Kanaya malam itu memutuskan untuk tidur dikamar Arda. Ia khawatir jika makhluk mengerikan itu kembali masuk kekamar dan mencelakakan saudara kembarnya.
"Kana kenapa? Kana tidur di kamar Arda? Kana takut?" tanya Arda yang sangat megantuk tapi ia heran melihat sosok saudarinya tiba-tiba membawa bantal dan selimut kekamarnya.
Kanaya tidak menjawab pertanyaan Arda. Ia segera mengambil posisi tidur dilantai kamar Arda yang dilapisi karpet bulu abu-abu itu. "Aku hanya ingin." jawab Kana singkat.
"O o oke!" jawab Arda singkat yang kemudian disusul nguap panjang. "Jangan berisik, nanti ada yang datang," jelas Arda yang kemudian tertidur.
"Ada yang datang?" Kana kembali bangkit dan menoleh Arda. "Maksudnya siapa yang datang?" tanya Kana.
Sayang, pertanyaannya tidak akan ditanggapi. Arda sudah larut dalam lelapnya. Ia terlihat pulas.
"Arda?" Kana yang masih penasaran mencoba membangunkan Arda. Namun hal itu percuma. Kalau sudah tertidur Arda tidak akan bangun sampai pagi.
"Aku benar-benar iri dengan kamu. Aku ingin seperti kamu. Damai dan cuek, trus ga ada yang ganggu." gumam Kana sambil merapikan selimut Arda. "Good night brother!" ucap Kanaya.
Ia merebahkan badannya dilantai. Terasa sangat tidak nyaman soalnya karpet bulu itu sangat tidak empuk. Ia bisa menebak, karpet ini hasil belanja diskon besar-besaran ibunya makanya kualitasnya tidak bagus.
Kanaya berusaha untuk relaks dan terbiasa. Dia mencoba mengubah posisi tidurnya. Kekanan kemudian kekiri. Sama saja, tidak ada posisi tidur yang enak.
Anehnya, semakin lama ia merasa ada tekstur yang semakin menonjol datang dari bawah karpet itu. Awalnya ia mengira hal itu hanya perasaannya saja. Namun terktir itu semakin naik dan membuat sebuah gundukan panjang.
Kanaya yang melihat hal itu diddepan matanya sendiri kaget dan langsung terperanjat. Ia menarik selimut dan karpet bulu tersebut.
Dibalik karpet bewarna abu-abu itu, ia melihat badan ular piton yang cukup panjang. Kana mengikuti badan ular yang bergerak pelan hingga masuk kolong kasur Arda.
"Ular apa ini?" tanya Kana.
Matanya terus mengekori badan ular yang kemudian seolah berdiri tegak disamping kasur arda. Sepasang mata tajam itu terus memperhatikan Arda dan kemudian beralih menatap Kana.
DEG
Jantung Kana berdetak cepat. Ia serasa tercidug. Kemudian sepasang mata yang mengeluarkan cahaya merah itu menghampiri wajahnya yang kemudian membuat Kana dapat melihatnya dengan jelas. Ia tidak memiliki kepala seperti ular pada umumnya.
Makhluk ini memiliki bentuk kepala menyerupai wanita dengan wajah yang sangat mengerikan. Saat tersenyum, wanita itu menunjukkan taring kecil yang tajam.
"GYAAAAAAA!!!!!" Sontak Kana langsung teriak.
Arda pun terbangun dan ikut teriak. "GYAAAAAAA!!!!"
Suara mereka membuat Karin dan Agus terbangun. Agus yang terlihat sangat pucat dan cemas. Ia langsung menuju sumbar suara dan membuka pintu dengan keras.
BRAG!
"Kenapa? Ada apa?" tanya Agus dan Karin.
"Kana? Kenapa berisik? udah malam...!!" rengek Arda.
Kana dengan wajah pucat menunjuk kearah sudut tembok dimana ular yang ia lihat berdiri. "Aku melihatnya, bentukannya mengerikan!!" ucap Kanaya.
"Tidak apa-apa, kanaya...!!" Agus mendekati Kanaya dan memeluk putrinya yang menangis ketakutan.
Badannya bergetar sangat dahsyat dan keringat dingin mengucur di kepala hingga punggung badannya.
"Ma..mama... Kanaya kenapa?" tanya Arda yang tidak kalah panik. Dia tidak nyaman setiap melihat saudarinya merasa sedih dan tertekan.
"Kanaya sedang shock, dan juga sedih dan juga takut. Papa menenangkan kanaya. Semuanya baik-baik saja kok!" jelas Karin kepada Arda dengan suara pelan. "Kamu jangan panik, Kanaya tidak apa-apa."
Kanaya yang mendengar suara ibu langsung tidak terima, "Aku tidak baik-baik saja! Kenapa kalian yang terlalu normal tidak bisa paham!! AKu melihat makhluk mengerikan. Dia berdiri disini, dan ingin menerkam Arda! Kenapa kalian tidak paham!!"
"Tidak apa-apa, papa paham!" jelas Agus.
"Papa tidak paham! Mama dan Arda apa lagi!" teriak Kanaya.
"Mama... Kana kenapa teriak? Arda tidak suka!" teriak Arda.
"Tidak apa-apa! ikut mama saja!" ajak Karin. Ia melihat ke Agus dan memberi instruksi agar bisa menenangkan putrinya sementara ia yang mengurus anak laki-laki mereka.
Kana masih dengan tatapan jengkel melihat punggung karin dan Arda. Ia menangis dan juga ketakutan. "Aku benci mereka berdua, aku benci! Kenapa harus mereka yang normal bukan aku?!" bisiknya dalam hati.
Bersambung
Pesta Jailangkung #2
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments