Karin memarkirkan mobilnya dengan cekatan. Halaman parkiran pagi itu belum begitu rame.
Maklum, untuk sebuah kafe, pukul delapan masih terlalu pagi untuk dibukanya sebuah kafe. Meski begitu ia dapat mencium aroma manis adonan yang tengah di panggang.
Tanpa pikir panjang lagi, ia masuk kedalam kafe yang bertuliskan “Cafe Ity”. Kafe yang cukup nyaman bagi pecinta makanan manis dan anak muda yang ingin menghabiskan waktu bersama teman dan pasangan.
Sebab, selain memiliki dekorasi yang di dominasi kayu berwarna coklat dan pot gantung dengan tumbuhan hijau merambat. Tempat ini juga terletak di tengah kota, sehingga mudah di akses.
Fitri manaroh tas diatas meja dan lansung menyusul seseorang yang ia kenal di dapur.
“Eh lu, udah sampe aja.” Ujar temannya yang memasukkan beberapa adonan yang telah di bentuk dalam oven ukuran besar.
“Ya dong, gue kan udah janji mau bantu elu Fit.” Ucap Karin kepada temannya, Fitri.
“Bantu, berarti ga usah di gaji dong ya.” Ucap Fitri menggoda Karin. Seulas senyum lansung tergambar di wajah gembul dan menggemaskan itu.
“Eh gembul, jangan perhitungan lo aman teman.” Ucap Karin sedikit ketus.
“Ga apa-apa lah, kan loe teman sejati gue sejak SMA dan satu-satunya yang nganggur.” Ucap Fitri usil.
“Enak aja gue nganggur, menjadi ibu rumah tangga dengan dua anak kembar itu ga gampang. Makanya lo kalo punya anak jangan satu dong, kembar lah kek gue.”
“Ga... gue ga punya bakat bikin anak kembar. Bibitnya itu yang gue ga punya.” Jelas Fitri.
“Tapi jangan salah, anak gue yang masuk TK ini aja cukup menguras kantong gue tau.” Fitri tidak mau kalah.
Dia tidak ingin terlihat santai oleh Karin. Hal ini sudah menjadi tabiat dua sejoli ini sejak sama-sama masih disekolah.
“Nah itu loe tau, makanya gaji gue, seenggaknya gue punya duit buat skincare.” Lanjut Karin.
“Hahaha... gaya lu skincare.” Ledek Fitri. “Cepat bantu gue, toko mau buka jam 10, dan masih banyak yang belum gue siapin.” Ajak Fitri.
“Oke! Gue bantu. Waktu ambil kuliah hukum gue pernah kursus bikin kue.” Jelas Karin membanggakan diri.
“Ya gue paham. Kan dulu elu emang bucin sama si Agus, sampe lu bela-belai les yang menurut gue di luar nalar pribadi lu.” Jelas Fitri.
“Ya dong. Kan udah gue bilang, Agus emang jodoh gue.” Ucap Karin bangga.
“Ya tau!!!” ucap Fitri. “Tapi anak-anak lu apa kabar? Disekolah ga pernah bikin masalah lagikan?” tanya Fitri.
“Arda udah mulai berkembang dengan baik. Dia udah mulai responsif. Kanaya selalu peringkat tiga besar. Tapi masalahnya dia belum punya teman.” Jelas Karin.
“Mungkin karna dia introvert aja kali.” Jelas Fitri. "Agus setelah dirawat dirumah sakit juga jadi pendiem."
“Hmm... gue lebih suka dia introvert dari pada berteman dengan bukan manusia.” ucap Karin lesu.
“Maksud lo?” tanya Fitri.
“Lu ingat teman kita, Merri?” tanya Karin.
“Ya, walau hanya tiga bulan doang sih, tapi kenangan kita sama dia cukup banyak.” ucap Fitri, "Kenapa?"
“Kadang gue lihat Kanaya mirip banget sama Merry, Cuma beda versi aja. Merry pemalu sedangkan Kana...”
Trrr...Trrr..!!!
Seketika perhatian Karin dan Fitri teralihkan. Mereka melihat layar handphone Karin yang berdering. Nomor dari sekolah. Penasaran, Karin lansung mengangkatnya.
“Ya Hallo... dengan saya sendiri? Apa????!!! Ya Pak!!”
Mendengar suara Karin yang panik, seketika membuat Fitri juga ikutan panik.
“Kenapa? Ada apa?” tanya Fitri.
“Gue harus kesekolah.” Ucap Karin.
“Kenapa? Arda sakit?”
“Bukan!” Karin lansung mengambil tas dan kunci mobilnya. “Kanaya brantem dan orang tua dari siswa itu nuntut Kanaya.” Ucap Karin.
