“Oke anak-anak, kita sudah di rumah!” seru Karin saat mobilnya sudah memasuki halaman rumah.
Kanaya langsung membuka pintu mobil dan memasuki rumah dengan bangunan minimalis yang cukup asri dan juga hangat. Baginya, tidak ada tempat lebih baik selain di rumah.
Dengan cekatan, ia membuka kunci rumah dengan mamasukkan nomor pasword.
Beep
Pintu itu terbuka secara otomatis. Wajah cantik nan lelah itu melangkah; melewati dinding cermin rumahnya di ruang tamu, kemudian menaiki anak tangga dan kemudian membuka pintu yang di cat berwana merah jambu.
Dibalik ruangan itu, ia telah di tunggu oleh sebuah kasur empuk ber sprei warna merah jambu dan juga sebuah boneka kucing bewarna putih.
Tanpa pikir panjang, Kanaya langsung merebahkan dirinya diatas kasur. Ia biarkan matanya terpejam untuk beberapa saat.
Saat mata itu tertutup, ia seolah melihat seseorang dengan daster putih berdiri di ambang pintu kamarnya. Kanaya yang kaget langsung membuka matanya lebar-lebar.
Ia terduduk dan menunggu sosok siapa yang lewat barusan.
“Kana!” panggil Karin yang berdiri tiba-tiba di ambang pintu tersebut. “Ganti seragam dulu.” Ingat Karin yang kemudian beralih perhatian kepada Arda yang sepertinya mengalami kesulitan membuka sweater.
“Ya!” jawab Kanaya dengan wajah sedikit kaget.
“Arda, tarik dulu resleting sweater kamu biar bisa di buka!” jelas Karin kepada Arda.
.
.
*Jika pernikahan adalah buah dari ketulusan cinta. Maka yang aku beri adalah sebuah mala petaka.
Ibarat* bom *waktu, cepat atau lambat ia akan meledak. Menghancurkan dinding yang menjaga hubungan silaturahmi ini.
Dinding itu akan hancur berkeping-keping... begitu juga dengan cintaku*.
.
.
.
Karin menyalakan kompor listrik. Ia menyediakan wajan dan juga bahan makanan. Dengan cekatan tangannya memainkan pisau mengupas dan memotong semua bahan makanan yang akan menjadi sajian makan malam hari ini.
Dalam waktu sekejap, pekerjaan rutinnya akan segera selesai. Semantara itu ia disibukkan dengan perlengkapan dapur yang serba praktis, Kanaya menemani saudaranya Arda yang masih sibuk dengan film kartun di TV plasma mereka.
“Hansel Gretel tidak mau di makan. Mereka memberi tulang kepada nenek sihir. Nenek sihir merasa mereka kurus...” ucap Arda yang fokus melihat layar TV.
Dia terus mengikuti ucapan teks bahasa indonesia dari film tersebut.
Sebagai anak yang mengidap autis, Arda hanya akan mengikuti hal-hal menurutnya menarik. Ia tidak peduli dengan pendapat orang lain yang bisa saja bosan mendengarnya.
“Nenek sihir selalu bodoh.” Ucap Kanaya kepada Arda.
“Nenek sihir selalu makan anak-anak gemuk.” Balas Arda.
“Kamu gemuk, pasti kamu akan di makan nenek sihir.” Ucap Kanaya dengan wajah datar.
Mendengar ucapan sang kakak, Arda hanya bisa menatap Kanaya dengan ekspresi tak menentu.
“Aku akan mendorongnya ke api agar dia mati terbakar, seperti yang di lakukan Hansel Gretel.” Ucap Arda.
“Tapi di rumah kita tidak ada api. Mama memasak dengan kompor listrik.” Ucap Kanaya lagi.
“Benar juga? Itu bahaya sekali!” Arda terlihat cemas. Dia menggigit ibu jarinya.
“Haruskah, haruskah kita beli kompor ada api?” tanya Arda yang menggaruk-garuk kepalanya karena cemas.
Melihat ekspresi cemas sang adik, Kanaya mengembangkan senyumnya. “Hahaha... aku hanya bercanda!” ucap Kanaya mengelus kepala Arda lembut.
BRUMM!!!
Kanaya dan Ardaya mengenali suara deru mesin yang berasal dari halaman rumah mereka. Deru motor Rally yang memang di gunakan ayahnya berangkat kerja.
“Papa sudah pulang!” seru Kanaya.
“Aku pesan kompor yang ada apinya kepapa, apa papa mau beli? Tapi papa harus beli agar kita gak dimakan nenek sihir.” tanya Arda.
“Hei.. aku hanya bercanda tau.” Ucap Kanaya yang mulai kesal dengan Arda.
Beep
Pintu terbuka dan seorang laki-laki dengan tubuh tinggi tegap itupun masuk. Ia mengenakan helm yang menutupi hampir seluruh wajahnya.
Saat helm itu terlepas, terlihat wajah berkulit sawo matang dengan tatapan mata yang dalam yang terlihat sangat lelah.
