“Hari ini di sekolah, Arda tanpa sengaja mendengar wali murid bergosip. Mereka membahas rumah angker atau semacamnya. Sejak saat itu dia terus membahas nenek sihir.” Jelas Karin kepada Agus.
Agus yang duduk di ruang tengah memperhatikan Arda yang sibuk menonton video di layar handphonenya. Dia memperhatikan film kartun klasik.
“Itu video yang diberikan gurunya biar pikirannya teralihkan. Takutnya dia hanya terus mengingat cerita aneh itu terus. Sebab Arda memiliki daya ingat yang sangat tajam hanya saja...”
“Dia harus banyak belajar untuk tetap fokus.” Lanjut Agus. Dia menghela nafas.
“Ya.” Ucap Karin.
“Tapi hari ini memang ada berita orang hilang sih.” Ucap Agus kepada Karin dengan wajah cemas.
“Maksudnya?” tanya Karin.
Agus tidak menjawab. Matanya melihat kearah Arda. Karin paham maksud pandangan Agus. Tanpa mengeluarkan suara sedikitpun, Karin menarik tangan Agus sekuat tenaga.
“Kenapa?”
“Ssstt!!” intruksi Karin yang terus menarik Agus hingga menuju halaman belakang rumah. Dimana disana tempat ia biasa menjemur pakaian yang telah di cuci.
“Maaf sayang, tapi kita harus tetap menjaga kuping Arda agar tidak mendengar hal-hal berbau kriminal, kekerasan, mistis dan juga kata-kata jorok.” Ingat Karin. “Soalnya dia...”
“Ya paham... dia memiliki ingatan tajam.” Angguk Agus yang sering mendengar ucapan itu dari Karin. Bisa dikatakan, Karin cukup bawel sebagai ibu rumah tangga.
“Bagus kalau kamu ingat. Jadi, kamu ingin bahas apa?” tanya Karin mengingat hal serius yang tertunda.
Agus berfikir sejenak. Ternyata Karin belum tau apa-apa mengenai berita yang tersebar hari ini. hal itu membuatnya sedikit lega. “Bukan apa-apa.” Jawab Agus.
“Bukan apa-apa? Perasaan kamu mau bahas sesuatu yang penting. Aku udah kepo banget tau.” Ucap Karin.
Agus hanya tersenyum. Karin memiliki rasa ingin tau yang tinggi.
Jika suatu hal yang membuatnya penasaran maka dia akan mencecarnya sampe dia mendapatkan berita tersebut. Agus yang paham bentuk penyakit istrinya terpaksa memutar otak.
Dia melihat sekitar pekarangan rumahnya sembari mencari ide.
“Ayo dong bilang.” Desak Karin.
“Aku Cuma bilang, tiba-tiba pengen makan di luar.” Ucap Agus tiba-tiba.
“Waw, ide yang menarik. Jadi aku bisa absen masak sehari.” Ucap Karin.
“Tapi perasaan bukan itu deh yang ingin kamu bilang. Ingatan aku tajam loh.” Ucap Karin berbisik ke kuping Agus.
“Hahaha... ingatan yang mana?” goda Agus yang mulai mendekati Karin. Agus mulai menggeliti istrinya.
“Hahaha... curang main gelitikan!!” tawa Karin yang membalas perlakukan Agus.
Saat dua pasangan suami istri ini bercanda layaknya anak muda, sesosok makhluk tengah berjalan di dalam rumah mereka.
Dengan gaun putih yang menutupi seluruh badannya, makhluk dengan kulit putih pucat pasi itu terus memperhatikan Arda yang di tinggal sendiri.
Kemudian dengan langkah yang pelan, dia terus mengitari seluruh rumah. Menaiki anak tangga dan berjalan melewati tiap kamar yang ada di rumah itu.
Langkah makhluk itu berhenti di depan satu kamar dengan pintu bewarna merah jambu. Dia memperhatikan pintu itu cukup lama. Seringai senyum seketika mengembang di wajah pucat tersebut.
“SHAAAAAAAhahaha...!” suara tawa yang berat dan aura dingin hampa langsung bersemayam di rumah tersebut.
Agus yang berada di halaman rumah bersama Karin seketika berhenti. dia melepaskan pelukannya dan matanya menatap kedalam rumah.
“Kenapa?” tanya Karin kaget.
“Anak-anak dimana?” tanya Agus.
“Arda dan Kana di dalam.”
Belum selesai Karin berbicara, Agus segera masuk kedalam dan mencek keberadaan anak-anaknya.
Benar saja, Arda tidak lagi duduk di sofa. Dia meninggalkan smartphone yang masih menyala begitu saja. Hal itu membuat Agus panik.
“Kenapa, say?” tanya Karin menyusunya.
“Arda mana?” tanya Agus panik.
“Dia di..si ni.” Karin menunjuk sofa kosong. “Barusan, dia disini.”
“KANA?!” panggil Agus yang kemudian meneriaki nama Kanaya.
“Di kamar, dia biasanya di kamar, belajar.” Jelas Karin kebingungan.
Agus berlari menaiki anak tangga. Dia merasa cemas sekaligus ketakutan.