“Oke-oke... lo harus segera kesekolah. Semoga anak lu gak kenapa-kenapa.” Ucap Fitri.
“Kanaya bakal nggak kenapa-kenapa. Anak orang ini, lu tau kalau Kana marah gimana... hmmm... gue harus siapin alasan apa ini...”
“Bilang aja, maaf!”
“Thanks!”
Karin lansung keluar dari Kafe. Ia setengah berlari menuju mobilnya dan dengan sigap mobil itu kembali melaju ke sekolah Kanaya.
.
.
.
“Anak ini nggak tau sopan-santun. Dia mendorong anak saya, lalu dengan barbar menginjak bahu anak saya. Apa dia tidak diajarkan etika?”
“Sabar buk, setelah orang tua Kanaya datang, kita selesaikan bersama-sama.”
“Saya maunya dia dikeluarkan dari sekolah ini.”
Ruang konseling sekolah terdengar heboh. Suasana panas juga terpancar, padahal ruangan ini cukup sejuk dengan di nyalakan pendingin ruangan.
Tapi wanita separuh baya dengan dandanan kelas ningrat terus saja ngoceh dan meluapkan amarahnya. Matanya yang tajam karena memakai riasan itu juga tak henti-hentinya memandang tajam kearah Kanaya yang duduk diam.
Semantara itu, ia menatap sedih kearah putrinya, Bianka yang tak henti-hentinya mengeluarkan air mata.
“Cih.” Kanaya tersenyum sinis melihat akting Bianka.
Melihat reaksi Kanaya, wali kelas dan orang tua dari Bianka melihat kaget.
“Tuh kan, anak macam apa yang tidak memiliki rasa simpati seperti itu. Pasti orangtuanya tidak pernah memberi tau bagaimana bersikap sopan didepan guru. Sekolah harus meninjak lanjut masalah ini dengan serius. Atau saya bisa tuntut sekolah ini.” ucap wanita itu bengis.
Kanaya melihat wanita yang terus berkoar-koar dengan tatapan kosong. Kemudian dia membuang muka dan melihat kearah jendela.
Tok tok tok...
Pintu diketuk dan Karin segera masuk setelah di beri izin oleh guru.
“Maaf, permisi.” Ucap Karin agak canggung. Dia bisa lansung merasakan suasana panas mencekam di ruangan ini. terlebih lagi, seorang wanita yang lebih tua dan berpenampilan elegan menatapnya dengan tajam.
“Ibu, silahkan duduk dulu.” Ucap Pak Restu, wali kelas Kanaya dan Bianka.
Karin lansung mengikuti arahan guru tersebut. Kini mereka berlima duduk berhadapan dengan meja cukup besar dengan delapan buah bangku yang mengitarinya.
Karin lansung duduk disamping Kanaya yang tidak menatapnya sama sekali. Putrinya terus melihat kearah jendela.
Sementara itu di hadapan seorang siswi menatap putrinya dengan mata bengkak seperti habis menangis.
“Jadi, pagi ini Kanaya dan Bianka berkelahi di koridor sekolah. Sesuai yang terlihat, anak ibuk sepertinya mendorong Bianka. Namun sampai saat ini Kanaya belum memberikan penjelasan apapun.” Jelas Pak Restu.
“Ya, anak anda hanya diam. Mungkin tau dia salah, tapi tidak mau bilang maaf.” Sambung wanita tersebut.
Karin melihat Kanaya yang masih diam dan menatap jendela.
“Boleh saya tau masalahnya apa? Seperti yang anda tau, putri saya tipekal anak pendiam. Dia tidak pernah tertarik mengurus hidup orang lain. Pasti ada yang memancing terlebih dahulu.” Ucap Karin yang kemudian menatap Bianka dan ibunya.
“So, kamu bicara apa ke anak saya?” tanya Karin ke Bianka.
Ibu Bianka lansung mempelototi Karin. Dia tidak suka atas tindakan Karin.
“Putri anda yang bermasalah. Lihat! Seragam anak saya ini saksinya. Dia mendorong anak saya dan dia juga menginjak anak saya. Sikap macam apa itu!” ucap wanita itu naik pitam.
"Pokoknnya saya ingin hukuman sekeras apapun untuk anak ini. dia tidak memiliki tatakrama. Lihat saja, dia diam dan tidak mengeluarkan kata apa-apa.” Ucap wanita itu.
Karin menarik nafas dalam-dalama. Dia tidak mau terpancing emosi atas sikap wanita didepannya. Terlebih lagi, jika di lihat dari penampilannya, wanita ini sangat berpengaruh.
“Sebagai ketua komite disekolah ini, saya ingin tindakan seadil-adilnya.”
