotor!” ucap Rohi judes. “Dia dan iblis itu berbagi raga. Sungguh wanita gila.” Gumam Rohi dalam hati.

“Gyahaha... aku kira kau tidak akan mengenalku, namun kau cukup pintar juga.” Ucap Mbah Uti.

“Karena kau tetap terdengar tua dan kolot!” ledek Rohi.

“Kurang ajar! Kali ini aku anggap pujian!” ucap Mbah Uti.

“Aku tidak pandai memuji, wanita tua!” ucap Rohi.

“Oo ya... kalau begitu aku pun juga begitu!!” Mbah Uti menyerang Rohi.

Rohi mencoba menangkis dan kekuatan wanita yang ia bilang tua ini sungguh di luar kemampuannya. Mbah Uti dengan gampang meempar Rohi hingga makhluk itu membentur tembok rumah dan menjadi hancur.

“Rohi!!!!” teriak Merri. “Mbah Uti JANGAN!!!” ucap Merri yang sangat berduka. Ia tidak ingin kehilangan siapapun lagi.

“Apa yang kau inginkan?!” pinta Merri.

“Hmm!!” mbah Uti yang mencoba mendekati Rohi seketika berhenti. Dia tersenyum puas. “Apa kau akan mengabulkannya?” tanya mbah uti.

“Ya!!” jawab Merri.

“Jika itu termasuk anakmu?” tanya mbah Uti lagi.

“Dia hanya bayi normal. Dia tidak mengikuti jejakkku. Kau akan rugi jika mengambil bayiku.” Ucap Merri.

“Aku bisa membuatnya menjadi pembunuh untuk memenuhi hasratku.” Ucap Mbah Uti.

Merri semakin mengencangkan pelukan bayinya. “Dia tidak sehat dan cacat, seperti ayahnya.” Merri berbohong. Rohi membaca rencana Merri. Diam-diam ia mencoba bangkit. Ia melihat kearah tangga, dimana seorang pria

usia lanjut dengan pakaian serba hitam berdiri disana. Ia menggenggam keris yang sempat di jatuhkan tadi.

“OO ya?” mbah Uti membelalakkan matanya.

“Aku sengaja menikahi pria normal yang lemah. Aku tidak ingin bayiku sepertiku. Setiap malam ia terbangun karena menahan sakit badannya yang selalu nyeri. Kakinya tidak kuat, begitu juga dengan daya berfikir. Bisa dikatakan

bayiku lemah dari fisik dan juga mental. Dia tidak bisa apa-apa.” Jelas Merri terlihat meyakinkan.

“Aku biarkan dia hidup, agar aku hanya sibuk mengurus hidupnya dan meninggalkan dunia luar. Aku pilih tinggal di pegunungan, agar bisa membuatnya nyaman.”

Mbah Uti melihat ke arah bayi yang terdiam. Kemudian menatap Merri yang terlihat lelah.

“Bunuh dia dan kau ikutlah denganku!” ucap mbah Uti dingin.

Merri semakin mengencangkan pelukannya. Ia menahan emosi. Ia tidak mau rencana kali ini gagal. Wanita ini harus mati malam ini. Walau hal itu akan sangat mustahil.

Pesta jailankung season 2// bersambung...

Terpopuler

Comments

.

.

thor foto profilmu, mirip tengkorak kepala ya.... sengaja

2020-11-14

0

Fah3751

Fah3751

membunuh Mbah uti memang tak semudah itu ferguso wkwk

2020-11-12

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!