Malam telah sangat larut, Pak RT dan Pak RW sudah pulang, Pak Dirga seperti biasa, setia menemani Aditia.
“Kak, kepala Dita sakit.” Dita membangunkan Aditia.
“Dita sayang sabar ya.” Aditia memeluk adiknya.
“Ini kenapa Dita diiket Kak?” Dita menangis, Dita sudah kembali menjadi gadis kecil yang Aditia kenal.
“Nggak apa-apa, Dita tidur ya.” Aditia mengusap kepala Adiknya.
Dari ekor matanya, dia melihat sesosok wanita di jendela yang berjalan perlahan, wanita itu menggunakan baju serba hitam dan berambut sangat panjang.
“Pak, titip Dita, aku mau kejar Marni.” Aditia yakin itu Marni.
Aditia mengejar Marni ke luar dekat jendela kamar Dita, sosok itu masih ada, dia terlihat sedang main ayunan dengan dahan pohon besar yang memang ada di bagian belakang rumah Aditia.
“Marni .... “ Aditia memastikan itu Marni.
Sesosok itu menengok, wajahnya pucat dan terlihat sangat tirus, dia melemparkan kain lusuh berwarna hitam kearah Aditia.
Adit menangkap kain itu dan membukanya.
Ada beberapa helai rambut, foto seorang wanita dan gumpalan tanah, ini adalah media untuk Santet Cidra! Berarti Ki Kusno berhasil menggali media santet ini dari kuburan Marni.
“Ki Kusno berhasil mengambilnya, sekarang aku harus menghancurkan media ini, saat Aditia akan membakarnya, Marni berkata ....
“Ada seorang perempuan baik yang rela menukar nyawanya dengan ini.” Marni tiba-tiba sudah berada di hadapan Aditia, dia memegang kepala Aditia.
“Apa maksudmu!” Aditia mengeluarkan kerisnya dan melepas genggaman dingin itu.
“Wanita itu bilang, jangan ambil putriku, jangan ambil putriku, lalu aku suruh dia menggali kuburku dan mengambilkannya.” Marni menunjuk bungkusan yang Aditia pegang, media Santet Cidra.
“Tukar Tumbal?! Kuntilanak Hitam Laknat!” Aditia mendekati Marni dan langsung menghujamnya dengan keris, seketika Marni berteriak hingga telinga yang mendengarnya menjadi berdengung, Marni lenyap, Aditia menghabisinya.
“Ibu ... Ibu ... Ibu!!!”
“Dit! Dit!” Pak, Dirga menghampiri Aditia yang sudah menusuk ruh dari Marni hingga ruh itu binasa.
“Kau kenapa?!” Pak Dirga bertanya.
“Ibu Pak, Ibu!” Aditia menangis.
“Ikut aku, Adikmu sudah dijaga oleh istri Pak RT.” Pak Dirga menarik Aditia dan memasukkannya ke mobil dinas, Aditia masih tidak bisa mengendalikan kesedihannya, mereka lalu berkendara cukup jauh, tujuannya adalah rumah sakit jiwa.
Setelah berkendara selama 2 jam penuh, mereka sampai.
“Turun.” Aditia masih saja melamun, karena itu dia akhirnya digeret lagi oleh Pak Dirga, dia memegang lehernya dan menarik Aditia sampai ke sebuah ruangan, ruangan seperti ruang tunggu, ruang untuk tamu jika ingin mengunjungi keluarganya yang dirawat di sini.
“Ini loh, anakmu kesurupan!” Pak Dirga berkata pada seseorang, sementara Aditia masih termenung di belakang Pak Dirga dan tidak menyadari Pak Dirga berbicara dengan siapa.
“Nak, kenapa kamu?” Seorang wanita menepuk Aditia yang masih terpaku dengan fikirannya sendiri, dia masih shock dengan perkataan dari Marni.
Saat tepukan lembut dan suara yang dia kenal itu mulai terdengar dan terasa Aditia kaget dan jatuh pingsan.
...
“Dit ... Dit .... “ Wanita itu memanggil anaknya.
Aditia perlahan membuka matanya, saat matanya terbuka dan kesadarannya kembali perlahan, dia lalu langsung memeluk wanita itu.
“Ibu! Ibu!” Dia menangis sejadinya seperti anak kecil yang ditinggal ibunya.
