“Bude, malem banget pulangnya.” Waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, seharusnya jadwal untuk penumpang yang terlihat mata normal hanya sampai jam setengah sepuluh.
Wanita paruh baya yang membawa keranjang rotan sebagai wadah dagangan pecelnya diam saja, dia biasa membawa pecel sayur sambal kacang untuk dijual disekitaran sekolah dasar pagi siang di Jakarta Pusat. Sekolah yang merupakan trayek Aditia, jam enam pagi wanita yang biasa Aditia panggil Bude ini ikut angkot untuk memulai berjualan, lalu pulang paling malam sekitar jam tujuh. Berbeda dengan hari ini, jam sepuluh malam bude pecel sambel kacang itu, baru ikut numpang untuk pulang.
Aditia memberhentikan mobilnya dengan tiba-tiba, lalu melihat ke arah belakang, memastikan bahwa bude pecel adalah manusia, bukan ‘mereka’ yang biasa menumpang tengah malam.
Setelah diperhatikan tidak ada tanda-tanda penyiksaan ditubuh bude pecel, wajahnya tidak pucat dan matanya tidak kosong, seharusnya aman.
“Dit, Bude minta tolong besok jemput jam lima pagi ya, nanti Bude bayar lebih.” Aditia mengangguk dan meneruskan perjalanan, dia tidak bisa menjelaskan, dia juga bingung karena bude pecel terlihat tenang dan baik-baik saja, Aditia sulit mendeskripsikan, bude ini siapa atau apa?
“Kiri, Dit.” Bude Pecel berjalan ke arah pintu keluar, lalu menjulurkan tangannya ke pintu supir untuk membayar, “ jangan lupa besok jemput jam 5 ya Dit, di sini.” bude pecel sekali lagi mengingatkan, Aditia terdiam menatapnya, ada hawa aneh menelusuk kedalam tengkuknya, saat menerima uang, dia merasa tangan bude pecel sangat dingin, tapi wanita paruh baya ini bukan ‘mereka’.
“Bude .... “ Belum sempat Aditia bertanya, bude pecel berbalik dan pergi, Aditia ingin mengejarnya, tapi kendaraan belakang angkotnya sudah klakson-klakson, maklum ini kan pinggir jalan.
Aditia masih muda, dia memang belum semahir ayahnya untuk mengklasifikasikan mereka, mereka yang baik, mereka yang jahat. Mereka dari kalangan jin, mereka dari kalangan ruh tersesat, mereka yang lainnya. Aditia masih bingung, kadang bahkan masih sering tertipu, tapi hatinya yang tulus selalu membuat dia mampu selamat dari segala mara bahaya. Seperti yang ayahnya katakan bahwa minta tolongnya ke GUSTI ALLAH, pasti selamat. Itu saja kata yang selalu diingat, kata-kata yang menjadi penguat Aditia.
Seperti saat ini, Aditia bingung, haruskah ia menuruti perkataan bude pecel yang jenisnya saja Aditia tidak mengerti atau mengabaikannya.
Sama seperti Aditia dulu bingung dan bertanya pada Pak Mulyana ayahnya, waktu itu umur Aditia sekitar tiga belas tahun kelas satu sekolah menengah pertama. Waktu itu dikala sore hari, saat Pak Mulyana akan berangkat untuk narik angkot setelah istirahat makan siang di rumah, Aditia bilang mau ikut narik, padahal sejak awal masuk SMP dia sudah tidak ikut ayahnya untuk narik angkot, itu karena terlalu banyak tugas sekolah hingga tenaga Aditia terkuras dan tidak sanggup harus ikut ayahnya lagi. Tapi sore ini Aditia minta ikut, itu karena ada pertanyaan mendesak yang ingin ditanyakan ke ayahnya.
“Ayah kenapa mbak Marni akhir-akhir ini selalu ada di rumah?” Aditia remaja bertanya.
“Marni? Siapa itu?” Pak Mulyana bingung karena tidak ada satupun anggota keluarganya bernama Marni.
“Itu loh Yah, rambutnya panjang, bajunya putih kusam, perutnya bolong, mukanya ancur, matanya lepas.” Aditia menjelaskan, pembicaraan yang sangat luar biasa bagi kita orang awam, tapi sangat normal bagi ayah dan anak ini.
“Oh si Marni itu, emang dia ngapain di rumah?”
“Dia suka duduk diatas tembok kamar mandi kita, trus ngeliatin kita mandi, buang hajat, atau .... “ Sebelum selesai mendengar Aditia berbicara, Pak Mulyana langsung menelpon istrinya setelah sebelumnya meminggirkan angkot.
[Bu, Dita sudah mulai menstruasi?] Pak Maulana berkata setelah sambungan telepon diangkat.
[Iya sudah Yah, kenapa?] Ibunya Aditia bertanya di seberang sana.
