Marni, gadis belia yang cantik dan cerdas menjadi putus asa, cinta sekejap yang dia rasakan harus pupus dalam waktu 3 bulan, cintanya dengan Pak Lurah tentu sudah melewati batas, karena Marni memang mencoba memberikan segalanya secara utuh, dia berfikir rencananya untuk jadi istri kedua dan menjadi ibu biologis dari anak Pak Lurah, lalu menendang Bu Lurah, tidak berjalan mulus, saat ini malah dia yang di tendang oleh wanita kaya raya itu, Marni memang pernah mendengar rumor tentang, Bu Lurah yang mendanai karir politik suaminya, dia juga yang membuatkan suaminya beberapa perusahaan, Bu Lurah ada wanita tangguh yang tidak bisa Marni kalahkan.
“Kalian sudah tahu apa yang terjadi pada Marni setelahnya bukan” Ki Kusno masih duduk di sisi ranjang Dita yang masih kesurupan.
“Ya, Marni mengalami serangkaian penyakit mental karena merasa kulitnya terbakar dan buruk rupa, beberapa bulan kemudian dia meninggal dunia.” Pak RT menjawab.
“Aku yang mempertemukan Bu Lurah dengan dukun santet.” Ki Kusno menunduk seolah mengingat kejadian waktu dulu.
“Hari itu tanggal 5 Desember 1997, saat itu hujan deras, datang mobil mewah ke gubuk kami, seorang wanita keluar dipayungi oleh ajudannya, dia wanita berkelas yang sangat cantik, dari mobil mewahnya saja kita tahu dia kaya raya, hanya untuk ukuran istri seorang Lurah, tentu mobilnya tidak akan semewah itu. Dia pasti datang dari keluarga yang sangat kaya.” Ki Kusno duduk dan mengusap Dita, lalu melanjutkan kata-katanya.
“Aku mengenal wanita itu jauh sebelum dia menikah, seluruh keluarganya selalu datang padaku untuk dipertemukan dengan seorang yang ahli, seorang yang mampu membuat lawan bisnis mereka hancur, sakit tiba-tiba bahkan celaka dan mati. Aku ketika itu masih muda, uang adalah tujuanku, aku tidak pernah memikirkan lebih jauh mengenai masa depan yang hancur karena apa yang kami lakukan di masa lalu.”
“Kalian menyantet Marni?” Pak Dirga yang menyeruput kopinya di dalam kamar dan duduk di dekat pintu bertanya.
“Kami menyantet Marni, Santet Cidra, santet ini terkenal kuat karena membuat orang yang terkena akan menjadi linglung dan melihat hal yang buruk pada dirinya. Medianya cukup sulit, kami harus mengambil rambut Marni dan fotonya, lalu beberapa sajen untuk menjamu jin, dan terakhir tanah kuburan dari orang yang sudah mati dalam hitungan tahun ganjil, kedalaman dari tanah itu haruslah 33 centimeter dari dekat nisannya, terakhir adalah tanggal lahir target.”
“Anak umur 18 tahun kalian jadikan target, sungguh luar biasa dunia ini kelamnya.” Pak Dirga kesal, Aditia mengambilkan bangku plastik bulat untuk semua orang agar bisa duduk mendengarkan cerita yang panjang ini dari Ki Kusno.
“Jangan lupa, anak 18 tahun itu berubah menjadi gadis simpanan bahkan pada usianya yang baru menginjak 18 tahun, padahal ketika itu dia adalah Mahasiswa pintar nan cantik jelita, tidak seharusnya dia terus mengejar suami orang, dengan prestasi dan juga kecantikannya, dia bisa memilih lelaki dari kalangan kaya yang seusianya dan menikah lalu hidup dengan baik, tapi dia malah memilih tetap menggoda suami orang!” Ki Kusno membela diri, lalu melanjutkan ceritanya.
“Juli 1998 Marni meninggal, di bulan yang sama Bu Lurah melahirkan. Sebelum Marni meninggal aku sudah memperingatkan Bu Lurah untuk berhenti, Marni sudah menjadi mayat hidup, tapi Bu Lurah tidak mendengarku, dia terus mengirim santet hingga Marni tutup usia, ternyata seorang wanita berkelas pun ketika dia menjadi pencemburu, sifatnya menjadi rendah dan buruk.”
