Pintu kayu itu terbuka. Padahal tidak ada angin yang mendoronganya. Hal itu membuat Bobi dan Kuncoro semakin ketakutan. Namun mereka juga enggan mundur. Demi subcriber dan juga follower yang setia, mereka harus mencari boneka beruang tersebut.
"Kun... lu yakin?" tanya Bobi sekali lagi.
"Ya, gue yakin. Kita cari boneka itu disini lalu kita pamer kepada penonton setia kita. Lu harus ikut karena lu bertanggung jawab atas berkurangnya ketidak percayaan mereka kepada kita." ucap Kuncoro menarik kerah Bobi.
"Kok gue?"
"Gara-gara lo yang tidak menghentikan live, rahasia kita hampir terbongkar."
"Kan itu juga salah kalian yang ngomong sembarangan depan layar."
"Sudahlah, lo juga ikut salah. Lo juga ikut bertanggung jawab."
"Bac*t, bilang aja kalo lu juga takut."
"Nggak, gue nggak takut sama sekali ya!"
Dreeee...
Pintu kayu kedua terbuka sendiri. Suara derit kayu tua yang rapuh itu membuat mereka berhenti berdebat. Bulu kuduk mereka kembali berdiri. Aura dingin membuat suasana semakin mencekam. Ditambah lagi dengan satu cahaya dari luar yang menerangi satu benda yang terduduk rapi diatas kursi kayu goyang. Benda itu yang mereka cari. Sebuah boneka beruang yang sudah lusuh dan kotor. Boneka beruang yang diikat dengan dua benda seperti penggaris, ada ujung bagian bawahnya, terdapat sebuah spidol tua yang tintanya juga mengering.
"Itu dia!" ucap Kuncoro yang terus memperhatikan benda tersebut.
"Apa benar itu boneka beruangnya? Kenapa terlihat menyeramkan?"
"Karena dia pernah membawa bencana dan membunuh orang yang ia mau." jelas Kuncoro.
"Seseram itukah?"
"Ya, sangat menakutkan!"
"Glek!"
"Mari kita ambil."
"Nggak apa-apa emang?"
"Sekarang sudah 2020, tahun diaman manusia lebih menakutkan dibandingkan setan. Jika dia benar ada dan terekan kamera itu artinya kita Viral. Jika kita Viral, maka kita terkenal. Jika kita terkenal akan banyak tawaran iklan dan mungkin film. Kalau kita nulis buku horor walau hanya berisi teori konspirasi, juga tidak masalah. Karena kita sudah mendapat perhatian masyarakat dengan menjual rasa seram dan menakutkan." jelas Kuncoro. "Jika itu terjadi, gue nggak butuh Dimas lagi, gue bisa berdiri sendiri tanpa harus jadi pesuruh dia." ucap Kuncoro.
Sekali lagi, Bobi hanya bisa diam. Dia tidak berani memihak salah satu dari temannya. Kuncoro benar, Dimas lebih bersikap ngebos dibandingkan teman atau tim kerja. Padahal mereka sudah berteman sejak SMA. Tapi sisi lain, Kuncoro terlalu serakah dan itu membuat Bobi tidak nyaman. Walau cerdas, Kuncoro juga agak pelit dan perhitungan sebagai teman. Beda dengan Dimas yang suka mentraktirnya makan dan jalan-jalan. Oleh sebab itu ia tidak mau memihak. Dua orang ini tidak sempurna di matanya, namun selalu ada untuknya.
Kuncoro mendorong tubuh tambun Bobi. "Lo yang ambil."
"Kenapa harus gue?" tanya Bobi. Dia terdorong hingga pintu kedua dimana dalam tiga atau lima langkah lagi ia bisa meraih boeneka tersebut.
"Karena lo dekat dengan boneka itu!"
"Kurang ajar!" sembur Bobi. Dia dikerjai.
"Cepat ambil, gue nggak mau berlama-lama disini!" perintah Kuncoro.
"Dasar keriting!"
"Oi gendut, cepatan!!"
"Ya, gue ambil."
Bobi melihat kearah kursi goyang. Dia memperhatikan boneka yang duduk dan menghadap kearahnya. Boneka lusuh itu juga tersenyum, dan hal itu semakin terlihat menakutkan dimata Bobi.
"Kenapa dia melihat gue?" tanya Bobi dalam hati.
"Bob, buruan!" suruh Kuncoro.
"Sabar, bawel!"
Bobi memberanikan diri untuk mendekati boneka tersebut. Dia masuk kedalam ruangan gelap dan pengap. Saat Bobi menginjakkan langkah pertamanya, ia mendengar derik kayu dan juga daun kering. Pria berbadan gempal itu sekali lagi berusaha tegar. Dia tidak mau kembali terlebih lagi Kuncoro telah melototinya.