[Temani dia dulu ya saat mandi, lalu ajarkan cara membersihkan darah haid seperti yang Ayah ajarkan ke Ibu, ingat temani terus, sampai dia selesai Haid dan mengerti dengan baik cara membersihkan darah Haid.] Pak Mulyana terlihat gusar hingga Ibunya Aditia hanya mampu berkata iya dan baik.
“Adit tau kan, kalau rumah kita itu dipagari oleh Ayah?” Pak Mulyana bertanya pada Aditia remaja, setelah menutup telepon genggamnya.
“Iya, Ayah membuat garis pelindung dengan air putih khusus, di depan pintu rumah agar mereka tidak mengejar Adit.”
“Adit yang Ayah jaga, malah Dita yang kena,” Pak Mulyana berkata.
“Dita? Memang Dita kenapa Ayah?”
“Marni datang bersama dengan Dita yang sedang dalam keadaan najis, Dita masih kecil, berapa umurnya Dit? 12 tahun ya? tapi sudah haid, sudah ada keadaan dimana tubuhnya membawa najis, inget apa makanan setan dan jin jahat?”
“Kotoran dan najis, Ayah.”
“Pintar, Dita sangat wangi untuk Marni Dit, makanya dia menumpang pada tubuh Dita dan bisa melewati pagar pembatas yang Ayah buat, ditambah mungkin Dita tidak secara sempurna membersihkan darah haidnya di kamar mandi maupun tubuhnya. Gitu, makanya si Marni jadiin kamar mandi kita sarang dia.”
“Tapi Ayah, kenapa Adit cuma bisa liat Mbak Marni malem doang pas malem adit kebelet pipis. Kalau pagi, siang atau sore, Adit nggak pernah liat Mbak Marni, dia kalau pagi pulang ke rumahnya ya, Yah?” Aditia bertanya lagi.
“Adit pernah ngobrol sama ‘mereka'?” Pak Maulana tersenyum sambil tetap menyetir.
“Tidak, Adit pura-pura nggak liat.”
“Mereka ketipu kalau Adit pura-pura?”
“Ada yang ketipu, ada yang enggak, maksa-maksa ikut, tapi Adit lari trus merekanya pergi pas udah di deket Ayah.”
“Kenapa nggak diajak ngobrol?”
“Nggak ah, temen Adit suka bilang Adit gila, ngomong sendiri, makanya Adit pura-pura nggak liat, biar sama kayak mereka, nggak bisa liat juga.” Ada nada malu dari ucapannya.
“Adit pintar, Adit harus terus diam saat orang bertanya kenapa Adit ngomong sendiri ya, bilang saja sedang nyanyi atau hafalin tugas sekolah, nanti setelah dewasa Adit akan mengerti.”
“Iya Ayah, trus bener Yah, kalau Mbak Marni siang pulang ke rumahnya?” Aditia mengulang pertanyaan.
“Adit tau bedanya siang sama malam?” Pak Maulana kembali bertanya.
“Tau, kalau siang itu ada matahari kalau malam ada bulan.” Aditia menjawab.
“Lebih terang mana? Saat siang atau malam.” Pak Maulana bertanya lagi.
“Siang dong Ayah, kan siang itu ada matahari, matahari itu terdiri dari Hidrogen yang tinggi, yaitu gas diatomik yang sangat mudah terbakar, nah di pusat matahari, gaya gravitasi menarik .... “
“Ok, ok. Ayah tau adit pintar sekali, maksud ayah adalah begini. Adit inget kan Ayah pernah bilang kalau kita dan ‘mereka’ seperti jin, setan dan arwah tersesat tinggal di dunia yang sama, di bumi yang sama, tapi dalam frekuensi yang berbeda.”
“Iya, Ayah pernah bilang kalau kita dan ‘mereka hidup di dunia yang sama, tapi frekuensi, frekuensi seperti radio gitu, Yah?”
“Nah, Frekuensi radio. Misal Adit mau dengar siaran radio A, lalu kamu akan pergi ke Frekuensi dari radio A, supaya bisa denger siaran yang Adit mau, bener nggak?”
“Iya, begitu Ayah. Biasanya alamat dari frekuensi radio yang mau kita dengar itu ditandai dengan angka lalu ada dua jenis penerimaan sinyalnya AM atau FM, nah frekuensi sendiri .... “ Pak Maulana memotong lagi, karena Aditia si anak jenius memang berwawasan luas.
“Ok, ok Adit, jadi kalau kita ibaratkan radio itu adalah dunia kita, lalu di dalam radio itu ada dua frekuensi ya, satu frekuensi kita sebagai manusia, sisanya frekuensi mereka yang tak terlihat. Jadi satu sama lain tidak tercampur karena punya frekuensinya masing-masing walau tinggal di dunia yang sama, berada di radio yang sama. Lalu bagaimana dengan orang-orang seperti Ayah dan Adit? Yang bisa melihat mereka?”