“Kamu kenapa sih Nak? Nangis kayak anak kecil, udah diem ah, malu tau, ntar kamu disangka pasien yang mau Ibu daftarin lagi!” Ibunya marah dan menyuruh Aditia berhenti menangis.
“Ibu ngapain ke sini! Adit cariin ibu, Dita sakit bu.” Aditia berusaha menjelaskan, sementara Ibunya masih kesal karena Aditia menangis seperti anak kecil.
“Dit, diem dulu.” Pak Dirga memarahi Aditia. “Jadi kami pulang ke rumah, Ibu nggak ada, Dita sakit bu, trus Aditia mencari Ibu, dikira Ibu kemana, taunya di sini, kalau boleh tahu, kenapa Ibu ke sini ya?” Pak Dirga bertanya dengan lebih jelas.
“Dita sakit apa?” Ibunya bertanya.
“Sakit, kena tempelan gitu bu, jadi demam.” Pak Dirga mencoba menutupi yang terjadi.
“Ya ampun, Ibu telepon dulu Dita.”
“Nanti dulu bu, nanti. Dita udah baik-baik aja kok, udah dijagain ama Bu RT. Ceritain dulu sebelum itu, kenapa Ibu ada di sini?” Pak Dirga mencegah.
“Oh iya, begini, kemaren pagi, ada yang telepon, kalau Bu Mirasih ngamuk dan beberapa kali nyakitin dirinya, biasanya kalau kambuh, Ibu bakal dateng trus .... “ Ibunya Aditia tiba-tiba diam.
“Terus bu?” Aditia bertanya dan penasaran.
“Nggak, nggak apa-apa, Ibu Mirasih temen ibu itu emang cuma butuh temen.” Sepertinya Ibunya Aditia masih menganggap bahwa Aditia belum tahu tentang Dita, siapa Dita sebenarnya.
“Adit udah tau kok Bu, siapa Bu Mirasih sebenarnya, Adit udah liat akte lahir Dita, jadi Ibu nggak usah sembunyiin apa pun lagi dari Adit.” Adit seperti menghakimi ibunya.
“Kamu udah tau?” Ibunya terlihat sedikit sedih karena Aditia akhirnya tahu kalau Dita bukan adik kandungnya.
“Bu, jadi kenapa Ibu ke sini?” Aditia bertanya lagi.
“Ya, biasanya saat Ibu Mirasih lagi kambuh, Ibu bakal dateng ke sini kasih liat fotonya Dita dan ceritain semua tentang Dita, Ibu Mirasih akan tenang kembali, seperti biasa, Ibu Mirasih ketemu Ibu trus jadi tenang setelah melihat perkembangan Dita, lalu saat Ibu mau pulang, Ibu Mirasih menyerang Ibu sampai Ibu pingsan, Ibu bangun karena dibangunin Perawat, trus Ibu nginep semalem di sini, semua Perawat dan Penjaga mencari Ibu Mirasih, tapi belum ketemu sampai sekarang.” Ibunya Aditia menjelaskan, Aditia mulai merasa ada yang salah, tapi dia tidak mungkin menceritakan semua ini di depan Ibunya.
“Bu, kita cek ke Dokter dulu ya, ini kalau udah bisa pulang kita pulang, Dita udah nungguin kita pasti.” Aditia berusaha membuat Ibunya tidak di sini, seorang Perawat akhirnya menemani Ibunya Aditia untuk periksa kembali, setelah kemarin di rawat.
“Jadi apa yang terjadi Dit?” Pak Dirga bertanya.
“Marni bilang kalau ada seorang perempuan yang mau melakukan tukar tumbal dengan mengambil santet dari kuburannya, aku fikir itu Ibu, makanya aku akhirnya menusuk Marni dengan keris kecil, Marni lalu hilang, sebentar, kau membunuh Marni?” Pak Dirga bertanya.
“Adit marah karena Adit fikir Ibu yang melakukan tukar tumbal.” Aditia membela diri.
“Ayahmu dulu pernah melakukan itu, pada sesosok Ruh yang juga mengancam keluarga kalian, lalu Ayahmu menjadi buta sesaat, buta akan makhluk itu, seperti hukuman dari Tuhan karena membunuh, apakah kau tidak tertimpa hal yang sama?”
