12 Masalah Bianka, Done

"Kanaya sifatnya sungguh keterlaluan. Dia bertindak kasar kepada teman kelasnya sendiri," ucap Susan.

Dia memimpin pembicaraan siang itu. Karin meringis mendengar pernyataan yang menohok. Sementara itu sang putri yang disinggung dari tadi tidak menunjukkan ekspresi apa-apa.

"Jelaslah, anak macam apa yang bertindak gila seperti itu," gumam orangtua Bianka dengan nada mencemooh.

BLEB! Karin kembali di serang rasa tidak enak hati.

Susan mendengar gumaman si ibu itu. Dia kembali menyunggingkan senyum tipis.

"Bianka memang disini terlihat seperti korban, tapi tindakannya yang lebih dulu membuat kekcauan ini terjadi." lanjut Susan.

"APA? Tidak mungkin?! Anda jangan asal nuduh ya guru baru!" orangtua Biangka tersulut emosi.

Karin menyeringitkan dahinya. Dia sedang membaca siituasi yang terjadi namun gagal paham. "Kamu diapain sama dia?" bisiknya ke Kanaya.

"Bianka memprofokosi Kanaya. Dia ingin menyerang Kanaya, mungkin bukan dengan fisik melainkan mental. Salah satu caranya dengan bersikap mengabaikan Kanaya. Namun karena terlalu banyak bensin dia malah membakar dirinya sendiri makanya yang terjadi adalah seperti sekarang," jelas Susan.

"Buk... nggak mungkin saya seperti itu. Saya kesakitan buk!" Bianka tidak terima dituduh seperti itu.

"Anda bersekongkol! Saya yakin anda ingin menjebak putri saya. Tapi anda harus lihat siapa diantara dua anak ini yang terlihat baik-baik saja dan mana yang mengalami luka?" protes orang tua Bianka.

Karin melipat tangannya, dia paham kondisi yang terjadi. "Ooo... gitu kronologinya?!" seru Karin.

"Maksud anda?" tanya orang tua Bianka yang kini melirik Karin dengan tatap bengis.

"Saya sebagai orang tua dari Kanaya minta maaf atas perbuatan putri saya," ucap Karin.

"Bagus kalau paham, tapi minta maaf saja tidak cukup!"

"Ya, saya pribadi juga minta maaf. Sebab saya selalu mengingatkan putri saya untuk tidak cari masalah dengan orang lain. Sejak bayi bahkan sejak dalam usia janin saya ucapkan ke anak-anak saya, Jangan pernah memulai perkelahian, abaikan orang iseng atau ingin berniat jahat, karena mereka pengen pansos dengan cara menjatuhkan kita. Tapi kalau dia sudah tak terkendali tunjukkan taring, dan bilang siapa diantara kita terlahir sebagai macan atau hanya heina!" ucap Karin dengan tatapan menyombongkan diri didepan orang tua Bianka.

"Apa lo ga tau, kalau gue juga mantan preman waktu sekolah?"  gumam Karin dalam hati.

"Jadi, adinda Bianka sok atuh kenapa ganggu anak tante sampe dia bisa hajar kamu?" tanya Karin ke Bianka.

Bianka menunduk. Dia gelisah dan matanya langsung berat karena menahan literan air mata.

"Anda jangan tanya ke anak saya. Anak saya tidak apa-apa. Dia anak baik-baik dan putri kebanggaan kami. Seharusnya kamu tanya saja keanak kamu yang memang bar-bar!" tuduh orang tua Bianka yang dengan suara penuh amarah.

"Heh ibu jangan nuduh anak saya bar-bar, justru anak ibu yang sepertinya memang suka ganggu anak saya! Iri ya karena anak saya jauh lebih pintar?" bela Karin.

Pak Restu dan Bu Susan mulai panik. Kenapa acara diksusi malah menjadi pertengkaran para ibu-ibu. Keduanya sama-sama keras lagi.

"Buk... Tolong tenang sebentar! Tidak baik bertengkar didepan anak-anak kita!" seru Pak Restu.

"Tapi dia duluan!" seru orang tua Bianka.

"Heh enak aja, situ aja dari tadi ngegas!!" balas Karin.

"Tapi Anda duluan yang asal nuduh ke anak saya!"

Karin ingin sekali menonjok wajah ibu-ibu didepannya ini. "Ma!" Kanaya memegang tangan Karin.

"Ibu ibu! Saya disini tidak memihak siapa-siapa!" seru bu Susan. "Saya dan pak Restu sama-sama memberi hukuman yang adil kepada keduanya."

"Hukuman apa?" tanya Karin dan orang tua Bianka.

"Udah jelas-jelas anak dia yang salah kenapa anak saya juga di hukum?" protesnya.

"Ya, demi kebaikan keduanya." ucap Pak Restu tegas. "Bianka dan Kanaya harus membuat pernyataan maaf secara tertulis yang ditandatangani masing-masing, lalu keduanya diistirahatkan selama tiga hari kedepan,"putus pak Restu.

"Anak saya terluka, tidak mungkin anak saya salah. Jika cara sekolah sudah tidak bersih terpaksa saya lakukan dengan jalan hukum!" ancam orang tua Bianka.

"Buk, bukan seperti itu!" pak Restu mencoba menenangkan.

"Ini jelas tidak adil, tidak mungkin korban juga harus mendapat hukuman seperti pelaku. Jenis hukum apa ini?"

Kanaya yang hanya diam tertunduk menatap kearah orang tua Bianka. Tatapan tajam itu lansung menuju sepsang bola mata yang berkobar dan berapi-api.

"Seharusnya anda yang minta maaf kepada Bianka!" ucap Susan tiba-tiba. Kanaya yang ingin mengucapkan kata-kata yang sama langsung menoleh ke arah bu Susan.

"Dia anak perempuan anda satu-satunya, paling kecil. Tapi sejak kecil selalu diabaikan karena anda dan sang suami terlalu sibuk mengurus dua putra anda yang ingin anda sekolahkan tinggi-tinggi. Memang sih sekolah bergengsi dan kuliah ditempat paling bagus, tapi kelakuan keduanya juga lumayan bikin pusingkan?" ucap bu Susan.

Bianka menatap bu Susan, begitu juga dengan ibunya yang terlihat syok. "Apa perlu saya uraikan masalah yang telah dibuat oleh dua jagoan kesayangan anda dan suami? Mungkin terlalu berlebihan, mungkin aku lebih baik beberkan keinginan anda yang akan menikahi Bianka dengan seorang pria yang sudah kalian persiapkan setelah dia menyelesaikan SMA nya. Ya, Bianka kesal karena terus dianggap sepele," ucap bu Susan.

"Huh! Anda jangan sok tau. Mneikah saja belum sudah menggurui orang bagaimana cara membesarkan anak!" cemooh ibu Bianka.

"Jalan hukum juga ide yang bagus, sekalian kita bahas mengenai pelecehan yang pernah dialami Bianka oleh saudaranya sendiri, bagaimana?"

DIAAAAAAMMMMMM!!! teriak Bianka.

Semua yang ada didalam ruangan itu terdiam. Karin mengunci rapat-rapat mulutnya. Kenyataan yang pahit membuatnya ikut sedih.

Pak Restu yang baru mengetahui masalah salah seorang siswa juga terdiam. Apalagi ibunya Bianka yang tidak bisa berbuat apa-apa.

Sementara itu Bianka terus menangis menahan kenyataan pilu sekaligus memalukan ini.

"Mari kita pulang!" putus orang tua Bianka yang langsung membawa anaknya keluar dari ruangan itu, Mereka tampaknya langsung memutuskan untuk pergi.

Kanaya melihat punggung kecil Bianka. Dia sudah lama mengatahuinya dan itu yang membuatnya tidak mau berurusan dengan gadis itu.

Sayangnya, dia selalu mencarinya untuk menjadi pelampiasan rasa kekesalannya.

Lebih dari itu, ia bersyukur semua pernyataan itu tidak keluar dari mulutnya, melainkan dari mulut orang lain.

Masalahnya, "Kenapa Bu Susan tau? Apa dia sama denganku?" pikir Kanaya dalam hati.

Ia melihat bu Susan yang ternyata telah memperhatikannya. Sesaat wajah cantik guru itu mengembangkan senyum kepadanya.

Pesta Jailangkung Season 2

Terpopuler

Comments

Puskesmas Tumbangbaraoi

Puskesmas Tumbangbaraoi

thor yg cantik.akhirx aktif jg,sllu setia mnunggumu

2021-05-21

0

ren rene

ren rene

lama menantimu thor

2021-03-14

0

Fah3751

Fah3751

waow sekian purnama akhirnya muncul juga wkwkwk lanjut kakkkk

2021-03-13

1

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!