17 Si Buruk Rupa

Merry terus memperhatikan makam didepan matanya. Disana tertulis jelas nama sang ibu, Kusuma. Disampingnya juga terbaring cukup lama, sang ayah yang tidak pernah ia jumpai.

“Beristirahatlah dengan tenang, buk.” Ucap Merri mengusap batu nisan itu. “Kau juga, yah!”

“Kematian kalian, akan saya balaskan. Wanita tua itu pasti akan mati. Saya berjanji!” lirihnya menahan perih.

Langit hari itu semakin gelap dan juga dingin. Seperti menggambarkan suasana hatinya yang sedih dan penuh dendam.

Bayangan terakhir sang ibu masih tergambar jelas dimatanya. Sekali lagi amarah menguasai lubuk hatinya. “Wanita itu harus mati. Nyawa dibalas dengan nyawa!”

DUAAARRR

Petir menyambar begitu keras.

Saat bersamaan, tanah kuburan milik ibunya, Kusuma bergetar. Awalnya ada lubang kecil ditengah tanah pusara tersebut. Namun lambat laun, ukurannya cukup membesar yang kemudian secara mengejutkan sebuah tangan menjulur dari sana.

Tangan kotor karena tanah yang basah itu bergerak cepat. Merri yang kaget tidak sempat mengelak saat jari Panjang nan pucat berhasil meraih batang lehernya yang kurus.

“AKH!”

Dalam tangkapan tak terduga itu. Merri melihat sosok mayat, yang menyerupai ibunya. Bedanya, mayat itu memiliki bola mata hitam gelap.  Rupa hancur dan bau busuk itu menyeringai tepat didepan wajahnya

“Balaskan saja! Tapi apa kau berani?!” ucapnya dengan suara serak.

Merri membelalakkan matanya. Ia tidak menyangka mendapat ucapan menantang itu dari mayat ibunya. Atau dia hanya meniru ibunya.

“GYAHAHAHAHA!!!” mayat menyeramkan itu memecahkan tawa.

.

.

.

Merri tersadar.

“Merri! Kau tidak apa-apa?” Rohi menepuk bahunya.

Wajah Merri masih membeku. Dia baru saja tersadar dari mimpi yang menyeramkan. Ia perhatikan sekitarnya. Semua tampak sama. Tanah kuburan ibunya juga dalam keadaan baik-baik saja.

“Jangan melamun disini. Si buruk rupa dari tadi mengintaimu. Telat sedikit kau akan dirasuki olehnya.” Jelas Rohi yang menunjuk kearah sebuah batu nisan yang terlihat tua dan berukuran besar.

Merri memperhatikan batu nisan tersebut. Di belakangnya ada sosok Wanita dengan mata gelap yang mengintipnya. Dia menyeringai, memamerkan deretan gigi taring hitam tak beraturan.

“Ayo kita pergi dari sini.” Ajak Rohi.

Merri tidak memberikan tanggapan apa-apa. Tapi dia mengikuti perkataan Rohi yang ia percayai saat ini.

“Tolong!!!” teriak seseorang.

Merri memperhatikan kebelakang. Suara itu seperti suara anak laki-laki. Tapi tidak ada anak laki-laki disana.

“Gyaaaaa!!!” kemudian ia mendengar suara anak perempuan yang berteriak. Tapi sekali lagi, tidak ada orang lain selain dia.

“Ini ulah si Buruk Rupa.” Jelas Rohi sekali lagi. Dia merangkul Merri.

Saat berbalik meninggalkan makam. Siburuk rupa ternyata telah berdiri didepan Merri. Dengan tangannya yang kurus dan juga kotor, si buruk rupa memegang kepala Merri dan kemudian berteriak dengan kencang.

“GYAAAAAAAAAAAAAAAAAA!!!”

Merri kaget hingga matanya terbelalak. Rohi yang juga tidak menduga didekati makhluk iseng tersebut langsung mendorongnya. Si buruk rupa terpelanting dan mendorong kebelakang.

Rohi dengan sigap langsung berdiri didepan Merri. Ia melindunginya agar tidak disentuh makhluk tersebut.

“GYAHAHAHAHA!!!” si Buruk rupa tertawa. Padahal posisi tubuhnya yang mengenakan gaun putih kotor masih berbaring di tanah.

“Cih!” Rohi merasa jijik dengan sika psi Buruk rupa. “Pergi sana, bikin ulah saja!” usir Rohi jutek.

“GYAHAHA!!” Siburuk rupa tertawa terbahak-bahak.

Merri yang masih syok hanya bisa menatap makhluk itu dengan perasaan aneh.

“Ada takdir yang akan mempertemukan kalian!” ucap si buruk rupa. “Kau!” tunjuk ke Merri.

“Bersiap-siaplah!” ucap si Buruk Rupa yang kemudian kembali tertawa terbahak-bahak.

“Woi apa maksudmu, hah!!” bentak Rohi.

“GYAHAHA… Kau pikirkan saja sendiri, budak!” ucap si Buruk Rupa yang kemudian masuk kedalam tanah.

“Bu…budak? Siapa?! WOIIII!!!” Rohi tidak terima mendapat julukan tersebut. Namun sayang, saat ia mendekati si Buruk Rupa, makhluk tersebut telah pergi tanpa meninggalkan jejak sedikitpun.

“Dasar setan jelek!!! Awas kalau bertemu, enak saja panggil aku budak! Kau pikir kau siapa?! Kau tidak tau siapa aku hah?!” Rohi yang masih tersulut emosi mengomel tidak jelas.

Tubuh Rohi yang bersembunyi dibalik kulit sawo matang manusia, seketika memamerkan sisik-sisik hijau keunguan berkilau di tangan dan dilehernya.

Sementara itu Merri yang tampak bingung mencoba mencerna apa yang dimaksud si Buruk Rupa.

“Takdir seperti apa?” pikir Merri.

Dia membalilkkan badannya dan melihat kuburan sang ibu. “Andai kau masih disini, mungkin kau bisa membantuku untuk menjawabnya.” Gumamnya dalam hati.

“Woi setan jelek, keluar dari persembunyianmu!!!” Rohi yang masih emosi sibuk membongkar batu nisan yang ada didekatnya.

Merri tersadar jika wajah Rohi sudah berubah kebentuk asilnya. Daun telinganya kembali meruncing dan kedua bola matanya yang awalnya coklat terang seketika menjadi kuning yang dikelililingi warna hitam.

“Rohi!” panggil Merri. “Sudah hentikan!” perintah Merri.

Rohi mendengar perintah Merri. Ia kemudian melihat kulit tubuhnya yang sudah memerkan sisik kasar bewarna hijau dan keunguan.

“Ya, maaf!” Rohi meredakan emosinya. Dia mengecek bokongnya. “Tenang, buntutku belum keluar kok!” ucap Rohi dengan santai.

Merri hanya memutarkan bola matanya. Dia tidak peduli. “Kekuatanmu belum pulih seratus persen, jangan sampai wujud aslimu membuat kita terlacak dengan iblis kiriman nenek lampir itu.” Ingat Merri.

“Ya, maaf. Habis si setan jelek itu mencari gara-gara.” Rohi membela diri.

“Jangan gampang tersulut emosi makanya!”

“Aku tuh ga gampang tersulut emosi, hanya sedikit sensitif. Aku sejenis iblis berhati lembut.” Jelas Rohi.

“Bacot!”

“Aduh duh, Merri sejak jadi mak-mak gampang marah!” gumam Rohi.

“Gua dengar!” ingat Merri.

“Ops, Maaf!”

Kulit tubuhnya kembali menunjukkan kulit sawo matang dengan otot-otot kekar dengan tato memenuhi lengan dan mungkin dada bidangnya. Begitu juga dengan daun telinganya yang meruncing juga kembali kepada ukuran biasa dengan giwang emas menghiasi setiap daung telinganya.

Wajah Rohi juga tidak menunjukkan moncong reptile, namun janggut tipis yang menutupi hamper saparoh wajahnya yang tirus.  Meski begitu, ia memiliki badan yang besar dengan tinggi mencapai 190 cm.

Orang yang tidak mengenal Rohi adalah iblis akan langsung menyukainya. Banyak yang menyangka jika dia kakak Merri atau lebih terlihat seperti ayah Merri dengan otot-otot memukau.

Namun di mata Merri, Rohi tetap iblis ceroboh yang gampang emosi. Jika beresembunyi di tubuh manusia, dia lebih terlihat seperti bayi raksasa yang suka ngeyel dan rewel.

Dia hanya terlihat serius jika menggunaka telfon genggam. Itupun karena fokus menyelesaikan game candy crush. Tapi setiap ada bocah menantangnya bermain game online bertema perang, Rohi akan menolak dengan alasan persamaian dunia. Padahal sebenarnya dia gaptek.

Merri dan bodyguard iblisnya yang menyamar seperti manusia itu memasuki mobil mereka. Kemudian mereka meninggalkan tanah pemakaman umum.

.

.

.