Meski begitu ia selalu memamerkan senyum hangat kepada kedua penggemar dan satu fans fanatiknya.
“Papa, papa, papa!” seru Ardaya yang sontak bergerak menuju sang ayah..
Melihat gelagat Ardaya, Kanaya juga langsung mendekati ayahnya. “Pa, mana helm papa katanya Arda mau bersihin.” Ucap Kanaya menggoda adiknya.
“Arda tidak minta helm tapi kompor api.” Elak Arda.
“Katanya bersihin helm, kamu harus konsisten.”
“Kanaya bohong, Arda mau minta kompor. Kompor api, kompor api besar yang bisa bakar...”
“Aduh suamiku tercinta sudah pulang...!!!” seru Karin. “Kalian kasih ruang buat papa, papa capek tau.” Ucap Karin dengan suara tegas kepada kedua anaknya.
Kanaya bersyukur ibunya datang di saat yang tepat. Dia langsung menarik Arda kembali duduk di sofa.
“Papa papa papa, ada nenek ssi...”
“Hmm.... Hansel dan Gretel sudah mulai kabur!” unjuk Kanaya ke layar Tv mereka.
Arda menoleh kelayar Tv dan dalam sepersekian detik otaknya kembali menikmati tontonan nya itu kembali.
“Hmm... capek, yang?” tanya Karin kepada suaminya yang tak lain bernama Agus.
Seperti biasa, Agus selalu menyambut dengan senyuman yang sama. Walau sudah lima belas tahun menjalani hidup berumah tangga, senyuman itu selalu membuat Karin terpesona.
Mata kucing wanita itu selalu berbinar-binar karenanya.
“Mau makan atau mandi dulu?” tanya Karin.
“Sepertinya mandi dulu. Di luar lumayan macet dan sepertinya bauku sama seperti aspal jalanan.” Jelas Agus.
“Oke, siapkan dirimu, aku mau tata meja makan dulu.” Ucap Karin.
.
.
.
Lima belas tahun lamanya dan Karin semakin mencintai laki-laki di depannya. Semakin ia pandang, ia masih tidak percaya jika teman sekelasnya inilah yang menjadi jodohnya.
Bahkan kebahagiaan mereka semakin lengkap sejak kehadiran dua anak dengan keunikan masing-masing.
Saat ini, di jamuan makan malam kedua anak-anaknya dan suami yang ia cintai duduk menikmati hidangan makan malam.
“Kana, apa ada hal menarik disekolah?” tanya Agus kepada Kanaya.
Karin mulai melirik Agus dengan tatapan tidak suka. Secinta apapun dia dengan sang suami, namun dia tidak mau ada yang mengobrol di saat mulut sedang mengunyah.
“Hmm... begitu aja.” Jawab Kana datar.
“Ada nenek sihir!” seru Arda yang membuat Karin menatap jengkel kepada Agus. “Nenek sihir yang makan anak-anak.”
“Itu kenapa kita jangan ngobrol saat makan.” Ucap Karin setengah berbisik kepada Agus.
Agus hanya nyengir. Dia selalu lupa. Jika mereka ngobrol di meja makan, maka Arda akan ikut celoteh dan lupa dengan makannya.
“Arda jam setengah tujuh malam, ini jadwal mulut mengunyah bukan mengobrol. Kamu harus ingat itu ya!” ucap Karin kepada Arda.
“Ya jam setengah tujuh malam, mulut aku harus mengunyah bukan bicara.”
“Bagus, itu baru anak mama!” ucap Karin mengembangkan senyum kepada Arda. Kemudian menatap Agus dengan wajah sedikit jengkel.
“Tapi nenek sihir Hansel dan Gretel juga mengincar Arda dan juga Kana. Gitu katanya.” Kata Arda tiba-tiba.
Karin menahan nafas. Seharian ini telinganya cukup pengang mendengar kata nenek sihir.
Saat itu Agus menghentikan suapannya. Biasanya dia bisa memaklumi imajinasi Arda. Namun kali ini ada sedikit was-was baginya.
Entah kenapa ia begitu tidak suka dengan ucapan Arda. "Semoga ini hanya kebetulan." pikir Agus.
“Nenek sihir pemakan anak-anak.” Ucap Arda yang kemudian fokus menatap Agus.
"Nenek-nenek tidak punya gigi, dia tidak akan mampu memakan anak-anak." gumam Karin yang kemudian menyuapi Arda agar tetap mengisi perutnya dengan makanan.
.
.
.
*Perjanjian yang tak pernah aku ingin kan itu tidak henti-hentinya menghantuiku hidupku dan kelansungan kebahagiaan keluargaku.
Aku terus di hantui waktu*.
Pesta Jailangkung 2/ bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Silta ( IG : @silfyanisilta )
yah kirain sama tito wkwk
2020-12-15
3
Kamelia Zulfa Rasyid
lanjut dong kak... wah... tak sangka ternyata karin sama agus... terus temen yang lain sama siapa ya ??? dan perempuan yang lamar jadi guru itu, apakah neneknya meri????
2020-12-01
2