Karin menghampiri Kanaya yang sedang merebahkan dirinya di dalam kamar. Setelah pertemuan dengan orang tua
Bianka dan guru konseling mereka berdua belum memutuskan untuk berbicara satu patah katapun.
Karin menahan rasa ipenasarannya. Dia ingin mendiskusikan masalah hari itu berdua saja dengan putrinya. Seperti saat ini hanya ada dia dan Kanaya.
Masalah Ardaya, ia meminta bantuan Agus untuk menjemputnya.
"Mama hanya ingin tau, anak itu ngapain aja sampai kamu pukul dia?" tanya Karin yang langsung ke poin inti.
"Aku gak ngapa-ngapain. Dia hanya ingin melihat aku sedih tapi dia selalu gagal," jelas Kanaya.
"Lalu kenapa hari ini dia berhasil buat kamu marah?" tanya Karin menatap Kanaya dengan serius.
Kanaya terdiam. Dia ingat sosok semalam yang melewati kamarnya.
"Kanaya, mama tidak ingin kamu kenapa-kenapa," ucap Karin cemas. Dia menggenggam tangan putrinya.
Kanaya merasa nyaman di perlakukan selembut ini dengan ibunya. Dia merasa bersyukur Karin selalu memahaminya.
Tapi seketika perasaan itu terusik dengan hawa dingin yang menyerang bulu kuduknya. Mata gadis itu langsung melihat keluar kamar. Ia melempar pandangannya hingga menuju pintu kamar Arda.
Pintu bercat bitu itu seolah dibuka berlahan kemudian tertutup dengan berlahan pula. Seolah ada seseorang yang sedang membukanya.
Karin melihat wajah putrinya dengan tatapan bingung. Ia menoleh kebelakang dan melihat apa yang sedang di perhatikan Kanaya.
"Kamu lihat apa?" tanya Karin.
"Ti tidak ada?!" geleng Kanaya. "Aku seperti mimpi buruk, atau mungkin salah lihat," jelas Kanaya dengan suara agak gemetar.
Karin masih menengok kebelakang. Dia masih berusaha untuk mencari tau. "Andaikan gue bisa melihat apa yang
dia lihat? Sial! Kenapa gue terlahir normal sih?" pikir Karin dalam hati.
"Ma!" panggil Kanaya menepuk pundak Karin.
"Astaga naga!" Karin kaget ditepuk tiba-tiba. Efek otak horor dia sampai lupa dengan suara anaknya sendiri. "Kenapa?" tanya Karin masih memegang dadanya.
"Ma, aku mau cerita sesuatu..."
"GWAAAAA!!!!"
"Astaga Naga!! TUHAN Jantung GUEH!!!" seru Karin keceplosan dia terkejut untuk kedua kalinya. Kana juga ikutan kaget dengan teriakan yang tiba-tiba muncul di balik pintunya.
Ardaya yang mengenakan sweater berkepala dinosaurus berlari menghampiri mereka dan berteriak di depan
pintu.
"HAg HAG HAG!!" dia tertawa senang. "Suara tirex.. GYA... Titanosauria... GYA... plateosaurus GYA... Sauropoda GYA!!"
"Suara Mama cantik jelita... GYAA!!!" Karin yang setengah hati menahan kesal bangkit dan menyerang Arda. "Awas kamu ya, berani-beraninya bikin mama kaget?!" seru Karin menangkap Arda dan menggelitik bocah itu.
"HAG HAG HAG... Ampun mama.. ampun.. HAG HAG!! PAPA... Arda di serang... arda diserang mamasaurus!!" seru Arda. "Tapi Mama kenapa ngomong kasar," protes Arda.
"Kapan?"
"Gu gue kasar, tidak sopan. Contoh tidak baik, Mama memberikan contoh jelek," jelas Arda.
"Serius, sepertinya kamu salah dengar!!" kilah Karin.
"Mama bohong, mama lakukan dia kesalahan.. Pertama bicara kasar kedua berbohong. Anak bandel akan ditangkap nenek sihir," jelas Arda.
Kanaya memperhatikan tingkah keduanya. Dia tersenyum senang melihat mama dan Ardaya yang bisa lepas tertawa.
"Andai saja aku juga terlahir seperti Arda, Bebas mau lakuin apa aja tanpa ada rasa takut di intai makhluk lain," pikir Kanaya.
.
.
.
.
Malam menjelang, begitu cepat. Karin menyelesaikan tugasnya sebagai seorang ibu yang siap sedia memberikan makanan terbaik untuk anak-anaknya.
Sekarang giliran sang bapak. Karin tidak tahan menunggu reaksi Agus saat tau meja makan telah disulap dengan lilin-lilin cantik.
“Candle light dinner memang selalu terbaik,” piker Karin yang selalu berbunga-bunga.
Rasa cintanya terhadapa sang suami tidak pernah berkurang sejak dulu. (Jangan pada baper plis 😊)
Karin menaroh dua gelas flute, sebuah ember aluminium yang kemudian diisi dengan kerikil batu es dan terakhir sebotol minuman kesukaannya dan sang suami.
“Sempurna! Perfekto!” serunya memuji dirinya sendiri. “Paling enak membahas masalah anak dengan suasana seperti ini,” pikirnya lagi.
BRRR!!
Karin mendengar deru motor diluar rumahnya. Ia sangat hafal dengan suara mesin satu itu. Agus telah sampai
dirumah lagi.
Ia langsung bercermin merapikan pakaian dan juga riasan wajahnya.Walau tidak menor yang penting harus terlihat cantik dan rapi. “Eyeliner sudah rapi, gigi free lipstick, oke mantap surantap,” pikir Karin.