Berlahan tapi pasti, Bobi terus mendekati kursi goyang tersebut. Perhatiannya tak lepas dari boneka yang duduk diatas sana. Sehingga, baik Bobi maupun Kuncoro tidak sadar jika seekor tikus got meletawi kakinya, berlari kearah kursi goyang tersebut dan menggoyangkan kursi.
Dreeeek Dreeeeekkk
Bunyi kayu yang menderu itu cukup mengagetkan dua pemuda ini. "GYAAA!!!"
"Kursinya goyang!!!" tunjuk Bobi.
"Buruan ambil, dasar gend*t."
Bobi hanya bisa membatin. Dengan terpaksa ia mengambil boneka tersebut. Saat ia membalikkan badannya, ia melihat sepasang mata hijau bersembunyi diantara kegelapan ruangan tersebut.
GLEK
"Apa lagi ini?" tanya Bobi.
"Lo liat apa lagi, cepat buruan kesini!!!" bentak Kuncoro.
"Itu!!" tunjuk Bobi. Ia masih melihat dua bayangan mata hijau yang menatapnya. Bobi mencoba mempertajam pandangannya, tapi seketika dua mata itu hilang begitu saja di hadapannya. "Itu ba barusan apa ya?" pikirnya. Ia memperhatikan boneka beruang itu lagi. "Apa yang gue lakuin benar?"
"Oi Bob, lo lama amat. Buruan keseni!!" bentak Kuncoro.
"Ya!!" jawab Bobi. Dia segera menghampiri Kuncoro.
TAP
"Maaaaain..yuuuk...."
Bobi seketika berdiri. Bulu kuduknya meremang hingga menggigil ke puncuk kepala. Ia baru saja merasakan sebuah tepukan yang mendarat di pundaknya. Terkebih dengan suara tipis yang lewat saja di kedua pendengarannya. "Ma main?" pikir Bobi yang mulai merasakan ada yang tidak beres dirumah ini dan boneka yang ia genggam.
"Bob! Lu bener-bener lelet banget!!" desak Kuncoro.
Bobi tersadar dan ia hendak memberitahukan kepada dua temannya, "Kita harus pergi dari sini, gue dibisikin hal aneh-aneh tadi."
"Jangan ngarang lu. Mana bonekanya, bawa kesini!" Kuncoro malah membawa boneka itu dan pergi meninggalkan Bobi. Bobi mencoba melihat kedalam ruagan tersebut. Sebuah bayangan putih dengan stelan gaun lusuh lewat melintasi ruangan gelap tersebut. Bobi membelalakkan matanya dan ia segera pergi menyusuli Kuncoro.
.
.
.
"Guys, ini piring apa ya? gambarnya ayam jago? Sepertinya orang kaya jaman dulu juga makan piring sederhana seperti ini guys. Tapi gue bingung lagi, kenapa rumah ini sampe nggak laku gitu?" Dimas masih sibuk melakukan Live, sampe pada akhirnya Kuncoro dan Bobi masuk dalam layar mereka.
"Kalian ngapain?" tanya Dimas. Dia tidak suka saat live dua temannya ikutan masuk tanpa seizinnya.
"Ini, boneka Jailangkung yang gue maksud. Ini boneka pembawa petakanya!" seru Kuncoro.
Dimas melihat boneka itu dengan pandangan jijik. Kotor, lusuh dan bau. "Kalian serius?" tanya Dimas.
"Ya Dim. Lu tanya aja Bobi kalau nggak percaya?"
"Ya Dim, gue juga lihat penampakan disana." ucap Bobi.
Dimas hanya menatap miris dengan kondisi teman mereka. Selera mereka sama payahnya dengan penampilan mereka. Dengan berat hati Dimas mengambil boneka ditangan Kuncoro. Lembab dan basah, dan ada cairan lengket yang menempel di tangannya. Tapi demi terlihat profesional didepan kamera, Dimas menahan rasa jijiknya.
"Guys, ini boneka beruang yang dimaksud dua teman gue. KUncoro dan Bobi. Menurut kalian bagaiamana, boneka ini seram atau lebih terlihat kotor kumal dan jijik?"
"Dim, jaga omongan lo!" ingat Bobi.
"Tapi menurut cerita yang beredar, boneka ini berhasil memanggil setan terganas dan memakan banyak korban jiwa. Gue jadi penasaran, seseram apa setan yang bisa dia panggil. Soalnya, kalo gue sendiri malah menilai boneka ini kalau di cuci sampe bersih trus jahitannya di rapiin, sama badannya di isi kapas bisa gue jadiin kado ulang tahun cewek. Cewek gue pastinya hahaha!!"
