Kegelapan mengunci indra penglihatan
Membuat sepasang telinga bekerja lebih keras
Begitu juga dengan paru-paru yang harus berusaha ditengah kesesakan
Padahal hanya gelap
Tapi rasanya sangat pekat dan juga menyiksa
.
.
.
Arda tidak melihat apa-apa. Sekitarnya gelap, pekat dan tanpa ujung.
Dia hanya mendengar suara detak jantungnya yang berdegup kencang.
Dug dug dug
Anak lelaki itu merasa ketakutan. “Aku dimana?” tanyanya. “Kana dimana?” lanjutnya.
Arda yang bingung hanya bisa memeluk lututnya yang bergetar hebat. Badannya menggigil ketakutan.
“Kana… ka kana dimana?” lirihnya. “Mama… Arda takut…!!!” rengeknya yang membasahi pipinya.
HAP
Seseorang menepuk Pundak kecil arda.
“Hah?!” Arda kaget. Dia merasakan seseorang menepuk pundaknya, sialnya karena gelap ia tidak tau siapa orang tersebut.
Dia juga tidak berani menanyakan sosok itu.
“Ssstt…!!” seseorang mendesis dikupingnya. “Ini aku!” bisik suara tersebut.
Arda semakin ketakutan ia semakin erat memeluk badannya yang semakin menggigil karena ketakutan. Keringat dingin mengucur di dahi dan juga punggungnya.
“Si siapa?” tanya Arda.
“Saya, takdirmu!” bisik suara tersebut.
Saat itu juga sebuah siluet dari lampu neon bewarna merah muncul dan menunjukkan sekilas sosok tersebut.
Rambutnya Panjang dan menutupi hamper seluruh wajahnya. Ia mengenakan baju gaun putih. Di balik surai hitam itu, terdapat wajah murung dengan bibir tipis yang terlihat menyedihhkan. Yang menarik perhatian arda sepasang tanduk yang menghiasi dahinya.
Sosok itu tersenyum menakutkan. Hal itu membuat Arda semakin ketakutan.
“Ka kana………to tolong!!!!”
.
.
.
Merri akhirnya sampai di motel tempat ia menginap. Satria yang ia titipkan kepada ayah mertua kembali kepelukannya. Bayi usia tiga bulan itu terlihat senang melihat sosok ibunya.
Ia tidak henti-hentinya menggoyangkan kaki saat di gendong Merri. Merri juga langsung menyambut buah hatinya dalam pelukan hangat.
“Beristirahtlah, besok kamu akan melakukan perjalanan jauh.” Ingat pria tua tersebut.
“Iya, besok saya harus kembali ke kota, kerumah ibu yang dulu.” Ucap Merri.
“Apa aman disana?”
“Tidak ada tempat yang aman, setidaknya disana ada banyak kenangan hangat Bersama ibu.” Ucap Merri.
"Bagaimana pendapat suamimu? Dia sudah tau?"
"Sudah. Itu saran dia juga, biar aku tenang."
“Apa perlu saya antar sampai kesana. Soalnya sejak ditinggalkan, rumah itu terkenal karena keangkerannya.”
“Tidak usah ayah. Merri bisa tangani. Ibu juga meningalkan banyak jimat pelindung. Tapi yang lebih penting rumah itu harus kembali di huni, biar tidak hancur karena rayap.”
“Apa tidak tunggu Suami mu dulu. Bukannya minggu depan dia sudah balik dari berlayar?”
“Dia bisa menyusulku kesana. Aku sudah mengirim kabar kepadanya. Dan ia tidak mempermasalahkan hal tersebut.” Ingat Merri.
“Ayah kenapa tidak ikut saja, bukannya masih ada keluarga ayah disana?”
“Iya tapi itu dulu. Sekarang bukan lagi. sejak dia tau apa yang saya alami mereka ketakutan, hanya suamimu yang bisa menerima kekurangan dan keanehanku.” Jelasnya.
“Tapi kenapa tidak ikut dengan aku ke Kota.”
“Tidak bisa Merri. Aku tidak bisa meninggalkan desa terlalu jauh. Mereka membutuhkan saya. Mungkin nanti.”
Merri memeluk ayah mertuanya. “Terimakasih sudah membantu aku dan Satria.”
“Haha tidak usah sungkan. Kalian keluargaku juga. Kau sudah kuanggap anakku, dan Satria adalah cucuku. Jaga dia baik-baik.”
“Iya pasti!” angguk Merri. Dia melihat Satria yang hanya menatap bola matanya, “Saya senang jika dia terlahir normal seperti ayahnya. Aku tidak ingin dia seperti ibu atau neneknya atau nenek buyutnya.” Ucap Merri.
