Malam itu menjadi malam terpanjang bagi Kana. Ia tidak mau memejamkan matanya sedikitpun. Perasaan takut masih menghantuinya. Meski saat ini ia berada dikamar yang sama dengan Arda, dan kedua orang tuanya.
Agus memutuskan agar kedua anaknya malam ini tidur satu kamar. Kana dan Karin diatas kasur, sedangkan Arda dan Agus tidur di lantai yang sudah dialasi kasur santai yang agak tipis.
Kebaradaan kedua orang tuanya yang dekat dengannya tidak membuatnya merasa aman. Dia masih merasakan ancaman dari makhluk tadi.
Setiap kali ia mengintip Arda dan papanya. Arda kembali tidur dengan pulas, namun tidak bagi ayahnya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Agus.
Kana terdiam. Dia hanya menunjukkan mimik wajah cemas dan takut.
"Tidak apa-apa, ada papa dan mama disini." ucap Agus.
Kana melihat Karin yang tertidur pulas. Ekspresi tidur Karin yang damai sama persis dengan Arda. Sekali lagi, Kana diserang rasa iri. Dia ingin memiliki tidur damai seperti mereka berdua.
"Apa papa pernah takut?" tanya Kana kepada Agus.
"Takut itu wajar, itu sifat manusia." jelas Agus singkat.
"Sekarang papa masih merasa takut?" tanya Kana.
Agus tidak langsung menjawab pertanyaan Kana. Perasaan itu jelas masih ada hingga ia sering alami kesulitan tidur.
"Kenapa tidak jawab?" tanya Kana.
"Mau dengar nasehat papa?" Agus melemparkan sebuah pertanyaan.
"Jangan pernah tunjukan perasaan takut itu, meski sebenarnya kamu benar-benar mati ketakutan," ucap Agus.
Sekarang giliran Kana yang merenung. Ia mencerna kata-kata ayahnya.
"Berarti papa masih merasa takut sampai sekarang?" tanya Kanaya.
Agus tidak menjawab. Matanya merenung cukup jauh. Pikirannya terlempar 14 tahun silam, dimana ia dihadapi sebuah mimpi mengerikan. Mimpi yang ia alami saat matanya tidak terpejam namun terbuka ditengah malam.
Kanaya melihat ekpresi ayahnya yang seketika tegang dan cemas. Meski tidak bisa membaca apa yang dipikirkan sanga ayah, ia bisa menerka jika pria yang ia hormati itu sedang memikirkan hal yang menyakitkan.
"Apa yang papa fikirkan sangat menganggu papa?" tanya Kana.
Agus tersadar dan bayangan akan mimpi buruk itu hilang dalam benaknya. Ia terlihat agak gelisah.
"Tidurlah, besok papa akan berangkat kerja lebih pagi." ucap Agus yang mengakhiri pembicaraan mereka.
Kana menuruti perkataan ayahnya. Ia kembali merebahkan badannya dan menarik selimut hingga menutupi semua badannya. Ia ingin pagi cepat datang.
.
.
.
.
Saat Kana pada akhirnya bisa menikmati tidur malamnya yang nyanyak. Gadis sepasang kaki telanjang menaiki kasur tersebut.
Hasil piajakan di atas material yang empuk membuat Kana kembali merasa terganggu. Pijakan yang awalnya pelan tiba-tiba semakin cepat dan kencang.
Bahkan ia merasa ada yang melompat diatas kasur ukuran Queen itu. Kana yang membukung seluruh badannya didalam selimut mencoba bangkit dan memberanikan diri melihat sosok tersebut.
Saat ia berhasil keluar dari kepompong selimutnya, Kana yang baru bangun melihat bayangan bocah laki-laki melompat diatas kasur.
"Arda?!" teriak Kana.
"Ha ha ha... Bangun kana... Sudah pagi. Ayo berangkat sekolah!" seru Arda yang sudah terlihat rapi.
"Berisik!" dumel Kana. Suasana hatinya masih jelek. Ia menenggelamkan tubuhnya kedalam selimut.
"Ayoo bangun!!!" Kali ini Arda menarik selimut Kana.
"Arda! gua gak sekolah.. gua libur hari ini!" ucap Kana.
"Libur?" pikir Arda. "Tapi hari ini bukan hari libur." bantah Arda.
"Ya gua disuruh guru ga sekolah!" teriak Kana dibalik selimutnya.
"Guru yang nyuruh?" tanya Arda.
"Iya!!"
"Tapi Guru Arda tidak menyuruh Arda libur." pikir Arda.
"Mana gua tau!"
"Arda ingin libur..." pikir Arda yang tampak galau. Dia berbalik dan melihat Karin berjalan diluar kamar. "Mama... Arda pengen libur!" Ucap Arda.
Kana mengabaikan Arda yang ingin bolos. Suasana hatinya yang kacau membuatnya tidak ingin bangkit dari kasur. Ia ingin tidur seharian. Ia takut, malam nanti tidak bisa tidur kembali.
Sreekkk
Pintu kembali terbuka. Kana mendengarnya dan mengira jika itu ulah Arda atau mamanya yang sedang merapikan kamar.
Sreeekkk...
Sreekkk
Ia merasakan ujung selimutnya kembali ditarik. "Arda, aku mau tidur, jangan ganggu!" perintah Kana denganmata terpejam.
Meski dengan suara yang dingin dan tidak bersahabat, selimutnya masih ditarik hingga membuat kepalanya keluar dari selimut. Pantulan matahri menyilaukan matanya yang masih ngantuk.
"Arda!" ucap Kana kesal.
Dia segera terduduk diatas kasur. Dihadapannya tidak ada siapa-siapa.
"Arda?" panggil Kana.
Hening.
"Arda?" panggil Kanaya sekali lagi.
Hening, tidak ada sahutan dan tidak ada orang lain selain dia didalam kamar.
GLEK
Ia menelan ludah dan memberanikan diri untuk mencek dibawah kasur. Kanaya merangkak dan mendekati ujung bagian kasur kedua orangtuanya. Meski merasa takut, dia mencoba memberanikan diri.
"Arda... jangan usil," ucapnya dengan lantang. Ia tau itu bukan arda, tapi setidaknya dengan begitu ia bisa mengumpulkan keberanian.
"Aku kakak kamu, aku lebih tua dan lebih berani dari kamu ya!" peringat Kana lagi.
GLEK
Ia kembali menelan ludah. Berlahan namun pasti. Ia mencapai ujung kasur. Tidak ada siapa-siapa. Namun bagaimana dibawah sana? DI bwah dipan ini?"
HUFT...
Kanaya menghela nafas. Saking takutnya dia tidak sadar telah menahan nafas sejak tadi.
"Aku harus berani!" Pikir Kanaya. Dia dengan ceketan mengintip apa yang ada dibalik dipan ini.
ZONK
Kosong!
"Tidak ada apa-apa!" seru Kanaya yang segera bersandar diatas kasur. Dia memegang dadanya yang sudah gemuruh cepat.
Jantungnya tidak berhenti berdetak. Tapi ia lega, tidak ada hal menakutkan dibawah sana.
Kana yang menyandarkan badannya diatas kasur melihat kearah cermin diatas meja rias. Cermin bulat dengan diameter cukup besar itu tepa berada disisi kiri kamar dan menghadap kearahnya.
Saat itu ia sadar. Hal yang takuti ternyata berada disisi kirinya, duduk dan memperhatikannya dengan sangat dekat. Makhluk mengerikan itu memajangkan senyum yang menakutkan.
"GYAAAAAA!!!!!!"
B.e.r.s.a.m.b.u.n.g/ Pesta Jailangkung Season 2
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Silta ( IG : @silfyanisilta )
blm up lg ya
2021-04-02
0