“Tolonggg!!!” seperti suara angin, teriakan itu kembali menerpa pendengaran Merri.

“Suara itu terdengar seperti suara anak laki-laki.” Ucap Merri.

“Aku yakin itu ulah si buruk rupa.” Ingat Rohi yang sedang menyetir mobil.

“Takdir, dia bilang takdir.”

“Omong kosong. Jangan dengarkan. Mereka pada umumnya suka menyebar berita tidak jelas. Kabar burung. Ramalan yang palsu. Semua itu dilakukan untuk mendapat perhatian dari orang-orang sepertimu.” jelas Rohi.

“Mereka ingin pansos alias panjat sosial. Karena mereka dari kasta terendah didalam jajaran dunia setan. Dianggap lemah, tidak berguna dan juga aib. Agar mereka bisa diterima, mereka mencoba mengelabui manusia, membuat para manusia dengan menyebar fitnah. Dengan begitu, jika ada manusia yang percaya perkataannya, sama artinya mereka punya follower, dan itu meningkatkan kehidupan mereka.” Jelas Rohi.

Merri membuka smartphonenya dan melihat wajah putranya. Dia tidak mendengar ocehan Rohi lagi.

“Kebiasaan!" geritu Rohi tersadar kalau Merri sibuk dengan galeri handphonenya.

“Oya, Mer. Apa wajah kek gini terlihat tua, ya?” tanya Rohi tiba-tiba.

“Kenapa nanya seperti itu?”

“Soalnya kemaren ada yang nanya, ibuk-ibuk cerewet. Dia mengira kalau Satria cucu saya.” Jelas Rohi. “Kenapa tidak bilang adek atau keponakan?” protes Rohi.

Merri memejamkan matanya. “Jangan emosi!” ingat Merri.

“Kenapa?”

“Wanita itu hanya berusaha jujur.” Ucap Merri kemudian tersenyum tipis.

“Maksudnya? Aku mirip kakek-kakek? Gue tua gitu?” Seru Rohi meniru gaya bicara orang-orang yang sering ia tonton di video berdurasi pendek.

Merri hanya tersenyum tipis. Ia kemudian pura-pura tidur agar Rohi tidak menanyakan pertanyaan konyol lagi.

“Padahal gue masih muda. Usia gue belum sampai seribu tahun. Kenapa di bilang tua??”

Merri kemudian membuka matanya. Dia ingin mendengar iklan di radio dari pada ocehan Rohi. Namun saat bersamaan, Merri melihat sepasang ABG tepat didepan mereka.

Anak laki-laki yang terlihat ketakutan dan juga seorang anak perempuan dengan ekspresi datar. Mereka bergandengan tangan dan berdiri ditengah jalan raya.

Rohi yang menyetir tetap melaju dengan cepat, seolah tidak melihat anak-anak itu.

“ROHI, Berhenti!!!!!" teriak Merri.

“Kenapa? Ada apa?” tanya Rohi bingung.

“Berhenti!!!! Ada anak-anak didepan!!!!”

Rohi langsung menginjak rem. Namun dimata Merri, mobil mereka melewati anak-anak usia tanggung itu. Merri berfikir mereka pasti tertabrak.

Merri segera turun, begitu juga dengan Rohi.

Ia langsung mencari keberadaan tubuh anak-anak itu.

“Merri kenapa? Kenapa berhenti?” tanya Rohi bingung.

“Ada anak-anak…!!!” Merri ingin menjelaskan apa yang ia lihat. Sepasang anak, satu perempuan dan satu anak laki-laki yang ditabrak, tapi anehnya tubuh itu sekarang berada di pinggir jalan menatapnya.

Merri juga menatap mereka. Wajah itu tampak Lelah dan juga bingung. Dia masih syok dengan kejadian tadi tapi bingung dengan apa yang ia alami.

“Kalian siapa?” tanya Merri.

“Siapa?” tanya Rohi yang melintasi Merri.

Merri berusaha melihat kedua anak-anak tersebut. Mereka dihalangi badan besar Rohi. Namun saat Merri kembali melihat anak-anak itu, mereka telah hilang.

"Anak-anak apa? siapa yang kamu lihat Merri?" tanya Rohi.

Merri terdiam. DIa juga tidak yakin dengan apa yang ia barusan terjadi. Namun sebuah tulisan menarik perhatiannya.

"TAKDIR!"

.

.

.

Pesja Jailangkung 2/ bersambung

Terpopuler

Comments

Fah3751

Fah3751

Kaya nya anaknya Karin yang kembar itu deh ya akhir nya setelah sebulan update juga kak

2021-07-19

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!