“Diam kau Kakek busuk! Perempuan sialan itu harus merasakan apa yang aku rasakan!” Dita kembali mengerang dan mengucapkan sumpah serapah.
“Kau yang salah sedari awal! Bukankah aku pernah memperingatkanmu dengan datang menemuimu di tempat kuliahmu dulu, aku bilang hati-hati kau akan menjadi target, tapi dengan pongah kau bilang tidak takut.” Ki Kusno berteriak dengan kesal.
“Aku sudah memperingatkannya sebelum kami menjalankan ritual santet itu, aku kasihan karena ayahnya adalaha teman sekolahku dulu. Tapi anak ini bodoh dan terlalu tenggelam oleh nafsu!”
“Lalu apa yang terjadi setelahnya?” Aditia bertanya.
“Setelah Ibu Lurah melahirkan, semua bahagia, bayinya begitu cantik dan putih bersih, saat bayi itu diberikan untuk pertama kali kepada ibunya, ibunya berteriak histeris, dia bilang bahwa bayinya buruk rupa, Bu Lurah bahkan melempar bayi itu, untung seorang perawat sigap menangkapnya, hingga bayi cantik itu tetap aman.”
“Apakah ini balasan santet?” Pak Dirga bertanya.
“Awalnya kami semua berfikir seperti itu, karena apa yang menimpa Bu Lurah persis seperti yang Marni alami, hanya dia yang melihat anaknya buruk rupa, sedang orang lain melihat betap cantiknya anak itu. Karena terbiasa dengan santet, maka keluarga ini akhirnya pergi ke dukun lagi, tentu bukan aku yang mengantar, karena setelah kematian Marni, keluargaku berantakan, anakku meninggal karena sakit yang tidak jelas, aku merasa Tuhan telah menegurku, aku bertobat. Tapi mereka, keluarga Bu Lurah tetap mengirim santet pada keluarganya Marni, orang yang mereka sangkakan telah menyantet Bu Lurah, tapi mereka salah.”
“Apa yang sebenarnya pada Bu Lurah?” Aditia bertanya lagi.
“Ada seorang lelaki yang memiliki angkot datang ke rumah Pak Lurah, dia bilang begini, ini adalah ulah Marni yang tidak ingin diantarkan pulang karena dendamnya, dia menempel pada bayi itu, sehingga bayi itu menjadi buruk rupa, Bu Lurah juga diganggu oleh Marni, hingga dia penglihatannya menjadi buruk pada anaknya sendiri, tujuannya adalah supaya Bu Lurah merasakan apa yang dia rasakan, sekaligus kehilangan anaknya, anak yang mereka nanti begitu lama.”
“Ayahku?”
“Betul Aditia, tidak ada yang tahu bahwa Ayahmu memiliki kemampuan berbeda dari manusia pada umumnya, dia orang yang baik, aku dan dia selalu ngobrol hingga dia membuka mataku tentang bagaimana nanti jika Tuhan tidak mengampuniku. Ayahmu yang membawaku kembali ke jalan yang benar.” Ki Kusno mengusap mata sebelah kanannya, dia lelaki tua yang sedih karena mengingat kejadian itu.
“Lalu Ayah tidak berhasil mengantar Marni pulang?” Aditia mengerti.
“Iya, jiwa jahat Marni terlalu kuat untuk diajak pulang dan urusannya terlalu berat hingga dia melawan perintah Tuhan, Marni perlahan berubah menjadi iblis.” Ki Kusno merinding ketika mengucapkan itu.
Seluruh ruangan terlihat terkejut dengan sejarah panjang ini, Pak RT dan Pak RW tahu betul bagaiman Ayahnya Aditia sering menolong orang kesurupan, tapi tidak benar-benar tahu pekerjaannya selain supir angkot, seperti mereka tidak tahu pekerjaan sampingan Aditia.