Pria tua itu hanya mengangguk pelan. Dia juga sedikit bersyukur kalau cucunya tidak menunjukkan sikap mencurigakan. Setidaknya, dia tidak menangis melihat sosok Rohi saat menjadi manusia dan tidak menyadari
keberadaan Rohi saat diwujud aslinya, meski Rohi pernah mencoba menggodanya.
“Saya harus kembali, kamu beristirahat untuk perjalanan besok. Kalian harus berangkat pagi biar tidak kemalaman sampai di kota.” Ingatnya.
“Iya ayah.”
“Satria Kakek pulang dulu ya. Kamu jangan bandel ya!”
Satria hanya memerkan tawa. Entah dia paham atau tidak dengan pesan yang disampaikan kakeknya.
.
.
.
Malam itu Merri mencoba memejamkam matanya. Meski kejadian hari itu membuatnya terus berpikir.
“Takdir?” pikir Merri.
.
.
.
Subuh datang menjelang, saat sang fajar belum menampakkan diri. Merri dan Rohi sudah dalam perjalanannya. Di pangkuannya Satria masih tertidur dengan pulas.
“Maaf kita harus ngebut.” Ucap Rohi yang kemudian menginjak pedal gas.
“Rohi, apakau tau takdir hidupku?”
“Hmm…!” Rohi berpikir sejenak. “Semalam aku melihatnya,” ucap Rohi tiba-tiba.
“Sepasang anak remaja. Satu anak laki-laki yang terikat rantai, kedua kakinya dirantai begitu juga lehernya. Satu lagi anak perempuan. Dia memegang rantai itu. Saat aku menoleh sekali lagi, rantai itu tersambung di dadanya.”
Jelas Rohi yang membuat Merri semakin tertarik untuk menyimak.
“Mereka bilang, tolong!” ucap Rohi.
Merri hanya menghembuskan nafas pelan-pelan.
“Mungkin itu salah satu takdirmu.” Ucap Rohi.
“Anak-anak dirantai?” tanya Merri.
“Bukan, tapi membantu orang lain, seperti yang dilakukan ibumu.” Ucap Rohi.
“Aku tidak sekuat ibu, Rohi.”
“Kita mulai dengan membantu anak-anak itu.” Jelas Rohi.
“Aku tidak sanggup Rohi.”
“Tapi kenapa anak-anak itu? Apa kaitannya dengan hidup kita?” pikir Rohi.
Merri juga berpikir sejenak.
“Pasti ada kaitannya dengan kita. Pasti ada jawabannya saat kita menemui mereka.” Ucap Rohi lagi.
“Atau bisa jadi anak-anak itu adalah kakaknya Satria.”
Merri langsung menatap tajam Rohi.
"Bukan maksudku, si suamimu selingkuh. Tapi siapa tau... pelaut kan hmm.."
Merry hanya menatap tajam kepada Rohi. Dia tidak suka Rohi menuduh suaminya berselingkuh.
“Hehehe itu hanya konspirasi, lagi trend dikalangan anak muda.” Ucap Rohi mengeles. “Mari kita fokus di jalan!” lanjutnya.
Merri menatap jalanan dengan ketus. Sekaran pikirannya semakin berkecikamuk. Gara-gara Rohi ia langsung menscroll dan mencari nomor hp suaminya yang saat ini berada ditengah lautan.
.
.
.
Karin tidak kuasa menahan tangis. Air matanya terus membasahi kedua pipinya. Rasa panik langsung menyerangnya saat ia tidak menemukan kedua anaknya di rumah.
Dan kejadian ini telah berlangsung lebih dari 24 jam.
“Padahal aku menyiapkan sarapan di dapur untuk Arda yang akan berangkat sekolah. Tapi keduanya tiba-tiba saja tidak ada.” Ucap Karin kepada Agus dan juga petugas polisi yang datang kerumah mereka.
“Bisa jelaskan kronologinya dengan jelas?” tanya petugas tersebut.
Karinpun memulai mengingat kejadian pagi itu.
“Setiap pagi biasanya anak-anak akan turun sarapan bersama ayahnya. Namun pagi itu suami saya mendapat tugas dan harus berangkat lebih pagi kekantornya. Saya mengantarkannya hingga kedepan pintu. Kemudian aku seperti biasa membuat sarapan untuk putra saya."
"Sebab putri kami, sedang di skors, makanya tidak kesekolah,” jelas Karin. Dia agak sungkan saat menjelaskan masalah putrinya yang dihukum pihak sekolah.
“Aku mendengar Arda memanggilku, tapi aku tidak menemukannya. Begitu juga dengan teriakan Kana. Aku jelas mendengar Kana berteriak dikamar kami. Saat aku berlari kesana, tidak ada siapa-siapa.