"Coba lo dengar, disana juga ada suara!" seru Kuncoro.
"Hahaha!!Suara ? Guys, Kuncoro bilang ada suaranya."
"Coba aja lo dengar, pak telinga lo sendiri."
Dimas terdiam, wajahnya terlihat serius. Sebab Kuncoro sudah bicara dengan nada tinggi. Jika di tolak, maka ia bisa ngamuk. Demi terlihat didepan kamera, maka Dimas akan mengikuti arahan Kuncoro.
"Mari kita dengar, seperti apa bunyinya?" Dimas mendekatkan boneka itu kedaun telinganya. Dia tidak menddengar apa-apa selain suara air yang mengdendap di dalam serat kain boneka tersebut.
"Coba lo dengar baik-baik, Dim!"
Dimas mulai gondok dengan sikap keras kepala Kuncoro. Tapi demi follower tercinta dan juga harga diri sebagai kontent horor, maka dimas akan mematuhinya. Namun sekali lagi, ia tidak mendengar apa-apa.
"Ok guys, gue nggak dengar apa-apa. Sekarang gue minta saran kalian. Terutama kalian yang mungkin saja terlahir indigo. Jika kalian dengar sesuatu, coba isi kolom komentar gue." ucap Dimas berusaha tetap tersenyum didepan kamera.
"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"
@12345 Keknya gak ada apa-apa
@12345 Kuncoro pecat aja tuh
@renata1 Suara tembang jawa
@pia kak hati-hati
@milo34 kok gue nggak dengar apa-apa woi
@arindafashion Hentikan! Hentikan!!
@Rollipolly apa ini apa? gue nggak dengar!!
@arindafashion HENTIKAN!!!
@Melinmew Kok di hentikan
@arindafashion jangan nonton, keluar dari live orang ini
@12345 apaan sih?
Saat bersamaan, sebuah bayangan hitam dengan tinggi menyentuh loteng rumah ini berdiri di belakang mereka. Saat itu kamera Dimas mati, begitu juga dengan kamera lainnya. Aura dingin juga lansung mencekam dan mengancam ketiga orang ini.
"GYAAAHAHAHA...!!!" gelak tawa menggema di tiap tiang bangunan tua itu. "Maerrtaaa!!!" panggil suara tua yang serak.
Dimas, Bobi dan Kuncoro memperhatikan sekitar rumah. Mereka mencari tau darimana sumber suara itu. Namun tidak ada siapa-siapa. Hanya angin yang tiba-tiba datang menyerang masuk melewati fentilasi dan menghantam jendela kayu dan pintu kayu tua tersebut.
"Gyahahaha!!!" suara itu kembali menggema di penjuru ruangan. Dimas melihat kearah tangannya. Boneka yang ia genggam tiba-tiba mengeluarkan berbagai jenis serangga yang menjijikkan.
"Gya!!" Dimas melempar boneka tersebut kelantai. Kuncoro dan Bobi juga menyaksikan hal tersebut. Mereka sama terkejut dan ketakutannya.
Mata mereka terus melihat serangga yang jumlahnya semakin lama semakin banyak. para serangga yang terdiri dari kaki seribu, kecoa, lipan dan lalat itu berkumpul pada satu titilk. Semakin lama semakin menumpuk dan meninggi yang kemudian menyerupai sebuah sosok yang aneh dengan seringai senyum licik dan tatapan mata menyeramkan. Mulut itu terus menyebutkan mantra:
"Sluku-sluku bathok, bathok’e ela-elo Si romo menyang solo, oleh-oleh’e payung muntho Mak jenthit lo-lo lobah, wong mati ora obah Yen obah medheni bocah Jaelangkung jaelangkung disini ada pesta, pesta kecil-kecilan datang tak dijemput, pulang tak diantar,"
.
Dimas, Kuncoro dan Bobi hanya terdiam dengan mulut menganga tanpa suara. Mereka ketakutan, tapi sayangnya kaki mereka terlalu berat untuk kabur dari sana. Katakutan atas penampakan yang aneh itu juga mengisap energi mereka yang membuat wajah ketiga pemuda ini semakin lama semakin pucat, memutih, menjadi biru dan kemudian membeku seperti patung lukisan. Jika sudah seperti itu, mereka tidak akan pernah kembali lagi.
"GYAHAHAHA!!!!"
**PESTA JAILANGKUNG SEASON 2// BERSAMBUNG... **
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
.
Manusia lebih menakutkan dibanding setan, tapi setan punya andil besar dalam hal itu
2020-11-14
6
Fah3751
kapan up nya kak ? menunggu merri nihh
2020-10-29
0
Fah3751
semoga up nya banyak y kak kangen merri
wih Arinda punya butik kah ?
2020-10-24
0