“Keluarga Bu Lurah yang terpandang itu marah begitu mengetahui kenyataannya, bukannya mereka mencari solusi secara agama, seperti yang ayahmu sarankan, mereka malah mendatangi dukun dan bermaksud menghabisi Marni sekali lagi. Yang terjadi malah, anak mereka, Bu Lurah menjadi gila dan Pak Lurah yang tidak mampu menahan beban malu karena perselingkuhannya diketahui, istrinya gila dan anaknya masih bayi, bukannya melindungi anak dan istrinya dia malah kabur, sungguh lelaki biadab.” Ki Kusno geram.
“Lalu apa hubungannya Dita dengan semua ini Ki?” Aditia tidak sabar mencari penjelasan, kenapa Marni selalu menggangu Dita, ini kali kedua Marni datang dalam hidup Dita.
“Kau lahir tahun berapa Dit?” Ki Kusno bertanya.
“Oktober 1997.” Aditia menjawab.
“Dita lahir tahun berapa?” Ki Kusno kembali bertanya.
“Juli 1998.”
“Kalian hanya selisih 9 bulan? Apa itu tidak membuatmu curiga? Apakah Ibumu setelah lahiran, lalu dia hamil lagi?” Ada nada mengejek dari perkataan Ki Kusno.
“Dita lahir prematur! makanya perbedaan usia kami tidak sampai setahun, aku umur 2 bulan ibuku hamil Dita, lalu Dita lahir ketika kandungan Ibu baru 7 bulan!” Aditia mencoba menyangkal yang sebenarnya sudah dia curigai.
“Kau sudah pernah lihat surat keterangan lahirnya? Sudah pernah lihat aktanya? Ambil sekarang, kita akan tahu, siapa Dita sebenarnya dari dokumen resmi itu.”
Aditia bergegas ke lemari Ibunya yang berada di kamar itu juga, dia mencari ketempat di mana Ibunya biasa menaruh dokumen penting.
Ketemu! Aditia langsung mengambil Akta lahir Dita dan memperhatikan tulisannya.
“Lihat, apakah ada keterangan bahwa ia telah diadosi oleh Ayah dan Ibumu?”
Aditia terlihat lemas, “Ada, Dita anak angkat Ayah dan Ibuku.”
“Bukankah di sana tertera nama orangtua kandung dari Dita? Sebutkan namanya.” Ki Kusno memerintahkan Aditia.
“Miftahudin dan Mirasih.” Aditia jatuh karena kaget dan lemas, adik yang selama ini dia sangka adalah adik kandungnya ternyata anak angkat, masa lalu Dita juga sangat menakutkan.
“Pak Lurah Miftahudin dan Ibu Lurah Mirasih, mereka adalah orantua kandung Dita, sekarang jelas kenapa Marni mengincarnya?” Ki Kusno membuka rahasia yang tidak pernah terkuak sebelumnya.
“Tapi Ibu maupun Ayah tidak pernah memberitahuku.” Aditia terlihat marah, karena seharusnya dia tahu, sehingga bisa menjaga Dita jauh lebih ketat lagi.
“Karena kau tidak tahu, itu yang membuat Dita nyaman menjadi bagian keluarga ini.” Pak Dirga berkata dengan bijak.
“Jadi apa yang diinginkan Marni?” Aditia bukan tidak tahu, tapi dia ingin memastikan.
“Membawanya bersama Marni, ini dia anggap sebagai pertukaran atas penderitaannya.” Ki Kusno berkata.
“Tidak bisa, Dita adalah keluargaku, sampai kapanpun dia akan tetap bersama kami.” Aditia berkata dengan sangat marah.
“Lakukan seperti yang Ayahmu lakukan antar Marni pulang.”
“Caranya?” Aditia bukan tidak tahu, Marni yang tidak mau dan sangat ingin membawa Dita ke dunia kelamnya.
“Kita harus menyudahi dendam Marni, pasti ada seseorang yang menanam media Santet Cidra di kuburan Marni hingga Ruh Marni bangkit untuk membalaskan dendamnya, tapi bukan keluarganya, aku yakin itu. Kita harus menggali media santet itu agar Marni bisa pulang.”