Lemari kamar terbuka keras, begitu juga dengan lemari di kamar Kana. Hanya pintu kamar Arda tertutup rapat. Saya berfikir jika mereka bermain di kamar itu. Sebab, Arda tidak ingin sekolah karena kakaknya juga tidak pergi kesekolah,”
“Bisa saja mereka sedang berjalan-jalan keluar. Karena Putri Anda sedang di skors dan Putra Anda tidak mau kesekolah,” gumam pak Polisi.
Karin kehilangan kesabaran. "Maksud Anda, anak saya anak yang nakal?! Maaf ya, Putri saya peringkat tiga besar di kelasnya. Dia tidak sebandel itu. Dia anak yang patuh dan pendiam. Dia anak baik-baik."
"Bisa jadi dia tertekan karena nilai-nila disekolah dan membawa adiknya jalan-jalan sampe lupa waktu. Itu biasa terjadi, Bu!!"
"Jaga perkataan anda, Pak!!!" ucap Karin.
"Karin sabar... tenang!" ucap Agus menenangkan Karin.
“Pintu lemari kamar anak saya terbuka dengan sendirinya. Terbuka sangat pelan. Kemudian seperti ada dorongan angin kencang seketika pintu itu tertutup dengan keras dan terkunci dengan sendirinya. Hal itu juga bersamaan dengan jatuhnya buku-buku dan juga mainan anak saya yang saya pajang di kamarnya. Saya lihat dengan mata saya sendiri, Pak!”
Polisi terdiam. Pernyataan Karin tentu membuat pihak kepolisian bingung.
"Rumah anda kerampokan?" tanyanya berusaha profesional.
"Lapor pak!" seru para petugas memberi laporan kepada atasannya.
"Tidak ada barang-barang yang hilang, dan juga bukti tindak kekerasan." jelasnya.
“Apa anda percaya?” tanya Karin dia tau ekspresi itu menunjukkan rasa tidak percaya sama sekali.
“Iya, menyeramkan. Mengingatkan saya akan film horror yang saya tonton bersama keluarga saya, tapi masalah putri anda akan saya lacak kembali. Usia mereka masih 14 tahun. Saya khawatir jika mereka saat ini berada dilingkungan tidak ramah anak-anak dibawah umur.” Ucap pak Polisi.
“Bukan, maksud saya bukan itu. Saya yakin anak saya tidak kesana.” Jelas Karin.
“Kita harus pastikan dulu, Buk. Pertama anak anda sedang malas kesekolah karena salah satu saudaranya tidak kesekolah hari ini. Jadi bisa jadi mereka Bersama-sama sekongkol pergi ke mall agar tidak disuruh kesekolah.”
“Kita bisa mulai dengan mencek CCTV rumah anda dan tetangga sekitar." jelas pak polisi.
“Tapi pak, saya yakin anak-anak saya tidak seperti itu.” jelas Karin.
"CCTV rumah kami hanya berada diluar. Kami tidak menaroh CCTV didalam rumah." jelas Agus.
"Tidak apa-apa setidaknya kita bisa lihat aktivitas mereka." jelas pak Polisi.
"Ta tapi..."
Agus kembali menahan Karin. Dia membiarkan Petugas tersebut pergi. Karin merasa jengkel dengan sikap Agus yang sama sekali tidak membantunya.
CCTV di cek, namun tidak ada bukti apa-apa. Mereka hanya melihat aktvitas Karin yang mengantar Agus hingga pagar rumah. Setelah itu kamera CCTV mati seketika.
Petugas kepolisian tidak memberikan ekspresi apa-apa. Begitu juga dengan Karin dan Agus.
"Saya rasa Putri Anda memang pintar. Dia tau cara mematikan CCTV." pikirnya yang masih mengira anak-anak itu kabur seperti anak bandel.
"Kenapa bapak bisa berpikiran seperti itu?"
"Karena semua anak-anak sama saja. Apalagi yang lagi puber-pubernya. Termasuk anak saya juga." jelas pak Polisi.
Dalam hati Karin terdalam, dia ingin sekali memberi bogem kewajah polisi tersebut.
.
.
.
.
Saat rumah kembali hening karena petugas tersebut pergi, barulah Karin meluapkan amarahnya.
“Kenapa kamu diam saja?!!” bentak Karin kepada Agus.
"Maafkan aku Karin, tapi polisi itu tidak akan percaya dengan masalah seperti itu," jelas Agus.
"Terus kamu maunya apa? kita panggil dukun? atau orang pintar lainnya. APA AGUS!!" bentak Karin.
"Biar aku yang cari sendiri, dia anak-anakku dan dia tanggungjawabku." ucap Agus.
"Apa kau tau dia sekarang dimana?" tanya Karin dengan nada suara semakin meninggi.
.
.
.
.
pesta jailangkung 2// bersambung
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Aisyah 🐾
kenapa lama sekali updatenya sampai lupa alur ceritanya
2021-07-19
4
Fah3751
lumayan 2 capter lanjut lagi kak
2021-07-19
1