Aditia tersadar dan buru-buru mencari catatan Ayahnya, tapi dia selalu taruh catatan itu di angkot.
“Adit tidak tau Pak, tapi Adit memang belum pernah melihat ‘mereka’ dari tadi.” Aditia berkata dan sedikit cemas.
“Dit ini bahaya kalau kau menjadi buta sementara seperti Ayahmu, rumahmu siapa yang jaga, ruh-ruh itu siapa yang antar pulang?” Pak Dirga cemas.
“Seharusnya Aditia lebih pintar Pak, seharusnya Aditia tidak gegabah Pak.” Aditia khawatir kalau yang dia lakukan bisa memberi konsekuensi yang berat untuk pekerjaannya.
…
Aditia dan Ibunya diantar oleh Pak Dirga untuk pulang, selama perjalanan Aditia selalu mersa khawatir, karena selama di Rumah Sakit Jiwa tadi dia tidak melihat penampakan sama sekali, padahal ini sudah menjelang sore, seharusnya tempat seperti itu banyak jin yang ikut tinggal di sana.
Aditia curiga bahwa ia juga di hukum seperti Ayahnya dulu.
“Bu, saat Bu Mirasih menyerang apakah dia berbicara sesuatu?” Insting Polisi Pak Dirga mengatakan ada sesuatu yang terjadi.
“Hmm, nggak sih, dia tuh tampar aku beberapa kali, terakhir dia pukul kepalaku pake termos yang ada di ruang rawat, trus aku jatuh Pak ... oh ya, sebelum aku pingsan, aku sempet denger Ibu mirasih ngomong tapi aku nggak lihat siapa-siapa di sana.”
“Ibu ingat nggak dia ngomong apa?” Pak Dirga bertanya lagi.
“Apa? Sebentar aku ingat-ingat dulu, dia ngomong ... jangan ambil anakku, jangan ambil anakku, gitu, tapi Ibu nggak lihat dia ngomong ama siapa, trus abis itu Ibu Mirasih lari keluar, Ibu mau kejar tapi lemes banget, terus semua tiba-tiba gelap.” Untung Ibunya Aditia ingat kejadiannya walau dalam keadaan setengah sadar.
“Dit, sepertinya kita harus nyusul Ki Kusno, kita harus memastikan keadaannya, apakah dia selamat, atau jangan-jangan .... “
“Ada apa Dit? Kok Ki Kusno ikut-ikutan, kalian mau kemana?” Ibunya Adit tiba-tiba menjadi khawatir.
“Nggak apa bu, cuma Ki Kusno bantu pas Dita kemaren ketempelan, sekarang kita mau ke rumahnya buat bilang makasih.” Aditia berusaha menutupi apa yang terjadi sebenarnya.
“Oh iya, dia memang orang baik, temen Ayahmu Dit.” Teuntu saja Aditia tahu, Ki Kusno sudah menceritakan semuanya.
Setelah sampai rumah, Ibu pulang, Aditia dan Pak Dirga melihat Dita sebentar dan memastikan dia baik-baik saja, lalu mulai pergi ke kuburan Marni untuk melihat Ki Kusno atau Ibu Mirasih, Pak Dirga curiga kalau Ibu Mirasih ke sana duluan untuk melakukan Tukar Tumbal.
Hanya butuh waktu 15 menit untuk sampai ke kuburan itu, Taman Pekuburan Umum bagi warga di desa mereka, saat sampai, tentu waktu sudah malam, Pak Dirga dan Aditia langsung berpencar mencari Kis Kusno atau Ibu Mirasih.
Aditia merasa aneh, karena dia tidak bisa melihat atau pun mendengar hal-hal ghaib, biasanya kalau malam kuburan ramai, tapi ini sepi sekali, Aditia merasakan kesunyian yang begitu menakutkan. Bahkan melihat mereka jauh lebih baik dibanding tidak merasakan apa pun, itu yang Aditia rasakan saat ini.
“Hei, hei .... “ Aditia merasa seseorang memanggilnya, dia menoleh, tidak ada seorang pun di sana, siapa yang memanggilnya? Aditia seketika merinding, inikah yang orang-orang biasa rasakan, ketakutan? Aditia merasa sangat dingin seketika.