Gara-gara masalah Kanaya, Karin meminta bantuan kepada Agus untuk menjemput Arda dari sekolah, setelah itu ia
harus kembali ke kantor.
Sebagai seoran laki-laki yang ia kenal selama sekian tahun, pasti Agus tidak suka hal-hal seperti itu. Ia tidak ingin anak-anaknya terlibat masalah di sekolah yang kemudian mengganggu jam kerjanya.
“Okay, Karin kendali siatusi!” seru Karin mempersiapkan diri dengan senyum cemerlang.
“Papa pu… lang.” ucap Agus yang baru masuk kedalam rumah yang sedikit sepi. Matanya langsung tertuju kemeja makan yang terlihat sangat beda dari biasanya.
“Selamat datang..!!” sambut Karin dengan senyum yang sangat lebar di wajahnya.
Agus melihat istrinya yang menyambutnya. Dia tersipu dengan usaha Karin. Tapi tetap Agus ingin tau apa yang terjadi disekolah hari ini.
“Silahkan duduk dan makan dulu,” sambut Karin. Semakin lama senyumnya semakin kaku.
“Kanaya di skors?” tanya Agus tanpa basa-basi.
“Mampus.” Ucapnya dalam hati. “Minum dulu,” ajak Karin menyuruh Agus untuk duduk.
Ia membuka botol minuman dan menuangkan kedalam gelas flute kemudian ia sodorkan ke Agus.
“Tapi Kanaya bagaimana?” tanya Agus tetap focus dengan pertanyaannya.
“Dia diatas kamar, lagi istirahat.” Jelas Karin.
“Anak yang dia aniaya itu bagaimana?” tanya Agus lagi.
“Dia juga mendapat hukuman setimpal, soalnya dia yang memulai pekara dengan Kanaya,” jelas Karin.
“Apa Kanaya bicara suatu hal tentang anak itu?” tanya Agus lagi.
“Maksudnya?”
Agus mulai menampak raut wajah yang gusar, “Apa dia menceritakan sesuatu tentang anak itu, seperti kejadian kelas lima SD?” tanya Agus.
“Tidak, dia tidak membaca pikiran siapa-siapa. Hanya saja seorang guru sudah tau masalah yang menimpa anak itu, makanya Kanaya tidak dituntut. Tapi tetap disalahkan,” jelas Karin. Dia tiba-tiba merasa bersalah.
“Huft…!! Syukurlah!!” ucap Agus legas. “Aku hanya takut Kejadian sewaktu SD terulang kembali,” ucap Agus.
Karin mengangguk. Dia juga mencemaskan hal yang sama. Dia tidak ingin Kanaya melakukan kesalahan yang sama.
“Sayang, mana minuman yang ingin kamu tawarkan?” tanya Agus.
Karin bangkit dari lamunannya. “Ow iya, ini.” Karin memberikan gelas flute it uke Agus dan ia juga menuangkan untuk dirinya sendiri.
Agus memutar gelas itu dengan pelan dan kemudian menghirup aromanya.
“Tos!” ajak Karin.
Agus yang ingin meminumnya langsung menghentikan niatnya. Dia tersenyum kearah sang istri yang masih mempertahankan sifat gila masa mudanya hingga saat ini. Setidaknya didepannya sebagai suami.
KLING
“Demi orang tua Tangguh!” seru mereka.
Kemudian mereka meneguk minuman tersebut.
“Coca cola selalu yang terbaik!” puji Agus.
“Ya, apalagi kalau lagi diskon, beli satu gratis satu.” Sambung Karin.
“Tapi kenapa harus dipindahin ke botol wine?”
“Ini replika ada yang jual di toko online, makanya aku beli. Tapi kerenkan!”
“Jenius juga. Lalu makan malamnya apa?”
"Mie rebut dan telor dadar," jelasnya Karin.
Agua melotokan matanya. Suasana yang sudah mendukung tapi makan malanya hanya mie instan? mungkin itulah yang ada dibenak Agus, "Gak sempat masak. Anak-anak aku beliin makanan diluar. Lagian kamu juga belum gajian," jelas Karin tidak enak hati.
"Maaf mengecewakan," tutup Karin.
"Haha..Haha... iya iya...mie juga cukup enak dimakan dengan suasana kek gini, pasti mie terasa sangat beda!" hibur Agus.
"Ngeledek aja!" gumam Karin.
Keduanya pun menetertawakan keabsuran hari ini. Agus memeluk istrinya yang mungkin cukup Lelah menghadapi masalah di sekolah dan juga jamuan makan malam yang aneh tapi nyata ini.
.
.
Suara gelak tawa itu pun cukup nyaring hingga lantai atas. Sesosok makhluk yang mengenakan gaun bewarna putih yang berdiri di anak tanggak paling atas memperhatikan suara itu.
Kemudian dalam keheningan itu ia kembali memperhatikan pintu yang bercat biru. Ya, dia kembali tertarik untuk
kembali memasuki kamar Ardaya.
.
.
Aura yang dingin dan hampa itu juga membuat Kanaya yang berniat tidur lebih cepat menjadi bangun. Ia lansung
duduk diatas kasurnya.
“Arda…!!” gumamnya. Ada ribuan perasaan yang tak menentu berkecamuk di dalam hatinya.
Pesta Jailangkung Season 2/Bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Amelia
Crazy up dong 🙏🙏
2021-03-25
1
Fah3751
nenek Mery kah yang manggil
keren ih Karin dinerr nya pake mie rebus wkwk
2021-03-16
0
ren rene
masih penge lanjut
2021-03-16
1