Sesampai di atas, Agus membuka pintu kamar Kana. Hal sama terjadi. Kamar itu kosong dan tidak ada Kanaya disana.
“Kanaya, Ardaya...!!!” panggil Agus.
“Sayang, kamu kenapa?” tanya Karin. “Ada apa?” dia juga ikutan panik. Dia mencemaskan suaminya sendiri.
“Anak-anak mana?” tanya Agus lagi.
“Kenapa, Pa?” tanya Kanaya muncul di ambang pintu kamar.
“Pa papa cari kita?” tanya Arda yang juga berdiri di belakang Kanaya.
“Ya... kalian dari mana?” tanya Karin kepada kedua anaknya.
Agus yang sudah tampak gusar segera menghampiri mereka. Dia mencek keadaan mereka seperti wajah dan juga pergelangan tangan.
Kemudian mata Agus tertuju pada kantong kresek yang mereka bawa.
“Dari depan, kita jajan somay.” Ucap Kanaya yang memamerkan isi kantong kresek warna hitam. Disana ada dua bungkus somay.
“Buat Arda mana?” tanya Arda yang meminta somaynya.
“Ini!”
Mendengar penjelasan mereka Agus merasa lega. Hal itu membuat Karin merasa ada yang aneh dengan suaminya.
Sejak dulu, Agus selalu menjadi ayah siaga. Namun kali ini sikap Agus di nilai agak berlebihan.
“Papa cari kita kenapa?” tanya Kanaya.
“Papa takut kalau kita di curi nenek sihir.” Ucap Arda. “Nenek sihir, nenek sihir!!!” ucap Arda yang kemudian berlari menuruni anak tangga.
“Heii... jangan lari.. nanti jatuh!” Karin segera menyusul anak laki-lakinya.
.
.
.
“Kamu mau belajar lagi?” tanya Agus.
“Ya!” angguk Kanaya. Dia terus menatap Agus dengan wajah tanpa ekspresi. Namun di balik itu kanaya mencoba membaca pikiran ayahnya.
“Bagus kalau gitu. Papa nggak akan ganggu.” Ucap Agus yang kemudian keluar dari kamar tersebut.
Namun matanya masih terus mengawasi sekitar kamar anaknya.
“Apa papa memikirkan sesuatu?” tanya Kanaya.
“Hmm!” Agus sedikit bingung mau jawab apa. “Tidak. Nanti kalau mau keluar rumah kamu harus bilang. Sekarang lagi musim orang hilang.” Ucap Agus lagi.
“Baik.” Angguk Kanaya.
Agus tersenyum dan kemudian dia menutup pintu kamar kanaya.
Gadis itu kemudian kembali menyalakan laptop dan melihat video yang tengah viral saat ini. “POTONGAN VIDEO LIVE SEBELUM HILANGNYA YOUTUBER TERKENAL.”
Kanaya mengambil buku catatan dan pulpen. Dia mulai menulis apa yang ia lihat.
Rumah Tua, arwah penasaran, gelap, tinggi, amarah dan boneka beruang.
“Boneka beruang ini menarik sekali.” Pikir Kanaya. Kanaya memperhatikan semua boneka yang ia punya di kamar. Ada boneka pinguin, lumba-lumba, kucing, anjing, kura-kura, sapi dan babi
“Aku baru sadar kalau aku tidak pernah punya boneka beruang.” Pikir Kanaya lagi.
Dia kembali melihat video di layar laptopnya. Video dalam keadaan pause. Namun perhatiannya tertuju pada sosok yang berdiri di belakang dua pria berbadan kurus dan gemuk tersebut.
Walau samar, dia seperti melihat bayangan seorang wanita usia lanjut yang mengenakan jubah hitam. Wanita itu tersenyum.
Dia tersenyum dan melambaikan tangan kearah kamera.
Kanaya kembali menulis kata "Nenek Sihir" tersebut dalam catatannya.
"Tumben video orang ini real, biasanya dia hanya melakukan gimik." pikir Kanaya lagi.
Dia menulis di catatan dimana memang disana hanya khusus untuk merivew mana konten yang benar-benar horor atau sekedar pencari sensasi.
Dan Dimas salah satu Youtuber yang lebih mengedepankan Sensasi alias gimik.
Mata kucing gadis tersebut tiba-tiba kaget melihat apa yang ia temukan di dalam buku catatannya. Selembar daun kering yang terletak rapi diatas buku tersebut.
Kanaya bingung, sejak kapan ada daun kering di dalam kamarnya. Dia mencek keadaan jendela kamar yang memang berada di depannya. Jendelanya memang sedikit terbuka.
Kanaya berdiri dan mencoba menutup jendela tersebut. Barulah saat itu, kedua matanya melihat sebuah bayangan yang mengenakan baju bewarna putih.
Dia berjalan pelan dari pintu halaman belakang menuju pagar pembatas halaman tersebut. Bayangan itu hilang disana begitu saja.
Kanaya kembali meraih daun kering tersebut dan melihat bayangan tersebut.
Dia mencoba mencerna banyak hal. Apakah ini sebuah kebetulan ataukah ancaman.
.
.
.
Pesta Jailangkung 2/ bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Papahe Kiia Kiiyut
masih aku pantauuuu
2020-12-02
0