“Iya kalau memang bumi itu radionya, lalu kita memiliki frekuensi yang berbeda kenapa Adit dan Ayah bisa melihat mereka?” Aditia bingung.
“Nah, Adit harus tahu ini, kenapa Ayah suruh Adit ngobrol sama 'mereka' yang baik, adalah untuk mengetahui seperti apa sih dunia 'mereka', apa sih yang membuat mereka tertahan di dunia ini, itu semua kita tahu dari bertanya dan ngobrol dengan mereka. Dari obrolan itu ayah tahu, bahwa dunia mereka itu gelap, tidak ada siang tidak ada malam, setiap saat gelap.” Pak Maulana berhenti sejenak, karena ada penumpang yang ikut, biasa, itu adalah ‘mereka yang tersesat’. Setelahnya Pak Maulana melanjutkan kata-kata.
“Kamu tahu saat seperti apa dunia kita, dunia manusia mirip seperti dunia mereka?” Pak Maulana mengajukan pertanyaan.
“Saat malam Ayah, saat malam semua gelap, beruntung kita punya listrik yang diciptakan oleh Michael Faraday, dia dijuluki sebagai bapak listrik.” Adit berhenti sampai di situ karena menyadari Pak Maulana pusing dengan penjelasan darinya.
“Nah saat itulah, saat malam hari, kita dan ‘mereka’ berada di frekuensi yang sama. Waktu dimana ayah dan Adit yang sensitif bisa melihat mereka karena persamaan frekuensi itu. tidak banyak orang seperti kita, ada yang diam seperti Adit ada yang berpura-pura melihat, ada juga yang menipu. Sedikit orang yang seperti kita Adit, membantu tanpa publikasi, ingat kita diberi keberkahan untuk apa? Untuk membantu mereka yang membutuhkan, kalau orang kaya diberi kelebihan uang, kalau kita diberi kelebihan ilmu, maka gunakan sesuai dengan peruntukannya, bukan untuk yang lain, mengerti Adit?”
“Jadi kita melihat mereka hanya bisa malam hari ya Ayah, itu karena kita satu frekuensi dengan mereka, dan itupun hanya kita orang-orang yang diberkahi kemampuan melihat, mata yang Ayah bilang hanya untuk membantu mereka yang butuh, tidak boleh untuk yang lain dan tidak boleh ada yang tahu. Begitu kan Ayah?”
“Adit anak baik dan pintar, yuk kita antar bapak dibelakang dulu, dia tertabrak kereta kemaren mayatnya mental, kita cari mayatnya dulu ya.”
“Baik Ayah.”
Aditia terbawa kenangan belasan tahun silam, ingatan yang membuat Aditia menjadi seperti sekarang. Walau masih bingung, apa yang harus dia lakukan untuk bude pecel, haruskah dia mengikuti permintaan bude pecel atau mengabaikannya.
...
“Ka!” Dita si Adik beda satu tahun itu mengejutkan kakaknya yang sedang menikmati kopi setelah solat subuh tadi.
“Apa sih, kaget tau.” Aditia melempar adiknya dengan tissue, mereka berdua duduk di teras yang memiliki dua bangku dan satu meja, khas teras rumah kampung, padahal mereka di Jakarta.
“Lu lagian bengong, mikirin gue ya?” Dita monyong dan menyeruput kopi kakaknya.
“Gue mikirin Bude pecel.”
“Bude pecel siape?”
“Ituloh yang suka jualan di depan SD Pagi siang.”
“Oh bude Pecel itu, kenapa? Dia naksir lu?” Dita asal bicara, Aditia langsung menoyor adiknya.
“Dia minta gue jemput kemaren, dia bilang jemput dia hari ini jam lima pagi, tapi gue nggak jemput, gue pikir janggal dia minta jemput jam segitu, jadi gue biarin dah.”
“Ini udah jam setengah enam, Ka,” Dita melihat jam tangannya, “lu takut dia berniat jahat ya?” Dita bertanya lagi.
“Iya, makanya gue nggak mau jemput dia.” Aditia tidak mungkin cerita bahwa dirinya takut kalau itu hanya jin jahat yang menyamar atau setan yang mau mengelabuinya, kan adiknya memang tidak tahu profesi dia dan ayahnya.
“Yaudahlah nggak usah dipikirin, paling dia nunggu lama di sana, nanti juga ada angkot yang bakal lewat trus dia bisa dianter sampe tujuan, udahlah jangan terlalu dipikirin, Ka.” Dita menghabiskan kopi kakaknya.
Tidak lama telepon genggam Aditia berbunyi, saat melihat nomornya, dia tersenyum.