“Saya rasa, ibuk tidak perlu berlebihan. Sebenarnya, selama tiga tahun ini Kanaya cukup memberi kontribusi untuk sekolah. Dia pernah mengikuti olimpiade kimia dan biologi. Dia anak pintar dan kebanggaan sekolah ini.” jelas pak Restu.
Karin melipat tangannya didepan dada. Dia bangga akan putrinya.
“Percuma pintar jika tidak punya hati. Kalau begitu skors atau cabut prestasinya. Seharusnya sekolah juga harus mempertimbangkan tatakrama terhadap anak cerdas.” Ucap wanita tersebut.
Dia mengelus putrinya, “Cukup anak saya yang menjadi korban, saya tidak mau ada anak lainnya.”
“Cih!” gumam Kanaya yang kembali menarik perhatian guru dan wanita tersebut.
Karin juga kaget dengan sikap Kanaya. Dia menyenggol Kanaya agar berhati-hati dalam bersikap.
“Lihat! Itu sikap macam apa?!” tunjuk wanita tersebut dengan suara tinggi.
Kanaya mulai kesal. Dia menghela nafas yang sudah ia tahan dari tadi. Dia ingin melepaskan semua beban yang ada dibenaknya.
Semakin lama ia berhadapan dengan Bianka dan ibunya semakin membuatnya sesak. Kanaya yang ingin melepaskan semua unek-uneknya lansung di tahan Karin.
Karin menggenggam tangan Kanaya dengan erat. Dia ingin Kanaya diam.
“Saya minta maaf!” ucap Karin.
“Itu bagus! Tapi itu belum cukup. Kalian harus membayar atas sakit yang saya dan anak saya alami.”
Mendengar hal itu kanaya lansung berdiri sehingga ia membuat bangku yang ia duduki terjatuh kebelakang. Semua orang yang ada disana kaget. Karin menatap Kanaya. Dia memberi instruksi agar putrinya bersikap tenang.
“Sikap buruk macam apa ini?” gumam si wanita tersebut.
“Maaf saya mengganggu.” Perhatian mereka tertuju kepada seorang wanita yang masuk begitu saja kedalam ruangan konseling.
Dia terlihat masih muda. Dengan seragam formal bewarna putih, rambut hitam panjang terurai dan senyum ramah yang memperlihatkan wajah cantiknya.
“Saya melihat kejadian itu tadi pagi, saya lihat anak ini tidak bersalah. Sebab anak ibu menjahilinya terlebih dahulu.” Ucapnya.
“Siapa anda?” tanya orang tua Bianka. Dia masih terlihat kesal.
“Saya Susan, guru konseling baru.” Ucapnya memperkenalkan diri.
“Ooo ya.. anda yang interview kemaren. Tapi maaf...” pak Restu berusaha menenangkan keadaan.
“Ya, saya bicara sebagai guru konsengling sekaligus saksi. Jika anda tidak percaya, kejadian ini juga di lihat anak-anak lainnya.” ucap Susan dengan senyum ramahnya.
Keadaan itu membuat Bianka dan ibunya semakin kesal. Sedangkan Karin terlihat senang.
Dia juga baru ingat, jika wanita ini adalah orang yang dia bantu kemaren. Dia mulai lega jika masalah anaknya berakhir sedamai ini.
“Tapi sebagai guru konseling, saya ingin membimbing dua anak bermasalah ini dengan adil. Sebab satu dari antara dua anak ini bermasalah dan satu lagi sedang mengalami masalah.” Ucap Susan lagi yang menatap Bianka dengan tersenyum.
Kanaya juga menatap Bianka dengan tatapan dinginnya. Dalam benaknya, dia bisa membaca isi pikiran Bianka dan ibunya beserta semua masalah yang mereka hadapi.
Namun dalam sepersekian detik, kanaya lansung ingat akan sosok yang datang kekamar Arda semalam. Aura kegelapan dan kesepian itu lansung menghentauinya.
Dia menoleh kebelakang, namun tidak ada apa-apa selain sebuah cermin yang memantul bayangan dirinya.
.
.
.
Pesta Jailangkung 2/ bersambung...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Rani Je
maaf menunggu lama... panitia Pesta Jailangkung (PJ) hiatus cukup lama karena beberapa hal... tapi mulai bulan ini dan seterusnya Merri cs akan siap beraksi secara rutin... sekiranya hari sabtu dan Minggu dipastikan waktu yg pas memanjatkan mantra-mantra pemanggil arwah... karena kami tak sabar ramaikan pesta Jailangkung bersama kalian... 🤗😈🤗
2021-03-14
0
Dua perikecil
cerita bagus,tpi cerita sudah sangat lma tidak di lanjutkan
paling tidak jika ad kendala bikin pengumuman biar pembaca tidak kecewa.
2021-02-16
4
Dua perikecil
lanjut dong thor
2021-02-14
1