“Yaudah ayo Dit.” Pak Dirga berkata.
“Tuker tumbal? Kita yang buka, kita yang ganti.” Aditia berkata.
“Astagfirullah! kenapa rumit sekali dunia perghaiban ini!” Pak Dirga kesal.
“Aku yang akan buka, aku yang harus bertanggung jawab.” Ki Kusno berdiri dan hendak pergi keluar.
“Ki, sebentar! Kita cari cara lain, bagaimana dengan pagar, seperti yang Ayahku buat?” Aditia mencoba bernegosiasi.
“Dia pasti bisa menemukan celah untuk kembali lagi, Dita masih terlalu muda untuk mengalami nasib seperti orangtua kandungnya.”
“Ki ... “
“Jangan ikut, berbahaya, setelah aku berhasil mengambil yang dikubur di pemakaman Marni, aku mungkin tidak akan bisa kembali ke rumah. Aku sudah mempersiapkan ini semua lama sekali, dukun yang mengirim santet juga akan sekarat, jadi kalian semua harus mempersiapkan pemakamanku.” Ki Kusno lalu berpamitan.
“Apa yang harus kita lakukan Dit?” Pak Dirga bertanya.
“Menunggu.” Aditia duduk di samping tempat tidur, Dita terlihat bengong dan diam saja.
...
Malam telah sangat larut, Pak RT dan Pak RW sudah pulang, Pak Dirga seperti biasa, setia menemani Aditia.
“Kak, kepala Dita sakit.” Dita membangunkan Aditia.
“Dita sayang sabar ya.” Aditia memeluk adiknya.
“Ini kenapa Dita diiket Kak?” Dita menangis, Dita sudah kembali menjadi gadis kecil yang Aditia kenal.
“Nggak apa-apa, Dita tidur ya.” Aditia mengusap kepala Adiknya.
Dari ekor matanya, dia melihat sesosok wanita di jendela yang berjalan perlahan, wanita itu menggunakan baju serba hitam dan berambut sangat panjang.
“Pak, titip Dita, aku mau kejar Marni.” Aditia yakin itu Marni.
Aditia mengejar Marni ke luar dekat jendela kamar Dita, sosok itu masih ada, dia terlihat sedang main ayunan dengan dahan pohon besar yang memang ada di bagian belakang rumah Aditia.
“Marni .... “ Aditia memastikan itu Marni.
Sesosok itu menengok, wajahnya pucat dan terlihat sangat tirus, dia melemparkan kain lusuh berwarna hitam kearah Aditia.
Adit menangkap kain itu dan membukanya.
Ada beberapa helai rambut, foto seorang wanita dan gumpalan tanah, ini adalah media untuk Santet Cidra! Berarti Ki Kusno berhasil menggali media santet ini dari kuburan Marni.
“Ki Kusno berhasil mengambilnya, sekarang aku harus menghancurkan media ini, saat Aditia akan membakarnya, Marni berkata ....
“Ada seorang perempuan baik yang rela menukar nyawanya dengan ini.” Marni tiba-tiba sudah berada di hadapan Aditia, dia memegang kepala Aditia.
“Apa maksudmu!” Aditia mengeluarkan kerisnya dan melepas genggaman dingin itu.
“Wanita itu bilang, jangan ambil putriku, jangan ambil putriku, lalu aku suruh dia menggali kuburku dan mengambilkannya.” Marni menunjuk bungkusan yang Aditia pegang, media Santet Cidra.
“Tukar Tumbal?! Kuntilanak Hitam Laknat!” Aditia mendekati Marni dan langsung menghujamnya dengan keris, seketika Marni berteriak hingga telinga yang mendengarnya menjadi berdengung, Marni lenyap, Aditia menghabisinya.
“Ibu ... Ibu ... Ibu!!!”
____________________________________
Catatan Penulis :
Jangan lupa Like, Share dan Coment ya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 568 Episodes
Comments
pioo
kok sama bjir wkwk
2024-06-25
0
eka wati
lohh... kok jadi gitu 😭😭😭
2024-04-22
0
jus'thuman.
Ril😭
2023-06-30
0