“Pasti dari Alya, si atlit panahan.” Dita melengos ke dalam rumah karena tidak mau mengganggu kakaknya berbicara dengan pujaan hati.
[Al, kenapa?] Aditia menjawab telepon itu.
[Ya, dimana?] Alya memang memanggil Aditia dengan panggilan Ya, bukan panggilan kesayangan karena mereka hanya bersahabat.
[Di rumahlah, jam berapa ini, Neng.] Aditia menjawab.
[Jemput gue bisa? Gue di deket rumah lo nih.]
[Dimana lo? Kok tumben sepagi ini di daerah sini, dari mana lo?]
[Kepo, dah jemput ya, jangan lama-lama, takut gue di perempatan jalan kayak gini.] Dita lalu memberitahu posisi pastinya, Adit memang sudah mandi sejak sebelum adzan subuh, jadi dia tinggal ganti baju dan mengemudikan angkotnya.
Alya, Mahasiswi Fasilkom ini teman seangkatan Aditia, mereka bertemu saat ospek, Aditia yang si introvert miskin bertemu dengan Alya yang ceria dan kaya raya, mereka yang berbeda dunia ternyata sangat cocok karena sama-sama jenius. Alya suka lelaki yang bermartabat, walau miskin tapi Aditia sangat idealis tidak menggoda wanita atau sibuk dengan tongkrongan, sementara Alya wanita berkelas yang ceria, tipe yang sangat Aditia sukai, walau hanya memandangnya dari jauh.
Selain karena kecantikan, kepintaran dan kebaikan Alya yang menerima Aditia yang miskin sebagai sahabatnya, ada satu hal yang membuat Aditia begitu kagum dengannya.
Alya adalah Atlit panahan, postur tubuh Alya yang tinggi dengan wajah yang tirus, sikap yang tegap semua terlihat sempurna di mata Aditia, apapun yang Alya mau, tidak satupun mampu Aditia tolak, karena memang Alya tidak penah meminta hal yang diluar batas kemampuan.
Untuk Aditia, setelah Ibu dan adiknya Alya adalah prioritas dalam hidupnya.
Saat sudah siap akan menjemput Alya, mobil Aditia mogok, oh Tuhan tidak disaat ini, Aditia mencoba terus menyalakan mobil angkotnya, tapi tidak mau nyala juga, ini pasti karena mobil tua, itu yang Aditia pikirkan.
Sudah setengah jam Aditia bergelut dengan angkot tuanya, untung saja akhirnya mau nyala, dia langsung bergegas menjemput Alya, karena sudah telat setengah jam dari waktu yang dia janjikan.
Dia terus mengemudikan mobilnya secepat dia mampu, terbayang wajah Alya yang marah karena telat di jemput, dia jarang sekali minta dijemput padahal, walau pikiran tentang bude pecel tidak pernah hilang.
Sampai pada perempatan jalan, dia melihat kerumunan, entah kenapa firasatnya tidak enak dia langsung menepi dan berlari ke arah kerumunan.
“Ada apa Pak?” Aditia bertanya pada seseorang yang berada paling dekat dengannya.
“Ada kecelakaan Mas, tabrak lari.” Orang itu menunjuk kerumunan, “yang ditabrak meninggal di tempat, kasian, ditinggalin gitu aja.”
Aditia berlari semakin cepat, dia menerobos kerumunan dan berusaha berada paling depan sehingga bisa melihat siapa korbannya.
Saat sudah berada paling depan, Aditia terjatuh, prasangkanya benar, wanita yang minta dijemput sudah terbujur kaku di sana, bersimbah darah dengan tubuh menghadap aspal, bagian kepalanya bahkan ada yang hancur karena hantaman yang hebat, Aditia kembali menangis, wanita yang sebelumnya meminta dia jemput, wanita yang seharusnya dia jemput sudah meninggal.
“Maafkan aku, maafkan aku.” Aditia menangis sambil mengatakan permohonan maaf.
____________________________________
Catatan Author :
Kira-kira ada yang tau siapa yang ditabrak lari?
Bantuin author dengan share dan like biar seneng, biar updatenya cepet. Jadi setelah baca like dan jangan lupa share, yang belum add akunku, monggo add.
Saat ini author sedang mengusahakan untuk update karuhun yang di posting di MANGATOON setiap hari, jadi jgn tanya aku kemana ya, untuk menunggu Aditia diceritakan lagi, sok atuh mampir ke mangatoon, biar nggak ngerasa berat nunggu Aditia ya.
Salam dari Author seorang Working Mom dengan anak yang masih balita.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
Marwah Salwa
mantap seru bgt g salah download aplikasi ini,buat penulisnya semangat y buat cerita yg banyak dan lebih serem dan seru lagi 😊
2024-05-05
1
rony
ternyata asik juga ceritanya.i like it
2023-11-08
2
ilham azrana
ceritanya asyik
2023-08-13
0