“Kaaasseeppp .... “ Di detik ini Aditia yakin yang memanggilnya bukan manusia, pasti dari golongan jin, karena yang memanggilnya begitu hanya ‘mereka’.
“Siapa itu!” Aditia berteriak, hal ini membuat Aditia teralihkan, padahal dia sedang mencari seseorang.
“Akuhhh.” Orang itu yang suaranya terdengar sangat menakutkan, suara seorang laki-laki dan setiap dia bersuara, ada udara dingin yang keluar.
Aditia yakin dia sudah tidak bisa melihat mereka lagi, ini bahaya, dia bisa dikerjai karena tidak bisa melihat mereka lagi.
Aditia berlari karena takut, hal yang tidak pernah dia lakukan, berlari ketakutan dari ‘makhluk’ itu, kali ini berbeda, Aditia tidak tahu dia siapa dan tidak bisa melihatnya, Aditia hanya bisa mendengar.
Saat berlari, Aditia terjatuh, dia merasa kakinya dijegal, wajahnya terjerembab pada tanah yang basah.
Saat Aditia jatuh, terdengar suara tertawa dari suara laki-laki, disusul suara perempuan yang melengking, lalu suara-suara lain yang tidak kalah mengerikannya, mereka menertawakan Aditia, lelaki yang ketakutan, lelaki yang dulu mereka begitu takuti karena takut diusir atau disuruh pulang, tapi lelaki itu saat ini menjadi lelaki lemah dan ketakutan.
“To-to-tolong!!!” Aditia berteriak, dia tidak tahu harus berbuat apa lagi selain meminta tolong, dari belakang dia merasakan tangan seseorang memegang bahunya, dia senang, mungkin saja itu Pak Dirga, tapi saat dia menoleh tidak ada orang sama sekali, Aditia kaget, dia pun buru-buru berdiri, tapi saat dia berdiri untuk melepas pegangan dari tangan dingin itu, tiba-tiba seluruh tubuh Aditia terasa dingin, dimulai dari kaki, paha, perut, dada, hingga kepala, seperti ada tangan-tangan yang memegang seluruh tubuhnya secara bersamaan, Aditia berusaha melepaskannya tapi tangan dan kakinya di pegang dengan kencang oleh sesuatu yang dia sendiri tidak bisa lihat.
Dia ingin berteriak tapi mulutnya saat ini di bekap oleh tangan yang dingin, bau amis dan anyir mulai menguasai penciuman Aditia, dia tidak bisa melihat bahwa saat ini ada belasan jin jahat yang sedang mengeroyok tubuhnya, seluruh tangan mereka berebutan berusaha menyiksanya, jin-jin itu memiliki berbagai rupa, ada pocong, ada kuntilanak, ada tuyul-tuyul kecil dan bentuk lainnya, mereka memanfaatkan kesempatan ini untuk menyiksa Aditia.
Akhirnya tubuh anak muda itu jatuh dalam keadaan terlentang, saat berdiri dia merasakan tubuh itu dipegang, sekarang dia meresa tubuhnya begitu sakit dan terasa berat, dia merasa tubuhnya ditindih oleh sesuatu yang berat dan banyak, tubuhnya memang sedang ditindih oleh belasan jin itu, mereka bahkan melompat-lompat di atas tubuh Aditia.
Sesak nafas, Aditia merasa sesak sekali, dia kedinginan, dan kesakitan, dia merasa bahwa mungkin saja ini waktunya pergi, seperti Ayahnya dulu.
“To-to-tolong.” Aditia mengatakannya dengan suara yang tidak keluar sama sekali, karena mulutnya sedang di bekap oleh tangan-tangan dingin itu.
_______________________________
Catatan Penulis :
Yang kemarin nyebar gosip Ibunya Aditia meninggal tunjuk tangannya tinggi-tinggi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
yg aku sayangkan disini seharusnya adit itu gabole lengah gaboleh labil naif menghadapi ‘mereka’ krn dia pemeran utamanya seharusnya dia bs diandalkan tapii.. ah sudahla lagian ceritanya jg udh tamat
2024-06-25
1
eka wati
aku udah sedih duluan loh Thor..
alhamdulillah ternyata bukan ibuknya Adit
2024-04-22
0
Arra
😣 aku cuma denger bisik bisik tetangga mak
2023-06-25
0